LOGINAzka pulang ke rumah sekitar pukul delapan malam, di saat semua orang di rumahnya sudah selesai melakukan makan malam. Azka memasuki rumahnya dengan langkah cepat, dia masih belum bisa bertemu dengan Dira.Namun, seruan dari sang ibu dari ruang tamu, membuat Azka menghentikan langkahnya dan berjalan menghampiri ibunya yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Ibunya tidak sendiri, ada Dira dan neneknya, entahlah, tapi Azka merasa sesuatu akan terjadi setelah ini.“Kamu tumben pulang telat?”“Kantor lagi banyak kerjaan Ma, ada apa?” Azka bertanya sambil duduk di sofa tunggal tidak jauh dari ibunya.“Mama udah ke pikiran ini sejak beberapa hari yang lalu sebenarnya, Mama juga udah minta saran sama Papa, dan Papa kamu setuju. Jadi, Mama pikir nggak ada alasan lagi buat kamu menolak keinginan Mama ini.”“Tentang apa, Ma?”“Mama rasa kamu dan Dira harus tinggal di rumah yang berbeda, sebelum pernikahan kalian dilaksanakan.” sontak saja kalimat yang ibunya lontarkan, membuat Azka membulatkan ma
Dira kembali ke rumah Azka sekitar pukul tujuh malam, diantar oleh Oki. Bisa di bilang ini waktu terlama, biasanya gadis itu pulang ke rumah Azka tidak selama ini. Jika memang terlambat, gadis itu pasti akan mengatakannya kepada Azka.Dira memasuki rumah Azka dengan langkah pelan, gadis itu baru saja melangkahkan kakinya ke ruang tamu dan sapaan ketus langsung terdengar di telinga Dira.“Dari mana kamu?!”Dira menolehkan kepalanya ke asal suara tersebut, dan dia menemukan Azka yang tengah berdiri dan menatapnya marah.“Aku dari kampus,” jawab Dira pelan.“Dari kampus dan pulang jam segini?!” Azka tertawa sinis kemudian.“Kamu pikir aku nggak tau kalau jadwal kuliah kamu hari ini siang? Dan kamu berangkat dari pagi sampai pulang malam kayak gini. Kamu nggak mikir gimana Daffa nyari bundanya terus, kamu nggak mikirin gimana mama sama nenek yang repot diamin Daffa? Kamu malah enak-enakkan keluyuran nggak jelas dan pulang diantar laki-laki lain!” Dira menghela napasnya pelan.“Aku nggak
Genap lima hari dan Azka kembali ke rumahnya, jika di tanya apakah ada yang berbeda dengan sikap pria itu, maka jawaban Dira adalah tidak. Azka masih sama seperti dulu, saat pulang selalu menepuk kepala Dira sambil tersenyum dengan lembut.Yang berbeda hanya satu, wajah pria itu nampak begitu kelelahan, kantung mata dan lengkungan hitam di bawah matanya tidak bisa Azka sembunyikan. Dira yang merasa kasihan, akhirnya memilih menyuruh Azka untuk beristirahat terlebih dahulu.Dira sebenarnya ingin membahas apa yang sudah dia lihat tempo hari bersama Ratu, namun, menyuruh Azka untuk beristirahat terlebih dahulu mungkin hal yang benar. Berbicara masalah Ratu, gadis itu masih mendiamkan Dira sampai sekarang, kadang jika memang terpaksa berbicara, maka nada ketus yang akan Dira dengar dari mulut Ratu.Alasan mengapa Dira tidak menghampiri Azka dan Claris waktu itu adalah karena gadis itu mengingat nasihat ibunya. Dulu, ibunya selalu mengatakan jika sebaik-baiknya wanita adalah dia yang mampu
Ini hari kedua kepergian Azka bisnis keluar kota, sedari pagi juga, Azka tidak memberi kabar kepada Dira. Terakhir Azka dan Dira berkomunikasi adalah kemarin malam saat pria itu memberi kabar, jika ibunya akan datang malam ini, setelah itu mereka Azka langsung memutuskan sambungan telefon mereka.Dira sebenarnya sudah mengirim pesan kepada pria itu, walau sekedar mengingatkan untuk makan tepat waktu, namun, Azka tidak membalas pesan yang Dira kirimkan, jangankan membalas, dibaca saja tidak oleh Azka.Saat ini Dira dan Daffa tengah berada di bandara menanti kedatangan Ibu Azka yang akan datang saat ini, tentu saja Dira dan Daffa tidak sendiri, mereka ditemani oleh sopir pribadi Azka. Tidak beberapa lama kemudian, Ibu Azka terlihat dari pintu keluar, segera saja Dira dan Daffa datang menghampiri.“Oma!” seru Daffa dengan senang sambil berhambur ke pelukan ibu Azka.“Aduh, cucu oma, tambah gendut sekarang.” Ibu Azka meraih Daffa ke dalam gendongannya dan menciumi wajah gembul Daffa beber
Sudah terhitung dua hari, Nenek Azka tinggal bersama di rumah itu, sementara Ibu Azka mengundur kedatangannya, karena Ayah Azka jatuh sakit setelah perjalanan bisnis keluar kota. Selama dua hari itu juga, tidak henti-hentinya Nenek Azka selalu mengomentari apa yang Dira lakukan. Entah itu menu sarapan, pakaian Dira dan jadwal kuliah gadis itu juga terkena imbasnya.Menurut Nenek Azka, seharusnya Dira lebih mengutamakan waktu bersama Daffa dari pada menghabiskan waktu di luar rumah. Padahal Dira juga tidak bermain di luar, di umur seusia Dira, wajar memang jika gadis itu lebih sibuk dengan dunianya.Dira baru akan berusia dua puluh satu tahun, itu pun masih beberapa bulan lagi. Dira memang masih senang-senangnya mengenal dunia, meski lelah, tapi Dira masih suka dengan kegiatan kuliah dan kegiatan organisasinya. Dira menyukai semuanya, karena kuliah adalah salah satu impiannya.Tapi Nenek Azka tidak berpikir seperti apa yang dipikirkan oleh Dira, pikiran kolot orang jaman dulu. Jika pe
Pagi ini seperti biasa, Azka, Dira dan Daffa melakukan rutinitas sarapan pagi bersama. Pagi ini menu sarapan mereka adalah ayam krispy bumbu asam manis, tumis kangkung, tahu goreng dan sambal.Dira sedang mengupas apel untuk sarapan Azka, pria itu benar-benar tidak bisa sarapan pagi dengan nasi. Azka selalu mengeluh mual sesaat setelah dia makan nasi pagi hari. Jadi, kini Dira hanya menyediakan kopi dan buah untuk sarapan Azka, biasanya juga dengan roti.“Ra, mama mau ke sini,” ucapan Azka membuat Dira menatap Azka dengan cepat lalu beberapa detik kemudian gadis itu menganggukkan kepala mereka.“Kapan Mas?” Dira bertanya sambil menyodorkan sepiring apel yang telah dikupas dan dipotong kepada Azka.“Kalau nggak nanti, ya besok.” Azka kemudian mencomot satu potong apel dan memakannya.Dira hanya menganggukkan kepalanya.“Nda, mau sayul.” Daffa berkata sambil menunjuk tumis kangkung yang Dira buat.“Mau banyak apa sedikit?”“Cedikit.” anak itu sudah mulai suka dengan aneka sayur yang Dir







