MasukKarena tidak mau menunggu lama sampai sore hari, akhirnya Aliyev pun memutuskan untuk segera menemui Leila di Istana Raja siang hari itu.
Aliyev tiba di pos terdepan istana yang amat megah. Tidak ada yang bisa masuk kecuali dengan izin sepenuhnya. Tidak ada yang bisa masuk istana kecuali memang ada keperluan penting atau mesti mendapat restu dari Raja. Aliyev disambut oleh dua orang penjaga gerbang berbadan besar. “Siapa kau?” “Ada keperluan apa?” Aliyev menjawab dengan sopan. “Aku ingin bertemu dengan seseorang yang bekerja di sini. Izinkan aku masuk.” Tidak semudah itu. Apalagi kalau dilihat dari penampilannya Aliyev tampak biasa-biasa saja. Tidak terlihat seperti bangsawan atau pun orang kaya. Dan parahnya salah seorang pengawal itu pria yang agak antagonis. Dia mengernyit dan membentak. “Pergi kau dari sini! Sebelum aku pukul, sebaiknya kau angkat kaki dari sini.” Pria berkumis itu melanjutkan, “Kemarin ada juga orang seperti mu. Pura-pura jadi orang baik, padahal mau mencuri. Kau tahu apa yang terjadi? Wajahnya bonyok. Dan rahangnya hampir hancur. Apa kau mau jadi seperti dia?” Pria itu masih memandangi Aliyev dengan sombong. Mentang-mentang sudah lama menjadi satpam kerajaan, seakan-akan dia layaknya jenderal yang sok hebat. Meski begitu, Aliyev tetap tenang. Niatnya baik, cuma mau ketemu istrinya sesegera mungkin. “Ada pekerja dapur bernama Leila. Jika kalian tidak mengizinkan aku masuk, bisakah kalian panggilan dia ke mari.” Penjaga tadi murka. “Apa? Kau menyuruh kami?” selorohnya berang. Dan satu temannya juga ikut kepancing. “Kau tidak pantas menyuruh kami. Walaupun kesannya kau minta tolong.” “Ya, lagi pula kami sedang sibuk bekerja. Jadi sebaiknya kau pergi saja dari sini.” Pria berkumis memberikan gestur seperti mengusir kucing. Dia anggap bahwa Aliyev layaknya binatang jalanan. Meskipun dua orang ini menjalankan tugas, akan tetapi mereka sebenarnya tak pantas bersikap kasar terhadap siapa pun, termasuk terhadap Aliyev. “Apa karena aku miskin dan tidak dikenal lantas kalian tidak menerimaku?” tanya Aliyev dengan nada yang masih santun. “Aku dengar bahwa Raja kalian sangat baik dan menghormati setiap masyarakat. Aku heran kenapa dua penjaganya malah sombong.” Pria botak yang awalnya agak kalem semakin kepancing. “Kurang ajar!” sentaknya semakin naik darahnya. “Aku bilang baik-baik ya. Saat ini tidak ada yang boleh masuk ke dalam istana atau pun minta tolong panggilkan orang yang ada di dalam. Semua orang sedang sibuk. Apa kau mengerti?” Tapi masalahnya sekarang adalah jam istirahat. Aliyev menoleh dan dilihatnya ada beberapa orang yang keluar istana. Sepertinya mereka petugas kebersihan istana yang hendak mencari makan siang. “Lihatlah mereka,” kata Aliyev. “Pegawai istana sedang istirahat. Artinya mereka bisa keluar, termasuk wanita bernama Leila.” Pria berkumis semakin kencang urat lehernya. “Kau semakin membuatku kesal. Kalau dibilang tidak bisa ya tidak bisa. Cepat pergi dari sini! Gembel seperti mu tidak pantas masuk ke istana. Dan tidak pula berhak minta tolong pada kami!” Aliyev masih kalem dan sopan. “Sekali lagi aku minta tolong. Panggilkan wanita bernama Leila yang bekerja di dapur istana. Bilang suaminya mau ketemu.” Rindu yang membuncah membuat Aliyev jadi tak bisa sabar. Dia amat kangen sama istrinya. Lima tahun adalah waktu yang sangat lama. Jadi apa pun halangannya, dia akan berupaya melewatinya. Sekali lagi dia berkata, “Tolonglah.” Namun, ibarat mendengar gonggongan anjing, pria berkumis malah mengernyitkan bibir dan berkata malas. “Sudah kami bilang kami tidak bisa. Kami sedang sibuk. Dan orang di dalam sedang bekerja. Sudah pergi lah kau dari sini.” Aliyev tak beranjak sama sekali, tetap menunggu dengan penuh ketenangan. Beberapa detik kemudian si botak saling tatap dengan si pria berkumis. Mereka berbisik satu sama lain. Sebuah perbuatan terlarang di hadapan orang ketiga. Tanpa banyak kompromi lagi, lantas pria berkumis pun melepaskan satu pukulan kuat ke arah wajah Aliyev. Wush! Cekatan, Aliyev merunduk. Sebuah pukulan yang sia-sia. Tak berhenti sampai di situ, dia langsung melepaskan satu sepakan samping menuju perut Aliyev. Tapi sayangnya lagi-lagi meleset. Aliyev berkata, “Aku tidak mau ada keributan di sini. Aku cuma mau ketemu istriku. Izinkan aku masuk atau panggilkan ke sini wanita bernama Leila. Dua satpam itu tak mengindahkannya dan justru berusaha mengeroyoki Aliyev. Dalam waktu beberapa detik mereka berdua melepaskan serangan brutal. Namun sayangnya semua serangan itu tidak ada yang berhasil sama sekali. Aliyev dengan sangat hebat menghindar dan menangkis. Melihat betapa hebatnya Aliyev dalam bertahan, sontak dua satpam itu pun tercengang, kemudian saling tatap satu sama lain. Keduanya mengangguk berbarengan lalu kembali menyerang dengan amat brutal. Tadi baru serangan pembuka dan kini mereka menyerang dengan tenaga penuh. Dan meskipun telah mengerahkan semua tenaga, dua orang itu tetap tidak bisa memberikan serangan berarti sedikit pun. Tidak ada pukulan yang membuat Aliyev merasa sakit atau semacamnya. Semua tidak berarti. Si pria berkumis melenguh seperti sapi. Lantas dia melompat dan memberikan serangan pamungkas. Tapi sekali lagi Aliyev terlalu tangguh atas mereka berdua. Dengan sekali pukulan di pipi kiri, pria itu pun tumbang, sementara si botak menjadi saksi betapa kuatnya Aliyev. Hanya dengan sekali serangan saja semuanya kelar. Si botak gemetaran, berkeringat dingin, dan mundur tiga langkah. Kalau tadi dia sangat berani, namun kini dia jadi sangat takut. Aliyev menatapnya dengan rendah hati. “Sudah kubilang aku tidak mau mencari masalah dengan kalian. Aku hanya ingin bertemu dengan istriku. Itu saja.” Tidak berpikir dua kali, si satpam botak pun mengangguk berkali-kali dan berkata, “Tunggulah sebentar. Silakan duduk di kursi itu. Akan aku segera panggilkan wanita bernama Leila yang bekerja di Dapur Istana.” Kemudian pria itu lari pontang-panting menuju istana. Sementara si pria berkumis sudah seperti orang ayan. Kalau saja tadi Aliyev memukul di bagian kepala belakang, sudah pasti orang ini sudah gegar otak dan cacat seumur hidup. Aliyev mengangkat tubuh orang ini dengan penuh rasa kasihan dan berkata, “Maafkan aku.” Dia membaringkan pria tadi di dalam pos dan setelah sadar dia pun memberinya air minum. “Seharusnya tadi aku tidak memukul mu. Sekali lagi aku minta maaf.” Pria berkumis itu menjawab lirih, “Aku yang salah. Seharusnya tadi aku tidak menyerang mu. Oh, sungguh aku menyesal. Aku yang minta maaf.” Beberapa saat setelah itu tibalah satpam satunya bersama seorang wanita cantik. Melihat kehadiran istrinya, Aliyev langsung berdiri dan hendak memeluknya karena saking rindunya. Namun, Leila menepis tangan itu. “Kenapa kau bisa ada di sini?” Karena tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan, akhirnya Leila segera mengajak Aliyev menjauh dari sekitaran istana.Omar benar-benar keterlaluan. Setelah kalah judi puluhan ribu dolar, dia pun pergi meninggalkan Holystan karena takut bakal dikejar-kejar oleh Aliyev.Dia melanggar perjanjian yang telah disepakati. Maka tidak ada lagi soal bisnis Gym yang beberapa hari lalu mereka bicarakan. Semua hanya omong kosong yang dibangun Omar.Mengetahui bahwa Omar cuma menipunya, Aliyev sempat melakukan pencarian namun tidak berhasil, Omar meninggalkan Holystan tanpa jejak apa pun. Aliyev tidak terlalu mempermasalahkan uang lima ratus ribu dolar yang dibawa kabur. Bukan itu. Tapi masalahnya adalah saat ini semua keluarga Tasumov benar-benar meninggalkannya.Kecuali mungkin istrinya, Leila. Itu pun masih berupa kemungkinan sebab Leila tampaknya serius untuk mengakhiri hubungan ini jika Zukhov telah menyampaikan ucapan lamaran nantinya.Aliyev duduk di balkon apartemen mewahnya, memperhatikan keindahan kota dari atas, melihat dunia dari cara pandang berbeda seperti layaknya lima tahun lalu.Saat itu dia tida
Seperti apa yang diprediksi oleh Aliyev bahwa petarung sombong ini sulit menang bukan karena dia tidak jago tetapi karena kesombongannya. Banyak cerita di dunia ini yang sombong pada akhirnya kalah, binasa, dan hina.Jago saja tidak lah cukup. Karakter. Karakter juga perlu. Menanamkan sifat rendah hati dan tidak sombong memang tidak gampang. Terlebih pada orang yang sudah mendapatkan kekuatan, uang, popularitas, bahkan kekuasaan.Termasuk para petarung di atas ring. Hebat dan kuat saja tidaklah cukup tetapi mereka juga harus pandai dalam menjaga sikap, apalagi ini adalah zaman media sosial yang setiap orang gampang untuk naik dan gampang pula untuk tenggelam.Si petarung rendah hati yang sudah dianggap pemenang tidak merasa besar kepala. Dia justru menghampiri lawannya tadi yang sombong dan berkata dengan penuh respect, “Ini bukan tentang menang kalah semata, tapi tentang persaudaraan dan kemanusiaan. Terima kasih karena aku telah belajar banyak dari mu.”Mendengar itu, si petarung so
Pukulan itu pas dan tidak meleset sedikit pun.Namun Boyxev menjerit kesakitan karena dia yang kena pukul.Tom masih mengepalkan tangan dan siap meninju Boyxev untuk ke dua kali, namun Aliyev langsung mencegahnya.“Tom, tahan diri mu. Tidak usah buat keributan lagi. Kau adalah bagian dari acara ini dan termasuk dalam salah satu panelis.” Aliyev berusaha menenangkan Tom.Tom kepanasan saat tahu bahwa orang yang hendak berkelahi itu adalah Aliev. Dia tidak menyangka kalau Aliyev rupanya orang yang sedari tadi diolok-olok. Posisi Tom sekitar sepuluh meter dari kursi Aliyev.Keributan seperti ini sudah biasa, jadi makanya orang seperti Tom tidak terlalu mempermasalahkannya, tapi masalahnya adalah yang ribut ini adalah Aliyev. Wajar dia marah besar dan ingin menghabisi Boyxev.“Pergi kau dari sini!” usir Tom.Boyxev tahu persis siapa Tom. Selain panelis, kadang juri, Tom juga terlibat dalam soal keamanan. Hampir semua orang tahu siapa Tom.Jadi ketika Boyxev diusir oleh Tom, Boyxev tidak b
Tangan kiri Aliyev menangkap kepalan tangan Boyxev!Orang-orang di sana pun terpana. Dari mana Aliyev bisa sadar kalau dia mau dipukul dari belakang?Rupanya Aliyev merasakan getaran mencurigakan yang ada di belakang tubuhnya, lalu sepersekian detik kemudian sama seperti refleks kucing lantas Aliyev segera menangkis serangan itu.Boyxev yang sudah yakin kalau pukulannya pasti kena sontak terperangah. Putih matanya melebar dan mulutnya menganga. Tidak disangka pukulannya bisa ditangkis. Mustahil!Setelah tadi Boyxev ngomel panjang dan sempat mau main pukul, barulah Aliyev mau bersuara. “Silakan cari kursi lain jika kau ingin menonton lebih leluasa. Rata-rata para penonton di sini juga sama seperti mu. Pandangan mereka juga terhalang oleh orang di depannya. Aku pun juga sama. Jadi sebaiknya kau cari kursi lain atau bila perlu masuk sana ke oktagon.”Merasa diejek, Boyxev emosi. Dia menunjuk wajah Aliyev dan membentak, “Bjgn! Kau menyuruhku pindah kursi atau masuk ke oktagon? Sama saja k
“Hei Bro! Menunduk sedikit! Kepala dan badan mu menghalangi pandanganku!” jerit seorang pria pas di belakang Aliyev.Aliyev berdiri dan memutar badannya lalu menjawab, “Tidak bisa. Aku tidak bisa menunduk seperti yang kau minta.” Aliyev tetap sopan dan kalem.Meskipun badannya sangat kekar dan mengerikan, dia tetap kalem dan rendah hati, bicaranya saja sangat santun.Pria bertopi yang merasa pandangannya dihalangi tadi lantas kaget karena orang di depannya ini tidak mau menuruti apa katanya. “Aku tidak bisa melihat dengan leluasa apa yang ada di arena tarung. Apa salahnya kau menunduk sedikit.”Masalanya adalah tubuh Alivey dengan tinggi 190 dan berat tak kurang dari 100 kg itu sulit untuk sedikit membungkuk.Aliyev membalasnya dengan santun, “Jangan salahkan aku, tapi salahkan posisi kursi yang ada. Kalau saja jarak antar kursinya lebih jauh tentu kau akan lebih leluasa. Lagi pula bukankah hampir semua orang menghadapi masalah sama seperti mu.”Aliyev yang saat ini berada agak tengah
Omar menagih janji pada Aliyev sesuai dengan apa yang kemarin-kemarin pernah disampaikan bahwa Aliyev bakal mengeluarkan dana satu juta dolar untuk usaha Gym kecil-kecilan.Tepat di depan hotel tempat Aliyev tinggal Omar menagih janji itu. “Lelaki yang dipegang adalah omongannya. Jika kau bukan lelaki, silakan lupakan omongan mu waktu itu.”Aliyev bukanlah orang yang suka ingkar janji. Jika sudah mengatakan sesuatu maka dia tidak akan mengingkarinya.Kata Aliyev, “Bisnis ini akan tetap jadi milikku. Kau yang akan menjalaninya, Omar, dan kau dapat bayaran dariku. Jadi aku tidak meminjamkan mu uang atau modal.”“Baiklah kalau begitu perjanjiannya. Berapa bayaran yang akan aku terima?”“Kita lihat bagaimana bisnis itu berjalan nantinya. Aku yakin kau tidak akan kecewa.”“Aku minta bayaran besar. Apa kau sanggup?”Pasti Aliyev sanggup membayarnya.Aliyev menyuntikkan dana awal sebesar seratus ribu dolar dengan mengirimkannya ke rekening milik Omar.Ketika melihat uang sebanyak itu, bola m







