MasukAliyev kemudian berjalan bersama Leila menjauh dari sekitaran istana.
Leila heran ketika melihat badan pria di sampingnya ini besar dan kekar. ‘Apa ini suamiku?’ batinnya. “Aku memberi mu uang tiap enam bulan supaya kau tidak perlu keluar rumah, tapi malah kau tetap bekerja?” Aliyev tak sampai hati saat melihat istrinya tampak kelelahan setelah setengah hari bekerja. Leila memandangi pepohonan yang berjejer di pinggiran jalan. “Aku rasa kau tidak perlu menanyakannya padaku, Ali. Aku berhak melakukan apa pun.” “Leila, aku masih jadi suami mu, jadi wajar kalau aku menanyakannya. Aku pikir uang yang aku berikan itu sudah cukup untuk keperluan mu sendiri.” Ya memang betul. Tapi masalahnya tiga orang lain di rumah itu juga butuh makan. Karena itulah Leila di sini untuk mencari uang tambahan. Melihat istrinya yang agak kurusan, Aliyev sedih, dan tidak menyangka setelah ditinggal pergi bukannya ada perubahan baik, tetapi justru istrinya sedikit sengsara. Selama lima tahun belakang Leila menjadi tulang punggung keluarga. Bekerja sendirian demi keluarganya. Bayarannya tak seberapa tapi cukuplah asalkan orang tua dan kakaknya tidak bertingkah macam-macam. “Sebaiknya kita pergi ke rumah sakit,” ujar Aliyev khawatir. “Kau seperti tidak enak badan.” Cepat Leila menjawab, “Aku sangat sehat dan baik-baik saja. Untuk apa ke rumah sakit kalau aku tidak sakit?” Aliyev melihat wajah istrinya yang pucat lalu berkata dengan nada cemas, “Tidak mungkin kau sehat-sehat saja, istriku. Jelas kau sedang tidak baik-baik saja.” “Tapi aku tidak mau ke rumah sakit. Titik!” Leila menjawab tegas lalu melipat tangannya di dada. Dari dulu dia memang seperti itu. Terlampau tegas, yang sebenarnya itu mengarah pada sifat kasar, dan tidak pantas sifat tersebut dimiliki oleh seorang istri. Bukti bahwa Aliyev sangat cinta adalah tampak dari perhatian yang dia berikan. Dari kekhawatiran dan kecemasan itu menunjukkan bahwa dia memang tulus pada istrinya. Lima tahun adalah waktu yang lama. Seorang wanita lemah yang dipaksa jadi pekerja keras. Tidak wajar. Sungguh tidak wajar. Aliyev benar-benar tak sampai hati melihatnya. Jika saja dari dulu dia hidup makmur, mana mungkin dia rela melihat istrinya susah payah mencari uang. Aliyev melihat ada restoran yang tak jauh dari sekitar istana. Segera mereka menuju ke sana. Tapi Leila berkata heran. “Kau mau ngapain ke restoran itu? Di sana mahal. Kau bisa makan selama satu minggu hanya untuk sekali makan di restoran itu. Lebih baik kita cari tempat lain saja. Ada banyak yang murah.” “Jangan kau pikirkan, istriku. Tidak masalah. Ayo kita makan siang di sana.” Mendengar itu, rasanya Leila seperti berada dalam mimpi buruk. Selama tiga tahun menikah tidak pernah sekali pun dia diajak makan di restoran mahal. “Kau jangan membuatku malu,” kata Leila. “Restoran ini punya Pak Menteri. Jika dia tahu kalau aku buat ulah, aku bisa kena pecat.” “Malu? Kenapa harus malu? Kita kan bayar.” Wanita itu malah memberengut kesal. “Jangan bercanda, Ali. Kalau kau memang mau ingin menraktirku, tidak lah mengapa kita cari tempat lain yang lebih terjangkau.” Namun, Aliyev malah menggenggam tangan istrinya dengan kencang dan terus berjalan ke arah restoran yang dimaksud. Leila berontak. Dia tidak mau dipermalukan lantaran hal sepele. Dia tahu ini restoran elit dan biasa dimasuki para pejabat. Pekerja rendahan sepertinya tidak permah masuk ke tempat ini sama sekali. Dan benar saja. Ketika mereka berdua sudah tiba di pintu masuk restoran, seorang pelayan yang tadinya meletakkan kedua tangan di dada kini malah heran saat melihat wanita berseragam itu hendak masuk ke dalam. Pria itu tahu bahwa Leila derajatnya tidak lebih dibandingkan dirinya. “Aku tahu kau pekerja di dapur istana. Tapi aku tidak tahu apa sebenarnya yang kau inginkan di sini.” Pria itu menatap Leila dengan pandangan remeh. Leila resah. Sudah dibilang tadi tidak usah ke sini, tapi masih saja. Pelayan itu memberikan gestur agar Leila dan pasangannya segera menjauh. “Walaupun ada beberapa kursi yang kosong, tapi tidak layak untuk diisi oleh babu istana. Pergi dari sini!” Aliyev tidak senang istrinya diremehkan. Beda ceritanya saat dia masih susah dulu. Sekarang kondisinya sudah berbeda. “Apa mata mu buta?” tanya Aliyev. “Apa kau tidak lihat ada seorang pria di sampingnya?” Pelayan itu berdecak dan berkata dengan sombong, “Buta? Jelas mataku masih sangat sehat! Aku bisa melihat mu dengan sangat jelas. Tapi sayangnya aku tidak mengenal mu sama sekali. Kau bukan bangsawan dan bukan pula orang kaya.” Jadi apakah restoran ini cuma untuk bangsawan dan orang kaya, sementar selain itu tidak boleh masuk? Pelayan ini sudah hafal wajah-wajah para pelanggan yang biasa masuk ke sini, dan mereka pastinya orang-orang besar. Tidak pernah ada karyawan swasta, atau pedagang kaki lima, atau driver online yang masuk ke sini. Ini adalah restoran eli. Ketika pelayan tersebut melihat bahwa pada diri Aliyev tidak ada tampang orang besar, maka wajar dia tidak menganggapnya ada. Namun, Aliyev tentu saja ingin masuk. “Jaga mulut mu! Cepat minta maaf pada istriku atau kau akan menyesal.” Mendengar itu, pelayan tersebut malah tersenyum miring. “Kau pikir kau siapa? Sementara aku adalah supervisor di sini. Aku bisa saja mengusir mu sekarang juga.” Aliyev tetap sopan. “Sebaiknya kau segera minta maaf, lalu izinkan kami masuk, karena kami ke sini mau makan, bukan berdebat dengan mu.” Sang pelayan yang rupanya supervisor makin terkikik. “Cukuplah untuk pesan air putih saja, lalu pergi dari sini. Okelah aku tidak mau membuang waktuku yang berharga hanya untuk berbicara dengan satu babu istana dan satu pria asing berbadan besar seperti kuli. Enyahlah!” Walaupun kemarahan mulai merasuki jiwanya, Aliyev tidak pernah gampang terpancing oleh siapa pun, tetap tenang dan sabar. “Silakan panggil manager atau bos mu,” kata Aliyev. “Aku pikir mereka lebih waras dan sopan untuk menerima tamu seperti kami.” Cuh! Sekonyong-konyong pelayan itu meludahi celana Aliyev lalu berkata kasa, “Cepat pergi dari sini! Dasar najis!” Ini sudah kelewatan. Detik itu juga Aliyev tidak bisa untuk tidak mencangking kerah kemeja pria itu. Kakinya terangkat setengah meter. Tapi untungnya Aliyev tidak mau melukainya sama sekali. Dan saat itu juga manager restoran tiba di sana. “Lepaskan anak buahku!” Kemudian Aliyev segera melepaskan cekikannya. Karena tidak ingin terlalu berlama-lama, akhirnya Aliyev menghampiri sang manager kemudian mengeluarkan satu kartu hitam dari dompetnya dan memperlihatkannya pada sang manager. Melihat kartu hitam tersebut, sang manager termundur sedikit ke belakang. Dia langsung menunduk hormat. Tapi Aliyev segera menghentikannya. “Kau cuma boleh tunduk pada Tuhan. Tidak untuk manusia.” Sang manager segera mempersilahkan masuk. “Maafkan kebodohan anak buahku. Dia pasti akan mendapatkan hukuman tegas dariku. Silakan masuk, Tuan.”Omar benar-benar keterlaluan. Setelah kalah judi puluhan ribu dolar, dia pun pergi meninggalkan Holystan karena takut bakal dikejar-kejar oleh Aliyev.Dia melanggar perjanjian yang telah disepakati. Maka tidak ada lagi soal bisnis Gym yang beberapa hari lalu mereka bicarakan. Semua hanya omong kosong yang dibangun Omar.Mengetahui bahwa Omar cuma menipunya, Aliyev sempat melakukan pencarian namun tidak berhasil, Omar meninggalkan Holystan tanpa jejak apa pun. Aliyev tidak terlalu mempermasalahkan uang lima ratus ribu dolar yang dibawa kabur. Bukan itu. Tapi masalahnya adalah saat ini semua keluarga Tasumov benar-benar meninggalkannya.Kecuali mungkin istrinya, Leila. Itu pun masih berupa kemungkinan sebab Leila tampaknya serius untuk mengakhiri hubungan ini jika Zukhov telah menyampaikan ucapan lamaran nantinya.Aliyev duduk di balkon apartemen mewahnya, memperhatikan keindahan kota dari atas, melihat dunia dari cara pandang berbeda seperti layaknya lima tahun lalu.Saat itu dia tida
Seperti apa yang diprediksi oleh Aliyev bahwa petarung sombong ini sulit menang bukan karena dia tidak jago tetapi karena kesombongannya. Banyak cerita di dunia ini yang sombong pada akhirnya kalah, binasa, dan hina.Jago saja tidak lah cukup. Karakter. Karakter juga perlu. Menanamkan sifat rendah hati dan tidak sombong memang tidak gampang. Terlebih pada orang yang sudah mendapatkan kekuatan, uang, popularitas, bahkan kekuasaan.Termasuk para petarung di atas ring. Hebat dan kuat saja tidaklah cukup tetapi mereka juga harus pandai dalam menjaga sikap, apalagi ini adalah zaman media sosial yang setiap orang gampang untuk naik dan gampang pula untuk tenggelam.Si petarung rendah hati yang sudah dianggap pemenang tidak merasa besar kepala. Dia justru menghampiri lawannya tadi yang sombong dan berkata dengan penuh respect, “Ini bukan tentang menang kalah semata, tapi tentang persaudaraan dan kemanusiaan. Terima kasih karena aku telah belajar banyak dari mu.”Mendengar itu, si petarung so
Pukulan itu pas dan tidak meleset sedikit pun.Namun Boyxev menjerit kesakitan karena dia yang kena pukul.Tom masih mengepalkan tangan dan siap meninju Boyxev untuk ke dua kali, namun Aliyev langsung mencegahnya.“Tom, tahan diri mu. Tidak usah buat keributan lagi. Kau adalah bagian dari acara ini dan termasuk dalam salah satu panelis.” Aliyev berusaha menenangkan Tom.Tom kepanasan saat tahu bahwa orang yang hendak berkelahi itu adalah Aliev. Dia tidak menyangka kalau Aliyev rupanya orang yang sedari tadi diolok-olok. Posisi Tom sekitar sepuluh meter dari kursi Aliyev.Keributan seperti ini sudah biasa, jadi makanya orang seperti Tom tidak terlalu mempermasalahkannya, tapi masalahnya adalah yang ribut ini adalah Aliyev. Wajar dia marah besar dan ingin menghabisi Boyxev.“Pergi kau dari sini!” usir Tom.Boyxev tahu persis siapa Tom. Selain panelis, kadang juri, Tom juga terlibat dalam soal keamanan. Hampir semua orang tahu siapa Tom.Jadi ketika Boyxev diusir oleh Tom, Boyxev tidak b
Tangan kiri Aliyev menangkap kepalan tangan Boyxev!Orang-orang di sana pun terpana. Dari mana Aliyev bisa sadar kalau dia mau dipukul dari belakang?Rupanya Aliyev merasakan getaran mencurigakan yang ada di belakang tubuhnya, lalu sepersekian detik kemudian sama seperti refleks kucing lantas Aliyev segera menangkis serangan itu.Boyxev yang sudah yakin kalau pukulannya pasti kena sontak terperangah. Putih matanya melebar dan mulutnya menganga. Tidak disangka pukulannya bisa ditangkis. Mustahil!Setelah tadi Boyxev ngomel panjang dan sempat mau main pukul, barulah Aliyev mau bersuara. “Silakan cari kursi lain jika kau ingin menonton lebih leluasa. Rata-rata para penonton di sini juga sama seperti mu. Pandangan mereka juga terhalang oleh orang di depannya. Aku pun juga sama. Jadi sebaiknya kau cari kursi lain atau bila perlu masuk sana ke oktagon.”Merasa diejek, Boyxev emosi. Dia menunjuk wajah Aliyev dan membentak, “Bjgn! Kau menyuruhku pindah kursi atau masuk ke oktagon? Sama saja k
“Hei Bro! Menunduk sedikit! Kepala dan badan mu menghalangi pandanganku!” jerit seorang pria pas di belakang Aliyev.Aliyev berdiri dan memutar badannya lalu menjawab, “Tidak bisa. Aku tidak bisa menunduk seperti yang kau minta.” Aliyev tetap sopan dan kalem.Meskipun badannya sangat kekar dan mengerikan, dia tetap kalem dan rendah hati, bicaranya saja sangat santun.Pria bertopi yang merasa pandangannya dihalangi tadi lantas kaget karena orang di depannya ini tidak mau menuruti apa katanya. “Aku tidak bisa melihat dengan leluasa apa yang ada di arena tarung. Apa salahnya kau menunduk sedikit.”Masalanya adalah tubuh Alivey dengan tinggi 190 dan berat tak kurang dari 100 kg itu sulit untuk sedikit membungkuk.Aliyev membalasnya dengan santun, “Jangan salahkan aku, tapi salahkan posisi kursi yang ada. Kalau saja jarak antar kursinya lebih jauh tentu kau akan lebih leluasa. Lagi pula bukankah hampir semua orang menghadapi masalah sama seperti mu.”Aliyev yang saat ini berada agak tengah
Omar menagih janji pada Aliyev sesuai dengan apa yang kemarin-kemarin pernah disampaikan bahwa Aliyev bakal mengeluarkan dana satu juta dolar untuk usaha Gym kecil-kecilan.Tepat di depan hotel tempat Aliyev tinggal Omar menagih janji itu. “Lelaki yang dipegang adalah omongannya. Jika kau bukan lelaki, silakan lupakan omongan mu waktu itu.”Aliyev bukanlah orang yang suka ingkar janji. Jika sudah mengatakan sesuatu maka dia tidak akan mengingkarinya.Kata Aliyev, “Bisnis ini akan tetap jadi milikku. Kau yang akan menjalaninya, Omar, dan kau dapat bayaran dariku. Jadi aku tidak meminjamkan mu uang atau modal.”“Baiklah kalau begitu perjanjiannya. Berapa bayaran yang akan aku terima?”“Kita lihat bagaimana bisnis itu berjalan nantinya. Aku yakin kau tidak akan kecewa.”“Aku minta bayaran besar. Apa kau sanggup?”Pasti Aliyev sanggup membayarnya.Aliyev menyuntikkan dana awal sebesar seratus ribu dolar dengan mengirimkannya ke rekening milik Omar.Ketika melihat uang sebanyak itu, bola m







