Beranda / Urban / SANG PETARUNG / 5. Kartu Hitam

Share

5. Kartu Hitam

Penulis: mic.assekop
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-22 10:43:49

Aliyev kemudian berjalan bersama Leila menjauh dari sekitaran istana.

Leila heran ketika melihat badan pria di sampingnya ini besar dan kekar. ‘Apa ini suamiku?’ batinnya.

“Aku memberi mu uang tiap enam bulan supaya kau tidak perlu keluar rumah, tapi malah kau tetap bekerja?” Aliyev tak sampai hati saat melihat istrinya tampak kelelahan setelah setengah hari bekerja.

Leila memandangi pepohonan yang berjejer di pinggiran jalan. “Aku rasa kau tidak perlu menanyakannya padaku, Ali. Aku berhak melakukan apa pun.”

“Leila, aku masih jadi suami mu, jadi wajar kalau aku menanyakannya. Aku pikir uang yang aku berikan itu sudah cukup untuk keperluan mu sendiri.”

Ya memang betul. Tapi masalahnya tiga orang lain di rumah itu juga butuh makan. Karena itulah Leila di sini untuk mencari uang tambahan.

Melihat istrinya yang agak kurusan, Aliyev sedih, dan tidak menyangka setelah ditinggal pergi bukannya ada perubahan baik, tetapi justru istrinya sedikit sengsara.

Selama lima tahun belakang Leila menjadi tulang punggung keluarga. Bekerja sendirian demi keluarganya. Bayarannya tak seberapa tapi cukuplah asalkan orang tua dan kakaknya tidak bertingkah macam-macam.

“Sebaiknya kita pergi ke rumah sakit,” ujar Aliyev khawatir. “Kau seperti tidak enak badan.”

Cepat Leila menjawab, “Aku sangat sehat dan baik-baik saja. Untuk apa ke rumah sakit kalau aku tidak sakit?”

Aliyev melihat wajah istrinya yang pucat lalu berkata dengan nada cemas, “Tidak mungkin kau sehat-sehat saja, istriku. Jelas kau sedang tidak baik-baik saja.”

“Tapi aku tidak mau ke rumah sakit. Titik!” Leila menjawab tegas lalu melipat tangannya di dada. Dari dulu dia memang seperti itu. Terlampau tegas, yang sebenarnya itu mengarah pada sifat kasar, dan tidak pantas sifat tersebut dimiliki oleh seorang istri.

Bukti bahwa Aliyev sangat cinta adalah tampak dari perhatian yang dia berikan. Dari kekhawatiran dan kecemasan itu menunjukkan bahwa dia memang tulus pada istrinya.

Lima tahun adalah waktu yang lama. Seorang wanita lemah yang dipaksa jadi pekerja keras. Tidak wajar. Sungguh tidak wajar.

Aliyev benar-benar tak sampai hati melihatnya. Jika saja dari dulu dia hidup makmur, mana mungkin dia rela melihat istrinya susah payah mencari uang.

Aliyev melihat ada restoran yang tak jauh dari sekitar istana. Segera mereka menuju ke sana.

Tapi Leila berkata heran. “Kau mau ngapain ke restoran itu? Di sana mahal. Kau bisa makan selama satu minggu hanya untuk sekali makan di restoran itu. Lebih baik kita cari tempat lain saja. Ada banyak yang murah.”

“Jangan kau pikirkan, istriku. Tidak masalah. Ayo kita makan  siang di sana.”

Mendengar itu, rasanya Leila seperti berada dalam mimpi buruk. Selama tiga tahun menikah tidak pernah sekali pun dia diajak makan di restoran mahal. 

“Kau jangan membuatku malu,” kata Leila. “Restoran ini punya Pak Menteri. Jika dia tahu kalau aku buat ulah, aku bisa kena pecat.”

“Malu? Kenapa harus malu? Kita kan bayar.”

Wanita itu malah memberengut kesal. “Jangan bercanda, Ali. Kalau kau memang mau ingin menraktirku, tidak lah mengapa kita cari tempat lain yang lebih terjangkau.”

Namun, Aliyev malah menggenggam tangan istrinya dengan kencang dan terus berjalan ke arah restoran yang dimaksud.

Leila berontak. Dia tidak mau dipermalukan lantaran hal sepele. Dia tahu ini restoran elit dan biasa dimasuki para pejabat.

Pekerja rendahan sepertinya tidak permah masuk ke tempat ini sama sekali.

Dan benar saja. Ketika mereka berdua sudah tiba di pintu masuk restoran, seorang pelayan yang tadinya meletakkan kedua tangan di dada kini malah heran saat melihat wanita berseragam itu hendak masuk ke dalam.

Pria itu tahu bahwa Leila derajatnya tidak lebih dibandingkan dirinya.

“Aku tahu kau pekerja di dapur istana. Tapi aku tidak tahu  apa sebenarnya yang kau inginkan di sini.” Pria itu menatap Leila dengan pandangan remeh.

Leila resah. Sudah dibilang tadi tidak usah ke sini, tapi masih saja.

Pelayan itu memberikan gestur agar Leila dan pasangannya segera menjauh. “Walaupun ada beberapa kursi yang kosong, tapi tidak layak untuk diisi oleh babu istana. Pergi dari sini!”

Aliyev tidak senang istrinya diremehkan. Beda ceritanya saat dia masih susah dulu. Sekarang kondisinya sudah berbeda.

“Apa mata mu buta?” tanya Aliyev. “Apa kau tidak lihat ada seorang pria di sampingnya?”

Pelayan itu berdecak dan berkata dengan sombong, “Buta? Jelas mataku masih sangat sehat! Aku bisa melihat mu dengan sangat jelas. Tapi sayangnya aku tidak mengenal mu sama sekali. Kau bukan bangsawan dan bukan pula orang kaya.”

Jadi apakah restoran ini cuma untuk bangsawan dan orang kaya, sementar selain itu tidak boleh masuk?

Pelayan ini sudah hafal wajah-wajah para pelanggan yang biasa masuk ke sini, dan mereka pastinya orang-orang besar.

Tidak pernah ada karyawan swasta, atau pedagang kaki lima, atau driver online yang masuk ke sini. Ini adalah restoran eli.

Ketika pelayan tersebut melihat bahwa pada diri Aliyev tidak ada tampang orang besar, maka wajar dia tidak menganggapnya ada.

Namun, Aliyev tentu saja ingin masuk. “Jaga mulut mu! Cepat minta maaf pada istriku atau kau akan menyesal.”

Mendengar itu, pelayan tersebut malah tersenyum miring. “Kau pikir kau siapa? Sementara aku adalah supervisor di sini. Aku bisa saja mengusir mu sekarang juga.”

Aliyev tetap sopan. “Sebaiknya kau segera minta maaf, lalu izinkan kami masuk, karena kami ke sini mau makan, bukan berdebat dengan mu.”

Sang pelayan yang rupanya supervisor makin terkikik. “Cukuplah untuk pesan air putih saja, lalu pergi dari sini. Okelah aku tidak mau membuang waktuku yang berharga hanya untuk berbicara dengan satu babu istana dan satu pria asing berbadan besar seperti kuli. Enyahlah!”

Walaupun kemarahan mulai merasuki jiwanya, Aliyev tidak pernah gampang terpancing oleh siapa pun, tetap tenang dan sabar.

“Silakan panggil manager atau bos mu,” kata Aliyev. “Aku pikir mereka lebih waras dan sopan untuk menerima tamu seperti kami.”

Cuh!

Sekonyong-konyong pelayan itu meludahi celana Aliyev lalu berkata kasa, “Cepat pergi dari sini! Dasar najis!”

Ini sudah kelewatan.

Detik itu juga Aliyev tidak bisa untuk tidak mencangking kerah kemeja pria itu. Kakinya terangkat setengah meter.

Tapi untungnya Aliyev tidak mau melukainya sama sekali.

Dan saat itu juga manager restoran tiba di sana. “Lepaskan anak buahku!”

Kemudian Aliyev segera melepaskan cekikannya.

Karena tidak ingin terlalu berlama-lama, akhirnya Aliyev menghampiri sang manager kemudian mengeluarkan satu kartu hitam dari dompetnya dan memperlihatkannya pada sang manager.

Melihat kartu hitam tersebut, sang manager termundur sedikit ke belakang. Dia langsung menunduk hormat.

Tapi Aliyev segera menghentikannya. “Kau cuma boleh tunduk pada Tuhan. Tidak untuk manusia.”

Sang manager segera mempersilahkan masuk. “Maafkan kebodohan anak buahku. Dia pasti akan mendapatkan hukuman tegas dariku. Silakan masuk, Tuan.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • SANG PETARUNG   5. Kartu Hitam

    Aliyev kemudian berjalan bersama Leila menjauh dari sekitaran istana.Leila heran ketika melihat badan pria di sampingnya ini besar dan kekar. ‘Apa ini suamiku?’ batinnya.“Aku memberi mu uang tiap enam bulan supaya kau tidak perlu keluar rumah, tapi malah kau tetap bekerja?” Aliyev tak sampai hati saat melihat istrinya tampak kelelahan setelah setengah hari bekerja.Leila memandangi pepohonan yang berjejer di pinggiran jalan. “Aku rasa kau tidak perlu menanyakannya padaku, Ali. Aku berhak melakukan apa pun.”“Leila, aku masih jadi suami mu, jadi wajar kalau aku menanyakannya. Aku pikir uang yang aku berikan itu sudah cukup untuk keperluan mu sendiri.”Ya memang betul. Tapi masalahnya tiga orang lain di rumah itu juga butuh makan. Karena itulah Leila di sini untuk mencari uang tambahan.Melihat istrinya yang agak kurusan, Aliyev sedih, dan tidak menyangka setelah ditinggal pergi bukannya ada perubahan baik, tetapi justru istrinya sedikit sengsara.Selama lima tahun belakang Leila menj

  • SANG PETARUNG   4. Pertarungan kecil

    Karena tidak mau menunggu lama sampai sore hari, akhirnya Aliyev pun memutuskan untuk segera menemui Leila di Istana Raja siang hari itu.Aliyev tiba di pos terdepan istana yang amat megah. Tidak ada yang bisa masuk kecuali dengan izin sepenuhnya.Tidak ada yang bisa masuk istana kecuali memang ada keperluan penting atau mesti mendapat restu dari Raja.Aliyev disambut oleh dua orang penjaga gerbang berbadan besar. “Siapa kau?”“Ada keperluan apa?”Aliyev menjawab dengan sopan. “Aku ingin bertemu dengan seseorang yang bekerja di sini. Izinkan aku masuk.”Tidak semudah itu. Apalagi kalau dilihat dari penampilannya Aliyev tampak biasa-biasa saja.Tidak terlihat seperti bangsawan atau pun orang kaya.Dan parahnya salah seorang pengawal itu pria yang agak antagonis. Dia mengernyit dan membentak. “Pergi kau dari sini! Sebelum aku pukul, sebaiknya kau angkat kaki dari sini.”Pria berkumis itu melanjutkan, “Kemarin ada juga orang seperti mu. Pura-pura jadi orang baik, padahal mau mencuri. Kau

  • SANG PETARUNG   3. Apakah Leila masih cinta?

    Zaur tetap belum mengizinkan Aliyev masuk ke dalam rumah sebab khawatir bisa saja ini cuma tipuan.Sementara Emina berbeda. “Saat ini Leila sedang bekerja. Sore nanti baru bisa pulang.”“Bekerja?” Aliyev menaikkan kedua alisnya. “Di mana? Sejak kapan?”Bukankah selama ini Aliyev kerap mengirim uang untuk istrinya? Kenapa istrinya masih bekerja?“Ya bekerja,” balas Emina. “Sudah cukup lama. Dia bekerja sebagai tukang masak di Istana Raja.”Aliyev tersentak. “Tukang masak?”Emina manggut. “Ya benar. Dari pada menganggur, jadi lebih baik dia ke luar rumah.”Bukan ini yang diharapkan oleh Aliyev. Selama lima tahun terakhir dia mengirimkan nafkah berupa uang supaya istrinya tetap berada di rumah. Bukan malah bekerja. Tukang masak pula.Jadi selama ini Zaur dan Emina memaksa putrinya bekerja agar ada pemasukan keluarga. Gaji Leila tak seberapa tapi setidaknya cukuplah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Ini dilakukan karena orang satu rumah semuanya pemalas kecuali Leila.Bagaimana dengan

  • SANG PETARUNG   2. Menemui istri

    Lantas Aliyev berjalan kaki menyusuri jalanan kota yang padat dan sibuk.Menyaksikan banyak orang dengan berbagai urusan masing-masing.Tidak ada yang berubah sejak lima tahun lalu. Kecuali ada beberapa saja.Semua terlihat indah dan memikat. Tapi dari semuanya, tidak ada yang ingin dia temui, kecuali istrinya, Leila.Meskipun dia sudah dicampakkan oleh istri, mertua, dan iparnya, namun dia masih menyimpan harapan untuk kembali lagi bersama istrinya.Rindu itu tidak bisa disembunyikan dan cinta itu tidak bisa dimusnahkan.Leila adalah permata hatinya selama beberapa tahun terakhir. Wanita itu tidak mungkin dia lupakan selama-lamanya.Setelah lebih dari tiga puluh menit berjalan, akhirnya dia pun tiba di sebuah rumah tua dan jelek milik Keluarga Tasumov.Segala kenangan pahit tidak mungkin bisa terlupakan. Semua kejahatan mereka dan perlakuan tak pantas itu jelas masih tersimpan dalam ingatannya.Dulu dia dianggap rendahan dan tidak dipandang sedikit pun, namun sekarang semuanya sudah

  • SANG PETARUNG   1. Sayembara

    “Hadiahnya satu peti emas!”“Musnahlah kemiskinan di keluarga kita!”“Tidak akan pernah melarat selamanya!”Setelah teriakan itu menggema di rumah buruk Keluarga Tasumov, lantas semua anggota keluarga pun melemparkan pandangan menohok ke arah Aliyev. Bergeming, perlahan lirikan mata Aliyev menangkap wajah istrinya, Leila Tasumov. Bukannya membela Aliyev yang terpojok, Leila justru mengernyit dan berkata kasar. “Suamiku! Hadiahnya satu peti emas! Satu peti emas! Apa kau mengerti?”Ada sebuah sayembara besar di Negeri Holystan. Jika ada yang mampu mengalahkan Sang Pengawal Raja dalam oktagon, maka akan mendapatkan hadiah besar : Satu peti emas! Penguasa Holystan ingin menguji seberapa kuat pengawalnya, dan kira-kira apakah ada orang yang lebih kuat lagi di negeri ini. Hadiahnya memang sangat besar, hanya saja itu akan menjadi sangat mustahil, sebab Sang Pengawal Raja adalah petarung terkuat. Maka sore ini Aliyev tertegun saat menyaksikan mertua, ipar, dan bahkan istrinya menyuruhny

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status