LOGINThe truth about NEVEAH'S cheating fiancée hit hard-but not as hard as her right hook to his jaw. When she finds a beaten man in the woods beside her home, her entire life changes and things get-complicated. Ex-con RAGE only wants two things-for the man that set him up to release his sister, and for him to burn in where he belongs. After being released from prison, he heads straight to the man that put him there, only to be beaten and tossed in the woods for dead. When he's found by the most beautiful girl he's ever met, he knows he'll have a chance to rescue his sister even though she doesn't realize she needs saving. With the truth lurking in the shadows, Rage must decide if his sweetest addiction is worth giving up his second chance.
View More"Assalamualaikum ..." Suara salam terdengar dari balik pintu, diikuti dengan ketukan halus.
"Waalaikum salam," jawabku. Segera kucampakkan ponsel yang sedari tadi berada di genggamanku, lalu bergegas menuju pintu. Aku melangkah dengan perasaan senang bukan main. Aku tahu betul siapa pemilik suara itu. Dia adalah Mas Rohim, suamiku.
Kuputar anak kunci, lalu kubuka daun pintu. Pemandangan pertama yang kulihat adalah sosok suamiku dengan bibir yang sedang tersenyum manis. Segera kucium punggung tangannya dengan takdzim.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu pulang," ucapku dengan lega.
"Kenapa? Kangen?" goda Mas Rohim.
"Iya, lah, Mas! Seminggu hanya bertemu satu kali. Siapa yang nggak kangen coba! Apalagi hitungannya kita masih pengantin baru! Harusnya tuh, ya, kita kemanapun berdua!" gerutuku.
Ya, bisa dibilang kami LDR-an. Bertemu hanya saat Mas Rohim libur kerja. Suamiku akan pulang hari jum'at sore, dan minggu pagi ia akan kembali ke kota.
Aku tinggal di kampung, sementara suamiku tinggal di kota Surabaya. Sebenarnya jarak kami tidak terlalu jauh, bisa ditempuh dengan mengendarai sepeda motor yang hanya memakan waktu tiga jam lamanya.
"Pengantin baru apa'an. Nikah udah lima tahun juga!"
"Kan belum ada anak, Mas! Kalau belum ada anak, namanya tetap pengantin baru. Meskipun sudah lima tahun nikahnya!"
Hati terasa bagai tersayat sembilu saat bibir ini mengucapkan kata anak.
"Udah, ah. Jangan ngomel terus! Bikin gemes aja, deh!"
"Aduh ... sakit Mas!" keluhku saat Mas Rohim mencubit hidungku.
Akhirnya kami berjalan menuju kamar secara beriringan, dengan tangan kanan Mas Rohim merangkul pundakku.
*******
"Mas, apa nggak sebaiknya Rumi ikut ke kota? Supaya Mas ada yang merawat. Kan kasihan, Mas pulang kerja capek-capek, eh, nggak ada yang menyambut."
Mas Rohim memegang tanganku. "Kalau kamu ikut, bagaimana dengan Ibu? Ibu tak mau diajak ke kota. Terus Ibu di rumah dengan siapa? Apa kamu tega ninggalin Ibu yang sakit-sakitan di rumah sendiri? Nggak tega, kan? Mas nggak bisa tenang jika Ibu nggak ada yang jagain, kalau harus membayar orang, Mas malah kepikiran, kayak nggak percaya gitu. Apalagi kamu tahu sendiri. Mas hanya seorang staff biasa. Nggak mampu kalau dibuat bayar orang. Kalau sama kamu di rumah, Mas bisa kerja dengan tenang, Sayang. Karena Mas yakin, kalau kamu akan merawat Ibu dengan sangat baik!"
Selalu itu lah yang menjadi alasan suamiku, saat aku mengutarakan niatku untu ikut ke kota. Apa salah jika aku ingin setiap hari bisa bertemu dengan suamiku?
Sudah lima tahun juga kami berumah tangga, tapi tak kunjung mendapatkan keturunan. Padahal setiap hari sudah meminum obat penyubur yang dibelikan oleh Mas Rohim di kota dari dokter spesialis kandungan.
Percuma juga, kan, tiap hari minum obat penyubur tapi jarang ber-ikhtiar?
Kan bisa jadi, jika setiap hari bertemu, Tuhan segera menitipkan amanah-Nya untuk kami.
Ah, entahlah. Mungkin memang belum saatnya juga Tuhan menitipkan buah hati untuk aku dan suamiku.
Tapi untunglah, ia tak mempermasalahkan soal belum hadirnya buah hati di tengah-tengah kami. Bahkan, aku lah yang selalu mengeluh karena tak kunjung hamil juga. Tapi syukurlah, ia selalu bersedia mendengarkan keluhanku. Dan pada akhirnya, ia selalu memenangkan ku.
Mungkin kita harus bersabar terlebih dahulu dan Tuhan menginginkan kita untuk berpacaran dulu, begitulah katanya sewaktu aku berkeluh-kesah.
"Jangan diam gitu dong, Sayang! Sini peluk!" Mas Rohim memelukku.
Aku bergeming.
"Mas mandi dulu ya. Habis mandi makan malam, lalu lihat Ibu." Aku mengangguk. Dilepaskannya pelukanku, lalu diciumnya pucuk kepalaku.
Mas Rohim melangkah menuju kamar mandi, disambarnya handuk yang tergantung ditempatnya.
Suara gemericik shower mulai terdengar. Aku diam duduk termenung di bibir ranjang.
Entahlah. Disatu sisi aku menginginkan setiap hari bisa bertemu dengan suamiku, disisi lain aku juga tak tega meninggalkan Ibu yang sakit-sakitan seorang diri di kampung.
Salama ini aku hanya tinggal bersama Ibu mertuaku. Tepatnya di rumah milik Ibu mertua, di kampung halaman suamiku. Aku merawat beliau dengan ikhlas. Syukurlah, Ibu mertuaku sosok Ibu yang penyayang. Termasuk denganku yang notabenenya hanya seorang menantu.
Tiap satu bulan sekali aku selalu mengantarkan Ibu periksa. Jantung Ibu tidak normal, jadi harus sering-sering kontrol. Apalagi Ibu memiliki penyakit kolesterol dan diabetes. Menambah daftar penyakit yang bersarang di tubuh Ibu mertuaku.
Suara gemericik air yang terjatuh dari shower telah berhenti. Itu tandanya Mas Rohim telah menyelesaikan ritual mandinya.
Tak berselang lama, suamiku keluar dengan lilitan handuk di bagian bawah tubuhnya.
Semakin mendekat, aroma wanginya sabun menguar dari tubuhnya yang basah.
Butiran air berjatuhan dari rambutnya, lalu berselancar di dada bidang lelaki yang telah membersamaiku lima tahun lamanya.
"Suamimu ini memang tampan, Sayang," ucap Suamiku yang menyadarkan dari lamunanku.
"C'k, apa sih, Mas! Pede banget!" kilahku lalu membuang muka.
"Lah itu, lihat sampek bengong. Untuk berkedip pun kamu tak mampu!"
"Udah, ah. Cepetan pakai baju. Tuh, udah Rumi siapin! Rumi tunggu di meja makan ya. Sekalian manggil Ibu buat makan malam."
"Iya. Jangan ngambek ya! Mas mohon pengertian dari kamu!" ucapnya dengan raut wajah menghiba. Aku mengangguk dan tersenyum, pastinya senyum terpaksa.
Mas Rohim mengambil baju lalu mengenakannya. Aku beranjak dari ranjang lalu pergi ke ruang makan.
*******
Dentingan sendok mulai beradu. Kami lewati acara makan malam ini dengan saling bercerita dan bercanda. Begitulah suamiku, ada saja yang akan ia bicarakan. Entah masalah pekerjaan, atau yang lainnya.
Tapi sayang sekali, malam ini Ibu tak ikut makan malam bersama.
Mas Rohim mengambil tissue, lalu diusap lah bibirnya sebagai tanda kalau makannya telah selesai.
"Mas antar makanan Ibu dulu, ya. Kamu kalau ingin istirahat, istirahatlah!" ucap suamiku dengan lembut. Ia ambil makanan yang kumasak khusus untuk Ibu.
Ya namanya orang sakit, pasti makanannya tidak bisa sembarangan.
"Iya, Mas!"
Mas Rohim membawa nampan lalu berjalan menuju kamar Ibu. Sengaja kubiarkan sepasang Ibu dan anak itu saling mencurahkan rasa rindu satu sama lain. Aku tak ingin mengganggu mereka.
Kusandarkan tubuhku di kepala ranjang. Kuraih ponsel yang tergeletak di atas nakas tepat di samping ranjang.
Saat aku sedang berselancar di aplikasi dunia biru, tiba-tiba ponsel milik Mas Rohim bergetar.
Kuambil ponsel itu. Nama Ragil yang terpampang sebagai pemanggilnya. Ingin kuangkat, tapi aku ragu. Karena selama ini, aku tak pernah menyentuh benda pipih milik suamiku.
Kuletakkan kembali ponsel itu. Akhirnya panggilan dimatikan. Tapi tak lama kemudian, nomor tersebut memanggil kembali. Kubiarkan lagi, tapi nomor tersebut berusaha terus menghubungi.
Aku tahu siapa ragil. Ia adalah teman sekantor suamiku. Karena takut ada suatu hal yang penting. Akhirnya kuputuskan untuk mengangkat telepon tersebut.
Kuangkat panggilan itu, lalu kutempelkan di daun telingaku.
Belum sempat bibir ini berucap satu kata pun. Suara di seberang sana menyela, hingga mampu membuatku tersentak.
Four months later …“He’s up next!” Aunt Shelly screamed in my ear. I didn’t need her to tell me because I’d been waiting for it. I’d counted down each fight waiting to see Rage. The New Orleans arena was huge compared to the one at home. We’d been waiting for this match since Rage started fighting at the gym. I glanced down at my blank cell phone and frowned. Dante hadn’t texted me back. I had hardly talked to him in the last three weeks, and he lived with us. After his surgery, Rage stepped up to the plate and started talking care of him. He’d been closed off and hadn’t showed any interest in anything. I’d never been in a wheelchair, but I knew he was upset about it. Who wouldn’t be?I slid my phone back into my pocket. The last I’d heard of Denver, he was awaiting trial. Knowing that the scumbag would never see daylight again made the kidnapping wort
We spent the majority of the day at the hospital. Dante was in critical condition. When I found him in the basement I thought he was dead. But he opened his eyes when I bent down beside him. “I’m not dead yet, brother.”I smiled. “Well, we gotta keep you alive for a little while longer. You haven’t fallen in love yet.”“You’re definitely pussy whipped.”I chuckled. Carefully, I picked him up underneath his knees and back. “You’re gonna make it.”He nodded. I didn’t realize what happened to him until I got him up the stairs. Someone had hacked his shin in half. The white bone showed through the meat of his leg. The wound was fresh which meant he hadn’t bled out yet. We got him to the hospital in ten minutes. The police were waiting for us. We spent hours answering questions before they let us go check on Dante. They went into emergency surgery to amputate hi
Oh no. Please, God. I wiped my cheeks of the waterfall of tears that coated them. Denver snapped his fingers and two armed men from outside, grabbed Rage underneath his arms, and pulled him over to the corner of the room. “Leave him alone!” I screamed.Denver’s chuckle sent chills down my spine. He watched them chain Rage to the wall with a smile on his face before turning to acknowledge me. His piercing blue eyes twinkled, his swim trunks hung low on his hips and the lack of compassion on his face hit me like a brick. “Sweet Angel,” he said. “I’ve got plans for you as soon as your buddy over there wakes up.”He walked toward me, grabbing my foot and yanked me toward him. Fear rushed through me when his finger trailed up the inside of my thigh. I slapped it away, thankful for the use of my hands. My feet had fallen asleep two hours before due to the heavy chains that tied me down.“Oh, don&rs
An entire week passed before I stepped another foot into the gym. I was way past grumpy when Chase cornered me. “You okay?”His wide blue eyes were thoughtful, and his smile sweet. Chase had seen the entire thing and hadn’t said a word to anyone. “Better.”He gave my dad a sideways glance before touching my cheek. “Want to spar for a bit? You can take out that built-up frustration on me.”“That actually sounds like a really good idea.”Chase handed me a pair of gloves. “Well then, follow me.” We made our way to the punching bag in the corner of the gym. The same punching bag Rage had used the day we were almost caught. We fell into a rhythm. Jab, jab, hook. Jab, jab, hook. “So, are you really okay? You talked to your dad about what happened yet?”I sighed. “No, he’s been avoiding me.” I swung my arm, meeting Chase’s gaze fro
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore