LOGINTiga bulan sebelum cerai, dia mengajukan permohonan pindah kerja. Sebulan sebelum cerai, dia mengirimkan surat perjanjian cerai pada Jason. Tiga hari sebelum cerai, dia membereskan semua barang-barangnya dan pindah dari rumah mereka. ... Hubungan enam tahun kandas begitu saja. Clara tersadar sepenuhnya di saat Jason muncul di hadapannya bersama cinta pertamanya. Anak cinta pertamanya juga memanggil Jason dengan sebutan 'Ayah'. Lantaran Jason terus membuat Clara menoleransi kehadiran cinta pertamanya beserta putranya, seolah-olah Clara itu simpanan yang hanya bisa disembunyikan, lebih baik dia mengakhiri pernikahan mereka dan merestui Jason dengan cinta pertamanya. Namun di saat Clara sepenuhnya menghilang dari dunianya, Jason menjadi gila. Dia mengira Jason akan mendapatkan apa yang diinginkannya dan menikahi cinta pertamanya. Namun, Clara tidak menyangka pria yang begitu arogan itu akan mengemis cinta padanya di depan media dengan mata merah. "Aku nggak selingkuh. Aku juga nggak punya anak haram. Aku cuma punya istri yang nggak menginginkanku lagi. Namanya Clara Sengadi. Aku merindukannya!"
View MoreSetelah mengobrol beberapa saat, Jason pun meletakkan gelas anggurnya, lalu mengambil ponselnya, dan pergi ke koridor untuk menjawab panggilan."Pak Jason, Nyonya Clara ... nggak ada di Rumah Sakit Joria."Pria itu berdiri di dekat jendela setinggi langit-langit. Wajah tampannya tersembunyi di balik lampu neon. Ekspresinya sulit ditebak. "Kamu yakin?""Aku sudah konfirmasi. Rumah Sakit Joria memang menerima permohonan Nyonya Clara sebelumnya, tapi permohonan itu ditarik kembali setengah bulan yang lalu." Anna kembali menambahkan, "Pihak rumah sakit mengira Nyonya Clara memilih untuk tetap bekerja di tempat kerja semula."Jason terdiam cukup lama, lalu berkata, "Kalau begitu, cari satu per satu rumah sakit yang lain.""Bagaimana kalau nggak ditemukan juga?"Dia mengeluarkan sebungkus rokok, lalu mengambil satu batang, dan memasukkannya ke mulutnya. "Nanti baru dibicarakan lagi."Setelah menutup telepon, Jason menyalakan sebatang rokok dengan korek api logam. Asap putih itu sesaat mengab
Elma terkejut. "Kamu sudah menikah?""Dulu nikah muda, sekarang mau cerai muda."Elma berpikir sejenak, lalu menoleh. "Kalau kamu cerai, kamu akan jadi lajang. Bagaimana kalau Profesor Niel menyukaimu ....""Itu urusannya, bukan urusanku. Hanya karena dia menyukaiku bukan berarti aku harus menyukainya juga, 'kan? Pernikahanku sangat kacau, jadi aku nggak ingin pacaran lagi. Hidup bukan hanya tentang pacaran dan menikah.""Asal kita bebas, punya uang, bisa pergi ke mana pun kita mau, dan bisa lakukan apa pun yang kita mau, bukankah itu semua lebih bahagia?"Clara tersenyum. Keinginan hatinya terpancar dari matanya. Tatapannya menjadi cerah dan jernih.Melihat senyumannya, Elma sempat tertegun sejenak.Apa ini yang namanya enak dipandang mata?Makin dipikir, Elma makin merasa dirinya keterlaluan.Sebenarnya, Clara tidak seangkuh seperti yang digambarkan para perawat ...."Kamu ... kamu nggak menyalahkanku?"Clara memiringkan kepalanya. "Salahkan kamu soal apa?"Elma menyerah. "Baiklah, s
"Kak Niel, kamu rasa apa aku masih bisa menyelamatkan hubunganku dengannya?"Niel bersandar di sofa dengan kaki bersilang sambil membaca buku pengobatan kuno. Mendengar pria di seberangnya mengajukan pertanyaan padanya, dia mendongak dan berkata, "Aku nggak tahu. Kamu tanya aku?"Nando tersenyum pahit. "Benar juga, kamu nggak peduli dengan hal-hal seperti ini."Dia sudah mengenal Niel selama bertahun-tahun. Dia tahu Niel tidak tertarik pada hubungan asmara dan hanya tertarik pada buku-buku kedokteran. Apa gunanya dia menanyakan masalah Clara pada Niel?Niel tidak bisa memberinya jawaban."Seingatku, kamu nggak pernah pusing soal perempuan." Tatapan Niel kembali tertuju pada bukunya."Dulu memang seperti itu, tapi ...." Nando mengerutkan bibir. "Aku merasa bersalah padanya."Niel tiba-tiba memandangi wajah serius Nando. "Jarang-jarang kamu merasa bersalah pada seorang wanita. Aku penasaran siapa dia.""Namanya Clara Sengadi."Niel terdiam sejenak, lalu dengan cepat tersadar dan mulai be
"Aku penasaran putra keluarga siapa yang begitu beruntung. Tapi kenapa mau bercerai?"Meskipun Nyonya Farah terkejut, dia masih bisa menerimanya.Clara sangat cantik, menawan, dan juga berkulit putih. Gadis itu sepertinya juga penurut. Di lingkungan sosial mana pun, tipe gadis seperti ini sangat populer dan tentu saja punya banyak pengagum.Sebelum Clara menjawab, Profesor Surya telah menyela, "Bercerai juga ada bagusnya. Itu berarti pria itu nggak beruntung."Nyonya Farah juga menimpali, "Zaman sekarang ini, banyak anak muda yang bercerai. Itu juga bukan hal yang aneh. Clara jelas bisa mendapatkan yang lebih baik."Clara tersenyum. Dia menundukkan kepala untuk makan dan tidak mengatakan apa pun lagi.Selesai makan, Clara pun berjalan di samping Nyonya Farah. Dia dan Profesor Surya mengantar Hadi dan istrinya ke mobil mereka.Niel berjalan di belakang mereka dengan langkah santai.Setelah keduanya pergi, Profesor Surya menatap Clara. "Clara, kamu mau balik ke rumah sakit atau ke tempat






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore