LOGIN“Kalau kita berhenti sekarang, kau bisa melupakanku?” Alea tak pernah membayangkan satu pertemuan singkat akan menyeretnya ke wilayah paling berbahaya dalam hidupnya. Arjuna Diwangsa—seorang CEO berusia matang, berwibawa, dan tak tersentuh—adalah godaan yang seharusnya tak pernah ia pandang dua kali. Terlalu berkuasa. Terlalu dingin. Terlalu terlarang. Ketertarikan mereka tumbuh perlahan, penuh tatapan tertahan, batas yang diuji, dan kendali diri yang terus retak. Di balik sikap tenangnya, Arjuna menyimpan intensitas yang membuat Alea mempertanyakan keinginan terdalamnya sendiri. Semakin dekat mereka melangkah, semakin kabur garis benar dan salah. Masalahnya, Arjuna bukan sekadar pria berbahaya. Ia adalah ayah dari sahabat Alea. Di dunia urban kelas atas yang menuntut citra sempurna, satu rahasia bisa menghancurkan segalanya—termasuk hati yang telanjur terikat.
View MoreLayar ponselku menyala terang di samping tumpukan map proyeksi finansial. Getaran beruntunnya membelah konsentrasiku pagi ini.Aku sedang menyusun daftar divisi untuk proses audit internal. Menolak mengasihani diri sendiri atau menangisi nasib perusahaan yang sedang goyah. Aku butuh bergerak cepat.Satu notifikasi berita dari portal nasional muncul di layar kunci. Judulnya dicetak tebal, mendominasi layar dengan huruf kapital yang telanjang."Raka Wibisana, Penggugat Diwangsa, Buka Suara: 'Artikel Ini Bukan yang Aku Inginkan'."Jari telunjukku terhenti di atas keyboard laptop. Ruang kerjaku yang dingin seketika terasa menyusut.Aku menyambar ponsel itu. Menggeser layarnya secepat kilat dan membuka tautan artikel tersebut. Mataku menyapu deretan paragraf berita dengan kecepatan penuh.Pukul delapan pagi tadi, Raka menggelar konferensi pers dadakan. Lokasinya di lobi firma hukum pribadinya. Tidak ada pengacara pendamping, tidak ada naskah tertulis di tangannya.Video sematan di artikel
Pagi tiba membawa rasa pedih yang menyengat di sudut mataku.Kurang tidur membuat kedua pelipisku berdenyut seirama dengan detak jantung. Tubuhku terasa berat, menolak perintah otak untuk bergerak.Namun aroma mentega cair yang terbakar pelan di atas wajan menarikku keluar dari lorong gelap menuju dapur.Arjuna berdiri membelakangiku di depan kompor marmer. Kemeja putihnya sudah diganti dengan kaus abu-abu polos yang melekat ketat di punggung lebarnya.Tangan kanannya memegang spatula silikon. Pria itu sedang berjuang membalik telur dadar di dalam teflon panas.Bentuk telur itu hancur berantakan. Sama sekali tidak bulat sempurna. Bagian kuningnya robek lebar di tengah, memperlihatkan kematangan yang tidak merata.Aku menarik kursi island dapur tanpa suara dan duduk bersandar. Mengawasi gerak-geriknya dalam diam.Pria ini, tiran raksasa yang semalam merosot hancur mempertanyakan moralitasnya sendiri di atas karpet, pagi ini sibuk mengurus sarapan putranya.Arjuna memotong telur cacat i
Pukul tiga pagi. Kegelapan di dalam kamar tidur ini terasa sangat pekat dan menekan.Aku terbangun dengan napas sedikit tersengal. Mimpi buruk yang bentuknya tidak kuingat baru saja memaksaku membuka mata secara paksa.Tanganku secara naluriah meraba sisi ranjang di sebelahku. Kosong.Seprai sutra di sana terasa sangat dingin di bawah telapak tanganku. Tidak ada sisa kehangatan tubuh yang tertinggal.Arjuna belum kembali sejak pembicaraan keras kami di ruang makan berjam-jam yang lalu.Aku duduk perlahan. Menyingkirkan selimut tebal yang membebat kakiku dengan perasaan waswas. Rasa cemas langsung merayap naik, mencengkeram dadaku dengan erat.Lantai marmer mengantarkan suhu beku ke telapak kakiku saat aku melangkah turun dari ranjang. Lorong penthouse ini dibiarkan gelap gulita.Hanya suara dengung pelan dari mesin pendingin sentral yang menemani langkahku.Namun di ujung koridor, ada satu garis cahaya kuning pucat yang membelah kegelapan.Cahaya tipis itu merembes dari bawah celah pi
Ruang makan penthouse ini tidak pernah terasa sedingin malam ini.Mesin pendingin sentral berdengung pelan, mengirimkan udara beku yang menusuk langsung ke permukaan kulitku. Di luar sana, lampu-lampu kota Jakarta berkelap-kelip tanpa suara.Di dalam sini, kesunyian terasa begitu pekat hingga membuat telingaku sakit.Elang sudah lelap di kamarnya sejak satu jam yang lalu. Anak itu tidak tahu apa-apa tentang badai yang sedang menghancurkan kewarasan kedua orang tuanya.Meja makan kayu jati raksasa ini bersih tanpa hidangan apa pun. Tidak ada makan malam. Tidak ada nafsu untuk menelan makanan.Hanya ada dua cangkir teh chamomile yang diletakkan tepat di tengah meja.Uap panasnya menari pelan ke udara, perlahan-lahan menipis sebelum akhirnya menghilang sama sekali. Teh itu mendingin tanpa disentuh.Sama seperti sisa-sisa kehangatan di antara kami.Aku duduk bersandar kaku di ujung meja. Jemariku bertaut erat di atas pangkuan, menyembunyikan getaran halus yang sejak pagi menolak reda.Arj
Napas Arjuna memburu, menerpa wajahku dengan panas yang membakar. Matanya yang hitam pekat menatapku seolah ingin menelanku hidup-hidup.Cengkeramannya di lenganku menyakitkan, tapi rasa sakit di hatiku jauh lebih parah."Lepasin!"Aku meronta sekuat tenaga. Adrenalin dan kemarahan memberiku kekuat
Tok. Tok. Tok.Ketukan di pintu terdengar ragu."Al? Lo masih bangun?"Suara Luna.Aku melirik jam dinding. Pukul sebelas malam. Tumben dia belum tidur. Biasanya jam segini dia sudah sibuk dengan ritual skincare malamnya yang panjang."Masuk aja, Lun. Nggak dikunci," sahutku tanpa mengalihkan panda
Jakarta menyambut kami kembali dengan kemacetan, polusi, dan tumpukan pekerjaan yang menggunung.Kantor Diwangsa Corp hari ini sibuk luar biasa. Telepon berdering tanpa henti, staf berlalu-lalang membawa dokumen, dan suara printer menderu di setiap sudut.Ritme cepat ini biasanya membuatku pusing,
Malam semakin larut, namun tidur adalah hal terakhir yang bisa kulakukan.Luna sudah masuk ke kamarnya sejam yang lalu tanpa mengucapkan selamat malam. Pintu kamarnya tertutup rapat, seolah menjadi barikade yang memisahkan kami.Keheningan di Penthouse ini terasa mencekam, seperti ketenangan sebelu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore