LOGIN“Kalau kita berhenti sekarang, kau bisa melupakanku?” Alea tak pernah membayangkan satu pertemuan singkat akan menyeretnya ke wilayah paling berbahaya dalam hidupnya. Arjuna Diwangsa—seorang CEO berusia matang, berwibawa, dan tak tersentuh—adalah godaan yang seharusnya tak pernah ia pandang dua kali. Terlalu berkuasa. Terlalu dingin. Terlalu terlarang. Ketertarikan mereka tumbuh perlahan, penuh tatapan tertahan, batas yang diuji, dan kendali diri yang terus retak. Di balik sikap tenangnya, Arjuna menyimpan intensitas yang membuat Alea mempertanyakan keinginan terdalamnya sendiri. Semakin dekat mereka melangkah, semakin kabur garis benar dan salah. Masalahnya, Arjuna bukan sekadar pria berbahaya. Ia adalah ayah dari sahabat Alea. Di dunia urban kelas atas yang menuntut citra sempurna, satu rahasia bisa menghancurkan segalanya—termasuk hati yang telanjur terikat.
View MoreUjung sepatu lari asics-ku menghantam permukaan aspal kompleks perumahan dengan ritme konstan. Satu, dua. Satu, dua.Udara pagi menabrak wajahku, membawa serta suhu dingin yang tersisa dari embun semalaman. Ritme napasku teratur, mengisi paru-paru secara presisi sebelum melepaskannya perlahan.Dulu, aku tidak pernah bisa berjalan pagi dengan tangan kosong.Pasti selalu ada buku catatan kecil di tanganku, atau setidaknya ponsel dengan aplikasi perekam suara yang menyala. Dulu, aku takut kehilangan ide. Aku takut sebuah pemikiran lewat begitu saja dan aku tidak punya cukup amunisi untuk menulis.Pagi ini, kedua tanganku bebas berayun di sisi tubuh.Percakapanku dengan Elang di perpustakaan kecil beberapa saat lalu masih tertinggal di kepalaku. Kata-kata anak itu berdengung, namun tidak menciptakan kekacauan. Kata-katanya justru membuka sebuah ruang kosong yang tenang di dalam dadaku.Aku terus melangkah menyusuri trotoar. Sinar matahari mulai memanjat naik melewati atap-atap rumah.Ada
Lantai bawah masih diselimuti sisa-sisa bayangan subur. Fajar baru saja merekah, mewarnai langit di balik jendela dengan semburat ungu kelabu.Biasanya, jam segini adalah waktu eklusifku. Aku akan menjadi orang pertama yang bangun, menyeduh kopi, dan mengunci diri di perpustakaan kecil untuk menulis. Ritual itu sudah menjadi fondasi pagiku selama bertahun-tahun.Namun pagi ini, rutinitas itu terpatahkan.Pintu perpustakaan kecil tidak tertutup rapat. Ada celah selebar dua jari yang membiarkan cahaya kekuningan dari lampu meja menembus ke lantai lorong. Seseorang sudah menyalakannya lebih dulu.Aku mendorong pintu kayu itu perlahan. Engselnya tidak berderit.Elang sudah ada di sana.Anak laki-lakiku duduk tegak di atas kursi kerjaku. Kursi bersandaran tinggi itu tampak terlalu besar untuk ukuran tubuhnya. Namun, posturnya memancarkan otoritas alami yang tidak bisa diremehkan.Buku memoir pertamaku tergeletak terbuka di atas pangkuannya.Ini adalah pemandangan yang belum pernah terjadi
Udara sore di lantai dua rumah kami terasa luar biasa senyap. Hanya ada dengungan pelan dari mesin pendingin ruangan.Aku berdiri di lorong kayu, berjarak dua langkah dari pintu kamar Elang. Pintunya sengaja dibiarkan terbuka separuh. Cahaya matahari sore yang mulai berubah warna menjadi jingga tumpah menembus kaca jendela, memotong karpet kamarnya.Dari celah pintu itu, aku bisa melihat putraku dengan sangat jelas.Elang duduk bersila di atas lantai. Punggungnya bersandar kuat pada sisi tempat tidur. Buku bersampul tebal dengan namaku di atasnya terbuka lebar di pangkuan anak itu.Dia tidak membaca dengan gaya santai seorang anak yang sedang menikmati buku cerita petualangan. Posturnya sangat kaku. Otot di lehernya terlihat tegang. Jari telunjuk tangan kanannya bergerak lambat, menelusuri barisan kalimat di atas kertas secara presisi.Sesekali, gerakan jarinya berhenti total.Elang akan mengangkat kepalanya. Matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar putihnya. Dia diam dalam p
Lantai kayu terasa dingin menyentuh telapak kaki telanjangku. Sinar matahari pagi baru separuh membelah koridor lantai dua. Biasanya, Sabtu pagi di rumah ini diisi oleh keheningan panjang yang menenangkan. Namun hari ini berbeda.Ada suara desisan minyak panas dari arah lantai bawah. Bau mentega yang mencair dan gurihnya telur goreng merayap naik melalui tangga, memenuhi rongga udara.Aku menuruni sisa anak tangga tanpa suara. Mataku langsung menangkap siluet kecil di depan kompor dapur.Elang berdiri di sana. Anak berusia sembilan tahun itu mengenakan kaus katun abu-abu yang sedikit kebesaran. Tangan kanannya menggenggam gagang spatula besi dengan mantap. Fokusnya terpusat penuh pada wajan di depannya.Dia tidak lagi membutuhkan bangku pijakan untuk mencapai tinggi kompor. Bahunya sudah lebih lebar. Posturnya tegak.Aku bersandar pada kusen pintu dapur. Udara di sekitarku terasa hangat oleh uap masakan."Elang, dari kapan di sini?" tanyaku pelan.Bahu kecilnya tidak terlonjak. Dia su






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore