MasukWhen Forbidden meets Temptation, things escalate in ways you wouldn't expect. this book is not just a compilation of short stories, but a compilation that'll make you stay glued to every chapter. every short story promises suspense, drama and heat. and if you're a fan of those three? then you've found the right book. dive in and discover the adventures of wild characters. ~~ When Thalia–an assassin–was sent to murder her latest target, she expected a quick mission. She didn't expect to be in bed with the man she was meant to destroy. Caught between duty and desire, one mistake could cost her everything. Because if her boss finds out… She won't live to tell the story.
Lihat lebih banyak"Kita lakukan sekarang! Agar tak ada lagi drama berkepanjangan tentang nafkah batin yang tak terpenuhi juga gugur kewajiban saya dalam satu malam."
Meski sudah tahu hal ini akan terjadi, ucapan si Tampan dengan wajah datar tetap berhasil menyentil hati mungilku yang malang. Ikrar yang terjalin di antara kita seolah tak berarti apa-apa saat ijab lantang yang dia lontarkan tadi pagi, terjadi berdasarkan permintaan seseorang. "Oke." Suaraku yang sempat tercekat di tenggorokan akhirnya keluar. Berusaha menutupi kegugupan, dengan perlahan kulepaskan handuk yang membungkus kepala, dan mulai menanggalkan pakaian. Bisa aku rasakan lelaki di hadapan tampak memerhatikan dengan seksama setiap gerakan yang dilakukan. "Cepat!" "Sabar atuh!" Aku mendelik, lalu membuka satu per satu kancing piama yang sialnya malah tersangkut benang. Dia berdecak kesal, lalu segera menggantikan tugasku dengan cara yang barbar. Hanya sekali sentakan, kancing piama yang kukenakan pun berhamburan di lantai. Padahal ini baju tidur kesayangan yang belinya pake paylater cicilan 3 bulan. Setelah mengamati tubuhku sebentar, dia langsung membaringkanku tak ubahnya mangsa yang siap diterkam. Tak ada pemanasan, semua dilakukan dengan cepat dan tanpa perhitungan. Hal itu tentu menyebabkan rasa perih yang ditimbulkan dari hasil penyatuan mulai menjalar di seluruh badan. Walau bagaimana pun ini pengalaman pertamaku. Dan apa yang dia lakukan sudah menghancurkan ekspektasiku tentang malam pertama yang seringkali diceritakan teman-teman. "Kita boleh saja terikat raga, tapi tidak dengan jiwa. Sampai kapan pun hati saya tetap milik Zahra!" Setelah dahaganya berhasil terpenuhi lelaki dua puluh delapan tahun itu beranjak bangkit. Sejenak dia menatap jejak yang tertinggal di seprai, ada seringai kepuasan di sana, tapi tak bertahan. Segera dia memasang kembali wajah datar, lalu berpakaian. "Lakukanlah sampai kamu bosan, saya nggak keberatan. Kalau nggak bisa memberikan hatimu, setidaknya berikanlah sebagian kecil hartamu sebagai balasan atas apa yang udah saya lakukan." Mendengar kata-kataku, langkahnya langsung terhenti di ambang pintu. Dia berbalik menatapku. "Sudah saya duga kamu memang mata duitan. Walau sedikit terkejut tapi saya apresiasi kejujuranmu. Untuk ukuran perempuan matre saya cukup terkejut kamu masih perawan." Bisa dikatakan aku sama sekali tak tersinggung disebut demikian. Di dunia yang segala-galanya butuh uang inilah aku bertahan. "Hidup itu harus realistis. Kalau saya nggak bisa mendapatkan kebahagiaan dari pernikahan yang sama-sama nggak kita inginkan, setidaknya saya teh bisa dapat kekayaan bilamana suatu saat Akang bosan, lalu berakhir mencampakkan. Toh, keperawanan saya yang udah Akang ambil tadi nggak bisa juga dikembalikan, kan?" Dia terbungkam, tapi tatapannya menyerang. Terlihat nyalang dan tajam di waktu yang bersamaan. "Sama satu lagi! Nggak semua orang melarat yang butuh duit larinya 'jualan'. Jadi tolong jangan disamaratakan." Seringai tampak kembali di wajahnya yang enak dipandang. "Ternyata saya salah menilaimu." "Emangnya gimana Akang menilai saya?" "Lupakan. Untuk yang barusan saya transfer setelah ini. Dan akan terus saya lakukan tiap kali kita berhubungan." "Oke, makasih." "Cih, kamu merasa bangga saya perlakukan seperti p*lacur berkedok istri?" "Nggak apa-apa. Toh, kita terikat secara halal, dan udah kewajiban Akang memberikan nafkah lahir maupun batin, pun saya yang memberikan hak Akang sebagai bentuk pengabdian istri." "Terserah." "Jangan lupa dateng lagi, ya, Kang Epen. Pintu kamar ini selalu terbuka untukmu. Muach." Aku mengerlingkan mata, melakukan ciuman jarak jauh yang berhasil membuatnya bergidig. Mungkin merinding, geli atau mungkin jijik? Apa pun itu aku tak peduli. "Jangan harap!" Aku hanya bisa tersenyum getir begitu dia berlalu dan membanting pintu. Topeng yang sejak awal dikenakan akhirnya bisa kulepaskan bersama dengan ledakan emosi yang sejak tadi sudah berjejalan minta diluapkan. Semua itu kutumpahkan di dalam bekapan bantal. Persis seperti yang selalu kamu ceritakan, Ra. Dia memang bajingan, tapi sedikit lebih baik dari yang kubayangkan. *** Dulu aku berpikir bahwa dongeng Cinderella dan Putri-putri Disney hanya kisah kehaluan tingkat dewa yang selalu berhasil memikat para penikmat fiksi dan romantisasi. Namun, sekarang aku merasakan yang demikian. Meski alurnya cukup berseberangan, setidaknya ada kesamaan di bagian dinikahi pangeran tampan dan tinggal di istana besar. Berbeda dari ibu tiri dan dua saudara kejam, dalam kisahku justru yang kejam adalah kehidupan dan sang pangeran. Sementara dua saudara dan ibu tiri tak ambil bagian. Karena yang mengambil peran paling besar adalah sang Ibu Peri, atau Zahra Almahira di sini. Ya dialah yang punya kuasa atas keberlangsungan pernikahanku dan suaminya, Evandy Sebastian Gunawan. Tak pernah terbersit sedikitpun dalam benak ini bahwa seorang Andina Julianti akan dinikahi Tuan Muda Evan, satu-satunya putra pengusaha tambang yang juga punya perusahaan besar. Bagai mimpi yang menjadi kenyataan begitu juga awal kehidupan baruku dimulai. "Papa berangkat dulu, ya, Sayang!" Dengan setelan yang sudah rapi, si Pangeran kejam yang dua hari lalu menggahiku tanpa perasaan itu mendaratkan kecupan di kening peri kecilnya, Dara Maisya Setiawan. Bocah lima tahun ini yang menjadi alasanku menyetujui pernikahan. Jangan harap ada drama cuti panjang untuk menikmati kebersamaan sebagai pengantin baru. Walaupun duitnya tak berseri tapi aku tidak yakin dia mau menghamburkannya begitu saja untuk bermesraan dengan gadis biasa-biasa saja sepertiku. Bahkan setelah menghabiskan satu malam dia langsung mengurung diri di kamar. Apa aku memang tak semenarik itu, atau memang dia punya gangguan orientasi s*ksual? Entahlah, seingatku Zahra tak pernah membahasnya. "Uti Dina nggak dicium juga, Pa? Biasanya sebelum berangkat Papa juga cium Mama. Sekarang Uti Dina istri Papa juga, kan?" Aku tersenyum lebar saat melihat wajah Kang Epen--nama panggilan kesayanganku untuk si kejam yang tampak kesal. Dengan sengaja kusodorkan kening ke hadapannya setelah menyingkap poni agar tak terhalang. Meski enggan, dengan gerakan cepat dia mendaratkan kecupan, lalu berbisik. "Yang ini nggak masuk hitungan, kan?" "Nggak, tenang aja. Kalau kecupnya di bibir baru tambah gopek." Dia memutar bola mata dan berlalu begitu saja. Sepertinya dia memang setakut itu aku mengandung anaknya, lalu menguras habis harta bendanya yang sebenarnya tak akan habis tujuh turunan. Terbukti saat dia memastikan kalau aku tidak akan hamil usai kami berhubungan. Tenang aja, Kang. Kamu tak segagah itu hingga bisa membuahi tanah yang gersang hanya dengan sekali disiram. Lagi pula, aku juga tak setertarik itu untuk punya anak. Bebanku sudah terlalu banyak, aku tak ingin lagi menambahnya. *** "Hai, Ra! Baru tiga hari tapi rasanya aku udah kena mental, hehe. Dia mah emang selalu begitu, ya? Nggak kebayang gimana perjuanganmu buat naklukin Kang Epen sampe bisa sebucin sekarang." Di depan sebuah makam yang baru berusia enam bulan, kutekuk kaki dan menopang dagu dengan kedua tangan. "Tapi aku akan berusaha keras bertahan, setidaknya buat Dara." Tanpa sadar air mataku meleleh saat mengusap nisan, tapi kupertahankan agar senyumnya tak hilang. Aku hanya tak mau mengeluh di hadapannya. Karena perempuan luar biasa seumuranku sudah banyak berjasa sepanjang persahabatan kita sejak masa SMA. Kepergian Zahra diiringi oleh isak tangis banyak orang, tak terkecuali Kang Epen yang histeris saat mengantarnya sampai ke tempat peristirahatan terakhir. Dia pergi dengan tenang, tak ada penyakit mematikan. Sepertinya malaikat mencabut nyawanya dengan perlahan dan penuh perhitungan agar tak terlalu menyakitkan. Sampai saat jiwanya meninggalkan raga, senyuman menghiasi wajahnya yang meneduhkan. Entah apa yang membuat Zahra memilihku di antara sekian banyak orang yang dia kenal. Dia bilang, kalau hanya aku yang paling dia percaya untuk menjaga Dara dan menggantikan posisinya sebagai istri Kang Epen. Mungkin Zahra lupa kalau suaminya bukan anak kecil yang perhatiannya bisa dengan mudah dialihkan ke mainan. Dia lelaki dewasa yang logikanya selalu berjalan lebih dulu daripada perasaan. "Walaupun keliatan tegar, tapi aku tahu semua harapannya ikut terkubur bersamamu, Ra. Dia bahkan bersikap seakan-akan seluruh cintanya udah abis di kamu. Tapi, nggak apa-apa. Aku cuma perlu memastikan kalau dia nggak berubah kayak dulu lagi, kan? Memastikan agar semua usaha yang udah kamu lakukan untuknya nggak sia-sia. Sampai saat itu tiba, aku bakal pastiin Dara nggak akan kehilangan sosok ibu dalam keluarga utuh yang setiap anak mimpikan." Sejenak aku menarik napas panjang dan menguatkan diri. "Makasih banyak buat semuanya, ya. Tanpa kamu mungkin aku nggak akan bisa hidup kayak sekarang. Walau perjalanannya akan sangat panjang, semua yang terjadi akan berusaha kujalani dan nikmati dalam jerat luka ini. Kalau kamu bisa, mungkin aku juga. Mungkin, ya, Ra. Aku nggak janji bisa sekuat kamu." ***Sasha's POV. The kiss was harder than his brother's, he was rougher and more possessive. He kissed me like he wanted to remind me who I belonged to, and that made my folds ache with desire. I moaned against his lips, and then he curled a hand around my neck, choking me as he kissed me senseless. When he broke the kiss, I was literally gasping for air. Jake's anger has melted into pure desire, I could see it in the way he looked at me.“I'm going to fuck that cunt so hard, you'll forget everything your mom told you,” He muttered. “That's the spirit bro. I told her the same thing,” Justin stood behind him with a sexy smile plastered on his lips.Right after that, Jake lifted me off the ground ina bridal style while his brother followed behind him. Jake stopped at the living room, placing me on the couch. I felt his hands on my top, and Justin's hands on my thighs, both stripping me off my clothes. It didn't take time before I was stark naked in front of these men. They had also s
Sasha's POV. His fingers moved back and forth over my panties, teasing me like he enjoyed the way my body trembled against him. He pushed my panties to the side, and slipped two fingers inside me. I gasped, gripping his shoulders like his body was the only support I needed. “Fuck, Jake,” I moaned, clenching so tightly around him. His thumb found my clit and he circled it with a delicious slow rhythm while his fingers curled inside me. A sharp cry escaped my lips as I writhed against him, wanting more of his finger strokes. “You're so wet doll,” his voice was raspy, “all that anger turned into your tight cunt into this wet, aching mess.”I couldn't respond, hell my brain couldn't even form proper words. My hips rocked against his fingers without will, my folds burning from every stroke. “Uhnn–fuck–that feels–so gooddd,” I moaned, chasing pleasure from his hands with a faster hip roll. “You're so beautiful like this. Such a hot doll,” he said, increasing the pace of his fingers.
Sasha's POV. The front door was unlocked, something that was unusual but my mind barely registered it. My bag slipped off my shoulder to the floor but I didn't care about that either. I was too busy replaying the argument in my head.“You're irresponsible and selfish. If you keep this up, you'll never amount to anything,” she'd yelled, throwing one of her shoes at me. I ran out of the house in a fit to escape those words but for some reason, they wouldn't leave my head. My chests tightened as my eyes burned with tears that threatened to fall. I fought them back, I didn't feel like crying. It was a sign of weakness, and even though she wasn't here, I wasn't going to break like she wanted me to. I walked further into the house, headed to nowhere in particular.Just then, I heard the low sound of something sizzling and the faint aroma of cheese invaded my nostrils. And with that, I made my way to the kitchen, in search of the one person who was calm to my storms. I walked into the
Mabel's POV.“Want me to take care of it?” the words slipped out of my mouth, eyes fixed on the bulging part of him. A part of me instantly bloomed with regret. Why the fuck did I just say that? I bit hard on my tongue, wishing I could take the words back but I couldn't.He crouched, meeting me at my level. Then his hand reached for my face, landing on the side of my cheek. He gently caressed me, his lips curling into a smirk.“Why aren't you so sweet?” He started, leaning so close to me that I literally inhaled his breath, “take your hands out of your pussy, let me finish that.” My fingers slowly slipped out of me, wet and glistening with my juice. I felt the loss of them, like a small, shameful ache. I pressed both palms flat against the floor, keeping my arms behind me while my chest heaved. Daniel's gaze ran over my body like he'd been dying to look at me up close. His hand on my face slowly trailed down to the contour of my jaw, dipping downwards onto my neck. My stomach clenc
Thalia's POV. Rocco's eyes widened, but not from surprise. From amusement. He rose up slowly from the chair, his lips curling into the most evil smirk I’d ever seen. He lifted both hands in the air, “I surrender.” My heart skipped a beat. Why wasn't he scared? Why should I even bother? The pl
Thalia's POV.I felt my blood run cold the moment he said that. Every rush of dopamine in my veins became replaced with adrenaline.He slowly lifted his head to face me, his eyes still carrying the same darkness I'd seen when I walked in. I racked my head, searching for the best way to respond to h
Thalia’s POV. “Turn around,” he ordered, his deep voice sending shivers down my spine. I did just that, feeling my nipples going numb through my crop top. “TAP!” He struck a hand against my ass cheek, the impact making my core clench and drip at the same time. His big, rough hands slowly rubbe
Tanesha's POV. I swallowed hard, and my heart started racing. My grip on the can grew shaky so I dropped it down, my body turning stiff against his. “I–You don't have to worry. I got this,” I replied, my voice sounding weak. “Alright Madame,” he murmured, his body still standing behind mine. A












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.