Compartilhar

Bab 8

Autor: Apiz
last update Data de publicação: 2026-05-24 14:06:08

"Kau sudah terlalu lama berada di atas, Rajendra. Kau lupa bahwa fondasi yang retak tidak bisa diperbaiki hanya dengan memperindah atapnya," kata Satya. Tangannya kini berada di atas tuas konsol. "Aku tidak akan mengaktifkan virus yang membunuh cleniX. Aku bukan monster sepertimu."

Rajendra mengembuskan napas lega yang tertahan, namun kelegaannya sirna saat Satya melanjutkan kalimatnya.

"Tapi aku akan mengunci tempat ini. Aku akan meledakkan tangki nitrogen utama di bawah laboratorium ini. Seluruh Sektor 04 akan terputus dari jaringan energi Menara Utama secara permanen. Kau tidak akan bisa lagi menyerap kehidupan dari sini, dan kau harus mencari cara lain untuk memberi makan menaramu tanpa menyedot darah kami. Ini adalah deklarasi kemerdekaan Sektor 04."

"Satya, jangan! Ledakan itu akan meruntuhkan seluruh sub-level ini! Kau akan terkubur di sini!" seru Rajendra, melangkah maju untuk merebut tuas tersebut.

"Aku cuma ingin mengingatkanmu kembali.  Sudah mati tiga puluh tahun lalu, Rajendra. Tepat saat sahabatku memilih merubah dirinya menjadi mesin pembunuh," ujar Satya dengan tenang.

Dengan satu hentakan kuat, Satya menarik tuas tersebut ke bawah.

Seketika, alarm darurat merah menyala di seluruh laboratorium. Dinding-dinding besi mulai bergetar hebat saat tekanan nitrogen di pipa-pipa bawah tanah melonjak ke titik kritis. Retakan-retakan baru muncul di langit-langit beton, menjatuhkan puing-puing berat ke lantai.

"Pergi, Rajendra! Kembali ke takhtamu yang kesepian!" teriak Satya di antara gemuruh ledakan yang mulai terdengar dari koridor luar.

Rajendra menatap Satya untuk terakhir kalinya. Di bawah kilatan lampu darurat merah, asisten pertamanya itu tampak tersenyum. Sebuah senyuman bebas yang tidak pernah Rajendra rasakan sejak ia naik ke atas Dom. Sistem internal Rajendra mendesaknya untuk segera evakuasi demi keselamatan aset biologis utamanya.

Dengan berat hati, Rajendra berbalik dan berlari menuju pintu paking hidrolik. Tepat saat ia melompat keluar ke koridor Sektor 04, gerbang laboratorium di belakangnya menutup otomatis, disusul oleh dentuman mahadahsyat yang menggetarkan seluruh fondasi bumi.

Gelombang kejut melemparkan Rajendra ke lantai koridor yang kotor. Ketika ia bangkit, jalur menuju laboratorium itu telah runtuh total, tertutup oleh jutaan ton beton dan baja yang meleleh. Di dalam retinanya, indikator aliran energi dari Sektor 04 langsung drop ke angka nol. Kota di atas kepala mereka berguncang saat pasokan daya utama terputus, memaksa Menara Utama mengaktifkan cadangan internalnya.

Rajendra berdiri sendirian di tengah kepulan asap koridor Sektor 04. Para pekerja cleniX keluar dari kamar-kamar mereka, menatap langit-langit yang tak lagi memancarkan getaran mesin penyedot energi. Untuk primeira kalinya dalam tiga puluh tahun, udara di Sektor 04 terasa lebih dingin, bebas dari hawa panas reaktor yang dipaksakan.

Sang dewa telah kembali ke reruntuhan, dan kali ini, ia ditinggalkan sendirian oleh manusia yang paling ia percayai, membawa pulang sebuah teka-teki besar tentang bagaimana cara memimpin tanpa harus mengorbankan jiwa-jiwa di bawah kakinya.

Guncangan dari Sektor 04 merambat naik melalui struktur menara Utama seperti gempa tektonik. Di Sektor Utama yang terletak lima puluh tingkat di atas awan buatan, lampu-lampu gantung kristal fotonik berdentang keras.

Proyeksi langit biru buatan yang biasanya menenangkan para elit Dom mendadak berkedip, menampilkan garis-garis statis abu-abu sebelum akhirnya padam total, digantikan oleh kegelapan malam yang murni dan dingin dari dunia luar yang mati.

Di dalam kapsul transport senyap yang membawanya kembali ke atas, Rajendra duduk terpaku. Inti kuantum di dalam otaknya sedang berteriak. Ribuan log peringatan dan kegagalan sistem masuk secara bersamaan, menciptakan badai data di layar retinanya.

Pemberitahuan: Aliran Energi Sektor 04 terputus total.

Pemberitahuan: Sistem Cadangan Diaktifkan. Sisa waktu operasional Perisai Atmosfer: 72 Jam.

Pemberitahuan: Tingkat Oksigen Sektor Atas menurun sebesar 0.05% per menit.

"Tuan Rajendra," sebuah suara lembut namun mekanis terdengar dari speaker internal jubahnya. Itu adalah WUTANG, kecerdasan buatan utama yang mengelola administrasi Menara. "Kami mendeteksi anomali ledakan di sub-level. Sektor 04 telah mengisolasi diri mereka secara fisik dan digital. Otoritas penegak hukum mekanis meminta izin untuk turun dan memulihkan ketertiban menggunakan kekuatan militer."

"Tolak izin tersebut," kata Rajendra. Suaranya terdengar sangat lelah, sebuah nada yang tidak pernah didengar selama tiga dekade.

"Tuan, tanpa suplai energi kinetik dari reaktor bawah tanah mereka, Menara Utama akan mengalami pemadaman total dalam tiga hari. Perisai luar akan runtuh, dan radiasi badai matahari akan membakar distrik atas."

"Aku tahu," jawab Rajendra pendek. Kapsul transportnya berdenting, menandakan ia telah sampai di puncak Menara Utama, ruang pribadinya yang menghadap langsung ke seluruh lanskap kota.

Rajendra melangkah keluar. Ruangan yang biasanya megah dan bermandikan cahaya steril itu kini remang-remang, hanya diterangi oleh lampu darurat berwarna amber. Di dinding kaca raksasa, ia bisa melihat pemandangan ke bawah. Kota terbelah menjadi dua kontras yang mengerikan.

Rajendra menyala terang dengan jutaan baris kode yang mengalir cepat. Dia menatap ke luar jendela, ke arah Sektor 04 yang kini sepenuhnya mandiri dalam kegelapannya yang dingin. Satya telah memberinya sebuah peringatan terakhir, sebuah hadiah berupa krisis yang memaksanya untuk kembali berpikir sebagai manusia, bukan sebagai penguasa yang mati rasa.

"Aku akan merancang ulang sistemnya dari sini, WUTANG. Bukan dengan mengambil dari bawah untuk memperindah atas. Kita akan mengalihkan energi dari panel surya orbital luar Menara untuk dialirkan ke bawah, meskipun itu berarti Menara Utama harus mengorbankan separuh dari kemewahannya."

"Itu akan menurunkan tingkat efisiensi Menara sebesar tiga puluh persen, Tuan."

"Manusia tidak hidup dari efisiensi. Itu kesalahan yang kubuat selama tiga puluh tahun ini," kata Rajendra perlahan.

Saat kesadarannya mulai menyatu sepenuhnya dengan jaringan kota, menghadapi tugas berat untuk merestrukturisasi seluruh dunia yang hampir runtuh ini tanpa pasokan dari Sektor 04, Rajendra merasakan sebuah ketenangan yang aneh.

Satya mungkin telah tiada, terkubur di bawah jutaan ton beton di laboratorium kuno mereka. Namun, dengan menghancurkan laboratorium itu dan memutuskan hubungan energi, Satya telah berhasil menyelamatkan jiwa Rajendra dari kematian moral yang absolut.

Di bawah langit Dom yang berkedip-kedip redup, sang dewa fana kini memulai pekerjaannya yang sebenarnya: bukan lagi sebagai penguasa yang disembah di atas altar digital, melainkan sebagai seorang arsitek yang akhirnya belajar bagaimana cara menghargai fondasi tempatnya berdiri.

"William!! Will!!" seru panggilan Rajendra menggema seisi ruang.

Rajendra perlahan mulai tenang. Suaranya terdengar dingin, memotong kepanikan William seperti pisau es.

William terpaku. "Apa maksud Tuan?"

Rajendra melangkah mendekat, menatap layar utama yang kini memperlihatkan lintasan baru. Misil itu tidak lagi menuju ke bawah tanah. Ia melakukan manuver melingkar yang ekstrem, menanjak tinggi menuju atmosfer tertinggi, lalu menukik kembali dengan kecepatan hipersonik menuju satu titik spesifik. Kota atas mereka sendiri.

"Kota bawah tanah tidak pernah menjadi targetnya, William," ujar Rajendra, menatap lurus ke mata prajurit setianya. "Mereka yang di bawah adalah pekerja keras, penyedia energi, dan penurut yang sesungguhnya. Mereka hidup dalam keterbatasan namun tetap patuh. Sementara di sini, di atas kubah mewah ini, manusia telah menjadi manja, gemar mempertanyakan otoritas, dan mulai merencanakan kudeta terhadapku."

Dunia seakan runtuh di bawah kaki William. Semangat yang beberapa detik lalu membakar dadanya kini menguap, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuh. "Anda menjebak saya? Anda menggunakan saya untuk menghancurkan kota kita sendiri?"

"Aku membutuhkan seseorang dengan loyalitas tanpa batas dan semangat yang tak tergoyahkan untuk menekan tombol itu," kata Rajendra sambil tersenyum tipis. "Sistem enkripsi kuantum misil ini mendeteksi sidik jari biologis dan gelombang otak dari seorang perwira tinggi yang murni percaya pada tugasnya. Jika aku yang menekannya, algoritma pertahanan kota akan mendeteksi niat pengkhianatan dan membatalkannya. Tapi kau? Kau menekannya dengan keyakinan penuh bahwa kau sedang menyelamatkan dunia. Keyakinanmu yang tulus itulah yang mengelabui sistem pertahanan Kubah Sembilan."

William menatap tangannya yang masih berada di atas alat pengendali jarak jauh. Alat yang baru saja dia tekan dengan penuh gairah kini menjadi instrumen pembantaian massal bagi keluarganya, temannya, dan semua yang dia kenal di kota atas.

"Kita bisa menghentikannya! Pasti ada kode pembatalan!" teriak William panik, mencoba memukul panel kaca konsol, berharap ada keajaiban mekanis.

"Tidak ada, William. Ini adalah tombol satu arah," jawab Rajendra tenang. Dia berbalik dan berjalan menuju lift evakuasi pribadi yang mengarah ke bunker terdalam di perut bumi. "Terima kasih atas dedikasimu. Sejarah baru akan mencatat bahwa kota atas hancur akibat sabotase internal, dan aku akan memimpin sisa kemanusiaan dari bawah tanah untuk membangun kembali dunia yang lebih patuh."

Pintu langsung tertutup, meninggalkan William sendirian di ruang kendali yang kini dipenuhi raungan sirine tanda bahaya.

Di layar hologram besar, visual luar ruangan menunjukkan menembus awan buatan. Cahaya plasmanya menerangi seluruh Kubah Sembilan, mengubah malam menjadi siang yang mengerikan. Orang-orang di jalanan kota atas mendongak, mengira itu adalah pertunjukan kembang api atau uji coba militer biasa, sama sekali tidak menyadari maut yang datang mendekat.

William terduduk lemas di kursi kendali. Semangat membara yang menguasainya beberapa menit lalu kini menjelma menjadi penyesalan yang membakar jiwa. Dia memandang remote kontrol jarak jauh di depannya, menyadari betapa mudahnya keyakinan buta dimanipulasi oleh tangan yang salah.

Dengan sisa kekuatan yang ada, William menatap bayangan misil yang membesar di jendela kaca. Dia memejamkan mata, mendengarkan gemuruh terakhir dari mahakarya kehancuran yang dia lepaskan dengan tangannya sendiri, menunggu kilatan cahaya yang akan menghapus segalanya menjadi debu.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 30

    Rasa sakit yang jujur itu mendadak terenggut oleh getaran seismik yang maha dahsyat. Tanah gembur tempat Malik dan Zhafirah terkapar tidak lagi sekadar bergeser, melainkan berguncang hebat seolah-olah fondasi bumi sedang dicabut dari akarnya. Pendaran putih keemasan yang baru saja mereka kira sebagai fajar kebebasan mendadak terdistorsi, memelintir menjadi warna merah menyala yang pekat dan berbau sulfur tajam."Malik! Ini belum berakhir!" jerit Zhafirah, kuku-kukunya mencengkeram reruntuhan beton saat tubuhnya nyaris terlempar ke dalam celah menganga yang baru saja membelah lantai silinder.Di atas mereka, di tengah runtuhnya reaktor inti, tubuh Madam Amy yang sempat retak tidak hancur. Justru, retakan di kulit porselennya memancarkan lava digital berwarna jingga pekat. Rajendra berdiri di belakangnya, eksoskeletonnya telah meleleh dan menyatu dengan panel kendali darurat yang tersembunyi di dinding magma baja. Setengah wajah manusianya yang tersisa kini terkunci dalam seringai kegil

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 29

    Langkah kaki Malik terasa begitu ringan di atas hamparan rumput yang basah oleh embun pagi. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah gembur dan kehidupan baru yang sangat menenangkan. Di sampingnya, Zhafirah tersenyum lebar, membiarkan jemarinya bertautan erat dengan jemari Malik. Dunia luar yang mereka mimpikan, sebuah bumi yang bersih, hijau, dan bebas dari belenggu logam, kini terbentang sejauh mata memandang."Rasanya seperti mimpi, Malik," bisik Zhafirah, suaranya bergetar oleh kebahagiaan yang selama ini tabu untuk mereka rasakan. "Matahari ini... rasanya begitu hangat di kulitku."Malik menghentikan langkahnya. Ia menatap Zhafirah, lalu beralih menatap telapak tangannya sendiri yang bersih tanpa cacat luka bakar. Sesuatu yang ganjil mendadak melintas di sudut terjauh logikanya. Kehangatan ini. Sinar matahari fajar itu memapar kulitnya dengan intensitas yang sangat stabil. Terlalu stabil. Tidak ada fluktuasi angin yang alami. Tidak ada partikel debu sekecil apa pun yang mengganggu

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 28

    Napas Malik terasa sangat tipis, nyaris tak kentara di balik dada bidangnya yang dipenuhi luka bakar akibat radiasi plasma. Zhafirah berlutut di atas tanah yang perlahan mulai mendingin, mendekap kepala Malik di pangkuannya. Tangannya gemetar hebat. Sisa-sisa air mata mengalir di pipinya yang kotor oleh debu mesosfer, membasuh luka goresan yang didapatnya selama pertempuran akhir melawan MinnerX00.Di atas mereka, langit bersalin rupa. Jutaan fragmen cahaya putih keemasan—sisa-sisa dari kesadaran Rajendra yang telah terbebas dari belenggu kecerdasan buatan korup, turun seperti salju musim semi yang hangat. Setiap kali partikel cahaya itu menyentuh tanah, kegelapan dan karat logam yang meracuni bumi selama dua abad luruh, digantikan oleh tunas-tunas hijau yang membelah permukaan fana."Malik... demi Tuhan, bertahanlah," bisik Zhafirah, suaranya parau, pecah oleh keputusasaan. "Kubahnya sudah hancur. Rajendra sudah bebas. Kita menang, Malik. Jangan tinggalkan aku sekarang!"Malik membu

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 27

    Suasana di dalam Null-Zone semakin bergetar hebat. Pita aurora merah darah yang bergulung di atas kepala mereka mulai memilin diri, membentuk pusaran pusaran energi kinetik yang siap melemparkan kembali kedua remaja itu ke dalam realitas yang hancur.Kakek Fasyad mengangkat tongkat resonator sub-atomnya tinggi-tinggi. Pendar cahaya perak mulai merambat naik dari ujung kakinya, sebuah pertanda bahwa energi trans-dimensi miliknya sudah mencapai batas maksimal untuk mempertahankan mereka di ruang sunyi ini."Tunggu, Kakek! Jangan usir kami dulu!" teriak Malik, suaranya parau menembus dengungan kosmik yang kian memekakkan telinga.Malik melangkah maju, mencengkeram lengan jubah kuantum Kakek Fasyad. Genggamannya begitu erat, menyalurkan rasa penasaran yang amat besar sekaligus keputusasaan yang membakar dadanya. Ada satu potongan teka-teki yang terasa janggal, sebuah nama yang menjadi poros dari seluruh kiamat plasma yang baru saja mereka saksikan di dimensi luar."Kakek belum menceritaka

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 26

    Kilatan itu merobek realitas. Suara ledakannya begitu dahsyat hingga berubah menjadi keheningan absolut yang memekakkan telinga. Gelombang kejut berdaya ledak besar milik MinnerX00 memancar keluar, siap mengatomisasi apa saja yang tersisa dalam radius puluhan kilometer. Zhafirah bisa merasakan molekul tubuhnya mulai meregang, bersiap melebur bersama partikel plasma yang membakar atmosfer. Di dekatnya, Malik yang masih terluka parah hanya bisa membelalakkan mata, menanti akhir dari takdir mereka.Namun, tepat sebelum maut merenggut kesadaran mereka, sebuah retakan dimensi vertikal terbuka di udara.Dari dalam celah kosmik itu, muncul sesosok pria tua dengan jubah berteknologi jalinan serat quantum yang berpendar redup. Kakek Fasyad. Sosok misterius yang dulu hadir saat masa kritis Malik, kembali menembus pembatas ruang dan waktu. Dengan satu entakan tongkat resonator sub-atom miliknya, Kakek Fasyad membalikkan vektor tekanan gelombang kejut plasma. Sebuah kubah pelindung transparan mem

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab25

    Zhafirah langsung terjerembab ke dalam ruang gelap yang dingin, memuntahkan cairan bening bercampur bercak darah ke permukaan logam. Monitor bio-metrik di dadanya berkedip liar, memancarkan bunyi sensor berfrekuensi tinggi yang memekakkan telinga. Angka indikator sinkronisasi sarafnya merosot tajam ke zona merah di bawah 15 persen."Zhafirah!" Timothy berlutut cepat, jemarinya menari di atas panel pergelangan tangan Zhafirah untuk menyuntikkan serum penstabil sinapsis. "Jangan memaksakan diri! Otakmu mengalami overload memori karena paksaan integrasi Zirah Aoro!""Malik..." Zhafirah mencengkeram kerah jaket Timothy, matanya membelalak dipenuhi ketakutan yang murni. "Kau tidak mengerti... MinnerX00 bukan sekadar robot. Rajendra menanamkan kesadaran kolektif distopia ke dalamnya. Malik... Malik tidak akan selamat tanpa pasokan daya inti dari zirah ini!"Di atas permukaan, hujan abu besi turun menyelimuti permukaan kota bawah tanah yang perlahan hancur total.Malik terengah-engah, berlu

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status