Se connecterArunika dijual oleh suaminya sendiri demi menyelamatkan kehancuran finansial. Namun pria yang membelinya bukan orang asing melainkan Bisma, sosok masa lalu yang dulu ia tolak. Kini, Bisma bukan lagi pria yang memohon cinta, melainkan seseorang yang penuh kendali dan menyimpan luka lama. Terjebak dalam permainan yang kejam, Arunika harus memilih antara harga diri atau bertahan hidup. “Aku membayarmu, Arunika. Jadi jangan berpura-pura punya pilihan.” Dengan mata yang mulai berubah, Arunika berbisik, “Kalau itu maumu… pastikan kamu tidak menyesal telah membeliku.”
Voir plusPakai ini, Aru!"
Sebuah kotak hitam dilemparkan ke atas ranjang. Arunika menatap isinya dengan mata membulat. Di sana, sehelai gaun berbahan sutra merah darah dengan potongan belahan dada yang sangat rendah dan punggung terbuka tampak berkilauan di bawah lampu kamar. "Ini... ini terlalu terbuka, mas. Aku tidak punya acara formal malam ini," ucap Arunika, mencoba bersikap biasa meski firasat buruk mulai merayapi tengkuknya. "Nurut kalau kamu memang tahu cara balas budi, Aru!" Suara Reyhan meninggi, menggelegar di ruang kamar yang biasanya tenang. Arunika tersentak. Jantungnya berdegup kencang. Selama tiga tahun pernikahan mereka, Reyhan adalah sosok yang selalu bersikap lembut, bertutur kata manis, dan memanjakannya. Tidak pernah sekalipun pria itu membentaknya, apalagi dengan tatapan mata yang begitu bengis seperti sekarang. Dia memang berubah beberapa bulan terakhir, itu karena kondisi krisis pada perusahaannya. Dia berubah, pemarah, dingin dan semakin jauh. Namun, Arunika mencoba mengerti kondisi itu. Dia tidak banyak protes ataupun mengeluh. Tidak kali ini. "Aku tahu perusahaan kamu sedang ada masalah, Sayang. Tapi—" "Kamu ingin setidaknya berguna sekali saja, kan?!" potong Reyhan tidak sabar. Kata-kata itu menghujam jantung Arunika. Seluruh keberaniannya luruh seketika. Selama ini, Arunika merasa memiliki utang budi yang teramat besar. Saat bisnis ayahnya hancur lima tahun lalu, Reyhan lah yang datang membawa bantuan finansial, menyelamatkan martabat keluarganya, dan kemudian meminangnya. Padahal, Arunika bukanlah wanita tanpa isi kepala. Sebagai lulusan bisnis terbaik dari salah satu universitas ternama, ia memiliki kemampuan analisis pasar dan jaringan investor yang luas. Ia berniat menawarkan bantuan profesionalnya untuk menyelamatkan perusahaan Reyhan. Namun, ucapan suaminya barusan benar-benar membuatnya merasa kerdil. Seolah-olah selama pernikahan ini, ia hanyalah parasit yang menumpang hidup. "Oke... apa yang kamu ingin aku lakukan?" tanya Arunika dengan suara yang diusahakan tegar, meski getaran di tangannya tidak bisa disembunyikan. Dia sudah menahan diri untuk mengalah, namun akhirnya pertahannya runtuh juga. "Ikut aku. Ada orang yang ingin bertemu kamu!" "Negosiasi? Dia investor? Kalau begitu, biar kusiapkan dokumen analisis pasarnya, aku bisa bantu meyakinkan dia bahwa..." "Berhenti bicara, Aru!!! Kamu membuatku... muak!" bentak Reyhan sambil menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi. "Cukup pakai gaun itu dan buat dia senang!" Arunika terpaku. Bibirnya bergetar hebat. "Buat dia senang?" ulangnya dengan nada yang nyaris hilang. Air mata pertama menetes membasahi pipinya. "Maksud kamu apa? Aku tidak mengerti... Jangan bilang kamu mau aku melayani dia seperti... perempuan panggilan?" Reyhan tidak langsung menjawab. Ponsel di saku celananya bergetar. Ia menatap layar itu dengan saksama, wajahnya tampak pucat dan terdesak, sebelum kembali menatap Arunika dengan tatapan yang sudah kehilangan kemanusiaan. "Cepatlah, Aru! Jangan buat aku memaksamu dengan kasar!" "Mas, selama ini hubungan kita baik-baik saja! Ini hanya masalah finansial, aku bisa hidup sederhana, kita bisa mulai dari nol, aku bisa bekerja—" "Aku yang tidak bisa! Jika kamu tidak datang, aku bukan hanya kehilangan perusahaanku, tapi aku akan menjadi gelandangan!" Reyhan berteriak tepat di depan wajah Arunika. "Mereka akan menghancurkanku, Aru! Kamu mau lihat suamimu mati?!" Hati Arunika terasa diremas dengan kasar. "Aku tidak mau melakukan hal serendah itu!" tolak Arunika tegas, mencoba lari menuju pintu. Namun, Reyhan yang sudah gelap mata bergerak lebih cepat. Ia mendorong tubuh istrinya ke ranjang dengan kasar, Tangannya yang biasanya membelai lembut kini mencengkeram bahu Arunika dan menarik pakaian rumahan yang dikenakan wanita itu hingga robek. "Kalau begitu, biar aku yang membantumu memakainya!" Perlawanan terjadi. Arunika menangis, berteriak, dan mencoba memukul dada suaminya, namun tenaga Reyhan jauh lebih kuat. Ketakutan akan kemiskinan telah mengubah pria itu menjadi iblis. Setelah beberapa menit yang menghancurkan jiwa, Arunika akhirnya berhenti melawan. Ia terbaring lemas dengan tatapan kosong ke langit-langit kamar. Reyhan berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit berantakan. Ia menatap istrinya tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Nggak akan. Penyesalan terbesarku adalah menikahimu dan menanggung beban keluargamu selama ini." “Menyesal?” ulangnya, air matanya jatuh begitu saja. Dadanya terasa sesak dan sakit. Satu jam kemudian, mobil mereka berhenti di sebuah villa terpencil yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Bangunan itu tampak megah namun menyimpan aura mencekam. Reyhan menarik lengan Arunika, membawanya masuk ke dalam sebuah ruangan luas yang didominasi dinding kaca dan cahaya temaram. Tanpa sepatah kata pun, Reyhan mendorong Arunika masuk ke tengah ruangan. Seperti seorang kurir ekspedisi yang baru saja mengirimkan barang pesanan, Reyhan berbalik dan pergi begitu saja, mengunci pintu dari luar. Arunika berdiri mematung di tengah ruangan. Tubuhnya yang hanya dibalut sutra tipis terasa menggigil. Jemarinya meremat sisa kain gaunnya, matanya menatap nanar ke arah balkon. Di sana, seorang pria sedang berdiri memunggunginya. Pria itu tinggi, bahu lebar yang dibalut jas hitam yang sangat rapi. Ia tampak begitu berwibawa, namun sekaligus memancarkan aura kegelapan yang mengintimidasi. Suara langkah kaki pria itu saat berbalik di atas lantai marmer terdengar seperti detak jam yang menghitung sisa harga diri Arunika. Pria itu menatap Arunika dengan tatapan menilai dingin, tajam, namun entah mengapa terasa begitu familiar. Mata Arunika membelalak. Napasnya tercekat di tenggorokan saat wajah pria itu tertimpa cahaya lampu. Ia mengenali garis rahang tegas itu. Ia mengenali sorot mata elang yang dulu pernah dia tolak mentah-mentah. “Mas Bisma?”Hujan turun sejak dini hari, Butiran air membentur kaca-kaca besar rumah itu, meninggalkan jejak bening yang perlahan meluncur ke bawah. Langit kelabu membuat seluruh ruangan terasa lebih suram dari biasanya. Di meja makan yang panjang, hanya terdengar bunyi sendok yang sesekali menyentuh piring.Arunika duduk diam, Semangkuk sup hangat di depannya masih utuh. Uapnya perlahan menghilang, sama seperti selera makannya yang seolah ikut lenyap sejak malam itu. Viktor memperhatikannya tanpa berkedip."Aru..."Pria itu mendorong pelan mangkuk sup itu sedikit lebih dekat."Coba makan beberapa sendok saja."Arunika mengangkat wajah, Ia tersenyum.Senyum kecil, Senyum yang begitu dipaksakan hingga membuat dada Viktor terasa nyeri."Aku belum lapar.""Kau belum makan sejak semalam.""Aku bilang belum lapar." Jawabannya tetap lembut, Tetapi cukup untuk membuat Viktor menghela napas panjang, Ia tidak memaksa lagi.Beberapa detik kemudian, Arunika berdiri."Kupikir aku ingin kembali ke kamar.""Tu
"Viktor...?"Suara lirih itu menghilang begitu saja di dalam kamar yang masih diselimuti gelap. Arunika membuka matanya perlahan. Cahaya remang dari lampu tidur memantulkan bayangan samar di langit-langit kamar. Selimut yang semalam menutupi tubuhnya kini hanya tersisa di pinggang, sementara sisi ranjang di sebelahnya terasa dingin ketika telapak tangannya meraba perlahan, dan Kosong.Ia mengerjapkan mata beberapa kali, berharap Viktor hanya sedang berada di kamar mandi.Namun suara gemericik air tak terdengar, Pintu kamar mandi terbuka, Tidak ada siapa pun di sana. Dadanya langsung dipenuhi kegelisahan yang sulit dijelaskan.Sejak kejadian itu...Sejak darah membasahi pakaiannya dan dokter menyatakan bahwa anak mereka tak lagi bisa diselamatkan, Arunika tak pernah benar-benar bisa tidur nyenyak. Sedikit saja Viktor menjauh dari sisinya, rasa panik itu kembali datang tanpa permisi. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri."Viktor pasti hanya turun ke bawah..."Ia
"Kenapa... justru aku yang masih hidup...?"Suara lirih itu memecah keheningan dini hari.Viktor yang baru saja membuka pintu kamar langsung menghentikan langkahnya. Jemarinya masih menggenggam gagang pintu, tetapi tubuhnya seolah membeku di tempat.Di bawah cahaya temaram lampu tidur, Arunika duduk di lantai, bersandar lemah pada sisi ranjang. Rambut panjangnya tergerai menutupi sebagian wajah yang basah oleh air mata.Di pangkuannya, tergenggam sebuah amplop putih.Dengan tangan yang gemetar, ia mengeluarkan selembar foto kecil dari dalamnya.Foto USG.Benda sederhana yang kini menjadi kenangan dari anak yang tak pernah sempat ia dekap.Arunika mengusap permukaan foto itu dengan ujung jarinya, seolah takut gambar kecil itu akan menghilang jika disentuh terlalu keras, Air matanya kembali jatuh. "Ayah..." bisiknya lirih, suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan di luar jendela. "aku gagal..." Dadanya naik turun menahan sesak yang tak kunjung reda. "Aku gagal menjaga cucumu..."Kali
Sirene ambulans meraung memecah malam. Lampu rotator berkelip cepat, membelah lalu lintas yang mulai menyingkir memberi jalan. Di dalam ambulans, suasana berubah tegang. Arunika terbaring di atas brankar dengan wajah yang semakin pucat. Napasnya terdengar pendek dan tidak teratur, sementara Viktor tak pernah melepaskan genggaman tangannya. "Aru..." Viktor membelai punggung tangan perempuan itu. "Dengar suaraku." "Kita hampir sampai." Arunika berusaha membuka matanya, tetapi kelopak itu terasa begitu berat, Pandangannya mulai kabur. Suara-suara di sekitarnya perlahan menjauh. Jemarinya yang sejak tadi mencengkeram erat kemeja Viktor mulai kehilangan tenaga. Sedikit demi sedikit, Genggaman itu mengendur. Lalu terlepas. Tangan Arunika jatuh lemas di sisi tubuhnya. "Aru?" Nada suara Viktor berubah panik. Ia segera menggenggam kembali tangan itu, Kulitnya terasa dingin, Sangat dingin sampai Bibir Arunika yang tadi masih bergerak kini terkatup lemah, nyaris tanpa warna. Matanya te
Suasana di ruangan yang tadinya penuh perbincangan tentang bukti dan rencana perlahan berubah hening. Aru menatap lurus ke depan, rahangnya terkatup rapat, matanya yang tadinya dipenuhi keraguan kini tampak teguh dengan keputusan yang sudah ia bulatkan di dalam hati. Ia menoleh menatap Bisma, suara
Panggilan telepon dari Reyhan itu meninggalkan kesan yang menggumpal di udara, seolah ada beban baru yang harus mereka pikul bersama. Bisma mematikan ponsel dan meletakkannya perlahan di atas meja, matanya menyipit menatap ruang kosong di hadapannya—memikirkan setiap kata yang diucapkan Reyhan, men
Suasana di ruang tengah terasa sunyi, hanya ditemani cahaya lampu temaram yang memantulkan bayangan di dinding. Detak jam dinding terdengar begitu jelas, seolah menghitung setiap detik dari pengakuan yang selama ini terkunci rapat. Ayah Aru duduk membungkuk, kedua telapak tangannya saling meremas d
Rasa perih samar di bahu Bisma tidak membuatnya mundur sedikit pun. Ia justru mempererat pelukan, seolah ingin meleburkan jarak yang selama ini memisahkan mereka. Ciuman itu kembali terjalin—tidak tergesa, namun penuh hasrat yang terpendam lama, seperti air yang akhirnya menemukan jalan keluar sete












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentairesPlus