Short
Ruined Over High Tea

Ruined Over High Tea

By:  Washing WheatCompleted
Language: English
goodnovel4goodnovel
11Chapters
589views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

After I secured a billion-dollar partnership for Horizon Ventures, the sales department celebrated with an afternoon tea spread where everyone got to choose their own order. When it was my turn, the new hire, Jessica Osborne, suddenly cut in. "Chicken sandwiches for the rest of them. No need to order anything else." I ignored her and calmly told the admin clerk, "I’ll have a slice of chocolate cake." The next second, Jessica slammed the menu right across my face and glared at me furiously. "I said no, so you don’t get to order. Who do you think you are? A princess?" The hard menu left a stinging red mark across my face, and a surge of anger flared up inside me. Without hesitating, I grabbed the menu and hurled it right back at her face. Jessica immediately shrieked and roared at me, "Do you have any idea who I am?! My dad is Royce Osborne, the biggest client this company has! Even our CEO, Emily Hopkins, treats me with respect. How dare you lay a hand on me? Believe it or not, I can get your $600,000 bonus canceled and have you blacklisted from this entire industry!" I froze. Royce Osborne's my maternal uncle. He’s forty, famously single, and has never been married. When exactly did he have such a grown-up daughter?

View More

Chapter 1

Chapter 1

"Bu Amel, kalau perusahaanmu nggak mampu ngasih hadiah, sebaiknya nggak usah ngasih! Bikin aku malu! Kerja sama kita ke depannya dibatalkan saja!"

Aku agak terkejut mendengar suara marah-marah di ujung telepon.

Lantaran tidak yakin dengan apa yang terjadi, aku pun tetap menjaga agar suaraku tetap terdengar ramah dan menyunggingkan senyuman di wajahku.

"Jangan, Pak Bagas. Apa ada yang salah dengan hadiahnya? Aku benar-benar minta maaf. Pasti karyawan bagian bawah melakukan kesalahan. Anda yang berstatus tinggi, pasti akan memaafkan kami yang berstatus rendah ini. Aku akan menyiapkan hadiah baru yang sama untuk Anda dalam jumlah dua kali lipat. Bagaimanapun, kita sudah bekerja sama selama bertahun-tahun ...."

Orang yang ada di ujung telepon masih marah dan langsung menaikkan volume suaranya untuk memotong kata-kataku.

"Bu Amel, jelas-jelas kamu bilang padaku kalau itu lapis legit dari The Harvest yang asli. Aku memberikannya pada investor, tapi mereka langsung menunjukkan kalau itu abal-abal. Investasi langsung batal. Izinkan aku bertanya padamu, menurutmu di mana aku harus meletakkan mukaku sekarang? Siapa yang akan mengganti kerugianku?"

Aku tidak punya pilihan selain meminta maaf sebesar-besarnya dan berjanji memberikan dua poin keuntungan ke depannya. Dengan begini, barulah aku bisa mempertahankan klien tersebut.

"Bu Amel, klien mengembalikan hadiahnya. Katanya, mereka nggak mau lagi bekerja sama dengan perusahaan kita ke depannya …."

Mona memegang kotak hadiah itu dan hampir menangis.

Aku hampir marah setengah mati ketika membuka kotak itu dan melihat isinya.

Dengan marah, aku pergi ke ruang administrasi dan langsung melemparkan kotak hadiah tersebut dengan keras ke meja sekretaris yang bernama Nadya Winata itu. Kemudian, dengan suara keras, aku bertanya kepada Nadya mengenai apa yang terjadi dengan hadiah tersebut.

Tanpa diduga, Nadya malah terlebih dahulu menyalahkanku. Nadya berteriak keras kepadaku sambil berkacak pinggang.

"Bu Amel, aku nggak bermaksud menuduhmu, tapi kamu menganggap uang perusahaan nggak ada artinya, 'kan? Lapis legit hancur-hancuran saja harganya lebih dari 20 juta, memangnya kue itu terbuat dari emas? Bagaimana mungkin kamu mau memberikan kue yang sama kepada banyak klien? Kue itu kubeli di internet. harganya 19.800 dan sudah gratis ongkir. Kulihat bahannya sama persis seperti yang kamu bilang. Klien juga pasti nggak akan tahu bedanya. Aku sudah membantu perusahaan menghemat ratusan juta. Ratusan juta! Aku benar-benar nggak paham bagaimana kalian membuang-buang dana perusahaan sebelumnya!"

Nadya mengangkat kepalanya dengan bangga. Wajahnya tampak sangat ingin dipuji.

Ketika seseorang merasa tidak mampu berkata-kata, mereka memang benar-benar merasa tidak bisa berkata-kata.

"Mereka semua itu klien penting perusahaan kita. Mereka bisa langsung tahu apakah itu asli atau palsu. Hal paling penting dalam berbisnis itu integritas. Kalau kamu ngasih mereka barang palsu, mana mungkin mereka mau kerja sama dengan kita dan ngasih proyek untuk perusahaan kita ke depannya?"

Aku sangat marah pada Nadya hingga tidak bisa lagi menahan diri dan membentaknya.

Nadya tertegun mendengar kata-kataku. Kemudian, dia mengerjap-ngerjapkan matanya dengan polosnya. Butuh waktu yang lama bagi dirinya sebelum akhirnya berkata ….

"Kalau begitu, aku juga melakukannya demi perusahaan. Bukankah itu semua cuma lapis legit? Menurutku semuanya terlihat sama saja …."

Setelah berkata seperti itu, Nadya mulai mengerucutkan bibirnya dan menangis. Nadya terlihat sedih, seakan-akan aku sudah benar-benar menggertaknya dan memperlakukannya secara tidak adil.

"Sudahlah Amel, nggak usah dibahas lagi. Nadya juga nggak sengaja melakukannya. Niatnya baik, caranya saja yang salah."

Entah sejak kapan Pak Faris sudah berdiri di belakangku. Dia menepuk bahuku dengan lembut, tetapi tatapan matanya tertuju pada Nadya. Tanpa diduga, aku melihat sedikit rasa kasihan di mata Faris.

"Pak Faris, percayalah padaku. Aku benar-benar nggak bermaksud seperti itu. Aku cuma mau menghemat biaya untuk perusahaan …."

Mata Nadya yang sebelumnya berkaca-kaca mengerjap dengan lembut dan setetes air mata jatuh dengan sempurna di depan CEO itu.

Nada bicara Faris tanpa sadar menjadi lembut. "Oke, Nadya. Aku tahu, kamu melakukannya demi kebaikan perusahaan."

Nadya yang sebelumnya menangis itu langsung tersenyum dan mengganti topik pembicaraan.

"Tapi, menurutku nggak perlu ngasih hadiah semahal itu. Semua orang mendatangi kita karena kekuatan dan reputasi perusahaan kita. Bu Amel bisa menegosiasikan proyek-proyek itu juga karena dapat dukungan dari perusahaan. Justru karena perusahaan kita ngasih platform yang bagus, makanya klien memilih kita. Jadi, semua itu nggak ada hubungannya dengan apakah kita ngasih hadiah atau nggak ...."

Faris mendengarkan kata-kata Nadya dengan serius. Jelas jika Faris merasa bahwa apa yang dikatakan Nadya itu masuk akal.

Perusahaan punya kekuatan dan reputasi?

Kenapa aku tidak mengetahuinya?

Yang kutahu hanyalah akulah yang mengunjungi semua klien itu satu per satu dan semua proyek itu kunegosiasikan melalui koneksi yang kumiliki.

Faris mengerucutkan bibirnya dan menatapku tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Matanya tampak menyelidik dalam-dalam.

Hatiku terasa dingin melihat sikap pria di depanku itu.

Aku lupa mengatakan jika Faris adalah pacarku selama lima tahun ini.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
11 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status