LOGINUnwanted meaning:- Undesired, unwished. That's what she was in his life, she waited for a decade for his return only to be declared as a forced unwanted woman. He discarded her, rejected her, broke her to her ending limit that she finally accepted that he was no longer the man she gave her heart to. But what will happen when her innocence started playing with his reluctant heart? Even the slightest thought of her hand being placed in another man's burned his insides in jealousy. But why? Wasn't he the one who wanted this fate? A bitter rejection leaded to a slight attraction turning into a vicious obsession. Will she be able to handle his possessive madness when she already gave up on him? Will he stop putting his claim on her when this time it was her who rejected him? The answer was no. His obsession was beyond the limit, control and ethics. Unwanted Her. A heartbreaking tale of an innocent soul. A tale of her unwanted love and his unwanted obsession.
View More“Lapor, Bos!” ucap seorang pria berbadan tegap pada Aldan. “kami sudah berhasil melumpuhkannya.”
“Good job, Faiz. Bawa dia ke hadapanku.”
“Baik, Bos!”
Faizal Hamid bergerak cepat membawa seorang pria gendut ke hadapan Aldan Pratama Chandra Putra, pimpinan pasukan White Master yang terkenal dingin dan kejam.
“Arrrgghhhh ...”
Tanpa basa-basi, Aldan langsung menusuk perut pria gendut itu, “Manusia sampah sepertimu tidak pantas hidup!”
Teriakan pria gendut itu memekakkan telinga, sembari memegangi perutnya yang berlumuran darah. Namun, Aldan tak memberinya napas. Pisau miliknya menebas wajah dan badan musuhnya secara acak berulang kali hingga mati.
Ini bukan pertama kalinya, sudah banyak nyawa melayang di tangan pasukan white master yang bermarkas di Malaysia. Pasukan rahasia ini tidak asal membunuh, mereka hanya membasmi seorang penjahat.
“Jangan berbelas kasihan pada seorang penjahat. Bunuh atau kita yang akan dibunuh!” seru Aldan menatap puas pada mayat yang tergelimpang di bawah dengan bermandikan air merah kental.
Puas melihat pemandangan yang ada di depannya, Aldan menoleh ke arah kaki tangannya, “Faiz, waktunya sudah tiba.”
Faiz mengerti ucapan Aldan, “Apa Bos benar-benar ingin kembali ke Indonesia?”
“Ya, Faiz. Sudah 10 tahun aku berada di Malaysia. Sudah waktunya aku pulang, aku rindu kota kelahiranku.” Aldan tersenyum, tetapi tatapannya berkata lain. Matanya malah bersinar dengan cahaya dingin.
Faizal mendadak menundukkan kepala, dia tidak berani melihat ke arah Aldan yang tiba-tiba mengeluarkan aura yang sangat mengerikan. Tatapan membunuh tergambar jelas di wajah pimpinan pasukan White Master itu.
‘Sebenarnya apa yang dirahasiakan, Bos? Kenapa Bos terlihat sangat marah?’ Faizal bertanya-tanya dalam batinnya. Hingga saat ini, dia tidak tahu cerita masa lalu Aldan ketika masih berada di Indonesia.
***
10 tahun yang lalu, di kota Jakarta.Waktu itu, hujan sangat deras. Perkelahian hidup mati antara dua orang di dalam rumah tak terhindarkan. Pria bersepatu mendominasi, beberapa kali Chandra terkena pukulan dan tendangan yang begitu keras.
JLEBBB!
Hanya butuh dua gerakan, Pria bersepatu berhasil menancapkan pisau di perut Chandra.
“Akhhh.” Chandra meringis kesakitan. Cairan berwarna merah keluar dari perutnya, sementara Pria bersepatu tersenyum penuh kemenangan.
Pria bersepatu menoleh ke arah pintu kamar yang terkunci. Di dalam sana ada seorang anak yang bersembunyi, “Nak, keluarlah atau Papamu akan aku habisi. Nak?” ucapannya santai, tapi sudah cukup membuat Aldan bergemetar dan diselimuti rasa takut yang amat dalam. “Keluarlah, nak! Lihatlah Papamu!”
“Al-dan! Dengar-kan Papa. Cepat hubungi Polisi. Jangan pikirkan Papa, ka-mu harus selamatkan Mama.” Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa, Chandra mencoba mencegah Aldan agar tidak terkecoh oleh tipu daya pria bersepatu.
Plak! Bukk!
Pria bersepatu memukul keras wajah Chandra, dilanjutkan dengan tendangan hingga terjerembab jatuh tak tertahan.
“Aku tau kamu mendengarnya, nak. Keluar atau kamu mau melihat mayat Papamu?” tanya Pria bersepatu dengan tersenyum jahat menatap pisau yang masih tertancap sempurna di perut Chandra.
“Ja-ngan, Aldan. Ini jebakan!” titah Chandra.
Sementara Aldan, matanya memerah. Keringat dingin membasahi tubuhnya, dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia ingin berteriak sekencang mungkin untuk meminta bantuan, tetapi sepertinya percuma karena hujan sangat deras.
‘Apa yang harus aku lakukan?’ tanya Aldan dalam batinnya sambil menatap wanita yang berbaring di lantai. Mamanya harus segera diselamatkan, tetapi disisi lain ancaman pria bersepatu tidak main-main. Jika dia menghubungi polisi, maka Papanya pasti dihabisi oleh pria jahat itu.
“Nak?” panggil pria bersepatu dengan santai sambil berjalan maju dan berjongkok di depan Chandra. Lalu dia mencabut pisau dengan kasar dari perut Chandra.
“Akhhhh!”
Jeritan Chandra memekakkan telinga, membuat Aldan berteriak sekencang mungkin dari dalam kamar. “Papa!”
Tidak berhenti disitu, iblis yang ada di dalam diri pria bersepatu semakin menjadi-jadi. Dia merobek baju Chandra dan mengiris kulit perutnya.
“Akhhhhhh!” Chandra mengerang kesakitan, pandangannya semakin kabur. Di detik selanjutnya, ada sebuah pukulan yang mendarat di kepalanya hingga dirinya hilang kesadaran diri.
Aldan yang tidak tahan mendengar penyiksaan itu, dia membuka pintu kamar. Dia syok bukan kepalang ketika menyaksikan pria bersepatu memainkan pisau di perut Papanya, diiris-iris sampai membentuk banyak garis bak melukis di atas kertas. Sangat kejam!
“Papa!” Aldan hanya bisa menangis dan berteriak histeris. Dia berdiri di ambang pintu, tidak berani melangkah ke depan.
“Sudah kubilang, nak. Jika saja kamu cepat keluar, aku tidak akan melukis di perut Papamu,” ucap pria bersepatu tersenyum tipis menatap Aldan. Lalu dia menunduk dan menggerakkan pisau itu kembali.
“Hentikan!” teriak Aldan menunduk dengan deraian air mata. Dia tidak tahan melihat penyiksaan sadis di depan mata, Papanya seperti kelinci percobaan. Perlahan anak itu memberanikan mendongak menatap pria bersepatu dengan wajah memelas-semelasnya. “Aku sudah keluar, aku gak menelpon polisi. Pergilah, jangan bunuh Papaku!”
Mendengar itu, pria bersepatu hanya tersenyum tipis.
“Aldan mohon lepaskan Papaku, Om” pinta Aldan dengan sesegukan tangisan. “Aldan mohon, Om.”
Di saat bersamaan, ponsel di dalam saku pria bersepatu berbunyi. Dia mengambil dan menerima panggilan itu, “Ini aku ... Aku belum menemukannya ... Anda tenang saja, aku pasti membereskan semuanya. Aku juga menjamin kasus ini akan tertutup rapi.”
Aldan yang mendengarnya terkejut bercampur takut. Ternyata pria bersepatu adalah suruhan seseorang untuk menghabisi kedua orang tuanya.
Pria bersepatu menyimpan kembali ponselnya dan menoleh ke arah Aldan dengan segurat senyuman licik, “Kemarilah, nak,” ucapnya santai, tapi itu sudah cukup membuat Aldan mengerti bahwa itu adalah sebuah perintah.
Aldan masih membeku di ambang pintu dengan tubuh bergetar hebat dan bekeringat dingin.
“Kemarilah, nak.” Pria bersepatu mengulang ucapannya kembali sambil memainkan pisau di perut Chandra, memberi isyarat pada Aldan agar segera berjalan mendekat.
Aldan pun mau tidak mau satu langkah maju ke depan dengan air mata dan keringat bercampur jadi satu. Jantungnya seolah ingin pergi dari tubuh itu.
“Cepatlah, nak.”
Aldan mulai melangkah kembali dengan harapan pria bersepatu mengurungkan niat untuk membunuh Papanya.
“Bagus.” Pria bersepatu tersenyum penuh kemenangan ketika Aldan sudah satu langkah berada di depannya.
“Jangan bunuh Papaku.” Aldan menangis dengan napas dan jantung saling memburu. Dia berharap mendapat belas kasihan dari pria bersepatu.
Pria bersepatu masih dengan gayanya, terlihat santai dengan senyuman penuh arti.
“Maafkan aku, nak,” ujar pria bersepatu sambil mengayunkan pisau ke arah Aldan.
“Papa!”
Bersamaan dengan teriakan Aldan, naluri orang tua dari Chandra bangkit. Dia reflek membuka mata dan menahan tangan pria bersepatu di udara sebelum pisau itu bersarang di tubuh anaknya.
“Lari Aldan!” titah Chandra disisa-sisa hidupnya untuk menyelamatkan nyawa Aldan.
Aldan berlari ke arah kamar dan mengunci pintu, sedangkan pria bersepatu seketika menghabisi Chandra dengan cara menusukkan pisau berulang kali ke perutnya.
“Papa!” Aldan hanya bisa berteriak dari dalam kamar dengan kesedihan yang luar biasa tak tertahan.
Pria bersepatu berhenti menusuk Chandra, tetapi Aldan masih terus menangis sejadi-jadinya. Perlahan sorot matanya tertuju pada sang Mama yang terbaring di bawah.
Aldan menghampiri Yuyun dan mengecek denyut nadi dan detak jantungnya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi. Air mata anak itu pun semakin turun deras tak terbendung.
“Mama, Papa!” Dada Aldan seolah dihujani ribuan anak panah beracun yang mematikan. Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya sudah tidak bernyawa. “Mama, Papa! Jangan tinggalkan Aldan!”
Di menit selanjutnya, wajah Aldan memerah dengan sorot mata yang sangat tajam.
“Aku pastikan kau akan mati di tanganku. Aku akan mencarimu. Kau akan kubuat menderita dan mati mengenaskan!”
***
Sudah 10 tahun Aldan bersembunyi di Malaysia. Tentu itu jasa dari Bunda, seseorang yang menjadikan Aldan sebagai anak angkatnya. Wanita itu membawa Aldan pergi ke Negeri Jiran untuk menghindari para pembunuh yang juga menginginkan nyawanya.Kini Aldan sudah kembali untuk membuat perhitungan kepada para pembunuh yang mempunyai hati iblis!
“Bos, pesawatnya sudah tiba.” Faizal berkata dengan wajah menunduk karena energi membunuh dari Aldan masih bercahaya di wajahnya.
“Terima kasih, Faiz. Jaga dirimu baik-baik selama aku pergi.”
Senyuman memang terbit di bibir Aldan, tetapi cahaya dingin masih mengambang di sana. Hal itu membuat Faizal berkeringat dingin. Dia bisa melawan dengan banyak musuh sekalipun, tetapi nyalinya langsung menciut ketika melihat aura istimewa dari sang Bos.
“Jika Bos butuh bantuan, aku siap terbang ke Indonesia.” Faizal berkata sungkan.
“Oke,” ucap Aldan, lalu memutar badan dan menuju lapangan penerbangan.
Faizal memperhatikan punggung Aldan yang semakin menjauh. Dia kenal betul siapa pimpinan pasukan white master. Dia yakin Pimpinannya itu bukan hanya pulang kampung, tetapi ingin menyelesaikan sebuah masalah di Indonesia. Dia yakin Sang master sedang mengincar nyawa seseorang.
Sementara itu,
Di dalam pesawat, tatapan Aldan terpancar aura balas dendam, “Aku kembali!”
Author's Pov"Leo, stop scaring me!" She mumbled holding onto his hand like a scared cat as he was helping her to walk because of her eyes being blindfolded.When she woke up early in the morning she found a beautiful large box placed over the couch confusing her. The very first she went to her daughter's room to check upon her, Aera had turned almost a year, her birthday was just two weeks away and Leo had made a plan of throwing a massive party even though I didn't want to make it any big event but he clearly said it was his angel's first birthday he wasn't going to let it any less of an important event of his life.Not finding her daughter in the room she frowned panicking a bit but after coming in her room she approached the couch to get her phone when her eyes fell on the small card laying over the box. Grabbing it she opened the paper piece and read the words written on it which both eased her tension and burned the spark of curiosity in her heart.My precious, be ready till 5 p
Author's Pov Freya frowned raising her eyebrows when she didn't find Leonard in the room, her scowl eased a bit after she made sure Aera was fast asleep and she indeed was. But in order to find Leonard she marched to the terrace. Leoaned had grown this new habit of watching the empty hollow forest behind their house at night.But he always returned back to the room on time, today when he didn't return even after her waiting for him she decided to check up on him. Opening the glass door she stepped out of terrace shivering a bit hugging the shawl she had dabbed over her arms when the cold wind attacked her tiny frame. As expected, he was standing on the edge watching the dark forest with his blank gaze, his palms were placed over the concrete half wall doing the work of railing. Walking near him she watched how he snapped out of his lost thoughts and turned his whole attention towards her."What happened?" She mumbled making the man sigh lightly shooting her a small smile."Nothing I
Author's PovFreya's lips curved into a small smile staring at the beautiful warm view in front of her, she went to make milk for her little angel but the moment she returned she found her sleeping over her father's chest who didn't even change his office suit and simply held her the second he arrived at home.A warm feeling spread over her chest hearing the word home echoing in her head, yes the home she always wanted to build but was failing each time because of many obstacles but now she had finally created one and with the man she never thought she will ever again be able to live under same roof.After her accepting to give him a last chance to mend their relationship he didn't disappoint her, after a week they returned to Spain in order ease his overwhelming work. She informed her grandmother and she also told her to not worry about the cafe she will ask one of her friends to look after it in her absence.Leonard as promised hadn't touched her till now, he had been giving his bes
(This chapter is solely for Evan and Janet)Author's PovEvan sighed heavily once again getting a no response from Freya's number, he closed his eyes leaning his head against the sofa when he remembered the same face that had been haunting him for many months.Janet. The woman who broke his heart mercilessly when he wanted her the most, the woman he broke heart of, the same way but God forbid if he claimed that it gave him any kind of relief after doing that. She was still the woman he loved beyond himself and now to think of he was glad he didn't marry Freya.He didn't appreciate how he didn't marry her and never would he be thankful that she chose to marry that man. Yes, he heard about the marriage ceremony and for a few days he actually wanted to run to her in order to save her but after seeing her joyful frame and satisfied eyes he knew he had won over her.He had no idea what Leonard did to her to make her give in to him this easily but regardless of his dislike towards the man h






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings