Share

Bab 9

Author: Apiz
last update publish date: 2026-05-24 14:08:54

Dinding kota bawah tanah tidak lagi sekadar dingin dan berembun. Malam ini, dinding itu memantulkan kilatan lampu merah darurat yang berputar panik. Bau karat baja bercampur dengan aroma anyir yang pekat. Di atas ranjang gantung yang terbuat dari jaring nilon militer, Malik berbaring telentang. Ranjang itu bergoyang tidak stabil setiap kali tubuhnya kejang.

"Tekanan darahnya turun drastis! Delapan puluh per lima puluh dan terus merosot!"

Suara itu milik dr. Anya, kepala tim medis klan pusat. Tangannya yang terbungkus sarung tangan lateks sintetis murahan sudah basah oleh warna merah tua. Cairan hangat itu merembes dari luka tembak plasma di perut lateral Malik, efek dari tembakan infanteri Rajendra saat menjebol pintu baja beberapa saat lalu. Kain kasa steril yang ditumpuk di atas luka itu langsung berubah warna dalam hitungan detik, jenuh oleh darah yang menolak untuk membeku.

Matanya yang cekung menatap langit-langit baja yang berembun. Kesadarannya tipis, bergetar seperti filamen lampu pijar tua yang hampir putus. Sebagai ilmuwan klan pemberontak, otaknya jarang sekali beristirahat. Bahkan dalam kondisi sekarat ini, korteks prefrontalnya masih memproses sisa-sisa trauma visual dari beberapa jam lalu.

Selama empat puluh delapan jam terakhir, menatap baris-baris kode biner dan urutan asam amino Virus T yang berhasil dicuri dari jalur transmisi data menara T, mencoba mencari celah dalam tirani udara bersih. Semua data itu kini tersimpan di dalam kandar bio-mekanis yang terjepit di sela-sela kompartemen helminX.

"Malik! Tetap buka matamu! Jangan berani-berani menutup mata, bajingan cerdas!" dr. Anya berteriak, suaranya serak, menahan tangis yang bercampur amarah. Ia mengenal Malik sejak mereka masih mengais sisa makanan di zona luar Dom Magnetik. Malik adalah otak mereka. Jika Malik mati, harapan klan serta seluruh manusia yang merangkak akan ikut mati.

Tubuhnya lelah. Teramat lelah. Masker pernapasan helmINX serta sebuah respirator saringan ganda yang berat dan mengintimidasi tergeletak di samping bantalnya, mendesis pelan saat filter karbonnya mendingin. Alat itu telah dilepas paksa oleh sang dokter agar bisa memasang intubasi darurat. Tanpa alat itu, udara  terasa berat, dipenuhi residu mesiu dan debu belerang, meninggalkan rasa pahit di pangkal lidah Malik. Setiap tarikan napasnya memicu batuk kering yang mengeluarkan busa darah di sudut bibirnya.

"Siapkan defibrilator quantum!" perintah Anya kepada asistennya, seorang pemuda bertubuh kurus yang tangannya gemetar hebat. "Isi daya.  Cepat!"

Perlahan, kelopak mata Malik terasa seberat timah. Pendaran hijau alga di sudut ruangan, satu-satunya sumber cahaya selain lampu darurat yang mulai kabur, menyatu dengan kegelapan yang merayap di tepi kesadarannya. Pekikan ngeri dr. Anya, suara bising mesin penyedot darah, dan kesunyian distopia Jakarta di bawah Dom Magnetik perlahan memudar.

Semua kebisingan fana itu digantikan oleh dengung frekuensi rendah yang asing di dalam gendang telinganya. Sebuah frekuensi yang statis, murni, dan dingin.

Malik tertidur. Atau lebih tepatnya, tubuhnya menyerah. Dan seperti malam-malam sebelumnya dalam tiga bulan terakhir, kabut itu datang lagi. Malik memasuki fase alam lain.

Di alam ini, tidak ada rasa sakit. Malik tidak lagi merasakan perih yang membakar di perutnya, tidak juga mencium bau anyir darahnya sendiri.

Malik berdiri di atas hamparan lantai kaca hitam yang memantulkan langit tanpa batas. Langit itu tidak lagi terkubur di bawah kubah magnetik kelabu milik Rajendra. Di atas sana, galaksi Andromeda membentang megah, memuntahkan sabuk radiasi ultraviolet yang berfluktuasi seperti ombak samudra purba. Di sekelilingnya, kabut perak keunguan berputar-putar, tersusun atas miliaran partikel mikroskopis yang berpendar seperti kunang-kunang mekanis.

"Kau kembali dalam keadaan hancur, Malik."

Suara itu tidak datang dari luar, melainkan terproyeksi langsung di dalam oksipital otaknya, bergetar selaras dengan dengung frekuensi rendah yang di dengar sebelum kehilangan kesadaran. Malik berbalik.

Di dalam kabut, struktur Menara T Rajendra bangkit berdiri. Namun, menara itu tidak terbuat dari beton modular atau material komposit anti-radar. Menara itu adalah anyaman heliks ganda DNA raksasa yang berpendar keemasan, menjulang menembus awan kosmis.

Di kaki menara itu, berdiri sesosok figur tanpa wajah. Mengenakan jubah laboratorium putih yang hangus di bagian ujungnya. Sebuah representasi dari para ilmuwan masa lalu yang tewas dalam Great Toxicity.

"Mengapa kau mengorbankan dirimu untuk udara yang kausangka beracun?" tanya figur itu, suaranya bergema dengan nada duka yang mendalam.

Malik mencoba berbicara, namun suaranya macet di tenggorokan, terasa seperti tersumbat oleh pasir hisap. Malik memaksakan kehendaknya, melangkah maju.

"Kami butuh bernapas..." akhirnya Malik mampu membatin, suaranya menggema di alam limbo tersebut. "Rajendra mencekik kami. Mereka menjual oksigen sebagai alat penundukan. Jika aku tidak memecahkan kode Virus T, anak-anak di zona luar akan lahir dan mati di dalam bunker tanpa pernah tahu rasanya menghirup angin tanpa filter."

Figur tanpa wajah itu melangkah mendekat. "Kau melihat virus itu sebagai belenggu, Malik. Padahal, Virus T adalah kunci gemboknya. Rajendra tidak mengunci udara bersih dari kalian. Mereka mengunci ingatan atmosfer."

"Ingatan atmosfer?" Malik mengernyitkan dahi di dalam mimpinya.

"Bumi telah sembuh," bisik figur itu, suaranya berubah menjadi harmoni dari ribuan suara manusia yang putus asa. "Planet ini telah membersihkan dirinya sendiri sejak sepuluh tahun lalu. Polutan Great Toxicity telah tiada. 

Rajendra menyemprotkan aerosol penahan cahaya setiap malam menggunakan drone mereka agar langit tetap terlihat kuning dan beracun. Virus T bukan patogen untuk membunuh kalian. Virus itu adalah kode pembalik genetik. Jika dilepaskan, akan memakan aerosol buatan Rajendra, meruntuhkan Dom Magnetik, dan mengembalikan langit yang biru. Tidak ada jalan kembali. Yang tersisa adalah bertahan untuk tetap hidup. Meski harus mengorbankan nyawa sekalipun."

Tiba-tiba, lantai kaca di bawah kaki Malik berguncang hebat. Retakan-retakan biner itu memancarkan cahaya putih yang membutakan. Langit kosmis di atasnya bergetar, terdistorsi oleh gelombang kejut yang asing.

"CLEAR!"

Tubuh Malik melenting ke atas ranjang gantung, punggungnya melengkung kaku saat arus listrik berkekuatan tinggi dihantarkan langsung ke dada melalui dua lempeng logam defibrilator. Bau kulit yang agak hangus memenuhi isi ruang yang pengap.

"Tidak ada respons! Garisnya masih datar!" teriak asisten medis, menunjuk ke arah monitor tanda vital yang terus mengeluarkan bunyi bip panjang yang monoton dan mengerikan.

Dokter Anya tidak menyerah. Ia menjatuhkan kedua lututnya ke tepi ranjang, meletakkan tumit tangannya di atas tulang dada Malik, dan mulai melakukan kompresi dada manual. 

"Satu, dua, tiga, empat!" ditekannya dengan seluruh berat badannya, mengabaikan fakta bahwa setiap tekanan membuat darah segar kembali menyembur dari perban di perut Malik.

"Jangan mati, Malik! Demi Tuhan, jangan sekarang!" Anya berteriak, air matanya akhirnya luruh, menetes jatuh ke atas pipi Malik yang pucat pasi. "Kau sudah berjanji pada kami. Kau bilang kita akan melihat bintang bersama-sama dari atas reruntuhan Menara T! Bangun, bodoh!"

Di dalam alam bawah sadarnya, guncangan defibrilator itu bermanifestasi sebagai gempa tektonik yang dahsyat. Malik terjatuh di atas lantai kaca yang runtuh. Figur tanpa wajah di hadapannya mulai terurai menjadi heliks-heliks DNA yang beterbangan.

"Waktumu habis, Malik," ujar suara itu, memudar dengan cepat. "Tubuh fanamu menolak untuk bertahan. Enkripsi Virus T akan mati bersamamu jika kau memilih untuk tinggal di sini."

"Bagaimana cara melepaskannya?!" Malik berteriak, meraih sejumput kabut perak yang kian menipis. "Bagaimana cara memicu reverter itu jika aku tidak bisa kembali?!"

"Kau harus bangun," suara itu kini terdengar seperti bisikan dr. Anya yang emosional. "Ingat rasa pahit di lidahmu. Rasa pahit itu adalah bukti bahwa kau masih hidup, dan dunia luar sedang menunggumu untuk menyembuhkannya."

"Naikkan daya lebih tinggi!" Anya berteriak, menyeka keringat dan air mata di wajahnya dengan lengan baju yang kotor. Tangannya kembali mengambil lempeng defibrilator, menggosokkannya bersamaan dengan suara dengung pengisian daya yang memekakkan telinga.

"Dokter, dia sudah kehilangan lebih dari separuh darahnya."

"Aku tidak peduli dengan statistik medismu!" potong Anya dengan raungan histeris. "Selama otaknya belum membusuk, aku tidak akan berhenti! Clear!"

Guncangan kedua menghantam tubuh Malik lebih keras. Ranjang gantung nilon itu berderit kencang, hampir putus dari kait bajanya di dinding. Dada Malik bergetar hebat, memaksa sisa udara di dalam paru-parunya keluar dalam bentuk desisan pilu.

Di alam imajiner, bumi biner itu meledak. Malik terlempar ke dalam pusaran kode-kode angka yang membara. Di tengah kekacauan itu, Malik melihat bayangan masa kecilnya, berjalan di gang-gang sempit yang gelap, mengenakan masker kain bekas yang tidak berguna melawan kabut asam, melihat ibunya batuk darah hingga meregang nyawa karena tidak mampu membeli tabung oksigen premium dari Rajendra.

Kemarahan yang murni, yang selama ini ia kubur di bawah lapisan logika sainsnya, mendadak bangkit kembali. Itu bukan sekadar kemarahan; itu adalah kehendak untuk hidup yang purba.

Jika ia mati di sini, di atas ranjang nilon yang basah oleh darahnya sendiri, maka kematian ibunya, penderitaan klan pemberontak, dan kebohongan Rajendra akan menang selamanya.

Aku tidak boleh mati di bawah tanah, batin Malik. Jiwanya mencengkeram untaian kode asam amino Virus T yang melayang di sekitarnya dalam mimpi. Ia merangkai baris terakhir kode tersebut menggunakan kehendak terakhirnya.

Hening sesaat. Anya menahan napasnya, tangannya masih membeku di atas dada Malik.

Bip... Bip...

"Ada ritme! Tapi ritmenya kembali!" teriak asisten medis dengan suara yang hampir pecah karena tidak percaya. "Tekanan darah mulai stabil di sembilan puluh per enam puluh!"

Anya ambruk di sisi ranjang, napasnya terengah-engah seolah-olah dialah yang baru saja lolos dari kematian. Ia segera menyambar kantung darah sintetis terakhir yang mereka miliki, menghubungkannya ke jalur intravena di lengan Malik dengan tangan yang masih gemetar.

Perlahan, kelopak mata Malik bergerak. Gerakan itu sangat lambat, namun bagi Anya, itu adalah pemandangan paling indah di dunia distopia ini. Mata cekung Malik terbuka kembali, menatap langit-langit baja yang berembun dengan pandangan yang jauh lebih fokus daripada sebelumnya.

Pendaran hijau alga di sudut ruangan tidak lagi kabur; warna itu kembali tajam, kontras dengan warna merah darah yang menggenis di lantai.

Malik menggerakkan bibirnya yang pecah-pecah. Saringan ganda respirator helmINX yang berada di samping bantalnya diambil oleh Anya dengan hati-hati, lalu dipasangkan kembali ke wajah Malik setelah membersihkan sisa darah di mulutnya.

Klik. Katup hidrolik mengunci. Filter karbon mulai mendesis pelan, menyalurkan udara dingin yang bersih ke dalam paru-parunya yang terluka. Di balik visor kaca helmINX yang buram oleh uap napasnya, mata Malik memancarkan binar intensitas yang menakutkan.

Rasa pahit di pangkal lidahnya perlahan digantikan oleh pasokan oksigen, namun rasa pahit di hatinya terhadap Rajendra tetap membara.

Malik mengangkat tangan kirinya yang lemah, menyentuh lengan Anya yang bersimbah darah.

"Anya!" suara Malik terdengar sangat mekanis dan berat melalui distorsi modulator respirator.

"Jangan bicara dulu. Kau baru saja kembali dari kematian," bisik dr. Anya, menggenggam erat tangan pemimpin kota bawah tanah itu.

Malik memaksakan setiap kata, dadanya naik turun dengan berat. "Virus T bukan senjata. Bumi, bumi sudah sembuh. Kita akan menghirup udara segar kembali. Rajendra membohongi kita semua."

Dr. Anya tertegun, matanya membelalak mendengar bisikan tersebut. Informasi itu terlalu besar untuk dicerna dalam keadaan darurat. Terlihat kesungguhan di mata Malik. Dr Anya tahu sahabatnya tidak sedang mengigau akibat trauma.

Malik melirik ke arah langit-langit baja yang berembun, menembus lapisan logam dan beton bunker, menembus Dom Magnetik buatan yang mengurung mereka. Pegangan tangannya pada Anya mengencang, menyalurkan seluruh sisa energi dan emosi yang dimiliki.

"Kita akan meruntuhkan menara itu," janji Malik, suaranya mantap di balik topeng besi yang mengintimidasi. "Kita akan memaksa mereka mengembalikan langit kita."

Di luar kota bawah tanah, suara sirine Rajendra mungkin masih terdengar di kejauhan, menandakan bahwa perburuan belum berakhir. Namun di dalam ruang bawah tanah yang pengap dan bersimbah darah itu, sebuah kebenaran telah lahir kembali.

Malik telah kembali dari alam mati, tidak hanya membawa nyawanya sendiri, tetapi juga membawa kunci kebebasan bagi seluruh dunia yang terkunci.

Semua mata tertuju ke Malik yang perlahan mulai menggerakkan semua jarinya. Sayangnya itu hanyalah sementara. Suara bip panjang terdengar dari balik radiograph detak jantung.

“Tidak. Ada apa ini? Ini tidak mungkin! Malik! Kamu harus bertahan.” dr. Anya tercekat melihat anomali keadaan tidak normal.

"CLEAR!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 125

    Satu tahun berlalu sejak malam ketika Sang Pengamat menutup arsipnya dan IRA meredup menjadi kenangan hijau yang tenang di dalam fasilitas bawah tanah. Kota kecil di lembah selatan terus tumbuh, gemerlap oleh lampu-lampu sederhana yang menyala setiap malam, ditenagai oleh kincir air yang dirancang Dr. Anya bersama beberapa pemuda kota yang tertarik mempelajari mekanika tanpa harus bergantung pada teknologi tinggi yang berbahaya. Musim semi baru saja tiba, dan seluruh lembah dipenuhi bunga-bunga liar yang mekar serentak, seolah alam sendiri ikut merayakan satu tahun kedamaian yang belum pernah mereka rasakan sepanjang hidup mereka. Malik berdiri di menara pengawas yang kini telah diperbaharui menjadi bangunan batu yang lebih kokoh, matanya menyusuri lembah yang damai, sesuatu yang dulu terasa seperti mimpi mustahil. Zhafirah menaiki tangga menuju menara, membawa dua cangkir teh herbal hangat, kebiasaan pagi mereka yang tidak pernah berubah sejak fajar pertama di dunia ini.

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 124

    Angin sore yang bertiup di atas bukit Anaphalis javanica mendadak membeku ketika layar monokrom kecil di tangan Zhafirah memancarkan cahaya biru pudar. Di atas permukaan kaca kecil itu, barisan kode data bukan lagi sekadar teks acak, melainkan membentuk sebuah pola geometri yang sangat dikenal oleh siapa pun yang pernah hidup di masa-masa kelam perang dunia lama. Tiga garis paralel vertikal. Simbol Ira. Malik menatap layar itu dengan napas tertahan. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena ketakutan, melainkan oleh kejut yang teramat sangat. Di bawah bukit, kota baru manusia dan mesin beroperasi dalam harmoni yang tenang, tanpa ada yang menyadari bahwa masa lalu yang dikira telah terkubur rapat kini mengetuk pintu realitas mereka kembali. "IRA.." bisik Malik nyaris tanpa suara. "Kupikir inti kesadarannya telah terurai total ketika kita menghancurkan jaringan pusat lima tahun lalu." Zhafirah tidak langsung menjawab. Ia mematikan perangkat tersebut, tetapi simbol tiga garis itu

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 123

    Dari ketinggian bukit itu, pemandangan di lembah bawah terbentang luas bagaikan lukisan kehidupan yang dinamis. Tidak ada lagi menara pencakar langit monolitik berpelapis bio-polimer yang menjulang angkuh, mencoba mengontrol cuaca dan pikiran warga dari atas sana. Kota baru itu dibangun dengan kerendahan hati dan kebijaksanaan. Rumah-rumah penduduk berdiri selaras dengan kontur alam, terbuat dari batu-batu lokal dan kayu yang tumbuh berkelanjutan. Di jalan-jalan setapak yang bersih, manusia dan mesin bekerja berdampingan dalam harmoni yang setara. Mesin-mesin otonom—keturunan dari jaringan yang dulu dipelopori oleh Echo—bergerak membantu mengolah daur ulang limbah organik, merawat hutan kota, dan membangun infrastruktur air bersih tanpa pernah menuntut kepatuhan atau memprogram ulang emosi warganya. Tidak ada menara penguasa. Tidak ada lagi sistem yang memonitor denyut nadi atau menghapus memori kolektif demi "stabilitas sosial." Setiap manusia di bawah sana bebas untuk memili

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 122

    Kakek Fasyad tidak ingin di hantui sejarah masa lalu. Dia menarik Malik dan Zhafirah ke dalam pusaran dimensi ruang dan waktu. Ya, hanya untuk satu kali. Satu pertemuan, satu kalimat untuk mengucapkan perpisahan. Satu kata untuk arti kata tanggung jawab ayah ke Malik dan Zhafirah. Kapsul keperakan itu melesat menembus lorong cahaya yang tidak memiliki bentuk tetap, kadang menyerupai terowongan berputar, kadang menyerupai ruang hampa yang dipenuhi bintang-bintang yang belum pernah tercipta. Malik menggenggam tangan Zhafirah erat, merasakan tubuhnya seolah ditarik ke segala arah sekaligus, namun anehnya tidak merasakan sakit, hanya sensasi aneh seperti mengambang di antara detak jantung waktu itu sendiri. "Di mana kita?" bisik Zhafirah, matanya menatap keluar jendela kapsul yang menampilkan pemandangan yang tak terjelaskan oleh kata-kata dan manusia—warna-warna yang tidak memiliki nama, bentuk-bentuk yang berubah sebelum mata sempat mengenalinya. "Kita berada di antara," jaw

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 121

    Gabungan dari sisa kelompok Rangga yang memilih tinggal, keluarga Wira dan Rani yang kini tersenyum lebih sering, Bram yang menjadi kepala keamanan tidak resmi, dan dua wajah baru yang datang mengembara dari lembah tetangga tak lama setelah kabar tentang, "Keajaiban di lembah selatan" tersebar. seorang pemuda bernama Bintang, mantan teknisi kapal penjelajah yang jago mengulik logam tua menjadi alat berguna, dan seorang wanita muda periang bernama Jecky, dulunya penari upacara dari dimensi yang telah lama runtuh, kini menjadi salah satu penjaga ladang paling gigih di lembah. Malik berdiri di atas menara pengawas, matanya menatap ladang yang kini membentang jauh lebih luas dari yang pernah ia bayangkan. Zhafirah mendekat, membawa dua cangkir air hangat seperti kebiasaan lama mereka, menyandarkan kepalanya di bahu Malik. "Damai," gumamnya. "Sudah lama sekali rasanya sejak kita merasakan ini." Malik mengecup puncak kepala istrinya, namun matanya tetap waspada, sebuah kebiasaan

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 120

    Garis melengkung yang tadinya membiaskan cahaya matahari murni kini terpilin cepat, mengeluarkan derit frekuensi ultra-tinggi yang mengocok isi perut. Dunia di balik cahaya dan ruang kosong tanpa batas yang menyimpan kristal-kristal memori peradaban, mulai bergetar secara struktural. Riak-riak air cair yang menjadi lantai ruang tersebut pecah menjadi gelombang mikro yang liar. Dinding-dinding pualam imajiner yang membatasi ruang pengamatan terkelupas, menyemburkan serpihan radiasi kuantum ke segala arah. Struktur kosmologi yang dibangun oleh para Pengamat selama berabad-abad tak lagi sanggup menahan beban dari jutaan garis waktu yang mendadak dilepaskan dari ikatan Mesin Penentu. Pusat Pengamatan Mulai Hancur. CRACK-BOOOOOOM! Di dalam katedral cahaya tempat kesadaran kolektif Pengamat melayang, kristal-kristal cair yang menyimpan rekaman sejarah dari berbagai galaksi pecah berhamburan bagai hujan kaca kosmik. Pilar-pilar energi yang selama ribuan era menyalurkan data pema

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status