Home / Urban / SANG PETARUNG / 4. Pertarungan kecil

Share

4. Pertarungan kecil

Author: mic.assekop
last update publish date: 2025-12-22 10:43:20

Karena tidak mau menunggu lama sampai sore hari, akhirnya Aliyev pun memutuskan untuk segera menemui Leila di Istana Raja siang hari itu.

Aliyev tiba di pos terdepan istana yang amat megah. Tidak ada yang bisa masuk kecuali dengan izin sepenuhnya.

Tidak ada yang bisa masuk istana kecuali memang ada keperluan penting atau mesti mendapat restu dari Raja.

Aliyev disambut oleh dua orang penjaga gerbang berbadan besar. “Siapa kau?”

“Ada keperluan apa?”

Aliyev menjawab dengan sopan. “Aku ingin bertemu dengan seseorang yang bekerja di sini. Izinkan aku masuk.”

Tidak semudah itu. Apalagi kalau dilihat dari penampilannya Aliyev tampak biasa-biasa saja.

Tidak terlihat seperti bangsawan atau pun orang kaya.

Dan parahnya salah seorang pengawal itu pria yang agak antagonis. Dia mengernyit dan membentak. “Pergi kau dari sini! Sebelum aku pukul, sebaiknya kau angkat kaki dari sini.”

Pria berkumis itu melanjutkan, “Kemarin ada juga orang seperti mu. Pura-pura jadi orang baik, padahal mau mencuri. Kau tahu apa yang terjadi? Wajahnya bonyok. Dan rahangnya hampir hancur. Apa kau mau jadi seperti dia?”

Pria itu masih memandangi Aliyev dengan sombong. Mentang-mentang sudah lama menjadi satpam kerajaan, seakan-akan dia layaknya jenderal yang sok hebat.

Meski begitu, Aliyev tetap tenang. Niatnya baik, cuma mau ketemu istrinya sesegera mungkin. “Ada pekerja dapur bernama Leila. Jika kalian tidak mengizinkan aku masuk, bisakah kalian panggilan dia ke mari.”

Penjaga tadi murka. “Apa? Kau menyuruh kami?” selorohnya berang.

Dan satu temannya juga ikut kepancing. “Kau tidak pantas menyuruh kami. Walaupun kesannya kau minta tolong.”

“Ya, lagi pula kami sedang sibuk bekerja. Jadi sebaiknya kau pergi saja dari sini.”

Pria berkumis memberikan gestur seperti mengusir kucing. Dia anggap bahwa Aliyev layaknya binatang jalanan.

Meskipun dua orang ini menjalankan tugas, akan tetapi mereka sebenarnya tak pantas bersikap kasar terhadap siapa pun, termasuk terhadap Aliyev.

“Apa karena aku miskin dan tidak dikenal lantas kalian tidak menerimaku?” tanya Aliyev dengan nada yang masih santun. “Aku dengar bahwa Raja kalian sangat baik dan menghormati setiap masyarakat. Aku heran kenapa dua penjaganya malah sombong.”

Pria botak yang awalnya agak kalem semakin kepancing. “Kurang ajar!” sentaknya semakin naik darahnya. “Aku bilang baik-baik ya. Saat ini tidak ada yang boleh masuk ke dalam istana atau pun minta tolong panggilkan orang yang ada di dalam. Semua orang sedang sibuk. Apa kau mengerti?”

Tapi masalahnya sekarang adalah jam istirahat.

Aliyev menoleh dan dilihatnya ada beberapa orang yang keluar istana. Sepertinya mereka petugas kebersihan istana yang hendak mencari makan siang.

“Lihatlah mereka,” kata Aliyev. “Pegawai istana sedang istirahat. Artinya mereka bisa keluar, termasuk wanita bernama Leila.”

Pria berkumis semakin kencang urat lehernya. “Kau semakin membuatku kesal. Kalau dibilang tidak bisa ya tidak bisa. Cepat pergi dari sini! Gembel seperti mu tidak pantas masuk ke istana. Dan tidak pula berhak minta tolong pada kami!”

Aliyev masih kalem dan sopan. “Sekali lagi aku minta tolong. Panggilkan wanita bernama Leila yang bekerja di dapur istana. Bilang suaminya mau ketemu.”

Rindu yang membuncah membuat Aliyev jadi tak bisa sabar. Dia amat kangen sama istrinya. Lima tahun adalah waktu yang sangat lama.

Jadi apa pun halangannya, dia akan berupaya melewatinya.

Sekali lagi dia berkata, “Tolonglah.”

Namun, ibarat mendengar gonggongan anjing, pria berkumis malah mengernyitkan bibir dan berkata malas. “Sudah kami bilang kami tidak bisa. Kami sedang sibuk. Dan orang di dalam sedang bekerja. Sudah pergi lah kau dari sini.”

Aliyev tak beranjak sama sekali, tetap menunggu dengan penuh ketenangan.

Beberapa detik kemudian si botak saling tatap dengan si pria berkumis. Mereka berbisik satu sama lain. Sebuah perbuatan terlarang di hadapan orang ketiga.

Tanpa banyak kompromi lagi, lantas pria berkumis pun melepaskan satu pukulan kuat ke arah wajah Aliyev. Wush!

Cekatan, Aliyev merunduk.

Sebuah pukulan yang sia-sia.

Tak berhenti sampai di situ, dia langsung melepaskan satu sepakan samping menuju perut Aliyev.

Tapi sayangnya lagi-lagi meleset.

Aliyev berkata, “Aku tidak mau ada keributan di sini. Aku cuma mau ketemu istriku. Izinkan aku masuk atau panggilkan ke sini wanita bernama Leila.

Dua satpam itu tak mengindahkannya dan justru berusaha mengeroyoki Aliyev.

Dalam waktu beberapa detik mereka berdua melepaskan serangan brutal. Namun sayangnya semua serangan itu tidak ada yang berhasil sama sekali.

Aliyev dengan sangat hebat menghindar dan menangkis.

Melihat betapa hebatnya Aliyev dalam bertahan, sontak dua satpam itu pun tercengang, kemudian saling tatap satu sama lain.

Keduanya mengangguk berbarengan lalu kembali menyerang dengan amat brutal.

Tadi baru serangan pembuka dan kini mereka menyerang dengan tenaga penuh.

Dan meskipun telah mengerahkan semua tenaga, dua orang itu tetap tidak bisa memberikan serangan berarti sedikit pun.

Tidak ada pukulan yang membuat Aliyev merasa sakit atau semacamnya. Semua tidak berarti.

Si pria berkumis melenguh seperti sapi. Lantas dia melompat dan memberikan serangan pamungkas.

Tapi sekali lagi Aliyev terlalu tangguh atas mereka berdua.

Dengan sekali pukulan di pipi kiri, pria itu pun tumbang, sementara si botak menjadi saksi betapa kuatnya Aliyev.

Hanya dengan sekali serangan saja semuanya kelar.

Si botak gemetaran, berkeringat dingin, dan mundur tiga langkah. Kalau tadi dia sangat berani, namun kini dia jadi sangat takut.

Aliyev menatapnya dengan rendah hati. “Sudah kubilang aku tidak mau mencari masalah dengan kalian. Aku hanya ingin bertemu dengan istriku. Itu saja.”

Tidak berpikir dua kali, si satpam botak pun mengangguk berkali-kali dan berkata, “Tunggulah sebentar. Silakan duduk di kursi itu. Akan aku segera panggilkan wanita bernama Leila yang bekerja di Dapur Istana.”

Kemudian pria itu lari pontang-panting menuju istana.

Sementara si pria berkumis sudah seperti orang ayan. Kalau saja tadi Aliyev memukul di bagian kepala belakang, sudah pasti orang ini sudah gegar otak dan cacat seumur hidup.

Aliyev mengangkat tubuh orang ini dengan penuh rasa kasihan dan berkata, “Maafkan aku.”

Dia membaringkan pria tadi di dalam pos dan setelah sadar dia pun memberinya air minum.

“Seharusnya tadi aku tidak memukul mu. Sekali lagi aku minta maaf.”

Pria berkumis itu menjawab lirih, “Aku yang salah. Seharusnya tadi aku tidak menyerang mu. Oh, sungguh aku menyesal. Aku yang minta maaf.”

Beberapa saat setelah itu tibalah satpam satunya bersama seorang wanita cantik.

Melihat kehadiran istrinya, Aliyev langsung berdiri dan hendak memeluknya karena saking rindunya.

Namun, Leila menepis tangan itu. “Kenapa kau bisa ada di sini?” Karena tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan, akhirnya Leila segera mengajak Aliyev menjauh dari sekitaran istana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SANG PETARUNG   50. Klimaks tragedi

    Aula batu Benteng Perbatasan bergetar hebat. Belasan pengawal elit Lembah Hitam yang mengepung Aliyev tumbang satu per satu dalam kurun waktu singkat. Aliyev bergerak bagaikan angin malam yang tak berwujud, melumpuhkan setiap petarung bayaran dengan tangkisan presisi dan pukulan balasan yang terukur. Gerakannya tidak lagi didorong oleh amarah liar, melainkan ketenangan dingin hasil tempaan murni dari almarhum Guru Murad selama lima tahun terakhir.Melihat seluruh pengawalnya tergeletak tak berdaya di atas lantai batu, Gadzi Kusanov melangkah turun dari tahtanya. Mantan Pengawal Raja Tamerlan itu memancarkan kebuasan yang liar seraya menggenggam erat belati beracun di tangan kanan dan sebilah pedang pendek di tangan kiri. Tawa parau meluncur dari tenggorokannya, bergema menakutkan di seluruh ruangan."Kau ingat momen di oktagon sayembara Kerajaan Holystan beberapa tahun lalu, Aliyev?!" bentak Gadzi seraya mengacungkan pedangnya tepat ke arah dada Aliyev. "Saat itu, kau hanyalah pria ku

  • SANG PETARUNG   49. Racun dengki

    Kekalahan memalukan di Akademi Holystan memantik api dendam yang membakar habis sisa rasa kemanusiaan dalam diri Gadzi. Malam demi malam, bayangan wajah Aliyev yang mengulurkan tangan penuh rasa iba terus menghantuinya bagaikan siksaan neraka. Bagi Gadzi, rasa kasihan dari Aliyev jauh lebih menyakitkan daripada patah tulang atau kekalahan fisik. Iri hati yang menumpuk bertahun-tahun kini telah berubah menjadi kebuasan yang membutakan hatinya. Jika ia tidak bisa menjadi murid terbaik dan menguasai Holystan, maka tidak boleh ada seorang pun yang menikmati warisan Guru Murad.Beberapa hari setelah duel tersebut, Aliyev diminta oleh perwakilan dewan olahraga ibu kota untuk menghadiri pertemuan penataan kembali regulasi bela diri di pusat kota Holystan. Tom dan Leila mendampingi Aliyev untuk mengurus administrasi kejuaraan mutlak. Kesempatan itulah yang telah lama ditunggu oleh Gadzi. Dengan kelincahan bagaikan serigala malam, Gadzi menyelinap menuju kawasan pinggiran kota, tempat Guru Mur

  • SANG PETARUNG   48. Duel kehormatan

    Bel tanda dimulainya ronde kedua bergema melintasi Holystan National Arena yang bergemuruh. Vargas keluar dari sudutnya bagaikan binatang buas yang terluka dan murka. Tanpa mengindahkan taktikal pertahanan, monster Lembah Hitam itu meluncurkan kombinasi serangan liar—pukulan atas dan tebasan siku yang membabi buta demi mengintimidasi Aliyev.Namun, Aliyev tidak lagi dapat digoyahkan. Berbekal pengamatan tajam dan ketenangan batin hasil pengasingan di Lembah Sunyi, ia membaca setiap pergerakan Vargas yang kian tidak terkontrol. Aliyev dengan anggun melangkah melingkar, menghindari terjangan-terScoped Vargas dengan perpindahan posisi kaki yang presisi.Saat Vargas melancarkan pukulan kanan penuh tenaga yang menyisakan celah besar pada pertahanan dadanya, Aliyev mengeksekusi momen tersebut. Ia merunduk di bawah ayunan lengan Vargas, lalu melancarkan serangan kombinasi mematikan: pukulan jab cepat ke wajah disusul tendangan lutut melompat (flying knee) yang tepat menghantam ulu hati Varga

  • SANG PETARUNG   47. Tatapan sang monster

    Satu bulan latihan keras di Lembah Sunyi berlalu dengan cepat. Hari yang dinantikan oleh seluruh pecinta olahraga bela diri di Kerajaan Holystan akhirnya tiba. Acara resmi penimbangan badan (official weigh-in) untuk ajang mutlak Grand Apex Championship digelar di aula megah Holystan Grand Hotel dengan pengawalan ketat dari aparat keamanan gabungan.Ratusan wartawan dari berbagai media internasional memadati ruangan, sorot lampu kamera tak henti-hentinya menyambar ke arah panggung. Ketika nama Aliyev dipanggil, sang juara bertahan melangkah naik ke atas timbangan dengan tenang. Bobot fisiknya berada di angka ideal, tubuhnya tampak kencang dan dipenuhi otot yang padat tanpa ada lemak berlebih.Suasana aula mendadak menjadi dingin dan hening ketika pembawa acara memanggil nama pesaingnya: *Vargas*. Dari balik tirai hitam panggung, melangkah keluar sosok bertubuh tinggi besar bagaikan raksasa. Vargas memiliki tato motif tengkorak melingkar di lehernya, dengan otot-otot tebal yang tampak m

  • SANG PETARUNG   46. Pertarungan hidup mati

    Sabetan tongkat besi membelah udara malam di dalam gudang tua pelabuhan Holystan. Dengan refleks secepat kilat, Aliyev memiringkan kepalanya sedikit ke kanan, membuat ayunan tongkat musuh menghantam angin hampa. Tanpa mengulur waktu, Aliyev melancarkan pukulan balasan yang menghantam ulu hati lawan secara telak. Pria pertama mengerang kesakitan dan langsung roboh ke lantai beton.Dua anak buah Kael lainnya menggeram marah. Pria bersenjatakan pisau lipat menerjang melancarkan tusukan ke arah perut Aliyev. Namun Aliyev bergerak tangkas; ia menangkap pergelangan tangan musuh, memutarnya ke belakang hingga terdengar bunyi gemeretak tulang patah, lalu melemparkan tubuh pria itu menghantam tumpukan peti kemas kayu di sampingnya.Melihat anak buahnya ditumbangkan dengan mudah, Kael tidak lagi membuang kesempatan. Algojo Lembah Hitam itu melompat maju melancarkan tendangan melayang yang sangat bertenaga. Aliyev mengangkat kedua tangannya untuk menahan benturan hebat tersebut, namun dorongan t

  • SANG PETARUNG   45. Fajar baru

    Beberapa minggu berlalu sejak malam bersejarah di Holystan National Dome. Euforia kemenangan Aliyev masih terasa kuat di penjuru kota. Pusat pelatihan bela diri baru yang didirikan Aliyev dan Guru Murad mulai dipenuhi oleh ratusan pemuda berbakat yang terinspirasi oleh nilai-nilai kejujuran, disiplin, dan kerendahan hati yang dipraktikkan sang juara dunia baru.Di tempat latihan, Aliyev tidak mengenakan mahkota kesombongan. Ia kerap turun langsung melatih anak-anak muda, mengajari mereka teknik dasar pertahanan diri dan pentingnya menjaga kehormatan. Tom bertindak sebagai pengelola manajemen yayasan, memastikan setiap fasilitas dapat diakses secara gratis oleh pemuda dari kalangan kurang mampu.Sementara itu, nasib Keluarga Tasumov berada di titik terendah. Rumah megah milik Zaur Tasumov telah disita oleh bank untuk menutupi kebangkrutan total akibat hutang dan skandal yang terbongkar. Zaur yang kini menderita stroke ringan terpaksa pindah ke pinggiran kota bersama Emina. Omar Tasumov

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status