LOGINIndira adalah gadis mandiri berusia 20 tahun, kini dia sedang berkuliah jurusan Ekonomi di salah satu Universitas swasta terkenal di Kota Malang. Dira panggilannya, dia sebatang kara. Ayahnya meninggal saat dirinya baru berusia 5 tahun dan saat hari kelulusan SMAnya, sang ibu menyusul kepergian ayahnya karena sakit yang sudah lama dideritanya. Semua baik-baik saja memang, namun pagi itu, saat anak kisaran berumur 3 tahun mengikutinya diam-diam dan memanggil dirinya dengan sebutan Bunda, hidupnya berubah. *** Dia adalah Azka Nugraha, lelaki berusia 33 tahun, pemilik Nugraha Company yang kini sedang banyak-banyak dibicarakan di dunia bisnis berkat kemajuan perusahaan itu secara pesat. Azka duda, dia bercerai dengan istrinya saat sang istri baru saja melahirkan anak mereka. Semua permintaan Daffa, anaknya, selalu dia penuhi, namun saat Daffa meminta seorang gadis remaja menjadi bundanya, mampukah dia memenuhi kemauan sang anak?
View MoreLangkah kaki Indira bergema kencang, dengan napasnya terengah-engah, serta peluh dingin yang mulai membasahi pelipis.
Tubuhnya terasa begitu berat. Efek dari keputusan impulsifnya semalam—terbangun hingga pukul empat pagi demi mengejar deadline revisi proposal kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Jika bukan karena tanggung jawabnya sebagai anggota divisi acara, Dira pasti sudah memilih meringkuk di bawah selimut.
"Indira!"
Suara berat seorang pria terdengar memanggil namanya dari arah belakang. Dira mendadak menghentikan langkah, berbalik cepat, dan mendapati sosok yang paling ingin ia hindari pagi ini.
Dirga. Ketua BEM bertangan dingin yang terkenal tak kenal kompromi. Pria itu berjalan mendekat dengan aura penuh dominasi seperti biasanya, membawa map tebal di tangan kiri.
Dira berusaha mengulas senyum tipis, menutupi rasa lelah yang menggerogoti fisiknya. "Pagi, Kak Dir—"
"Mana proposalnya? Aman?" potong Dirga cepat, tanpa basa-basi.
Dira mengepalkan kedua tangannya erat di sisi tubuh. Kata 'proposal' seketika memicu kedutan mengesalkan di pelipisnya. Rasa frustrasi menjalar cepat, tetapi ia berusaha keras menjaga profesionalitasnya.
Dira mengangguk tipis, menguraikan senyum formalis. "Aman, Kak. Nanti aku kirim via—"
"Kita rapat sebentar untuk bahas proposal lo. Gue tunggu di tempat biasa," potong Dirga lagi, sama sekali tidak memberi ruang bagi Dira untuk menyelesaikan kalimatnya.
Jantung Dira rasanya merosot. Pikirannya melayang pada jadwal perkuliahan hari ini. Ia mematung sejenak, menghitung estimasi waktu. Sangat riskan.
"Eh... Maaf, Kak. Tapi aku ada kelas jam sebelas. Bagaimana kalau—"
"Jam sebelas, kan?" sela Dirga untuk ketiga kalinya. Pria itu melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sekarang masih jam sepuluh. Masih sempat."
Tanpa menunggu persetujuan atau tanggapan lebih lanjut, Dirga berbalik arah dan melangkah pergi begitu saja. Pria itu meninggalkannya di tengah koridor tanpa penyesalan.
Dira menghela napas gusar, mengusap wajahnya kasar. Menolak perintah Dirga sama saja dengan mencari masalah besar di organisasi. Dengan langkah berat dan terpaksa, Dira memutar arah, mengekor dari jarak jauh menuju ruang sekretariat BEM tempat mereka biasa berkumpul.
Namun, baru berjalan beberapa meter menyusuri selasar dekat taman fakultas, sebuah tarikan lembut namun tegas menahan ujung kemejanya dari belakang.
"Bunda!"
Dira mendadak menghentikan langkah. Ia berbalik refleks dan menunduk.
Di sana, tepat di belakangnya, berdiri seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar tiga atau empat tahun. Anak itu mengenakan kemeja kotak-kotak mungil dan celana denim. Mata bulatnya yang besar menatap Dira lurus-lurus, bening dan berbinar layaknya mata boneka kayu.
"Siapa?" gumam Dira bingung.
Anak kecil itu mendadak tersenyum sangat lebar hingga memamerkan deretan gigi susunya yang rapi.
"Bunda!" panggilnya sekali lagi, suaranya cempreng namun terdengar begitu yakin.
Dira refleks menoleh ke kanan dan ke kiri. Koridor taman saat itu cukup lengang, hanya ada beberapa mahasiswa yang melintas jauh di sudut lain. Ia memastikan apakah mungkin ada ibu dari anak ini yang berdiri di dekatnya. Namun, tidak ada siapa-siapa. Anak ini sendirian.
Dira mendesah pelan. Ia berlutut, menyejajarkan tingginya dengan bocah tersebut.
"Halo, Sayang. Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Dira seramah mungkin.
Anak kecil itu mendongak anggun, lalu menjawab dengan antusias. "Dapa ikut Papa iting!"
Dira mengerutkan dahi, mencoba mencerna ucapan polos tersebut. "Iting?"
Dapa mengangguk-angguk cepat dengan gemas. Pipi bulatnya yang kemerahan tampak bergetar membalas setiap gerakan kepalanya.
"Iting itu, Papa ketemu sama banyak olang, mejanya besal. Dapa seling diajak Papa."
Dira mengangguk-angguk tipis, meski ada keraguan di benaknya. Ooh... Meeting? batinnya memahami keterbatasan artikulasi anak di hadapannya.
Dira terkekeh pelan, rasa muak dan stres akibat intimidasi 'proposal' dari Dirga seketika terangkat begitu saja saat melihat kelucuan bocah ini.
"Nama kamu Dapa, ya?" tanya Dira lembut.
Anak itu tiba-tiba menggeleng cepat, wajahnya memasang ekspresi tak setuju. "Dapa, Bunda! D - A - P - A!"
Dira kembali terkekeh geli. Kepolosannya sungguh menghibur. "Daffa? Kamu gak bisa ngomong F, ya?"
Melihat bibir mungil Daffa yang memanyun siap melayangkan protes, Dira bergegas berdiri kembali. Ia tidak boleh berlama-lama, anak sekecil ini tidak boleh berkeliaran sendirian di area kampus yang luas. Ia harus mengembalikan bocah ini ke orang tuanya.
Dira memperhatikan sekeliling taman kampus dengan lebih teliti sambil berkata, "Kita harus menemui bundamu, Sayang. Kamu gak boleh sendirian di sini."
Belum sempat Dira melangkah, kedua lengan kecil Daffa mendadak melingkar erat di paha Dira. Bocah itu memeluk kakinya dengan manja, menyandarkan pipinya yang tebal di kain celananya.
"Dapa kan ada Bunda! Kangen Bunda!"
Dira mengerutkan keningnya, kebingungan mulai menjalar di kepalanya. Sejak awal bertemu, anak ini terus saja memanggilnya dengan sebutan 'Bunda'.
Dira mengulurkan tangan, mengelus rambut halus bocah itu dengan lembut. "Aku? Kamu pasti salah mengenali orang. Aku bantu cari bunda kamu, ya."
Daffa menggeleng keras dalam pelukannya. Ia melepaskan pelukan, mendongak, dan menatap Dira. Kali ini, sepasang mata bulat itu mulai digenangi air mata yang siap tumpah.
"Enggak! Enggak! Ini Bunda!" jeritnya serak, menolak tuduhan Dira.
Senyum yang semula mengembang di wajah Dira perlahan memudar, berganti menjadi raut kaku. Pikirannya buntu. Apa? Anak ini benar-benar menganggapku sebagai ibunya?
Dira memegang kepalanya yang mulai terasa pusing. Pacar saja ia tidak punya sejak memasuki jenjang perkuliahan, bagaimana mungkin ia mendadak memiliki anak berusia tiga tahun? Ini sama sekali tidak masuk akal.
Di tengah kepanikan dan kebingungan Dira yang berusaha menenangkan Daffa, dari balik deretan pepohonan taman, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat dengan cepat.
Suara bariton seorang pria dewasa yang dipenuhi nada cemas membuatnya menoleh.
"Daffa?"
Azka mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, bersyukurlah Azka karena jalanan masih cukup sepi, karena memang masih pagi, jika tidak, sudah dipastikan Azka menerima umpatan dari para pengendara di jalanan.Setelah memarkirkan mobilnya dengan asal di depan tempat kos Dira, Azka segera turun dari mobilnya dan berjalan setengah berlari ke arah kamar gadis itu, lalu menggedor pintunya dengan keras.“Ra, buka pintunya, Daffa di rumah sakit!”“Dira! Kamu didalam, kan?”“Ra, buka pintunya! Daffa cariin kamu dari semalam, buka pintunya, Ra!”Mungkin karena kegaduhan yang Azka perbuat, penghuni kamar kos di sebelah kamar Dira mulai membuka pintu kamarnya.“Pak Azka, ya?”Merasa namanya dipanggil, Azka menolehkan kepalanya kepada gadis yang Azka perkirakan usianya sama dengan Dira.“Iya, kenapa?”“Sebentar-” gadis itu kembali masuk ke dalam kamarnya dan tidak berapa lama kemudian, gadis itu keluar dengan membawa kunci.“Ini kunci kamarnya Dira, disuruh kasih ke Pak Azka.” Azka
Sepanjang perjalanan, hanya diam yang mengisi keheningan didalam mobil yang ditumpangi oleh Azka dan Dira. Dira memalingkan wajahnya ke arah jendela disampingnya, enggan melihat ke arah Azka. Sementara Azka sedari tadi ingin mengajak Dira bicara, namun Azka menahannya karena merasa jika suasana saat ini kurang pas.Sesampainya di depan tempat kos Dira, gadis itu baru saja akan keluar dari mobil Azka, namun pria itu menghentikannya.“Kita perlu bicara.”Dira menghela napas sebelum memilih tetap duduk didalam mobil Azka.“Mas sekarang udah bicara,” ucapnya dengan pelan.“Aku minta maaf, Ra, aku tau sikapku akhir-akhir ini sangat kekanak-kanakan, aku nggak bisa bersikap dewasa menghadapi semuanya. Aku, aku salah Ra, aku minta maaf.” raut wajah frustrasi tidak bisa Azka sembunyikan lagi, kentara sekali jika pria itu sedang cemas saat ini.Dira menghadap Azka lalu gadis itu tersenyum seperti biasa.“Aku maafin, Mas.”Seharusnya Azka senang mendengar jawaban yang Dira berikan, namun kenyata
Keadaan Azka tidak jauh berbeda dengan Dira, pria itu menjadi terkena insomnia. Azka terlalu memaksakan tubuhnya untuk bekerja, tidak tidur tepat wakku dan menjadi jarang menemani Daffa bermain, untung saja ada mama dan neneknya yang menemani Daffa.Azka memikirkan hubungannya dengan Dira yang menjadi semakin jauh ini. Sejujurnya Azka tidak menyukai ini, namun, dia juga benar-benar masih bimbang. Azka mengaku jika dirinya bersalah telah membohongi Dira waktu itu, bahkan sampai sekarang.Namun, tidak bisakah Dira memberinya waktu, bukan malah menjauh seperti ini. Azka memang hanya perlu waktu untuk berpikir, tentang Claris dan Dira. Dua perempuan itu berputar-putar di kepalanya hingga membuat kepalanya hampir pecah.*Beberapa jam sebelum pesta, di kantor AzkaBambang masuk ke dalam ruangan Azka tanpa permisi. Laki-laki itu duduk di sofa yang ruangan Azka. “Nanti malam, lo ada undangan ulang tahun perusahaan.”“Gue malas datang, lo aja.”“Kita berdua berangkat, lo perlu datang buat men
Karena memang acara bakti sosial akan dilaksanakan hari sabtu besok, maka, kini Ratu dan Dira sedang berada di pasar untuk membeli perlengkapan yang akan mereka butuhkan di sana nanti.Sedari tadi Ratu tidak berhenti mendumel, gadis itu menyalahkan Dira yang terlalu patuh dengan perintah Dirga. Ratu sudah mengatakan jika mereka lebih baik belanja di supermarket saja, tapi Dira menolak dengan tegas.Dan di sinilah mereka sekarang, setelah hampir dua jam mengelilingi pasar yang membuat kaki Ratu terasa hampir copot. Dira mengajak Ratu minum es cincau di tempat parkir pasar, tidak jauh dari mobil Ratu berada.“Lo gimana sama Pak Azka?” sebenarnya Ratu sudah ingin bertanya ini dari dulu, namun gadis itu mencari momen yang tepat.“Nanti kalau gue cerita sama lo, lo bakal bilang lagi sama anak-anak.” Dira tertawa di akhir kalimatnya.“Itu-kan karena gue keceplosan, soalnya si Dirga mancing-mancing terus.”Dira hanya tersenyum mendengarnya.“Ra, sebenarnya gue pengen tanya sesuatu sama lo. T












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.