Sentuhan Terlarang yang Menjadi Canduku

Sentuhan Terlarang yang Menjadi Canduku

last updateLast Updated : 2026-04-20
By:  OliviaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
2 ratings. 2 reviews
8Chapters
21views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Arunika dijual oleh suaminya sendiri demi menyelamatkan kehancuran finansial. Namun pria yang membelinya bukan orang asing melainkan Bisma, sosok masa lalu yang dulu ia tolak. Kini, Bisma bukan lagi pria yang memohon cinta, melainkan seseorang yang penuh kendali dan menyimpan luka lama. Terjebak dalam permainan yang kejam, Arunika harus memilih antara harga diri atau bertahan hidup. “Aku membayarmu, Arunika. Jadi jangan berpura-pura punya pilihan.” Dengan mata yang mulai berubah, Arunika berbisik, “Kalau itu maumu… pastikan kamu tidak menyesal telah membeliku.”

View More

Chapter 1

Bab 1 : Harga Sebuah Kesetiaan

Pakai ini, Aru!"

Sebuah kotak hitam dilemparkan ke atas ranjang. Arunika menatap isinya dengan mata membulat. Di sana, sehelai gaun berbahan sutra merah darah dengan potongan belahan dada yang sangat rendah dan punggung terbuka tampak berkilauan di bawah lampu kamar.

"Ini... ini terlalu terbuka, mas. Aku tidak punya acara formal malam ini," ucap Arunika, mencoba bersikap biasa meski firasat buruk mulai merayapi tengkuknya.

"Nurut kalau kamu memang tahu cara balas budi, Aru!" Suara Reyhan meninggi, menggelegar di ruang kamar yang biasanya tenang.

Arunika tersentak. Jantungnya berdegup kencang. Selama tiga tahun pernikahan mereka, Reyhan adalah sosok yang selalu bersikap lembut, bertutur kata manis, dan memanjakannya.

Tidak pernah sekalipun pria itu membentaknya, apalagi dengan tatapan mata yang begitu bengis seperti sekarang. 

Dia memang berubah beberapa bulan terakhir, itu karena kondisi krisis pada perusahaannya. Dia berubah, pemarah, dingin dan semakin jauh. Namun, Arunika mencoba mengerti kondisi itu. Dia tidak banyak protes ataupun mengeluh. Tidak kali ini. 

"Aku tahu perusahaan kamu sedang ada masalah, Sayang. Tapi—"

"Kamu ingin setidaknya berguna sekali saja, kan?!" potong Reyhan tidak sabar.

Kata-kata itu menghujam jantung Arunika. Seluruh keberaniannya luruh seketika. Selama ini, Arunika merasa memiliki utang budi yang teramat besar.

Saat bisnis ayahnya hancur lima tahun lalu, Reyhan lah yang datang membawa bantuan finansial, menyelamatkan martabat keluarganya, dan kemudian meminangnya.

Padahal, Arunika bukanlah wanita tanpa isi kepala. Sebagai lulusan bisnis terbaik dari salah satu universitas ternama, ia memiliki kemampuan analisis pasar dan jaringan investor yang luas.

Ia berniat menawarkan bantuan profesionalnya untuk menyelamatkan perusahaan Reyhan. Namun, ucapan suaminya barusan benar-benar membuatnya merasa kerdil. Seolah-olah selama pernikahan ini, ia hanyalah parasit yang menumpang hidup.

"Oke... apa yang kamu ingin aku lakukan?" tanya Arunika dengan suara yang diusahakan tegar, meski getaran di tangannya tidak bisa disembunyikan.

Dia sudah menahan diri untuk mengalah, namun akhirnya pertahannya runtuh juga.

"Ikut aku. Ada orang yang ingin bertemu kamu!"

"Negosiasi? Dia investor? Kalau begitu, biar kusiapkan dokumen analisis pasarnya, aku bisa bantu meyakinkan dia bahwa..."

"Berhenti bicara, Aru!!! Kamu membuatku... muak!" bentak Reyhan sambil menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi. 

"Cukup pakai gaun itu dan buat dia senang!"

Arunika terpaku. Bibirnya bergetar hebat. "Buat dia senang?" ulangnya dengan nada yang nyaris hilang. Air mata pertama menetes membasahi pipinya.

"Maksud kamu apa? Aku tidak mengerti... Jangan bilang kamu mau aku melayani dia seperti... perempuan panggilan?"

Reyhan tidak langsung menjawab. Ponsel di saku celananya bergetar. Ia menatap layar itu dengan saksama, wajahnya tampak pucat dan terdesak, sebelum kembali menatap Arunika dengan tatapan yang sudah kehilangan kemanusiaan.

"Cepatlah, Aru! Jangan buat aku memaksamu dengan kasar!"

"Mas, selama ini hubungan kita baik-baik saja! Ini hanya masalah finansial, aku bisa hidup sederhana, kita bisa mulai dari nol, aku bisa bekerja—"

"Aku yang tidak bisa! Jika kamu tidak datang, aku bukan hanya kehilangan perusahaanku, tapi aku akan menjadi gelandangan!" Reyhan berteriak tepat di depan wajah Arunika. 

"Mereka akan menghancurkanku, Aru! Kamu mau lihat suamimu mati?!"

Hati Arunika terasa diremas dengan kasar. "Aku tidak mau melakukan hal serendah itu!" tolak Arunika tegas, mencoba lari menuju pintu. 

Namun, Reyhan yang sudah gelap mata bergerak lebih cepat. Ia mendorong tubuh istrinya ke ranjang dengan kasar, Tangannya yang biasanya membelai lembut kini mencengkeram bahu Arunika dan menarik pakaian rumahan yang dikenakan wanita itu hingga robek.

"Kalau begitu, biar aku yang membantumu memakainya!"

Perlawanan terjadi. Arunika menangis, berteriak, dan mencoba memukul dada suaminya, namun tenaga Reyhan jauh lebih kuat.

Ketakutan akan kemiskinan telah mengubah pria itu menjadi iblis. Setelah beberapa menit yang menghancurkan jiwa, Arunika akhirnya berhenti melawan. Ia terbaring lemas dengan tatapan kosong ke langit-langit kamar.

Reyhan berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit berantakan. Ia menatap istrinya tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Nggak akan. Penyesalan terbesarku adalah menikahimu dan menanggung beban keluargamu selama ini."

“Menyesal?” ulangnya, air matanya jatuh begitu saja. 

Dadanya terasa sesak dan sakit. Satu jam kemudian, mobil mereka berhenti di sebuah villa terpencil yang jauh dari hiruk-pikuk kota. 

Bangunan itu tampak megah namun menyimpan aura mencekam. Reyhan menarik lengan Arunika, membawanya masuk ke dalam sebuah ruangan luas yang didominasi dinding kaca dan cahaya temaram. 

Tanpa sepatah kata pun, Reyhan mendorong Arunika masuk ke tengah ruangan. Seperti seorang kurir ekspedisi yang baru saja mengirimkan barang pesanan, Reyhan berbalik dan pergi begitu saja, mengunci pintu dari luar.

Arunika berdiri mematung di tengah ruangan. Tubuhnya yang hanya dibalut sutra tipis terasa menggigil. Jemarinya meremat sisa kain gaunnya, matanya menatap nanar ke arah balkon. 

Di sana, seorang pria sedang berdiri memunggunginya. Pria itu tinggi, bahu lebar yang dibalut jas hitam yang sangat rapi. Ia tampak begitu berwibawa, namun sekaligus memancarkan aura kegelapan yang mengintimidasi.

Suara langkah kaki pria itu saat berbalik di atas lantai marmer terdengar seperti detak jam yang menghitung sisa harga diri Arunika. Pria itu menatap Arunika dengan tatapan menilai dingin, tajam, namun entah mengapa terasa begitu familiar. 

Mata Arunika membelalak. Napasnya tercekat di tenggorokan saat wajah pria itu tertimpa cahaya lampu. Ia mengenali garis rahang tegas itu. Ia mengenali sorot mata elang yang dulu pernah dia tolak mentah-mentah.

“Mas Bisma?”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Marita
Marita
Pembukaan yang cukup menegangkan dan aku syuka. Ditunggu upnya kak thor jan lama2 yes
2026-04-20 19:20:53
0
0
Jw Hasya
Jw Hasya
Novel yang aku tunggu2 akhirnya rilis juga. Semangat untuk arunika, taklukan bisma, jangan kasih kendor. Kalau bisa, babat habis dia. ...
2026-04-20 14:53:51
1
1
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status