Rejected Luna, Claimed by the Alpha Who Regretted

Rejected Luna, Claimed by the Alpha Who Regretted

last updateLast Updated : 2026-05-14
By:  Jaxon ValeOngoing
Language: English
goodnovel4goodnovel
Not enough ratings
138Chapters
5.3Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

On the night Elara is meant to be announced as Luna, her Alpha mate chooses another woman instead. No rejection words are spoken, but the betrayal is loud enough to shatter her bond and dignity. Elara leaves the pack in silence, carrying a secret that will change everything. Three years later, Alpha Kael feels the mate bond burn back to life. The Luna he discarded has returned, stronger, untouchable, and no longer his to command. This time, regret will not be enough.

View More

Chapter 1

Chapter One: The Night I Was Not Chosen

Hati Gerald seketika menegang, seolah diremas erat oleh tangan tak kasatmata.

Dia terdiam lama sekali, sampai suasana di dalam mobil hampir membeku, barulah dia berkata dengan susah payah, "Aku tahu kamu masih belum bisa melupakan kejadian itu, tapi aku sudah bilang bakal menebus kesalahanku padamu. Mulai sekarang, seluruh hidupku bakal menjadi milikmu. Aku juga bakal berusaha mencintaimu. Apa pun yang kamu katakan, bakal kusetujui. Kamu jangan sedih terus, ya?"

Wajah Tania tetap datar, dia hanya memandang pria itu dengan tenang. "Kamu bakal menyetujui apa pun yang kuminta? Kalau begitu, bisakah kamu mengembalikan cincin pernikahan yang dulu kuberikan padamu?"

Ekspresi Gerald seketika berubah. Tangannya yang menggenggam kemudi mengencang dengan kuat. "Buat apa kamu memintanya kembali?"

"Lagian, kamu juga nggak memakainya. Bukannya wajar kalau aku memintanya kembali?"

"Selain itu, apa pun bisa kuberikan padamu!" Suara Gerald merendah, membawa ketegasan yang tidak dapat dibantah.

Tania tidak berkata apa-apa lagi, hanya menatapnya dalam diam.

Melihat sikapnya seperti itu, hati Gerald terasa sesak. Dia melunakkan suaranya, seolah sedang membujuk seorang anak yang sedang merajuk. "Tania, aku tahu kamu sudah banyak menderita selama beberapa tahun ini. Mulai sekarang, sebisa mungkin aku nggak bakal menghubungi Nessia lagi. Jadi, jangan marah lagi, ya?"

Begitu dia selesai berbicara, telepon berdering.

Asistennya yang menelepon, suaranya terdengar sangat tergesa-gesa. "Pak Gerald, gawat! Nona Nessia melompat dari gedung! Sekarang, dia sudah dibawa ke rumah sakit dan lagi menjalani pertolongan!"

"Apa katamu? Aku segera ke sana!"

Ekspresi Gerald seketika berubah. Dia langsung menyalakan mobil. Ban mobil bergesekan dengan permukaan jalan, mengeluarkan suara decitan yang menusuk telinga.

Mobil melesat seperti anak panah. Tania terhempas akibat gaya inersia hingga membentur sandaran kursi. Dia tidak bersuara, hanya menatap ke luar jendela sambil tersenyum mencela diri sendiri.

Katanya sebisa mungkin tidak akan menghubunginya. Kata sebisa mungkin itu benar-benar digunakan dengan sangat baik.

Sesampainya di rumah sakit, lampu ruang operasi masih menyala. Para perawat keluar-masuk dengan tergesa-gesa, dan kecemasan terpampang di wajah setiap orang.

Asisten menyambut mereka. Dahinya penuh keringat. "Pak Gerald, Nona Nessia jatuh dari lantai tiga. Ada beberapa bagian tubuhnya yang patah dan sekarang lagi menjalani pertolongan. Dokter baru saja keluar dan mengatakan dia mengalami pendarahan hebat serta membutuhkan darah Rh-negatif. Kami sudah mencari ke seluruh bank darah di kota, tapi belum ada kabar ...."

Gerald tiba-tiba menoleh ke arah Tania.

Tania berdiri di ujung koridor dengan punggung bersandar pada dinding. Ekspresinya sangat tenang.

Begitu mendengar kata Rh-negatif, dia sudah tahu apa yang akan dikatakan Gerald.

"Tania, golongan darahmu itu, 'kan?" Benar saja, Gerald berjalan menghampirinya, secercah harapan muncul di matanya.

"Ya." Tania menatapnya dengan tenang. "Tapi aku nggak bakal mendonorkan darah buat Nessia. Hidup atau matinya nggak ada hubungannya denganku."

Setelah mengatakan itu, dia berbalik hendak pergi, tetapi detik berikutnya tangannya ditarik.

Gerald menggenggam pergelangan tangannya. Dia menatap Tania dengan mata memerah, dan suaranya rendah seperti sedang memohon. "Tania, ini menyangkut nyawa seseorang. Aku tahu kamu membencinya, membenciku, tapi ini nyawa seseorang. Anggap saja aku memohon padamu."

Hati Tania bergetar hebat.

Gerald adalah orang yang paling angkuh di Kota Beiran. Selama ini, orang lainlah yang memohon kepadanya. Kapan dia pernah memohon kepada orang lain? Namun, demi Nessia, dia bersedia melakukan apa pun.

Tiba-tiba, Tania merasa sangat menyedihkan, baik untuk Gerald maupun untuk dirinya sendiri.

Dia menarik napas dalam-dalam. "Aku bersedia mendonorkan darah, tapi kamu harus mengembalikan cincin pernikahan itu padaku."

Ekspresi Gerald seketika menjadi sangat buruk. "Kenapa kamu harus mendapatkan cincin itu?"

"Lalu, kenapa kamu bersikeras nggak mau memberikannya padaku?" balas Tania.

Napas Gerald menjadi berat, dadanya naik turun dengan hebat. Dia memejamkan mata sejenak. Ketika membukanya kembali, matanya sedikit memerah. "Karena dulu, ketika kamu memberikannya padaku, kamu pernah bilang kalau suatu hari kamu nggak ingin bersamaku lagi, kamu sendiri yang bakal datang memintanya kembali!"

Tania hanya menatapnya dalam diam tanpa mengatakan apa-apa.

Gerald memaksa dirinya untuk tenang, lalu merendahkan suaranya dan berbicara selembut mungkin, "Tania, aku tahu kamu sudah menyukaiku selama bertahun-tahun. Meminta kembali cincin pernikahan itu bukan berarti kamu ingin meninggalkanku. Kamu cuma mau menggunakannya buat mengancamku supaya aku lebih memperhatikanmu. Tapi, aku sudah bilang, aku lagi berusaha mencintaimu. Hal seperti ini nggak bisa dipaksakan. Sebenarnya, apa lagi yang kamu inginkan dariku?"

Tania tetap menatapnya tanpa menjawab.

Seorang perawat kembali berlari keluar dari ruang operasi dan menghentakkan kaki dengan cemas. "Keluarga pasien! Darah dari bank darah belum juga datang? Pasien sudah hampir nggak bisa bertahan!"

Tania mengalihkan pandangan. Suaranya sedingin angin musim dingin. "Aku ulangi untuk terakhir kalinya. Entah kamu mengembalikan cincin itu padaku dan aku pergi mendonorkan darah, atau aku pergi dan kamu melihat Nessia mati. Pilih salah satu."

Dia mulai menghitung.

"Tiga."

Tinju Gerald mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Dua."

Tangannya mulai gemetar.

"Satu."

"Ini, ambil!" Gerald mengeluarkan cincin itu dari saku dalam mantelnya. Tangannya gemetar ketika melemparkannya. Cincin itu jatuh ke lantai, memantul dua kali, lalu menggelinding hingga ke kaki Tania.

Suaranya serak hampir tak terdengar. "Ambillah. Nessia sudah nggak bisa menunggu lagi. Cepat pergi."

Tania membungkuk mengambil cincin itu dan menggenggamnya erat di telapak tangan. Dia tidak mengatakan apa-apa dan berbalik masuk ke ruang donor darah.

Ketika jarum menusuk pembuluh darahnya, dia memalingkan wajah dan tidak melihatnya.

Gerald berdiri di sampingnya. Melihat wajah Tania yang pucat, suaranya sudah melunak sepenuhnya. "Tania, aku tahu kamu cuma lagi merajuk dengan cara seperti ini. Aku juga bersedia memanjakanmu. Aku benar-benar sudah berusaha keras buat belajar mencintaimu. Jangan merasa nggak aman lagi, ya?"

Tania menatap ke luar jendela. Langit sudah benar-benar gelap.

"Keadaan Nessia lebih parah, aku pergi melihatnya dulu."

Gerald berbalik dan pergi. Suara langkahnya makin jauh, hingga koridor kembali sunyi.

Tania perlahan menoleh dan menatap jendela yang terbuka.

Di telapak tangannya terdapat dua cincin pernikahan, satu miliknya dan satu milik Gerald. Dulu, keduanya dirancang sendiri olehnya.

Tania menggenggam kedua cincin itu, lalu mengangkat tangan dan tanpa ragu melemparkannya keluar jendela.

Kedua cincin itu jatuh ke danau buatan di bawah, menimbulkan dua percikan air kecil yang sekejap kemudian lenyap.

'Gerald, kamu bukan sedang berusaha mencintaiku. Kamu hanya merasa bersalah dan ingin menebus kesalahan.'

'Sementara aku … tidak menginginkan rasa bersalahmu dan penebusanmu.'

'Juga tidak menginginkanmu.'

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
138 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status