ВойтиAfter her divorce and a series of toxic relationships, Margot Simmins ... not her real name ... was done. Free-spirited, and a hippie at heart, she never wanted to be attached to anyone or anything anymore, not even for a job. She works as a freelancer, and resorted to one-night-stands for a free, no strings attached, good lay, for one night only. No drama and life were good. And then she met Richard, who seemed reluctant to join in her fun, not having a clue that he was actually a very well-known reclusive billionaire that will change her life forever.
Узнайте больше"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNGShe started to understand why Gabriel was the way he was. All those confidentiality agreements, how he kept his private life tight shut from the public, why he was so paranoid about people knowing details about his life. From a single picture of his ‘pregnant date’ on a magazine spread, someone had already plotted to kidnap the unborn child. It was dangerous to be that rich. No wonder he was so isolated from the world and lost his trust in people. It took almost a month for his wound to heal and then they were back in Bhorma. She wanted to be with her turtles, collecting eggs, caring for her hatchlings, and releasing batch after batch of her babies. Most of all, she was ready to visit her baby’s grave. She left flowers on her tomb and wondered how different things would’ve been if her baby was with her at the time of her kidnapping. Bhorma became her second home because that’s where her baby was. “Do you remember what you said to me before you fainted in the car?” She brought up
He woke up to find himself in the waiting room. He was tired from the adrenaline rush and fell asleep while he waited. Gerrick Finlay approached him, Gabriel’s lawyer had been the busiest man in the city after the incident. He briefed Perry on the urgency to keep all information under wraps. The case has been taken over by the police and everyone involved will be signed under a confidentiality agreement. Perry didn’t care about any of that, he just wanted to know what was going on with Jamie and Gabriel. “They’re okay … Gabriel had undergone surgery, he survived the critical phase … the bullet had been taken out of his body and given to the police for ballistic evidence … he’s still under anesthesia in the ICU and Jamie …” Gerrick smiled, “She insisted to stay in there with him … we had to get a special clearance for her to be there … she’s fine too.” Perry let out an exhale, “Thank you … I’ll just wait for her here.”********** Jamie sat on the chair beside his bed. The doctor ha
A shot was fired. It startled everyone outside. Melvin’s first reaction was to punch one of the guards in the face and took over his gun. The other man pulled his gun from the back of his pants but Melvin was too fast for him. He shot the second man in the leg and arm and took his gun too. A second gunshot was fired. Jamie went into the room, she got down on the floor to avoid a stray bullet. She looked for Gabriel, he was not far from the door, he was on the floor. She saw Eddie still with a gun in his hand, he too was on the floor near the armchair where she had sat. “Eddie! Did you shoot him?” was the first thing that came out of her mouth. “Gabriel!” she shouted in panic. His shirt and jacket were stained with quite a significant amount of blood, but he was conscious. He sat up and checked on his wound. His left abdomen was bleeding. “Are you fucking crazy? What the hell did you do?” she screamed at Eddie. “Come on we have to get you to the hospital,” she looped her arm around
“Gabriel … what are you doing here?” she couldn’t figure out whether she was glad to see him or was she more nervous that he was in the room with Eddie holding a gun.Eddie grabbed her and wrapped his arm around her neck and he pointed the gun at her head. “Yeah, Asshole … what are you doing here?” He was calm, even though he too had a gun pointed at his head by one of Eddie’s men. “I believe we have an unfinished business, Eddie … I’m here to settle it … man to man,” he focused his attention on Eddie now. “Why don’t you just let her go so we can talk privately … I’m unarmed … those fine gentlemen have searched me … if you could tell him to leave us alone … I’m all yours,” he offered. Eddie scoffed, “You’re such a cocky son of a bitch … What makes you think you can come here and tell me what to do? I have the upper hand here … you see this gun?” he waved the gun and pointed it back to Jamie’s head. “I’m not afraid to use it … I can make a hole right through her head, right here, rig
Jamie looked over her shoulder, the black car was there. After what Gabriel said, the car that gave her a sense of protection now felt like a threat. Her heart raced. “Are you sure they’re not your men?” “Men? There are multiple people inside? You can see them?” She started to pick up her pace as th
“Do you think he really has a torture chamber in his basement? To be fair, I’ve never really explored his house, and it’s huge,” Jamie asked Perry when she was back home. Perry laughed it off, “Pfft … come one, Gabriel? My guess would be a dungeon where he keeps his Pegasus or a cave at best, you kn
Two weeks after her miscarriage, she packed her suitcase. She put in all her maternity clothes she bought in Bhorma, she was taking them home to keep in her closet. She couldn’t bear to look at them anymore, at least for a while. She leftt most of her summer outfit in the hotel’s wardrobe, she will
By the 20th week of pregnancy, everyone in The Peninsula knew she was carrying Gabriel Love’s baby. Even though it was never officially announced, the way Gabriel treated her like his queen was obvious to them, Jamie was the one. The Tattler Magazine published a whole spread of Gabriel’s birthday pa


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Отзывы