MasukRenaissance of our love [ book 1 ] Si Shelby ay Isang simpleng babae isa siyang working student , she is working as a secretary . but what will happen when she fell in sensation na hindi niya dapat maramdaman ??? tune in to know !!!
Lihat lebih banyak"Ayah pulang...!" Seorang lelaki tampan berteriak sedikit keras, ketika sudah berada di depan pintu sebuah rumah yang tertutup rapat. Tangan kanannya membawa dua biji kelapa muda, sedangkan tangan kirinya memegang erat sebilah pedang.
"Aneh...! Tidak biasanya siang begini pintu rumah tertutup rapat," gumamnya pelan.
"Ningsih, Bayu, ayah pulang... buka pintunya, Nak!" kembali lelaki itu berteriak sedikit keras, sambil mengetuk pintu dengan gagang pedangnya.
Tak kunjung mendapat jawaban, lelaki berumur sekitar 25 tahun tersebut dengan sedikit membungkuk, meletakkan dua buah kelapa hijau di atas tanah.
Sekilas matanya melihat tetesan darah yang mengarah ke dalam rumahnya. Dia menoleh ke belakang untuk melihat bercak darah yang masih segar tersebut.
"Darah siapa?" Hatinya bertanya-tanya.
Lelaki itu menyusuri tetesan darah segar yang mengarah ke pintu belakang rumah. Rasa penasarannya semakin besar setelah tetesan darah yang terlihat semakin banyak. Bahkan gagang pintu pun dipenuhi bercak darah.
Beribu pertanyaan seketika membanjiri pikirannya, lelaki tampan itupun membuka pintu rumah, lalu menghambur ke dalam rumah. Benaknya semakin kalut karena bercak darah di dalam rumah terlihat jauh lebih banyak. Lelaki itu tak kuasa menahan kekuatirannya, matanya menyaksikan darah menggenang yang mengalir keluar dari dalam kamar.
"Bayu...!" Lelaki itu berteriak sekuat tenaga, sesaat setelah membuka pintu kamar anaknya yang bernama Bayu. Dia melihat jasad anak lelakinya yang baru berumur 3 tahun dengan luka gorokan di leher. Darah menggenang memenuhi lantai hingga mengalir ke luar kamar.
"Bayu, Anakku... Jangan tinggalkan ayah, Nak!" teriaknya kalut. Lelaki itu berlutut di samping jasad anaknya. Dia mulai menitikkan air mata karena kesedihan yang luar biasa.
"Ningsih...?" Dia kemudian teringat dengan anak perempuannya yang berumur 2 tahun lebih tua dari pada Bayu.
Lelaki itu berlari mencari anak gadisnya di kamar satunya. Hal serupa pun dia dapati di kamar tersebut. Anak perempuannya juga sudah tak bernyawa dengan banyak sekali luka tusukan. Sekujur tubuhnya penuh dengan darah yang masih segar.
"Ningsih...!" kembali dia berteriak sekuat tenaga, hingga terdengar sampai di rumah tetangganya yang berjarak sekitar 30 meter dari rumahnya.
"Nilam., jangan-jangan dia..." Pikiran lelaki itu beralih kepada istrinya. Dia curiga jika istrinya yang telah membunuh kedua anaknya.
Lelaki itu berlari sekuat tenaga ke kamarnya sendiri. Pintu yang tertutup rapat didobraknya hingga jebol.
Pemandangan tidak kalah mengenaskan juga terpampang di depan matanya. Istrinya yang cantik duduk di lantai, dan bersandar di dinding dengan memegangi perutnya yang bersimbah darah. Pakaiannya sudah koyak tidak karuan bentuknya, sehingga memperlihatkan bagian-bagian sensitifnya.
Kecurigaan lelaki itu kepada istrinya pun pudar seiring melihat kondisinya yang tidak kalah mengenaskan.
"Siapa yang melakukan ini, Nilam?" Lelaki itu menangis memeluk istrinya. Dia menduga istrinya diperkosa, dan kedua anaknya dibunuh pelaku yang takut belangnya terkuak.
"Win... Winarto pelakunya, Kakang Aji," jawab Nilam terbata-bata dengan suara yang sangat pelan. Nafasnya tersengal-sengal. Detak jantungnya pun sudah sangat lemah.
"Winarto...?"
Belum sempat mendapat jawaban, lelaki itu melihat istrinya menghembuskan nafas terakhir di pangkuannya.
"Biadab kau, Winarto...! Aku akan membalas perlakuanmu ini!" Aji menggeram marah. Dia tidak menduga jika Winarto yang juga merupakan pemimpinnya di sebuah kawanan perampok, begitu tega berbuat seperti itu kepada keluarganya.
Aji tiba-tiba teringat ketika Winarto menyuruhnya beserta 7 orang temannya untuk merampok di sebuah hutan.
"Jadi ternyata itu alasannya menyuruhku merampok tadi!" ucapnya dalam hati.
Dia menyesal pernah mengajak Winarto ke rumahnya beberapa hari yang lalu. Ternyata di balik keramahannya, Winarto menyimpan niat buruk kepada istrinya.
Lelaki tampan berusia 25 tahun itu mengayunkan langkahnya cepat keluar dari rumahnya menuju rumah tetangganya, untuk memberitahu kejadian yang baru saja terjadi pada keluarganya.
Tak lama, suara kentongan pun terdengar tanpa berhenti. Di pedesaan, kentongan yang ditabuh berulang kali dengan cepat adalah sebuah tanda sedang terjadi Rojopati atau pembunuhan, bisa juga kejadian kebakaran rumah dan peristiwa besar lainnya.
Aji terduduk di sebuah kursi ketika belasan orang tetangganya berlalu lalang mengurus penguburan anak istrinya. Pandangan matanya sayu seolah tiada semangat untuk hidup. Dia begitu terpukul dengan kejadian itu.
Perlahan, Lelaki tampan itu kembali menangis sesenggukan membayangkan kedua anaknya yang lucu, dan istri yang begitu perhatian kepadanya, kini sudah meninggal dunia. Dia tidak menyangka jika kebahagiaan rumah tangga mereka hanya sebentar saja dirasakannya.
Kegarangannya ketika menjadi perampok seolah sirna, setelah dia merasakan sendiri bagaimana kesedihan yang mungkin dirasakan oleh para korbannya.
Setelah acara penguburan selesai, beberapa tetangga kembali ke rumahnya masing-masing. Mereka tampaknya ikut terpukul dengan kejadian yang menimpa anak dan istri Aji. Padahal keluarga yang baru ditimpa kemalangan itu adalah sebuah keluarga yang harmonis.
Aji yang masih terpaku duduk di kursi sedari tadi, kemudian bangkit dari duduknya. Dia berjalan mencari pedang yang selalu dibawanya ketika merampok.
"Pedangku, aku tidak akan menggunakanmu untuk berbuat kejahatan lagi. Sekali lagi, bantulah aku untuk membunuh pelaku pembunuh istri dan anakku!" Aji berbicara kepada pedangnya, seolah pedang di genggamannya itu bisa mendengar curahan hatinya.
Setelah menggantung pedang di pundaknya, Aji mengambil tudung kepala yang tergantung di dinding dan memakainya.
"Selamat tinggal rumah kenanganku. Mungkin kita tidak akan bertemu lagi," ucap Aji pelan. Dia menyulut salah satu bagian rumahnya yang terbuat dari anyaman bambu dengan api hingga terbakar.
Chapter 6: drunk I don't know what to do . the meeting in Italy is now finished and sir is booking a ticket back to Philippines and me here reading , scrolling in my phone trying to forget Dilan's infidelity . It's hurt to see but I have to move on , I don't want to see them . And I don't think that he will have an affair with her , my best friend it's hurt to think but I already see it . It's like a knife , no it's not a knife it's an axe that is buried in my heart . Alot of questions is in my mind , iniisip kung saan ba ako nagkulang para ipag palit niya ako Kay mich . Meron bang hindi ko na ibigay sa kaniya na binigay ni mich . Knock * I heard knocking in my door , tumayo ako sa aking pag kakahiga at pinunasan ang mga luhang dumaloy sa aking pisngi . When I opened the door I see my boss in his phone chatting with someone , I don't know who I don't wanna know . " Ready you're things were leaving tomorrow afternoon . " Sir Havier said . " Noted sir Montenegro " I said and h
Chapter 5: cheater Ilang linggo na rin ang lumipas , lumilipad parin sa isip ko ang naganap saamin ng boss ko . And the marks of our nasty doing is gone but not in my mind . Ako ngayon ay nasa airport at pasakay na kami ni Sir Havier ng plane papuntang Italy dahil nan doon ang meeting na dadaluhan namin . Umupo ako ng dahan dahan , sir is reading a news paper and me I just choose to settle down and sleep . 4 hours past we landed in the airport at pumunta sa hotel kung saan kami ay mag papahinga . The unit have two rooms so I'm sleeping on the other room and sir is in the left room. I go to my room and go to the bathroom to take a quick shower , when I'm done I dried my hair using the towel hotel staff give us .Sinuklay ko ang aking buhok at tinalian ito na pagdisiyonan ko na lumabas ng kuwarto para kumuha ng maiinom sa kusina . A bottle of red wine gets my attention and I get it , poured it in my glass , I take a sip from it and It tastes amazing . While enjoying the wine I g
Warning : SPG po . Chapter 4 : Missed I found my self in a white room that has a big window with gray curtains , I look around , I see my boss drying his wet black hair with a towel . I attempted to stand up but I fall in the floor , my boss help me to get up and sat down to bed . " Don't stand , your legs are still weak" sir Montenegro said . " What do you want to eat for breakfast " sir asked . My heart skip a beat as he said those words , his harsh voice last night suddenly fade away . His face that I thought I face Satan face to face is now a angel looking figure. " Hindi ako ang kakainin mo miss Rietra , so don't look at me in that way . " Pabiro na sabi ni Sir . He smiled and leave the room with a towel in his shoulder.' Wait self , why are you thinking about this guy , you have a boyfriend . 'I just realized that the same day I see Dilan in the rooftop talking someone in his phone is the same day I have sex with my boss! ' p*tan* I** self ano to !?? ' I don't know why
Warning : SPG Chapter 3 : passed out Hays salamat naka alis na din ako doon , ang daldal ng nasa counter kala mo close na kami , hysst ~~~ . " Hi sir Montenegro here is you're medium cup of espresso coffee . " I said serving it in his desk. Nakatingin sa akin si Sir Havier habang sinabi ko iyon ngumiti ito at sinabi " thank you miss Rietra . " Naka ngiting sabi ni Sir . Tumalikod na ako para umalis ng opisina niya ng tinawag niya ulit ako . " Mis Rietra , please prepare this files mahalaga yan para sa meeting natin Mamaya ng one pm sa 4th floor conference room . " Detalyadong sabi ni Sir Havier . " Yes sir Montenegro, noted " I said habang kinukuha ang mga files na kailangan mamaya . Bago umalis tumingin ako sa paligid ng opisina lahat ng bagay ay naka organized lahat nasa ayos pati papeles mayos na naka silid , wow~~. For some reason pareho sila ni Sir Havien . 2 long hours past by ng matapos ko nang suriin at tapusin ang aking trabaho ng may pumasok sa opisina ko .


















Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.