Share

Kembalilah Padaku

"Apa yang kau lakukan, Max! Lepaskan aku!" Mitha berseru ketika tiba-tiba merasakan sepasang tangan kokoh memeluk pinggangnya dari belakang.

Max semakin mengeratkan pelukannya. Membenamkan kepala di ceruk leher Mitha. "Sebentar saja, biarkan seperti ini, Princess ...."pintanya lirih.

"Max ...." erang Mitha saat merasakan pria itu mengendus lehernya. Sesaat kewarasan wanita itu lenyap. Rasa yang terkubur tiga tahun lalu perlahan muncul ke permukaan. Munafik jika dia tidak menyukai sentuhan Max. Meski puluhan purnama berlalu, tetapi tubuhnya masih mengingat rasa itu. Rasa hangat dan menenangkan.

Hanya Max yang bisa menenangkan gundahnya. Memberi kekuatan saat dia rapuh, dan mengulurkan tangan ketika dia terpuruk.

"Kembalilah padaku, Mit. Ayo kita tinggalkan tempat ini. Tinggalkan suamimu yang brengsek itu," bisik Max.

Mendengarnya refleks Mitha menyentak tangan Max kasar dan bergerak menjauh. "Keluar, Max!" perintah Mitha ketus.

Bukannya menjauh, Max semakin mendekati Mitha yang tersudut di dinding ruang kerjanya. "Tidak! Aku bisa merasakan kau menikmati sentuhanku. Kita punya rasa yang sama, Mit!" tegasnya.

Mitha melipat tangannya di dada, "Hah! Kau terlalu percaya diri, Max! Di antara kita tidak pernah ada kisah romantis. Mungkin kita pernah dekat, tapi hanya sebatas sahabat. Jangan berlebihan!" sarkasnya.

Ekspresi Mitha terlihat datar. Namun, sebenarnya wanita itu mati-matian menekan perasaannya. Sekuat apapun dia menyangkal, desiran itu masih ada. Max menatap Mitha sendu. Seakan semua kepedihannya bermuara di sana. Pria itu merutuki dirinya sendiri. Seandainya tiga tahun yang lalu berani menolak permintaan Papanya. Memiliki keberanian memperjuangkan Mitha, tentu saja saat ini dia adalah pria yang paling bahagia.

Max pikir dengan menyerahkan Mitha ke tangan Vano dan janji Papanya akan membuat wanita yang dicintainya itu bahagia. Lelaki itu mengalah. Menjauh dari hidup Mitha, meski dia tahu perasaan wanita itu padanya. Dia memilih membunuh rasa di hati Mitha, melarikan diri, dan bersembunyi dari luka patah hati. Bertahun lamanya Max menata hati, mencoba menggerus bayang Mitha, tetapi rasa itu semakin kuat.

Puncaknya ketika orang kepercayaan Max memberi kabar tentang sepak terjang Vano. Ada amarah yang tak dapat dibendung. Pengorbanan yang sia-sia. Keputusannya justru menjerumuskan Mitha ke dalam penderitaan. Sebab itulah Max memutuskan kembali, merebut cintanya walau harus berperang dengan Vano atau Hermawan.

"Dengarkan aku sekali saja, Mit. Aku memang pengecut. Seorang pecundang. Aku tidak pernah berani jujur tentang perasaanku, tapi hanya kamu satu-satunya wanita di hatiku. Aku bisa melihat binar itu di matamu sampai sekarang. Aku tau ini terlarang. Aku hanya ingin kamu bahagia, ingin kamu berhenti berpura-pura kuat. Jadilah Mithaku yang dulu. Sekarang akan kulawan siapa saja yang menentang kita, bahkan dunia sekalipun."

Max mendekati Mitha yang masih mematung. Mengikis jarak yang membentang antara mereka. Tangan Max menangkup wajah cantik yang basah oleh air mata. Bulir-bulir itu luruh begitu saja. Max mengusap lembut pipi Mitha dengan ibu jarinya.

"Ikutlah denganku. Tinggalkan neraka ini!" pinta Max menatap Mitha lembut.

"It's too late, Max!" erang Mitha lirih, pertahanannya mulai rapuh.

"Nope, tidak ada kata terlambat, Dear!" ujar Max meyakinkan.

"Tapi Aku istri Vano, kakak ip--"

"Peduli setan dengan semua itu. Kutunggu keputusanmu lusa atau aku akan memaksamu," potong Max dengan nada mengancam.

*

Mitha memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri. Ultimatum Max membuatnya gila. 'Ya, Tuhan! Tak cukup Vano saja yang membuatku gila. Sekarang, Max!' gumam frustasi.

"Anda tidak apa-apa?" tanya Haris khawatir melihat raut wajah Mitha terlihat kacau.

Mitha mendongak. "Yah, sedikit pusing. Terlalu banyak masalah." Hening sesaat. "Haris, temani aku ke klub, sepertinya aku butuh hiburan," pinta Mitha ringan.

Haris mengernyitkan dahinya. "Anda ingin minum?" Dia mencoba meyakinkan permintaan Mitha.

"Sudahlah, ayo!" ajak Mitha bangkit dan berjalan meninggalkan Haris yang masih keheranan.

*

Hentakan musik keras berdentum menggedor telinga. Semakin malam, semakin bertambah keliaran di dalam sebuah klub malam. Berpuluh-puluh pasang manusia larut dalam kesenangannya masing-masing. Sosok Mitha terlihat di antara ratusan orang tersebut. Dia sibuk mengoceh sedari tadi, wanita itu hampir mabuk. Enam gelas Vodka ludes masuk ke kerongkongannya. Haris tak kuasa menahan keinginan Mitha. Wanita itu benar-benar butuh pelepasan saat ini.

Mitha bukan tipe wanita yang suka mabuk. Minuman keras hanya disentuhnya jika ada jamuan makan atau pesta coktail, itu pun hanya wine dan hanya setengah gelas. Namun, malam ini Mitha benar-benar kehilangan kendali atas dirinya. Tak ada Mitha yang arogan, dingin, dan kejam. Di depannya saat ini adalah wanita yang rapuh, sangat rapuh.

"Haris, kau tau? Aku sudah muak dengan Hermawan bersaudara itu. Mereka pikir aku ini apa?! Bisa di tarik ulur begitu saja. Aku lelah ...."

Haris hanya diam. Cukup baginya mendengarkan saja keluhan wanita yang dikaguminya ini. Melihat Mitha tertekan, membuat hatinya sakit. Namun, apa daya dia hanya sebatas bawahan bagi Mitha.

"Haris, apa kau pernah jatuh cinta?" tiba-tiba pertanyaan meluncur dari bibir Mitha.

Haris bergeming, netranya menatap Mitha dengan tatapan lembut. "Pernah," jawabnya

"Oh, ya? Siapa wanita beruntung itu? Kapan-kapan perkenalkan padaku, ok!" ucap Mitha. Telunjuk dan ibu jarinya disatukan membentuk huruf 'O' di udara.

Haris tertawa memperlihatkan barisan giginya yang rapi dan putih.

"Kau tampan juga kalau tertawa. Kalau aku single mungkin akan jatuh hati padamu. Kau itu idaman banyak wanita," cerocos Mitha. Sepertinya alkohol mulai merusak akal sehatnya.

Haris tertegun. Meski hanya celutukan ketika mabuk, tak urung membuat dadanya mengembang bahagia. Melihat keadaan Mitha yang benar-benar kacau, membuat Haris harus memaksa wanita itu pulang, walau mendapat penolakan darinya.

Haris memapah tubuh Mitha menuju mobilnya, tetapi sebuah gerakan dari Mitha membuat tubuh Haris kaku. Wanita itu tiba-tiba memeluk tubuh berototnya erat. Membenamkan kepala di dada bidangnya. Perlahan tangannnya bergerak memeluk tubuh Mitha. Dia tahu wanita itu butuh dukungan, ketenangan, dan Haris rela memberikannya.

Tiba-tiba sebuah tarikan merenggut tubuh Mitha dari pelukannya. Wanita itu meronta. Haris terkejut dan geram mendapati pelakunya.

"Beraninya kau sentuh istriku!" Sebuah bogem mentah mendarat di rahang Haris, mulutnya mengeluarkan percikan darah.

Haris tak melawan, hanya saja netranya menajam menantang Vano. "Itu tidak seperti yang Anda duga, Pak!" jelasnya di antara bisingnya suara hentakan musik.

"Jo, pegang Mitha!" perintah Vano pada pria disebelahnya

Vano merangsek mendekat, mencengkeram kerah baju Haris, "Jangan kau pikir mataku buta! Kau tertarik pada Mitha, bukan? Aku bisa melihat dari matamu!" tuding Vano geram. Sebuah pukulan kembali di sarangkan ke perut lelaki itu.

"Jangan pernah melewati batasanmu atau kau akan menyesal. Kau hanya kacung bagi Mitha," imbuh Vano, lagi.

Vano menarik tubuh Mitha dari pegangan Jo. Kemudian memapah wanitanya keluar dari tempat itu. Vano mendudukannya di kursi penumpang menyusul dia yang duduk di sebelah Mitha.

"Apartement, Jo!" titah Vano begitu pria itu duduk di belakang kemudi.

Sepanjang perjalanan yang digumamkan Mitha hanya nama, Max, Max, Max ... membuat hati Vano dipenuhi amarah. 'Apa hubunganmu dengan Max' gumam Vano sambil menatap Mitha yang tertidur. Di rengkuhnya tubuh sang istri, lalu disandarkan ke dadanya. Perlahan amarahnya surut hanya dengan mendekap tubuh wanitanya.

*

Mitha merasakan sentuhan lembut di permukaan kulitnya. Antara sadar dan tidak dia melihat siluet tubuh Vano berjalan menjauh. Wanita tersebut membuka kelopak matanya perlahan. Netranya menangkap pemandangan asing. Ruangan berwarna biru muda dengan keharuman 'musk' yang menggoda.

"Kau sudah bangun?"

Mitha terkesiap melihat sosok dengan tubuh menjulang memasuki kamar dengan membawa sebuah nampan.

"Aku, kau ... apa yang terjadi?" tanya Mitha bingung.

Vano meletakkan nampan yang berisi dua gelas coklat panas dan beberapa potong brownies di atas side desk di sebelah ranjang.

Lelaki itu duduk di tepi ranjang, menahan lengan Mitha ketika wanita itu hendak beringsut menjauh.

"Apa aku membuatmu alergi?" tanya Vano.

"A-apa!?" Mitha balik bertanya bingung.

Vano mengelus lengan Mitha lembut, membuat tubuh wanita itu meremang.

"Kau hampir saja mempermalukan dirimu sendiri. Apa kau mau besok ada di headline semua surat kabar, 'seorang komisaris utama, terlibat affair dengan bawahannya' sindir Vano.

Mitha mengernyit. "Aku tidak mengerti ...."

Vano mendecih. "Kau mabuk berat dan hampir saja bercinta dengan kacungmu itu."

Mata Mitha membola,."Haris!? Ya, Tuhan!" Mitha menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Untuk pertama kali dia merasa konyol.

Vano menarik tangan Mitha yang menutupi wajahnya. Lelaki itu tersenyum melihat rona merah di wajah istrinya itu. Entah mengapa terlihat menggemaskan. Perlahan di susuri garis wajah Mitha. "Kurasa, aku ... jatuh cinta!" bisik Vano lirih.

"Apa ...."

"Let's make a baby!"

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status