Masuk“Nilna…”Suara Reyhan rendah, nyaris seperti hembusan napas yang tertahan. Tidak keras, tidak juga memaksa. Namun cukup membuat langkah Nilna terhenti.“Iya, Mas?”Nada suaranya ikut melembut tanpa sadar. Ada jeda tipis sebelum ia mendekat, seakan memberi kesempatan bagi dirinya sendiri untuk memastikan apa yang sedang terjadi.Reyhan berdiri tidak jauh darinya. Bahunya tegap, tapi sorot matanya tidak setegas biasanya. Ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang belum pernah Nilna lihat sejak awal pernikahan mereka.“Ada apa?” ulang Nilna pelan.Tangannya sempat terangkat, ingin menyentuh lengan pria itu. Namun berhenti beberapa senti sebelum kulit bertemu. Jemarinya menggantung, ragu.Reyhan tidak langsung menjawab.Tatapannya bergerak perlahan, menyusuri wajah Nilna seolah sedang membaca sesuatu yang sulit dijelaskan. Dari mata, turun ke pipi, lalu berhenti sejenak di bibir. Lama. Terlalu lama.Nilna menelan ludah.“Kamu... kenapa?” suaranya mengecil.Hening.Sunyi yang biasanya terasa c
Reyhan tidak menjawab, tapi tatapannya tidak lepas.Nilna terdiam sesaat. Dadanya terasa sesak, tapi bukan karena sakit. Karena penuh. Sesuatu dalam dirinya bergerak. Pelan, tapi pasti. Namun sebelum ia sempat memahami, Reyhan menariknya dalam pelukan. Gerakannya tidak tiba-tiba. Masih sama seperti sebelumnya. Hati-hati. Seolah masih memberi ruang.Kali ini, Nilna tidak membeku. Tangannya perlahan naik. Ragu. Lalu akhirnya bertumpu di dada Reyhan.Jarak mereka hilang. Tubuh mereka saling bersentuhan.Nilna memejamkan mata. Ia tidak merasa harus menjaga jarak. Tidak merasa harus menahan diri. Ia hanya… berada di sana. Dalam pelukan itu.Reyhan menghela napas panjang, seolah beban yang ia tahan selama ini sedikit terlepas. Tangannya menahan punggung Nilna dengan lembut. Tidak erat. Hanya cukup untuk memastikan… ia tidak pergi.Waktu kembali berjalan. Perlahan. Detik demi detik. Dan tanpa mereka sadari, jarak yang dulu terasa harus dijaga…sudah hilang. Bibir mereka salin bertaut. Nafas
Kalimat Reyhan menggantung.Nilna tidak langsung menoleh.“Aku khilaf,” lanjut Reyhan, suara lebih pelan. “Aku tidak akan ulangi.”Hening. Pisau di tangan Nilna berhenti memotong. Beberapa detik. Lalu ia meletakkannya.Pelan. Ia menoleh. Tatapan mereka bertemu lagi. Kali ini tidak dihindari.Ingatan tentang semalam menghantui Nilna lagi. Nilna mengalihkan pandangan, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.Reyhan menelan ludah.“Kalau kamu tidak nyaman ...”“Aku tidak bilang tidak nyaman,” potong Nilna tanpa sadar. Reyhan reflek menatapnya. Kali ini lebih lama.Anaya mengeluarkan suara kecil, memecah ketegangan. Tangan mungilnya bergerak, meminta perhatian.Reyhan segera menggendongnya. Anaya menguap kecil. Rupanya tidak tidur malam hari membuat dia mengantuk. Reyhan mengayunnya pelan. Tak lama, Anaya sudah tertidur. “Tidurkan saja Anaya di kamar, Mas. Ayo makan,” ucap Nilna. Reyhan mengangguk pelan, lalu beranjak ke kamar. Dengan pelan, bayi montok itu diletakkan. Namun, jeritan
Akhirnya, tanpa banyak bicara, mereka duduk di atas tempat tidur yang sama. Jarak masih ada, tapi tidak sejauh sebelumnya. Anaya berada di tengah. Waktu berjalan. Suara kota dari kejauhan terdengar samar. Lampu kamar redup. Anaya akhirnya mulai mengantuk. Gerakannya melambat. Matanya setengah terpejam. Nilna tanpa sadar ikut merebahkan tubuh dengan serba salah. Dia yang tidak mengira Reyhan ikut tidur bersama mereka, mengenakan baju tidur. Beberapa menit kemudian, napas Nilna berubah teratur. Ia tertidur. Reyhan masih terjaga. Pandangan lelaki itu kembali jatuh ke wajah Nilna. Sama seperti di mobil, tapi kali ini lebih dekat. Jauh lebih dekat. Seoalh tidak ada lagi batas Anaya. Hanya jarak tipis yang bisa dihilangkan kapan saja. Reyhan menahan napas. Tangannya terangkat sedikit, seolah ingin menyentuh, tapi berhenti di atas kepala Nilna. Ia menatap lama. Lalu... perlahan, ia mendekat dengan sangat pelan. Hingga akhirnya, tanpa benar-benar berpikir, bibirnya menyentuh bibi
Reyhan mengangguk paham, namun Nilna mrnatap Arjun heran."Dad, sebenarnya ada apa di kamar itu?"Seketika Arjun menegang."Sebenarnya, aku mau ngajak Nilna tinggal di resort, tapi kayaknya perlu persiapan.""Apa? Resort? Di desa itu? Kamu yakin, Rey?" tanya Rea.Reyhan menatap Nilna sejenak. "Entah kenapa saat itu aku sudah membangun sebuah rumah di sana yang aku desain khusus. Cuma, kebali ke Nilna, dia mau di mana."Suara Reyhan terdengar pelan, nyaris tenggelam dalam sisa riuh yang belum benar-benar hilang.Nilna menatapnya sebentar. Lalu mengangguk kecil.“Aku ikut kamu saja.”"Kalau gitu, sementara kalian di penthouse. Soal pindah, urusan nanti."Tidak ada perdebatan lagi.Reyhan hanya mengangguk, lalu mengalihkan perhatian ke Anaya yang masih terlelap di pelukan pengasuh. Dengan hati-hati, ia mengambil bayi itu, memastikan kepala kecilnya tersangga dengan baik.“Ayo.”Langkah mereka menjauh dari tempat itu tanpa menoleh lagi.Mobil melaju meninggalkan area acara. Lampu-lampu ko
Nilna tidak langsung menjawab. Ia menatap Renji lama, seolah memastikan setiap kata yang akan keluar tidak akan bisa ditarik kembali.Di belakangnya, Reyhan mulai gelisah.“Nilna…” panggilnya pelan.Namun Nilna tidak menoleh. “Dia menipumu,” ucapnya akhirnya, seolah mencibir Renji.Hening. Benar-benar hening. Bahkan suara kamera pun seolah berhenti sesaat.Renji menatapnya tajam.“Apa?”“Keysha menipumu.” Kali ini lebih jelas. Lebih tegas.Renji menggeleng kecil.“Itu tidak masuk akal.”“Benarkah?” balas Nilna cepat.Tatapan mereka bertemu. Sama-sama tajam. Sama-sama tidak mau mundur.“Jangan mainkan hal seperti ini,” kata Renji, suaranya mulai berubah.Nilna mengangkat sedikit dagunya.“Kamu pikir aku seseorang yang pandai berbohong?”Renji terdiam. Wajahnya mulai kehilangan ketenangan yang sejak tadi ia pertahankan.“Apa yang kamu tahu?” tanyanya akhirnya.Nada suaranya tidak lagi santai. Lebih berat dan lebih menuntut.Nilna menatapnya tanpa berkedip.“Kamu benar-benar tidak sadar?
Nilna diam. Airmata telah menggenang di pelupuk matanya. Bayangan demi bayangan tentang penderitaan yang ia alami bersama lelaki itu, berkelebat.Sunyi kembali mengisi kamar. Nilna meneruskan langkahnya. Namun, dengan tertatih, Renji menarik tangan Nilna."Tidur di sini, Nilna. Aku hanya ingin tidu
Nilna menatap Raka, tak mengerti maksud perkataannya yang menggantung. Pak Fajar menyeka keringat di dahinya. "Bagaimana sekarang, Pak Kades?"Raka menatap kondisi Renji lagi. Darah masih mengalir tipis dekat pelipis. "Dia perlu dokter. Kita bawa ke Puskesmas."Renji menatap geram. "Puskesmas?" Ia
Terlebih kepada seorang Reyhan.Lelaki yang baik. Lelaki yang memperlakukannya dengan hormat."Aku berdosa." Air mata Nilna hampir jatuh."Seharusnya aku tidak memiliki perasaan ini."Angin malam berhembus lebih dingin. Daun bakau bergesekan lembut. Nilna mengusap perutnya pelan."Aku harus ingat s
Nilna terkejut."Sekarang?"Wanita itu sudah melangkah mundur. "Kita bicara lain waktu.""Nyonya... "Langkah wanita itu semakin cepat. Ia hampir berlari menuju jalan samping.Nilna ikut membuntuti, tapi panggilan membuat Nilna menoleh ke arah sedan putih."Mas Reyhan?"Nilna memanggil pelan saat le







