LOGIN"Let go of me, can't you see I'm married?" Ashley Carter sacrificed everything for her marriage, believing in love that never truly existed. While she mourned the loss of their unborn child, her husband, Alex Donovan, was too busy warming the beds of other women to care. Grief stricken and trapped in a life of betrayal, Ashley thought she had no way out... until Author Claude entered her world. The mysterious, powerful, and utterly relentless Mr. Claude sees Ashley’s pain and refuses to let it consume her. He awakens the fire she thought had died, offering her not just escape, but a second chance at life, love, and revenge. As Claude shatters the chains holding her back, Ashley must decide... will she cling to the ruins of her past or risk everything for a future where she's truly cherished?
View MoreSandra menangis sesenggukan di sebuah kamar mandi berukuran 2x2 meter. Wanita itu menahan sakit yang amat dalam di dalam dada, dan juga perut bagian bawahnya yang mengalami kontraksi hebat. Cairan berwarna merah menyala itu mengalir sangat deras keluar dari bagian bawah tubuhnya. Beberapa saat kemudian, bongkahan berukuran agak besar dan kecil keluar bersamaan di bawah lantai kamar mandi.
“M-maaf, maafkan mama, Nak." Sandra terisak sambil terduduk di bawah lantai kamar mandi. Tak peduli lagi dengan air shower yang dingin mengucur deras di atas kepala dan tubuhnya yang tak berbusana.Sandra melirik bongkahan-bongkahan itu, lalu dengan sisa tenaga yang ada pada tubuhnya, dia berjongkok memungutinya dengan menggunakan sarung tangan yang sudah ia pakai sejak sebelum dia melakukan aksinya. Bongkahan berwarna merah merekah itu ia masukkan ke dalam kantong berwarna hitam dan ia masukkan ke dalam kotak plastik bening. Setelah berhasil ia masukkan, dia melepas sarung tangannya lalu meraih ponsel yang sudah ada di atas wastafel.Sandra meringis sambil menangis kemudian mengarahkan gawainya ke kotak plastik tersebut. “Ini akan mama tunjukkan pada badjingan itu,” serunya seraya tersenyum pilu.Sementara di tempat lain, Tyo mondar-mandir gelisah karena sebelumnya sudah mendengar kabar jika Sandra akan melakukan aksinya tengah malam ini. Hatinya diliputi perasaan sangat bersalah, marah, dan sedih. Bodohnya, dia tak bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya itu, hal yang sangat mustahil dia lakukan. Setelah terasa pegal mondar-mandir, dia lalu duduk di kursi yang ada di balkon apartementnya.Sandra calling...Buru-buru Tyo menjawab panggilan telponnya. “Sayang... Bagai—”“Dia sudah mati! Apa kamu sudah puas, atau sekarang sudah tertawa bahagia?!” gertak Sandra di seberang sana.Tyo menghela napas berat lalu mengusap keringat dingin yang tiba-tiba keluar dari pelipisnya. “Tidak... Aku tidak berpikiran seperti itu, Sandra. Mana mungkin aku bisa bahagia?” belanya seolah tidak ikhlas.Sandra tertawa miris di seberang sana sembari berkata kasar. “Bajingan! Kamu adalah seorang bajingan! Kamu hanya mementingkan dirimu sendiri, dan tidak pernah mengerti perasaanku! Apa kamu tidak penasaran bagaimana keadaanku sekarang. Jika aku tidak mati, itu juga sudah sebuah keberuntungan,” racau Sandra seraya menangis semakin keras.Lag-lagi Tyo menghela napas berat. Kemana dirinya pergi setelah berhasil menghamili Sandra? Bukannya bertanggung-jawab dirinya malah terang-terangan menyuruh wanita itu menggugurkan kandungannya dan membelikannya sebuah obat khusus untuk Sandra. Akibat dari pikiran piciknya itu, Sandra lah yang akhirnya memikul beban itu sendiri.“Pengecut! Bajingan! Bangsaatt!” umpat Sandra kembali.Tyo membeku di tempatnya. Tanpa basa-basi dia segera menutup panggilannya lalu bergegas masuk ke dalam kamar. Tak lupa ia menutup pintu balkon, kemudian meraih kunci mobilnya. Malam itu, Tyo segera melajukan mobil bmw-nya menuju kota tempat kelahiran Sandra. Jarak kota S ke kota Y membutuhkan waktu tempuh sekitar empat jam. Malam itu Tyo memang sengaja tak membawa supir pribadi bersamanya, karena akan menyelesaikan masalah pribadinya tanpa bayang-bayang dari orang lain.Sementara di tempat lain, Sandra buru-buru berdiri dan segera membersihkan tubuhnya yang bersimbah darah. Hujan deras malam itu menambah kengerian dan kesedihan yang mendalam bagi Sandra. Dia menangis di bawah guyuran shower, kedua tangannya berpijak pada dinding kamar mandi sambil sesekali dia menertawai betapa kejamnya dirinya malam ini.Setelah cukup lama berada di dalam kamar mandi, membersihkan seluruh tubuh dan semua pakaian yang menempel. Sandra akhirnya keluar, dengan langkah tertatih, kemudian meraih obat-obatan yang ada di atas nakas, buru-buru dia minum. Selain itu, tubuhnya terasa sedikit sempoyongan, tetapi lebih hebatn lagi, fisik Sandra ternyata jauh lebih kuat. Ia kemudian menyandarkan kepalanya di sandaran ranjang, lalu mulai membaca pesan-pesan yang dikirim Tyo.“Lihat! Bahkan dia hanya mengirimkan pesan tidak berguna seperti ini, dasar bajingan tengik!” umpat Sandra.Dari pada lelah menanggapi ocehan Tyo di dalam aplikasi berwarna hijau. Sandra kemudian memejamkan mata sambil sesekali meringis merasakan perutnya yang masih sangat nyeri. Hingga akhirnya dia terlelap menyambut mimpi.Keesokan paginya, rumah Sandra sudah heboh karena ada tamu yang memencet bel berkali-kali. Padahal jam masih menunjukkan pukul 06.00 pagi tetapi, orang itu benar-benar tidak sopan bertamu sepagi ini. Akhirnya, asisten rumah tangga Sandra yang tergopoh-gopoh untuk segera membukakan pintu. Perlahan pintu pun dibuka.“Maaf, pagi-pagi sekali mau cari siapa ya, Tuan?” tanya Marni asisten rumah tangga Sandra.Tyo berdiri dengan wajah pucat pasi. “S-Sandra ada?”Marni mengangguk pelan. “Ya, ada. Tapi ... Nona, sedang tidak enak badan, Tuan.”Tyo terkejut kemudian memaksa masuk ke dalam rumah Sandra. Tapi, gerakannya ditahan oleh Marni. “Tuan, tidak boleh sembarangan masuk. Bapak dan Ibu sedang tidak ada di rumah, jadi, tolong Anda segera pergi dari rumah ini. Atau Tuan bisa membangunkan Tuan muda.”Gerakan Tyo mengendur, tubuhnya tak berdaya. Setelah sedikit cekcok dengan Marni, suara lantang dari dalam rumah mengagetkan mereka berdua. Siapa lagi kalau bukan Sandra.“Siapa tamunya, Mbak?” teriak Sandra dari lantai dua. “Pagi-pagi sudah berisik sekali,” sambung Sandra kemudian mengikat kimono satinnya lalu berjalan ke bawah lantai satu. Sungguh jika tidak ada suara ribut-ribut di bawah, dia tidak akan bangun sepagi ini. Seluruh tubuhnya masih sangat remuk. Sambil masih sedikit sempoyongan, kepalanya juga berdenyut-denyut.“Sandra!” panggil Tyo.Sandra membelalakkan matanya lebar-lebar, ternyata pria pengecut itu sudah datang. “Mbak Marni tolong pergi, ini tamuku,” perintah Sandra, dingin.Marni mengangguk pasrah kemudian berjalan meninggalkan Sandra dan Tyo yang masih berdiri di depan pintu. Setelah dirasa aman, Sandra menarik pergelangan tangan Tyo untuk berbicara di luar rumahnya.“Sayang, wajahmu sangat pucat. Apa kamu baik-baik saja, hm?” tanya Tyo cemas. Seraya membenarkan rambut Sandra yang berantakan.Sandra tersenyum sinis. “Memang apa pedulimu? Lebih baik kita akhiri saja hubungan kita yang tidak jelas ini. Pergilah, aku sudah lelah,” Sandra berbalik berjalan masuk ke dalam rumah. Namun, Tyo cepat memeluk pinggang Sandra dari belakang.“Mana mungkin aku bisa melepasmu begitu saja, Sandra,” ucap Tyo tulus. “Maafkan aku, aku tidak seharusnya menyuruhmu untuk ...” Tyo meredam suaranya. Merasakan sesak di dadanya.Sandra menangis pilu. Kedua pundaknya bergetar hebat, dan bodohnya dia selalu menuruti kata-kata pria pengecut itu. Meskipun seribu kesalahan yang Tyo lakukan, Sandra akan terus memaafkannya.****Satu bulan berlalu, setelah kejadian menyedihkan itu, Sandra mulai bangkit dari keterpurukannya. Setelah mengambil cuti cukup panjang gara-gara kebodohannya, pagi itu dia sudah siap bekerja di meja kubikelnya.Seseorang lalu menepuk pundaknya pelan. "Mbak Sandra, Pak Manager mau bertemu sekarang juga."Sandra terkesiap. "Se-sekarang?"Wanita itu mengangguk. "Iya, Mbak."Dahi Sandra sudah berkerut-kerut. Sepagi itu dia sudah disuruh datang ke ruangan bosnya. Gugup? Tentu saja Sandra sangat gugup. Sandra berpikir dia akan dipecat hari itu juga sebab, dia sudah nyaris menghabiskan jatah cuti tahunannya gara-gara si brengsek Tyo.Sandra sampai di muka pintu ruangan bosnya dengan telapak tangan yang dingin. Lalu mulai mengetuk pintu perlahan."Masuk, San!" teriak bos Sandra dari dalam ruangan, seolah sudah tahu jika yang mengetuk adalah Sandra.Bunyi hak sepatu tujuh senti itu menyeruak di dalam ruangan bosnya. Sandra datang dengan senyuman tertekan."Duduk dulu, ada yang mau saya sampaikan," ucap lelaki berkepala plontos itu.Sandra mengangguk, lalu duduk dengan sedikit tidak nyaman. "Sebelumnya saya minta maaf atas cuti saya yang sangat panjang—"Lelaki berkacamata itu tersenyum tipis lalu memotong kalimat Sandra. "Siapa yang mempermasalahkan itu. Saya cuma mau memberikan ini."Sebuah amplop putih yang masih tersegel itu disodorkan di depan Sandra. Sandra yang tidak tahu apa-apa pun hanya pasrah jika memang ini adalah hari terakhirnya dia bekerja."Dibuka dan dibaca," perintah si manager.Sandra tersenyum miris. Secepat kilat, ia pun membuka isi dari amplop tersebut. Secarik kertas berlogo sebuah perusahaan asuransi terkenal sangat kentara di pojok kiri atas isi surat tersebut. Mata bulat Sandra tambah membulat detik itu juga, satu tangannya membungkam mulutnya karena terkejut."Ti-tidak mungkin ...."There was a pause on the other end of the line, and then Claude chuckled a deep, knowing sound. "I was wondering how long it would take," he said smoothly. "Where are you?" Ashley glanced around her office, the walls suddenly feeling too tight, too suffocating. "Not here," she said. "Somewhere private." "Agreed." His tone was casual, but she could hear the interest behind it. "I know just the place. Meet me at—" He gave her an address, one that wasn’t familiar. A private location. A place where no one would suspect Mrs. Donovan of having a meeting with another man. Ashley hesitated, her heart thudding. "Are you getting cold feet?" Claude teased. "No," she said quickly. Never. "Good," he said. "Then don’t keep me waiting." The line went dead. Ashley inhaled sharply, staring at her phone. Was she really doing this? Yes. She grabbed her bag and walked out of the office with steady steps, telling her assistant she was stepping out for a personal matter. As she reached the l
The next morning, Ashley stepped out of the office building for a breath of fresh air. The weight of playing the perfect wife was suffocating, but she bore it with a grace that masked her true intentions. She adjusted the sleeves of her silk blouse, inhaling the crisp morning air as she descended the steps. And then she bumped into a solid chest. "Steady there," a deep voice murmured, hands instinctively reaching out to steady her. Ashley blinked up, her breath hitching. Claude. Dressed in a tailored navy suit, he looked effortlessly powerful. His sharp eyes flickered with recognition before a slow smirk curved his lips. "Mrs. Donovan," he greeted, his tone laced with amusement. "We meet again." Ashley straightened, smoothing her blouse. "Mr. Claude," she replied evenly. His gaze lingered on her, as if searching for something beneath her calm exterior. "What a coincidence," he mused. "Or maybe not." Ashley’s fingers clenched at her sides. Was he toying with her? Or did
The car ride home was thick with tension. Alex gripped the wheel tightly, his knuckles white, while Ashley sat beside him, her face calm, expression unreadable. As soon as they stepped into the house, Alex slammed the door shut and turned to her, his gaze sharp and accusing. "What the hell was that, Ashley?" His voice was controlled, but she could hear the rage beneath it. She blinked up at him, feigning innocence. "What was what?" His jaw ticked. "Don’t play games with me. What are you trying to pull with that investor?" Ashley tilted her head slightly. "I was just being polite. Isn’t that what you wanted? For me to act as your perfect wife?" Alex scoffed, running a hand through his hair. "I don’t like the way he looked at you." "Looked at me?" She let out a small, humorless laugh. "I thought I was made for nothing, remember?" His eyes narrowed, but he didn’t take the bait. Instead, he stepped closer, his voice dropping lower. "I know what you’re doing, Ashley. What
Ashley sat gracefully, placing her hands on the table as the meeting began. If Alex thought he could rattle her by bringing Claude into this, he was mistaken. She wasn’t the same woman who had walked blindly into his games. Claude’s sharp gaze flickered toward her every so often as Alex presented their pitch. He listened, nodding at the right moments, but Ashley could tell his attention wasn’t entirely on the numbers. He was watching her, waiting to see how she would react. She gave him nothing. When Alex finished his presentation, Claude leaned back in his chair, resting his fingers against his chin. "It’s a compelling offer," he admitted. "But before I commit, I’d like to hear from Mrs. Donovan." Alex tensed beside her, and Ashley nearly smiled. Claude had just thrown her a rope, one Alex wasn’t expecting. She turned to Claude, meeting his gaze with quiet confidence. "What specifically would you like to know?" "Your perspective," Claude said smoothly. "I’ve seen companies thr
Ashley stepped out of the Donovan Enterprises building with the same composure she had maintained all morning. She was no longer the naïve housewife who cried in private while her husband paraded his mistress around. No, she was Mrs. Donovan, and today, the world was going to see her as she was me
Ashley met his gaze without hesitation. “Yes.” Alex smirked, tossing his jacket onto the couch. “Fine. Be ready tomorrow. I’ll have someone set up a desk for you.” Ashley’s heart pounded, but she didn’t let her relief show. Instead, she nodded. “Thank you.” Alex stepped closer, tilting her ch
Instead, she stood there, her expression blank, her heart steady. The betrayal no longer surprised her, it only confirmed what she already knew. For a moment, she considered announcing her presence, just to see the panic in Alex’s eyes. Just to watch him scramble for an excuse, a lie, anything.
But not this time. She needed a plan, and she needed help. The first person that came to mind was Mia. She didn’t want to involve her, but Mia had always been there, pushing her to see the truth, even when Ashley refused to listen. She picked up her phone and sent a simple message. Ashley:






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews