Masuk"Pangeran Ganendra terlalu menilai tinggi diriku." Suara Andini terdengar serak dengan nada mengejek diri sendiri. Dia meletakkan cangkir teh, lalu dengan lembut menyentuh luka di pergelangan tangannya. Dalam gerakannya terselip sedikit kerapuhan akibat trauma yang belum hilang."Semalam, aku memang masuk ke kawasan terlarang. Di sana, jebakan tersebar di mana-mana. Setiap langkah penuh ancaman maut, nyaris mustahil untuk selamat."Dia sengaja berhenti sejenak. Pandangannya jatuh pada pergelangan tangannya sendiri, lalu dia tersenyum pahit. "Meskipun masuk ke kawasan terlarang, aku nggak berhasil masuk lebih dalam. Braja juga tewas di dalam sana."Dia sengaja berkata demikian, agar Ganendra keliru mengira bahwa Braja mati akibat mekanisme jebakan di dalam kawasan terlarang.Tatapan Ganendra tertahan sesaat pada luka di pergelangan tangan Andini. Sorot penilaian yang tajam tampak sedikit melunak, tergantikan oleh pemahaman yang nyaris meremehkan.Dia menyandarkan tubuh ke belakang, meng
Surya mengerutkan kening, sepenuhnya memahami kekhawatiran Andini. Betapa pentingnya kawasan terlarang itu bagi Keluarga Gutawa, jelas sudah melampaui batas kewajaran."Kamu benar. Masalah ini menyangkut banyak hal. Menarik satu benang bisa mengguncang segalanya. Kita harus memikirkannya dengan matang ....""Tapi nggak ada waktu lagi!" Andini tiba-tiba memotong ucapannya. Suaranya rendah, tetapi tegang seperti dawai yang ditarik sampai batasnya, sarat dengan urgensi yang nyaris meledak."Rangga .... Dia nggak akan bisa bertahan lama lagi! Aku harus segera mendapatkan Rumput Giok Ungu Beku! Kalau terlambat ... benar-benar tak tertolong lagi!"Kening Surya semakin berkerut. Suaranya yang dalam terdengar sangat jelas di udara yang menekan. "Kalau begitu, kamu kembali dulu ke halaman samping untuk istirahat. Aku akan menemui Pasukan Harimau, menyuruh mereka menyiapkan darah babi dan darah sapi dalam jumlah besar, untuk berjaga-jaga. Soal Ikhsanun ...."Dia sedikit mengernyit, memandang ke
Mendengar kata-kata Rinun yang sarat dengan keluhan itu, Andini dan Surya tanpa sadar saling bertukar pandang. Keduanya membaca dengan jelas rasa tak berdaya dan secercah rasa bersalah di mata masing-masing.Rinun tampaknya juga tidak berniat memperpanjang persoalan saat ini. Dia menarik napas dalam-dalam, menenangkan emosinya, lalu raut wajahnya berubah menjadi sangat serius."Tapi pada akhirnya, memang Keluarga Gutawa yang bersalah lebih dulu karena memenjarakan orang-orang setia dan benar. Soal kamu memanfaatkanku, untuk saat ini bisa kutangguhkan dulu. Tapi ada satu peringatan yang tetap harus kusampaikan kepada kalian berdua."Pandangannya menyapu Andini dan Surya. Dia merendahkan suara, setiap katanya terdengar jelas. "Penjara Air Hitam Keluarga Gutawa didirikan para leluhur dan sudah ada sejak ratusan tahun lamanya. Dalam ratusan tahun itu, belum pernah ada satu orang pun yang bisa keluar hidup-hidup. Pangeran, berhati-hatilah."Ucapan Rinun berhenti sampai di situ, tanpa penjel
Melihat Ikhsanun yang nyaris runtuh, Andini pada akhirnya tetap menelan kembali kata-kata yang sebenarnya ingin dia ucapkan.Dia bertukar pandang sejenak dengan Surya, lalu diam-diam meninggalkan ruang kerja itu. Baru setelah berjalan cukup jauh dari ruang kerja, Andini tak kuasa menengadah, memandang langit biru yang terbentang luas, lalu mengembuskan napas panjang dan berat.Perasaan tertekan yang begitu berat itu bukan hanya sulit ditanggung oleh Ikhsanun, bahkan Andini sendiri pun merasakannya sepenuh hati, seolah-olah arwah-arwah tak berdosa yang mati sia-sia selama ratusan tahun akhirnya bisa meratap dan menuntut keadilan pada saat ini.Saat itu, tubuh Surya mendekat, membawa aroma yang Andini kenal dan rasa aman yang menenangkan."Nggak enak badan?" Suara rendahnya terdengar.Andini menoleh. Mata yang sedikit memerah belum sepenuhnya pudar. Sudut bibirnya berusaha terangkat membentuk senyuman tipis."Nggak." Suaranya agak serak. "Hanya merasa ... agak menyedihkan."Bagaimana mun
Namun, bahkan Intan sendiri tak akan pernah menyangka bahwa niatnya untuk membalas dendam pada Keluarga Gutawa pada akhirnya justru hanya membalas dendam pada perempuan-perempuan Keluarga Gutawa ...."Nggak, nggak mungkin!" Pada saat inilah, di tengah benak Ikhsanun yang kacau dan dipenuhi penderitaan, sebuah pikiran tiba-tiba melintas, bagaikan meraih seutas jerami penyelamat!"Lalu, bagaimana dengan Rinun?" Dia seperti mencengkeram papan apung terakhir. Suaranya serak, dipenuhi kegentingan orang yang nyaris tenggelam dan kebingungan. Dia meraung rendah, "Kalau ... kalau kamu bilang mekanisme itu sebenarnya sama sekali nggak membutuhkan darah tertentu ... lalu kenapa dulu Rinun nggak berhasil membuka harta rahasia itu? Kenapa dia bisa selamat?"Pertanyaan itu bagaikan batu yang dilemparkan ke dalam air mati, membuat tatapan Andini seketika menjadi dalam dan rumit.Dia menatap mata Ikhsanun yang penuh rasa sakit dan kebingungan, lalu bertanya perlahan, "Waktu itu ... siapa yang menggen
Dia sengaja menekankan kata "kepala keluarga". "Kamu seharusnya sudah sangat paham. Kunci mekanisme harta rahasia di kawasan terlarang itu sama sekali bukan darah perempuan anggota Keluarga Gutawa!""Darah Braja bisa, darahmu juga bisa, bahkan mungkin darah pelayan di luar sana pun bisa!"Mendengar itu, wajah Ikhsanun seketika menegang. "Apa yang kamu bicarakan?"Pelayan di luar sana jelas bukan orang Keluarga Gutawa! Bahkan bukan kerabat jauh!Alis Andini berkerut rapat. "Kepala Keluarga Gutawa masih belum mengerti? Semua mekanisme di dunia ini tampak memiliki ribuan variasi, tapi pada dasarnya hanyalah benda mati yang disusun dari besi dingin dan batu keras! Bagaimana mungkin bisa mengenali garis darah? Kenapa harus secara khusus 'meminum' darah perempuan anggota Keluarga Gutawa?"Tangan Ikhsanun yang bertumpu di atas meja tanpa sadar mulai bergetar halus."Jadi, menurut ucapan Kepala Lembah Andini, darah siapa pun bisa? Bahkan darah babi, darah sapi, atau mungkin sebenarnya tak perl






