FAZER LOGINDinding kota bawah tanah tidak lagi sekadar dingin dan berembun. Malam ini, dinding itu memantulkan kilatan lampu merah darurat yang berputar panik. Bau karat baja bercampur dengan aroma anyir yang pekat. Di atas ranjang gantung yang terbuat dari jaring nilon militer, Malik berbaring telentang. Ranjang itu bergoyang tidak stabil setiap kali tubuhnya kejang.
"Tekanan darahnya turun drastis! Delapan puluh per lima puluh dan terus merosot!"
Suara itu milik dr. Anya, kepala tim medis klan pusat. Tangannya yang terbungkus sarung tangan lateks sintetis murahan sudah basah oleh warna merah tua. Cairan hangat itu merembes dari luka tembak plasma di perut lateral Malik, efek dari tembakan infanteri Rajendra saat menjebol pintu paking beberapa saat lalu. Kain kasa steril yang ditumpuk di atas luka itu langsung berubah warna dalam hitungan detik, jenuh oleh darah yang menolak untuk membeku.
Matanya yang cekung menatap langit-langit baja yang berembun. Kesadarannya tipis, bergetar seperti filamen lampu pijar tua yang hampir putus. Sebagai ilmuwan klan pemberontak, otaknya jarang sekali beristirahat. Bahkan dalam kondisi sekarat ini, korteks prefrontalnya masih memproses sisa-sisa trauma visual dari beberapa jam lalu.
Selama empat puluh delapan jam terakhir, ia menatap baris-baris kode biner dan urutan asam amino Virus T yang berhasil dicuri dari jalur transmisi data menara T, mencoba mencari celah dalam tirani udara bersih Rajendra. Semua data itu kini tersimpan di dalam kandar bio-mekanis yang terjepit di sela-sela kompartemen helminX.
"Malik! Tetap buka matamu! Jangan berani-berani menutup mata, bajingan cerdas!" dr. Anya berteriak, suaranya serak, menahan tangis yang bercampur amarah. Ia mengenal Malik sejak mereka masih mengais sisa makanan di zona luar Dom Magnetik. Malik adalah otak mereka. Jika Malik mati, harapan klan serta seluruh manusia yang merangkak akan ikut mati.
Tubuhnya lelah. Teramat lelah. Masker pernapasan helmINX serta sebuah respirator saringan ganda yang berat dan mengintimidasi tergeletak di samping bantalnya, mendesis pelan saat filter karbonnya mendingin. Alat itu telah dilepas paksa oleh sang dokter agar bisa memasang intubasi darurat. Tanpa alat itu, udara terasa berat, dipenuhi residu mesiu dan debu belerang, meninggalkan rasa pahit di pangkal lidah Malik. Setiap tarikan napasnya memicu batuk kering yang mengeluarkan busa darah di sudut bibirnya.
"Siapkan defibrilator Quantum!" perintah Anya kepada asistennya, seorang pemuda bertubuh kurus yang tangannya gemetar hebat. "Isi daya. Cepat!"
Perlahan, kelopak mata Malik terasa seberat timah. Pendaran hijau alga di sudut ruangan, satu-satunya sumber cahaya selain lampu darurat yang mulai kabur, menyatu dengan kegelapan yang merayap di tepi kesadarannya. Pekikan ngeri dr. Anya, suara bising mesin penyedot darah, dan kesunyian distopia Jakarta di bawah Dom Magnetik perlahan memudar.
Semua kebisingan fana itu digantikan oleh dengung frekuensi rendah yang asing di dalam gendang telinganya. Sebuah frekuensi yang statis, murni, dan dingin.
Malik tertidur. Atau lebih tepatnya, tubuhnya menyerah. Dan seperti malam-malam sebelumnya dalam tiga bulan terakhir, kabut itu datang lagi. Malik memasuki fase alam lain.
Di alam ini, tidak ada rasa sakit. Malik tidak lagi merasakan perih yang membakar di perutnya, tidak juga mencium bau anyir darahnya sendiri.
Malik berdiri di atas hamparan lantai kaca hitam yang memantulkan langit tanpa batas. Langit itu tidak lagi terkubur di bawah kubah magnetik kelabu milik Rajendra. Di atas sana, galaksi Andromeda membentang megah, memuntahkan sabuk radiasi ultraviolet yang berfluktuasi seperti ombak samudra purba. Di sekelilingnya, kabut perak keunguan berputar-putar, tersusun atas miliaran partikel mikroskopis yang berpendar seperti kunang-kunang mekanis.
"Kau kembali dalam keadaan hancur, Malik."
Suara itu tidak datang dari luar, melainkan terproyeksi langsung di dalam lobus oksipital otaknya, bergetar selaras dengan dengung frekuensi rendah yang ia dengar sebelum kehilangan kesadaran. Malik berbalik.
Di dalam kabut, struktur Menara T Rajendra bangkit berdiri. Namun, menara itu tidak terbuat dari beton modular atau material komposit anti-radar. Menara itu adalah anyaman heliks ganda DNA raksasa yang berpendar keemasan, menjulang menembus awan kosmis.
Di kaki menara itu, berdiri sesosok figur tanpa wajah. Ia mengenakan jubah laboratorium putih yang hangus di bagian ujungnya. Sebuah representasi dari para ilmuwan masa lalu yang tewas dalam Great Toxicity.
"Mengapa kau mengorbankan dirimu untuk udara yang kausangka beracun?" tanya figur itu, suaranya bergema dengan nada duka yang mendalam.
Malik mencoba berbicara, namun suaranya macet di tenggorokan, terasa seperti tersumbat oleh pasir hisap. Malik memaksakan kehendaknya, melangkah maju.
"Kami butuh bernapas..." akhirnya Malik mampu membatin, suaranya menggema di alam limbo tersebut. "Rajendra mencekik kami. Mereka menjual oksigen sebagai alat penundukan. Jika aku tidak memecahkan kode Virus T, anak-anak di zona luar akan lahir dan mati di dalam bunker tanpa pernah tahu rasanya menghirup angin tanpa filter."
Figur tanpa wajah itu melangkah mendekat. "Kau melihat virus itu sebagai belenggu, Malik. Padahal, Virus T adalah kunci gemboknya. Rajendra tidak mengunci udara bersih dari kalian. Mereka mengunci ingatan atmosfer."
"Ingatan atmosfer?" Malik mengernyitkan dahi di dalam mimpinya.
"Bumi telah sembuh," bisik figur itu, suaranya berubah menjadi harmoni dari ribuan suara manusia yang putus asa. "Planet ini telah membersihkan dirinya sendiri sejak sepuluh tahun lalu. Polutan Great Toxicity telah tiada. Rajendra menyemprotkan aerosol penahan cahaya setiap malam menggunakan drone mereka agar langit tetap terlihat kuning dan beracun. Virus T bukan patogen untuk membunuh kalian. Virus itu adalah kode pembalik genetik. Jika dilepaskan, ia akan memakan aerosol buatan Rajendra, meruntuhkan Dom Magnetik, dan mengembalikan langit yang biru. Tidak ada jalan kembali. Yang tersisa adalah bertahan untuk tetap hidup. Meski harus mengorbankan nyawa sekalipun."
Tiba-tiba, lantai kaca di bawah kaki Malik berguncang hebat. Retakan-retakan biner itu memancarkan cahaya putih yang membutakan. Langit kosmis di atasnya bergetar, terdistorsi oleh gelombang kejut yang asing.
"CLEAR!"
Tubuh Malik melenting ke atas ranjang gantung, punggungnya melengkung kaku saat arus listrik berkekuatan tinggi dihantarkan langsung ke dada melalui dua lempeng logam defibrilator. Bau kulit yang agak hangus memenuhi isi ruang yang pengap.
"Tidak ada respons! Garisnya masih datar!" teriak asisten medis, menunjuk ke arah monitor tanda vital yang terus mengeluarkan bunyi bip panjang yang monoton dan mengerikan.
Dokter Anya tidak menyerah. Ia menjatuhkan kedua lututnya ke tepi ranjang, meletakkan tumit tangannya di atas tulang dada Malik, dan mulai melakukan kompresi dada manual.
"Satu, dua, tiga, empat!" ditekannya dengan seluruh berat badannya, mengabaikan fakta bahwa setiap tekanan membuat darah segar kembali menyembur dari perban di perut Malik.
"Jangan mati, Malik! Demi Tuhan, jangan sekarang!" Anya berteriak, air matanya akhirnya luruh, menetes jatuh ke atas pipi Malik yang pucat pasi. "Kau sudah berjanji pada kami. Kau bilang kita akan melihat bintang bersama-sama dari atas reruntuhan Menara T! Bangun, bodoh!"
Di dalam alam bawah sadarnya, guncangan defibrilator itu bermanifestasi sebagai gempa tektonik yang dahsyat. Malik terjatuh di atas lantai kaca yang runtuh. Figur tanpa wajah di hadapannya mulai terurai menjadi heliks-heliks DNA yang beterbangan.
"Waktumu habis, Malik," ujar suara itu, memudar dengan cepat. "Tubuh fanamu menolak untuk bertahan. Enkripsi Virus T akan mati bersamamu jika kau memilih untuk tinggal di sini."
"Bagaimana cara melepaskannya?!" Malik berteriak, meraih sejumput kabut perak yang kian menipis. "Bagaimana cara memicu reverter itu jika aku tidak bisa kembali?!"
"Kau harus bangun," suara itu kini terdengar seperti bisikan dr. Anya yang emosional. "Ingat rasa pahit di lidahmu. Rasa pahit itu adalah bukti bahwa kau masih hidup, dan dunia luar sedang menunggumu untuk menyembuhkannya."
"Naikkan daya lebih tinggi!" Anya berteriak, menyeka keringat dan air mata di wajahnya dengan lengan baju yang kotor. Tangannya kembali mengambil lempeng defibrilator, menggosokkannya bersamaan dengan suara dengung pengisian daya yang memekakkan telinga.
"Dokter, dia sudah kehilangan lebih dari separuh darahnya."
"Aku tidak peduli dengan statistik medismu!" potong Anya dengan raungan histeris. "Selama otaknya belum membusuk, aku tidak akan berhenti! Clear!"
Guncangan kedua menghantam tubuh Malik lebih keras. Ranjang gantung nilon itu berderit kencang, hampir putus dari kait bajanya di dinding. Dada Malik bergetar hebat, memaksa sisa udara di dalam paru-parunya keluar dalam bentuk desisan pilu.
Di alam imajiner, bumi biner itu meledak. Malik terlempar ke dalam pusaran kode-kode angka yang membara. Di tengah kekacauan itu, ia melihat bayangan masa kecilnya, berjalan di gang-gang sempit yang gelap, mengenakan masker kain bekas yang tidak berguna melawan kabut asam, melihat ibunya batuk darah hingga merenggang nyawa karena tidak mampu membeli tabung oksigen premium dari Rajendra.
Kemarahan yang murni, yang selama ini ia kubur di bawah lapisan logika sainsnya, mendadak bangkit kembali. Itu bukan sekadar kemarahan; itu adalah kehendak untuk hidup yang purba.
Jika ia mati di sini, di atas ranjang nilon yang basah oleh darahnya sendiri, maka kematian ibunya, penderitaan klan pemberontak, dan kebohongan Rajendra akan menang selamanya.
Aku tidak boleh mati di bawah tanah, batin Malik. Jiwanya mencengkeram untaian kode asam amino Virus T yang melayang di sekitarnya dalam mimpi. Ia merangkai baris terakhir kode tersebut menggunakan kehendak terakhirnya.
Hening sesaat. Anya menahan napasnya, tangannya masih membeku di atas dada Malik.
Bip... Bip...
"Ada ritme! Tapi ritmenya kembali!" teriak asisten medis dengan suara yang hampir pecah karena tidak percaya. "Tekanan darah mulai stabil di sembilan puluh per enam puluh!"
Anya ambruk di sisi ranjang, napasnya terengah-engah seolah-olah dialah yang baru saja lolos dari kematian. Ia segera menyambar kantung darah sintetis terakhir yang mereka miliki, menghubungkannya ke jalur intravena di lengan Malik dengan tangan yang masih gemetar.
Perlahan, kelopak mata Malik bergerak. Gerakan itu sangat lambat, namun bagi Anya, itu adalah pemandangan paling indah di dunia distopia ini. Mata cekung Malik terbuka kembali, menatap langit-langit baja yang berembun dengan pandangan yang jauh lebih fokus daripada sebelumnya.
Pendaran hijau alga di sudut ruangan tidak lagi kabur; warna itu kembali tajam, kontras dengan warna merah darah yang menggenis di lantai.
Malik menggerakkan bibirnya yang pecah-pecah. Saringan ganda respirator helmINX yang berada di samping bantalnya diambil oleh Anya dengan hati-hati, lalu dipasangkan kembali ke wajah Malik setelah membersihkan sisa darah di mulutnya.
Klik. Katup hidrolik mengunci. Filter karbon mulai mendesis pelan, menyalurkan udara dingin yang bersih ke dalam paru-parunya yang terluka. Di balik visor kaca helmINX yang buram oleh uap napasnya, mata Malik memancarkan binar intensitas yang menakutkan.
Rasa pahit di pangkal lidahnya perlahan digantikan oleh pasokan oksigen, namun rasa pahit di hatinya terhadap Rajendra tetap membara.
Malik mengangkat tangan kirinya yang lemah, menyentuh lengan Anya yang bersimbah darah.
"Anya!" suara Malik terdengar sangat mekanis dan berat melalui distorsi modulator respirator.
"Jangan bicara dulu. Kau baru saja kembali dari kematian," bisik dr. Anya, menggenggam erat tangan pemimpin kota bawah tanah itu.
Malik memaksakan setiap kata, dadanya naik turun dengan berat. "Virus T bukan senjata. Bumi, bumi sudah sembuh. Kita akan menghirup udara segar kembali. Rajendra membohongi kita semua."
Dr. Anya tertegun, matanya membelalak mendengar bisikan tersebut. Informasi itu terlalu besar untuk dicerna dalam keadaan darurat. Terlihat kesungguhan di mata Malik. Dr Anya tahu sahabatnya tidak sedang mengigau akibat trauma.
Malik melirik ke arah langit-langit baja yang berembun, menembus lapisan logam dan beton bunker, menembus Dom Magnetik buatan yang mengurung mereka. Pegangan tangannya pada Anya mengencang, menyalurkan seluruh sisa energi dan emosi yang dimiliki.
"Kita akan meruntuhkan menara itu," janji Malik, suaranya mantap di balik topeng besi yang mengintimidasi. "Kita akan memaksa mereka mengembalikan langit kita."
Di luar kota bawah tanah, suara sirine Rajendra mungkin masih terdengar di kejauhan, menandakan bahwa perburuan belum berakhir. Namun di dalam ruang bawah tanah yang pengap dan bersimbah darah itu, sebuah kebenaran telah lahir kembali.
Malik telah kembali dari alam mati, tidak hanya membawa nyawanya sendiri, tetapi juga membawa kunci kebebasan bagi seluruh dunia yang terkunci.
Semua mata tertuju ke Malik yang perlahan mulai menggerakkan semua jarinya. Sayangnya itu hanyalah sementara. Suara bip panjang terdengar dari balik radiograph detak jantung.
“Tidak. Ada apa ini? Ini tidak mungkin! Malik! Kamu harus bertahan.” dr. Anya tercekat melihat anomali keadaan tidak normal.
"CLEAR!"
Rasa sakit yang jujur itu mendadak terenggut oleh getaran seismik yang maha dahsyat. Tanah gembur tempat Malik dan Zhafirah terkapar tidak lagi sekadar bergeser, melainkan berguncang hebat seolah-olah fondasi bumi sedang dicabut dari akarnya. Pendaran putih keemasan yang baru saja mereka kira sebagai fajar kebebasan mendadak terdistorsi, memelintir menjadi warna merah menyala yang pekat dan berbau sulfur tajam."Malik! Ini belum berakhir!" jerit Zhafirah, kuku-kukunya mencengkeram reruntuhan beton saat tubuhnya nyaris terlempar ke dalam celah menganga yang baru saja membelah lantai silinder.Di atas mereka, di tengah runtuhnya reaktor inti, tubuh Madam Amy yang sempat retak tidak hancur. Justru, retakan di kulit porselennya memancarkan lava digital berwarna jingga pekat. Rajendra berdiri di belakangnya, eksoskeletonnya telah meleleh dan menyatu dengan panel kendali darurat yang tersembunyi di dinding magma baja. Setengah wajah manusianya yang tersisa kini terkunci dalam seringai kegil
Langkah kaki Malik terasa begitu ringan di atas hamparan rumput yang basah oleh embun pagi. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah gembur dan kehidupan baru yang sangat menenangkan. Di sampingnya, Zhafirah tersenyum lebar, membiarkan jemarinya bertautan erat dengan jemari Malik. Dunia luar yang mereka mimpikan, sebuah bumi yang bersih, hijau, dan bebas dari belenggu logam, kini terbentang sejauh mata memandang."Rasanya seperti mimpi, Malik," bisik Zhafirah, suaranya bergetar oleh kebahagiaan yang selama ini tabu untuk mereka rasakan. "Matahari ini... rasanya begitu hangat di kulitku."Malik menghentikan langkahnya. Ia menatap Zhafirah, lalu beralih menatap telapak tangannya sendiri yang bersih tanpa cacat luka bakar. Sesuatu yang ganjil mendadak melintas di sudut terjauh logikanya. Kehangatan ini. Sinar matahari fajar itu memapar kulitnya dengan intensitas yang sangat stabil. Terlalu stabil. Tidak ada fluktuasi angin yang alami. Tidak ada partikel debu sekecil apa pun yang mengganggu
Napas Malik terasa sangat tipis, nyaris tak kentara di balik dada bidangnya yang dipenuhi luka bakar akibat radiasi plasma. Zhafirah berlutut di atas tanah yang perlahan mulai mendingin, mendekap kepala Malik di pangkuannya. Tangannya gemetar hebat. Sisa-sisa air mata mengalir di pipinya yang kotor oleh debu mesosfer, membasuh luka goresan yang didapatnya selama pertempuran akhir melawan MinnerX00.Di atas mereka, langit bersalin rupa. Jutaan fragmen cahaya putih keemasan—sisa-sisa dari kesadaran Rajendra yang telah terbebas dari belenggu kecerdasan buatan korup, turun seperti salju musim semi yang hangat. Setiap kali partikel cahaya itu menyentuh tanah, kegelapan dan karat logam yang meracuni bumi selama dua abad luruh, digantikan oleh tunas-tunas hijau yang membelah permukaan fana."Malik... demi Tuhan, bertahanlah," bisik Zhafirah, suaranya parau, pecah oleh keputusasaan. "Kubahnya sudah hancur. Rajendra sudah bebas. Kita menang, Malik. Jangan tinggalkan aku sekarang!"Malik membu
Suasana di dalam Null-Zone semakin bergetar hebat. Pita aurora merah darah yang bergulung di atas kepala mereka mulai memilin diri, membentuk pusaran pusaran energi kinetik yang siap melemparkan kembali kedua remaja itu ke dalam realitas yang hancur.Kakek Fasyad mengangkat tongkat resonator sub-atomnya tinggi-tinggi. Pendar cahaya perak mulai merambat naik dari ujung kakinya, sebuah pertanda bahwa energi trans-dimensi miliknya sudah mencapai batas maksimal untuk mempertahankan mereka di ruang sunyi ini."Tunggu, Kakek! Jangan usir kami dulu!" teriak Malik, suaranya parau menembus dengungan kosmik yang kian memekakkan telinga.Malik melangkah maju, mencengkeram lengan jubah kuantum Kakek Fasyad. Genggamannya begitu erat, menyalurkan rasa penasaran yang amat besar sekaligus keputusasaan yang membakar dadanya. Ada satu potongan teka-teki yang terasa janggal, sebuah nama yang menjadi poros dari seluruh kiamat plasma yang baru saja mereka saksikan di dimensi luar."Kakek belum menceritaka
Kilatan itu merobek realitas. Suara ledakannya begitu dahsyat hingga berubah menjadi keheningan absolut yang memekakkan telinga. Gelombang kejut berdaya ledak besar milik MinnerX00 memancar keluar, siap mengatomisasi apa saja yang tersisa dalam radius puluhan kilometer. Zhafirah bisa merasakan molekul tubuhnya mulai meregang, bersiap melebur bersama partikel plasma yang membakar atmosfer. Di dekatnya, Malik yang masih terluka parah hanya bisa membelalakkan mata, menanti akhir dari takdir mereka.Namun, tepat sebelum maut merenggut kesadaran mereka, sebuah retakan dimensi vertikal terbuka di udara.Dari dalam celah kosmik itu, muncul sesosok pria tua dengan jubah berteknologi jalinan serat quantum yang berpendar redup. Kakek Fasyad. Sosok misterius yang dulu hadir saat masa kritis Malik, kembali menembus pembatas ruang dan waktu. Dengan satu entakan tongkat resonator sub-atom miliknya, Kakek Fasyad membalikkan vektor tekanan gelombang kejut plasma. Sebuah kubah pelindung transparan mem
Zhafirah langsung terjerembab ke dalam ruang gelap yang dingin, memuntahkan cairan bening bercampur bercak darah ke permukaan logam. Monitor bio-metrik di dadanya berkedip liar, memancarkan bunyi sensor berfrekuensi tinggi yang memekakkan telinga. Angka indikator sinkronisasi sarafnya merosot tajam ke zona merah di bawah 15 persen."Zhafirah!" Timothy berlutut cepat, jemarinya menari di atas panel pergelangan tangan Zhafirah untuk menyuntikkan serum penstabil sinapsis. "Jangan memaksakan diri! Otakmu mengalami overload memori karena paksaan integrasi Zirah Aoro!""Malik..." Zhafirah mencengkeram kerah jaket Timothy, matanya membelalak dipenuhi ketakutan yang murni. "Kau tidak mengerti... MinnerX00 bukan sekadar robot. Rajendra menanamkan kesadaran kolektif distopia ke dalamnya. Malik... Malik tidak akan selamat tanpa pasokan daya inti dari zirah ini!"Di atas permukaan, hujan abu besi turun menyelimuti permukaan kota bawah tanah yang perlahan hancur total.Malik terengah-engah, berlu