Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?

Putra Duda Tampan Itu Memanggilku Bunda?

last updateLast Updated : 2026-10-12
By:  Rizcaca21Updated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel12goodnovel
Not enough ratings
40Chapters
325views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Indira adalah gadis mandiri berusia 20 tahun, kini dia sedang berkuliah jurusan Ekonomi di salah satu Universitas swasta terkenal di Kota Malang. Dira panggilannya, dia sebatang kara. Ayahnya meninggal saat dirinya baru berusia 5 tahun dan saat hari kelulusan SMAnya, sang ibu menyusul kepergian ayahnya karena sakit yang sudah lama dideritanya. Semua baik-baik saja memang, namun pagi itu, saat anak kisaran berumur 3 tahun mengikutinya diam-diam dan memanggil dirinya dengan sebutan Bunda, hidupnya berubah. *** Dia adalah Azka Nugraha, lelaki berusia 33 tahun, pemilik Nugraha Company yang kini sedang banyak-banyak dibicarakan di dunia bisnis berkat kemajuan perusahaan itu secara pesat. Azka duda, dia bercerai dengan istrinya saat sang istri baru saja melahirkan anak mereka. Semua permintaan Daffa, anaknya, selalu dia penuhi, namun saat Daffa meminta seorang gadis remaja menjadi bundanya, mampukah dia memenuhi kemauan sang anak?

View More

Chapter 1

Bab 1

Part 1

Bunda!

Langkah kaki Indira bergema kencang, dengan napasnya terengah-engah, serta peluh dingin yang mulai membasahi pelipis.

Tubuhnya terasa begitu berat. Efek dari keputusan impulsifnya semalam—terbangun hingga pukul empat pagi demi mengejar deadline revisi proposal kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Jika bukan karena tanggung jawabnya sebagai anggota divisi acara, Dira pasti sudah memilih meringkuk di bawah selimut.

"Indira!"

Suara berat seorang pria terdengar memanggil namanya dari arah belakang. Dira mendadak menghentikan langkah, berbalik cepat, dan mendapati sosok yang paling ingin ia hindari pagi ini.

Dirga. Ketua BEM bertangan dingin yang terkenal tak kenal kompromi. Pria itu berjalan mendekat dengan aura penuh dominasi seperti biasanya, membawa map tebal di tangan kiri.

Dira berusaha mengulas senyum tipis, menutupi rasa lelah yang menggerogoti fisiknya. "Pagi, Kak Dir—"

"Mana proposalnya? Aman?" potong Dirga cepat, tanpa basa-basi.

Dira mengepalkan kedua tangannya erat di sisi tubuh. Kata 'proposal' seketika memicu kedutan mengesalkan di pelipisnya. Rasa frustrasi menjalar cepat, tetapi ia berusaha keras menjaga profesionalitasnya.

Dira mengangguk tipis, menguraikan senyum formalis. "Aman, Kak. Nanti aku kirim via—"

"Kita rapat sebentar untuk bahas proposal lo. Gue tunggu di tempat biasa," potong Dirga lagi, sama sekali tidak memberi ruang bagi Dira untuk menyelesaikan kalimatnya.

Jantung Dira rasanya merosot. Pikirannya melayang pada jadwal perkuliahan hari ini. Ia mematung sejenak, menghitung estimasi waktu. Sangat riskan.

"Eh... Maaf, Kak. Tapi aku ada kelas jam sebelas. Bagaimana kalau—"

"Jam sebelas, kan?" sela Dirga untuk ketiga kalinya. Pria itu melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sekarang masih jam sepuluh. Masih sempat."

Tanpa menunggu persetujuan atau tanggapan lebih lanjut, Dirga berbalik arah dan melangkah pergi begitu saja. Pria itu meninggalkannya di tengah koridor tanpa penyesalan.

Dira menghela napas gusar, mengusap wajahnya kasar. Menolak perintah Dirga sama saja dengan mencari masalah besar di organisasi. Dengan langkah berat dan terpaksa, Dira memutar arah, mengekor dari jarak jauh menuju ruang sekretariat BEM tempat mereka biasa berkumpul.

Namun, baru berjalan beberapa meter menyusuri selasar dekat taman fakultas, sebuah tarikan lembut namun tegas menahan ujung kemejanya dari belakang.

"Bunda!"

Dira mendadak menghentikan langkah. Ia berbalik refleks dan menunduk.

Di sana, tepat di belakangnya, berdiri seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar tiga atau empat tahun. Anak itu mengenakan kemeja kotak-kotak mungil dan celana denim. Mata bulatnya yang besar menatap Dira lurus-lurus, bening dan berbinar layaknya mata boneka kayu.

"Siapa?" gumam Dira bingung.

Anak kecil itu mendadak tersenyum sangat lebar hingga memamerkan deretan gigi susunya yang rapi.

"Bunda!" panggilnya sekali lagi, suaranya cempreng namun terdengar begitu yakin.

Dira refleks menoleh ke kanan dan ke kiri. Koridor taman saat itu cukup lengang, hanya ada beberapa mahasiswa yang melintas jauh di sudut lain. Ia memastikan apakah mungkin ada ibu dari anak ini yang berdiri di dekatnya. Namun, tidak ada siapa-siapa. Anak ini sendirian.

Dira mendesah pelan. Ia berlutut, menyejajarkan tingginya dengan bocah tersebut.

"Halo, Sayang. Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Dira seramah mungkin.

Anak kecil itu mendongak anggun, lalu menjawab dengan antusias. "Dapa ikut Papa iting!"

Dira mengerutkan dahi, mencoba mencerna ucapan polos tersebut. "Iting?"

Dapa mengangguk-angguk cepat dengan gemas. Pipi bulatnya yang kemerahan tampak bergetar membalas setiap gerakan kepalanya.

"Iting itu, Papa ketemu sama banyak olang, mejanya besal. Dapa seling diajak Papa."

Dira mengangguk-angguk tipis, meski ada keraguan di benaknya. Ooh... Meeting? batinnya memahami keterbatasan artikulasi anak di hadapannya.

Dira terkekeh pelan, rasa muak dan stres akibat intimidasi 'proposal' dari Dirga seketika terangkat begitu saja saat melihat kelucuan bocah ini.

"Nama kamu Dapa, ya?" tanya Dira lembut.

Anak itu tiba-tiba menggeleng cepat, wajahnya memasang ekspresi tak setuju. "Dapa, Bunda! D - A - P - A!"

Dira kembali terkekeh geli. Kepolosannya sungguh menghibur. "Daffa? Kamu gak bisa ngomong F, ya?"

Melihat bibir mungil Daffa yang memanyun siap melayangkan protes, Dira bergegas berdiri kembali. Ia tidak boleh berlama-lama, anak sekecil ini tidak boleh berkeliaran sendirian di area kampus yang luas. Ia harus mengembalikan bocah ini ke orang tuanya.

Dira memperhatikan sekeliling taman kampus dengan lebih teliti sambil berkata, "Kita harus menemui bundamu, Sayang. Kamu gak boleh sendirian di sini."

Belum sempat Dira melangkah, kedua lengan kecil Daffa mendadak melingkar erat di paha Dira. Bocah itu memeluk kakinya dengan manja, menyandarkan pipinya yang tebal di kain celananya.

"Dapa kan ada Bunda! Kangen Bunda!"

Dira mengerutkan keningnya, kebingungan mulai menjalar di kepalanya. Sejak awal bertemu, anak ini terus saja memanggilnya dengan sebutan 'Bunda'.

Dira mengulurkan tangan, mengelus rambut halus bocah itu dengan lembut. "Aku? Kamu pasti salah mengenali orang. Aku bantu cari bunda kamu, ya."

Daffa menggeleng keras dalam pelukannya. Ia melepaskan pelukan, mendongak, dan menatap Dira. Kali ini, sepasang mata bulat itu mulai digenangi air mata yang siap tumpah.

"Enggak! Enggak! Ini Bunda!" jeritnya serak, menolak tuduhan Dira.

Senyum yang semula mengembang di wajah Dira perlahan memudar, berganti menjadi raut kaku. Pikirannya buntu. Apa? Anak ini benar-benar menganggapku sebagai ibunya?

Dira memegang kepalanya yang mulai terasa pusing. Pacar saja ia tidak punya sejak memasuki jenjang perkuliahan, bagaimana mungkin ia mendadak memiliki anak berusia tiga tahun? Ini sama sekali tidak masuk akal.

Di tengah kepanikan dan kebingungan Dira yang berusaha menenangkan Daffa, dari balik deretan pepohonan taman, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat dengan cepat.

Suara bariton seorang pria dewasa yang dipenuhi nada cemas membuatnya menoleh.

"Daffa?"

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
40 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status