Beranda / Romansa / Pura-Pura Cerai / 5. Ultimatum Terakhir

Share

5. Ultimatum Terakhir

Penulis: AR Disza
last update Tanggal publikasi: 2026-09-22 11:02:54

Dengan saksama, Alda mengedarkan pandangannya berkeliling di kamar Roni. Kata Roni, kamarnya di rumah ini dibiarkan seperti semula dan tidak ada yang berubah. Seakan penghuni rumah ini bertaruh bahwa Roni pasti akan kembali kapan pun.

Tatapan Alda kini terjatuh ke Roni yang baru saja selesai membersihkan diri. Secara sigap, Roni memilih pakaian yang terlipat rapi di lemari. Pria itu mengganti pakaian yang sebelumnya terkena tanah. Namun, mengubah raut wajah tidak semudah berganti pakaian.

Sepanjang jalan Roni terdiam dan hanya mengepalkan tangan kuat-kuat. Mereka menggunakan taksi online untuk kembali ke rumah orangtua Roni. Alda sendiri lebih nyaman seperti ini ketimbang menumpang di mobil Dito atau kerabat yang lain.

"Aku nggak ngerti. Kenapa nggak nunggu minggu depan? Atau, sekalian bulan depan?" Roni masih tidak habis pikir ibunya mengadakan pertemuan dengan notaris secepat ini.

Alda berusaha mencari sudut pandang lain yang netral. Sesuatu yang terkesan logis untuk didengar.

"Mungkin seperti urusan utang-piutang, harus diselesaikan cepat-cepat buat mendiang Bapak." Alda memilih nada bicaranya dengan hati-hati. Dia tidak ingin bersikap seakan menyiram bensin ke api emosi Roni.

Alda yakin pikiran Roni berkecamuk, seolah-olah kapan saja ledakan amarah dapat mengamuk.

Roni mencerna perkataan Alda. Deru napasnya mereda, tidak terlalu memburu. Sepertinya apa yang diucapkan Alda tepat nalar.

"Tapi, tetap aja...." Alih-alih menyelesaikan kalimat, Roni terduduk begitu saja di lantai. Pertahanan Roni akhirnya runtuh juga.

Alda bergegas bersimpuh dan memeluk Roni erat. Dia ingin menjadi suaka untuk Roni menumpahkan segala emosi.

Bahu Roni naik-turun. Suaminya menangis. Jantung Alda seakan turut remuk melihatnya. Hanya karena Alda pernah berada di posisi kehilangan orangtua, tidak serta-merta dia memiliki kiat-kiat untuk menghadapi duka. Alda hanya ingin Roni tahu bahwa dirinya tidak sendirian. Mereka memiliki satu sama lain.

"Aku nggak sempat minta maaf atau berpisah baik-baik ke Bapak." Roni menumpahkan penyesalannya. "Kata-kata terakhirku ke Bapak justru hal yang menyakitkan."

Satu telapak tangan Alda meraih kepala bagian belakang Roni, membelainya dengan lembut. Mata Alda terasa panas. Tanpa sadar, air mata meleleh dari sudut matanya.

Alda ingin meminta maaf karena hal yang dialami oleh Roni disebabkan olehnya. Sejujurnya, tidak ada niat dalam dirinya untuk memisahkan Roni dengan keluarganya. Alda tersekat saat membuka mulut.

"Ini gara-gara aku." Alda akhirnya bersuara.

Mendengar ucapan Alda, Roni menatap Alda lurus. Pria itu menggelengkan kepalanya cepat.

"Bukan. Ini bukan gara-gara kamu." Suara Roni serak. "Ini konsekuensi dari pilihanku. Kamu nggak menyuruh aku membentak Bapak dulu. Kamu bahkan nggak meminta aku buat jauhin keluarga sendiri. Itu semua aku."

Alda ingin membalas bahwa semua itu terjadi karena mereka ingin menikah. Namun, Alda hanya menarik kedua sudut bibir. Senyum kaku yang dipaksakan.

Seakan mengerti apa yang dipikirkan oleh Alda, Roni menangkup kedua pipi Alda. "Sayang, aku merasa bersalah karena aku nggak bersikap lebih baik. Itu penyesalanku. Tapi, aku nggak menyesal menikah denganmu. Kamu itu pilihanku. Aku hanya menyesali pilihan dari reaksiku."

Perlahan, Roni mendekat. Pria itu menempelkan kening mereka. Alda mampu merasakan sentuhan ujung hidung Roni. Kemudian Alda mengangguk, mengamini setiap kata yang diucapkan Roni.

"Jangan merasa bersalah. Jangan bilang ini gara-gara kamu." Roni mengusap air mata yang menitik pada wajah Alda.

Alda hanya sanggup menganggukkan kepala lagi. Dia takut jika berbicara sesuatu, dia akan berujung menangis.

Kata-kata Roni seperti menyembuhkan luka yang bahkan bukan disebabkan pria itu.

"Sekarang, kita tenangkan diri baru turun ke lantai bawah. Katanya, notaris bakal datang jam delapan malam." Roni yang pertama beranjak, bangkit dari mereka yang terduduk di permukaan lantai.

Setelah membasuh wajah dan rehat, Alda dan Roni keluar dari kamar. Jam besar lantai di dekat tangga menunjukkan pukul 19.50. Pendulum di bagian tengah jam memperlihatkan bagaimana detik berlalu. Pertemuan dengan notaris akan dilakukan di ruang kerja ayah Roni.

"Nanti yang masuk hanya keluarga, ya." Ibu mertuanya membuka pintu ruangan.

Alda sebenarnya tidak mempermasalahkan pertemuan itu. Dia tidak memiliki sangkut-paut. Perkara warisan adalah ranah yang membutuhkan privasi dan sensitif. Alda hanya duduk di sofa, mengamati penjaga rumah yang menggulung karpet.

"Alda itu keluargaku, Bu." Roni memprotes. Dahinya mengerut. "Aku mau dia juga ikut masuk."

Alda ingin menepis perkataan Roni. Sejujurnya, dia tidak ingin terlibat terlalu dalam. Cukup sekadarnya saja. Dia hanya tidak ingin dimusuhi keluarha suami. Bukan berarti dia merasa harus akrab dan dianggap menjadi menantu rasa anak kandung. Lagi pula, warisan itu hak Roni, tidak ada kaitannya dengan Alda.

"Kenapa Dito boleh masuk dan Alda malah nggak?" tanya Roni sembari bersedekap. "Kenapa harus dibeda-bedakan?"

"Jangan seret gue dan suami gue dong!" Lola terpancing emosi.

Dito langsung mengelus pundak Lola, menenangkan istrinya. Dito seakan melakoni peran suami baik dan bijak.

Ibu mertuanya hanya melirik Alda dengan dingin. Tanpa ada perdebatan lebih lanjut, wanita paruh baya itu mengangguk. "Ya, sudah kalau menurutmu begitu."

Roni mengerjapkan mata. Dia mengira ibunya akan memberi perlawanan lainnya. Mereka yang akan berdebat. Namun, ibunya malah mengiyakan begitu saja.

Tidak berselang lama, notaris pun datang. Seorang pria yang menggunakan pakaian formal itu duduk menghadap semua angggota keluarga. Alda tidak terlalu mengamati. Notaris itu mengeluarkan tas kerja dan mengambil berkas dari dalam tas. Alda mengalihkan pandangannya ke semua orang yang ada di dalam ruangan. Kecuali Dito. Alda enggan bertemu mata dengan ipar sintingnya itu.

Seharian ini berhasil membuat Alda lelah. Mengantuk di tengah pertemuan yang alot menjadi hal yang tidak dapat dihindari. Beberapa kali Alda mencoba membuka matanya kebar guna mengusir kantuk. Terlalu sibuk menahan diri agar tidak ketiduran, Alda sampai tidak mendengarkan pembacaan pembagian harta warisan yang berlangsung.

Toh, Alda tidak berniat meminta jatah dari warisan Roni. Lebih baik Roni menggunakannya untuk menjalankan bisnis. Terutama, setelah kejadian uang dibawa lari oleh rekanannya.

Alda terlonjak bertepatan dengan Roni yang menggebrak meja.

"Maksudnya apa?" tanya Roni geram. Wajahnya memerah dengan sepasang mata menatap nyalang. Seakan siap menantang.

"Mohon maaf, saya hanya membacakan wasiat dari Bapak Edi." Sang notaris tergugu. Tangannya yang memegang dokumen gemetar.

"Coba ulangi!" seru Roni.

Kali ini, Alda memasang telinganya. Apa yang membuat Roni begitu emosi?

"Saudara Roni akan mendapatkan aset-aset tersebut hanya jika saudara Roni menceraikan istrinya yang bernama Alda." Notaris itu mendikte ulang.

Jantung Alda berdebar kencang. Kantuk yang sempat bertengger di kelopak matanya pun lenyap tak bersisa.

Roni bangkit berdiri dan melangkah ke arah notaris. Dia merenggut dokumen itu dari tangan lawan bicaranya. Seolah-olah Roni ingin memastikan yang tertulis sama seperti yang dilisankan. Bukan notaris yang mengada-ngada.

"Jadi, aku harus cerai dulu dengan Alda baru dapat warisannya? Syarat macam apa itu?" Roni melempar berkas tersebut.

Alda dalam hatinya mampu menjawab: syarat yang diberikan orangtua untuk anak yang menikah tanpa restu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pura-Pura Cerai   6. Intrik Emosi

    Ada pepatah yang diketahui Alda: jangan berjanji saat bahagia dan jangan mengambil keputusan saat marah. Pasalnya, seseorang yang dilahap emosi hanya akan mencari cara untuk membalas menyakiti layaknya api yang menjalar dan membakar apa pun yang terlihat. Dan, Alda berharap Roni tidak bereaksi sesuai emosi. Atmosfer di hadapan Alda begitu berat. Suasananya mencekam. Bahkan, Alda berulang kali menahan napas. Tatapannya tertuju ke Roni yang mematung dengan kepala tertunduk. Raut wajah suaminya tampak tidak fokus. Di mata Alda, yang dialami oleh Roni seperti bentuk penekanan emosional. Roni baru kehilangan ayahnya lalu mendapati wasiat dari mendiang ayahnya yang merupakan tuntutan besar. Hal ini bisa dikatakan sebagai eksploitasi emosi. Alda menyadari bahwa pikiran Roni terlalu bising untuk memutuskan sesuatu pada saat itu juga. Roni terlalu rentan dan serba salah. "Apa ada batas waktunya?" tanya Alda, nada bicaranya netral. "Maksud saya, apa Roni diberi batas waktu?" Yang pali

  • Pura-Pura Cerai   5. Ultimatum Terakhir

    Dengan saksama, Alda mengedarkan pandangannya berkeliling di kamar Roni. Kata Roni, kamarnya di rumah ini dibiarkan seperti semula dan tidak ada yang berubah. Seakan penghuni rumah ini bertaruh bahwa Roni pasti akan kembali kapan pun. Tatapan Alda kini terjatuh ke Roni yang baru saja selesai membersihkan diri. Secara sigap, Roni memilih pakaian yang terlipat rapi di lemari. Pria itu mengganti pakaian yang sebelumnya terkena tanah. Namun, mengubah raut wajah tidak semudah berganti pakaian. Sepanjang jalan Roni terdiam dan hanya mengepalkan tangan kuat-kuat. Mereka menggunakan taksi online untuk kembali ke rumah orangtua Roni. Alda sendiri lebih nyaman seperti ini ketimbang menumpang di mobil Dito atau kerabat yang lain. "Aku nggak ngerti. Kenapa nggak nunggu minggu depan? Atau, sekalian bulan depan?" Roni masih tidak habis pikir ibunya mengadakan pertemuan dengan notaris secepat ini. Alda berusaha mencari sudut pandang lain yang netral. Sesuatu yang terkesan logis untuk diden

  • Pura-Pura Cerai   4. Menduga yang Tak Terduga

    Satu detik pun Alda tidak menurunkan kewaspadaannya. Seakan dirinya adalah mangsa yang menyadari perangkap di depan mata. Perasaan dihantui menggelayut dalam diri Alda. Prinsip Alda: kalau terpaksa harus berinteraksi dengan Dito, cukup sekadarnya saja. Tanpa banyak berbicara, Alda memilih duduk di kursi belakang bersama Chika di car seat dan Siska di sisi kanan. Sementara Miska dan Dito duduk di bangku depan. Untung saja, Miska sudah lebih dulu duduk di sana sehingga Alda tidak terpaksa duduk persis di sebelah Dito. Meskipun tidak ada percakapan yang terjadi antara dirinya dengan Dito, Alda tetap merasa risi. Dia bisa merasakan tatapan Dito dari kaca spion tengah. Alda mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.Perjalanan yang seharusnya singkat terasa begitu jauh. Bahkan lagu yang berputar dari radio tidak berhasil membuat rasa diawasi itu hilang. "Tante, kok, aku baru lihat Tante?" Siska, anak tengah Lola, bertanya. Anak itu mengamatinya polos. Murni penasaran. Bagi Alda

  • Pura-Pura Cerai   3. Bukan Reuni Keluarga

    Sembari menunggu pukul satu siang, Alda malah menyibukkan diri dengan menyajikan air minum ataupun makanan ringan untuk tamu yang datang. Masih ada satu jam sampai agenda pemakaman. Mobil jenazah sudah terparkir di depan gerbang. Setiap Alda berpapasan dengan dua wanita paruh baya yang merupakan kerabat jauh dari pihak ibu mertuanya, mereka hanya tersenyum canggung. Barangkali kedua orang itu membicarakannya dengan tamu lain karena keberadaan Alda menjadi pusat perhatian. Selalu ada beberapa pasang mata tertuju padanya. Buah bibir itu memang cepat menjalarnya seperti virus. "Kamu dari mana saja?" tanya Roni yang meraih lengan Alda. Kali ini, mata Roni sedikit membengkak. Alda mengulum senyum. "Aku habis siapin makanan dan minuman buat yang datang." Setidaknya, dengan cara ini, Alda mampu membantu. Dia tidak mungkin menghibur ibu mertuanya dengan berbicara kepadanya. Roni membuang napas pendek. "Kamu belum ketemu Ibu dan Kak Lola." Tidak perlu seseorang yang genius untuk me

  • Pura-Pura Cerai   2. Keluarga Roni

    Kapan terakhir kali Alda menginjakkan kaki di rumah keluarga Roni ini? Tentu saja, Alda mampu mengingatnya dengan jelas. Persisnya tiga tahun dua bulan yang lalu. Namun, Alda merasa seperti baru kemarin. Pada saat itu, Roni membawanya ke sini untuk dikenalkan serta meminta restu bahwa hubungan mereka serius. Roni yang ingin membawa hubungannya dengan Alda ke jenjang selanjutnya. Sambutan yang didapatkan Alda kurang hangat. Dibandingkan perkenalan keluarga, Alda merasa lebih mirip wawancara kerja. Latar belakang Alda. Contohnya, seperti siapa keluarga, di mana saja Alda mengemban pendidikan, apa pekerjaan Alda. Bahkan Alda masih mengingat raut wajah yang mendadak dingin dan sinis saat Alda berkata kedua orangtua meninggal semenjak dia kecil. Tidak ada kata yang lebih halus untuk mengemas komentar ayahnya Roni: asal-usul Alda seperti tidak jelas. Tidak heran apabila Alda gemetar berdiri di depan rumah dengan pagar tembok yang menjulang tinggi. Seakan penghuni rumah itu sengaja me

  • Pura-Pura Cerai   1. Kabar Duka

    Sepasang mata Alda terpaku pada benda di tangannya. Dia berharap melihat satu garis lainnya meski hanya bayangan tipis. Sayangnya, sekian menit berlalu, hanya ada satu garis. Tidak ada yang berubah. Hasil pagi ini masih sama dengan hasil sudah-sudah. Alat tes kehamilan menunjukkan negatif. Seolah-olah ada tangan imajiner yang meremukkan jantungnya, Alda merasa begitu sesak. Sudah tiga tahun. Namun, Alda belum bisa memberikan buah hati untuk keluarga kecil mereka. Apa yang salah? Apa ada duri di dalam rahimnya hingga tidak ada janin yang melekat? Segala pertanyaan berlalu-lalang dalam benak Alda. Hanya saja ada satu pertanyaan yang membuat bulu kuduknya meremang. Apakah Roni menyesali menikahi dirinya? Apakah ini hukuman untuknya karena menikah tanpa restu orangtua Roni? Alda menggelengkan kepalanya cepat agar pikiran itu enyah. Lalu, dia membuang alat tes kehamilan itu ke tempat sampah. Betapa dia berharap rasa kalutnya ikut terbuang. Tangan Alda meraih kenop pintu kamar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status