FAZER LOGINMata Tuan Felix sejak tadi tidak pernah benar-benar diam. Seolah-olah setiap sudut mansion itu sedang ia periksa… setiap lorong, pintu, dan bayang-bayang yang mungkin menyembunyikan seseorang. Alex sadar, karena tatapan itu terlalu jelas untuk diabaikan. Maka sebelum ada pertanyaan yang sulit di jawab, Alex sudah lebih dulu memutus arah. “Kalau ada yang ingin Ayah bahas,” ucapnya datar, “lebih baik di ruang kerjaku.” Suaranya halus, tapi tegas. Namun Tuan Felix hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah terlihat tulus. “Apa kau tidak memperbolehkan Ayahmu ini menikmati suasana mansionmu terlebih dulu, Alex?” katanya pelan. “Rasanya sudah lama sekali aku tidak berkeliling.” Tanpa menunggu jawaban, ia bangkit dan melangkah menuju taman belakang. Alex menghela napas singkat, lalu mengikuti dari belakang dengan langkah sedikit lebih cepat. Bahunya tetap tegap, tapi matanya awas, mengikuti setiap gerak lelaki itu. Ia tahu, ini bukan sekadar berjalan-jalan. Di taman, sinar mat
Koridor lantai dua masih menyimpan sisa kehangatan pagi. Bau samar teh dan roti dari ruang makan belum sepenuhnya hilang ketika Alex menutup pintu kamar Lily pelan. Ia baru saja melangkah beberapa meter, terdengar suara langkah tergesa memecah ketenangan. Sepatu Joni bergesek cepat dengan lantai marmer, napasnya sedikit terdengar berat. “Bos,” panggilnya setengah menahan suara. Alex berhenti, dan menoleh kerah Joni sesaat. “Tadi Tuan Felix telepon,” ucapnya, berusaha terdengar biasa. “Beliau sedang menuju ke sini.” Alex terdiam, rahangnya mengeras sejenak, lalu ia memalingkan wajah. “Mau apalagi dia ke sini…” gumamnya, nyaris tak terdengar. Joni mengangkat bahunya, “ya… mungkin ada hal penting yang mau dibicarain sama lo.” Alex menghela napas panjang, "dia selalu punya alasan buat dateng kesini,” ucapnya dingin. Lorong kembali sunyi, hanya suara jarum jam dari kejauhan yang terdengar. “Bos,” suara Joni melembut, jarang-jarang ia bicara seperti itu. “Bagaimanapun… Tu
Koridor menuju ruang makan dibalut cahaya keemasan dari jendela besar. Debu-debu kecil terlihat menari di udara, seolah pagi pun ikut menyambut langkah mereka. Amel berjalan sedikit di belakang Alex. Meski jarak mereka tak lebih dari satu lengan, rasanya seperti ada garis halus yang memisahkan… sekaligus menghubungkan. Sesekali Alex menoleh, memastikan langkah Amel tidak terlalu tertinggal. Ruang makan itu luas, namun tertata sederhana. Meja panjang dari kayu tua dipenuhi piring, roti hangat, selai, buah segar, omelet yang masih mengepulkan uap, tapi semuanya tampak rapi, tidak berlebihan. “Duduklah,” ujar Alex pelan. Amel menurut. Jantungnya belum mau tenang, tapi keheningan di antara mereka jauh lebih lembut dibanding sebelumnya. Alex menuangkan teh ke cangkirnya. Gerakannya tenang, lalu tanpa banyak bicara, ia juga menuangkan teh ke cangkir Amel, mendorongnya perlahan ke hadapannya. “Terima kasih,” ucap Amel. Alex hanya mengangguk kecil, kini mereka mulai sarapan. Ses
Pagi merayap masuk lewat celah tirai, menorehkan garis cahaya tipis di dinding kamar. Amel membuka mata perlahan. Untuk beberapa detik, pikirannya kosong. Lalu bau kayu menguar, hamparan karpet tebal di bawah tempat tidur, dan lemari besar berwarna gelap yang asing baginya. Itu… bukan kamarnya. Ingatan semalam datang seperti arus balik... Alex, genggamannya, langkah cepat melewati lorong… dan pintu kamar itu yang tertutup pelan. “Jadi… aku benar tidur di sini,” bisiknya. Ada sesal yang tiba-tiba mencuat. “Lily…” Bayangan anak kecil itu sendirian di kamar membuat dadanya terasa berat. Ia bangkit buru-buru. Telapak kakinya menyentuh lantai dingin, membuatnya sedikit terlonjak. Lorong Mansion itu masih sepi. Hanya bunyi jam dinding yang terdengar jelas, tik… tak… tik… tak… Seolah setiap detik ikut mengawasinya. “Alex?” panggilnya pelan. Tidak ada jawaban. Hanya udara kosong. Amel menggigit bibirnya... setengah ragu dan cemas, lalu ia melangkah menuju dapur. Bau tumis bawang dan
Si penembak di bukit masih diam. Hujan menetes dari ujung laras, waktu berjalan perlahan… namun di dalam gudang, semuanya justru terasa semakin cepat. Alex berdiri diam di tempat. Tapi matanya... untuk pertama kalinya malam itu, tidak lagi memikirkan ruangan, senjata, atau siapa yang mengkhianati. Yang muncul justru wajah Amel dan Lily. Seketika seluruh tubuhnya menegang. “Kalau mereka berani mengincar meeting sebesar ini… berarti mereka berani menyentuh hal lain juga.” Sebuah ketakutan yang jarang ia rasakan merambat naik ke dadanya. Bukan takut pada peluru. Tapi pada kemungkinan… ada seseorang yang sudah memperhitungkan segalanya. Termasuk orang-orang yang tak seharusnya tersentuh. Termasuk Mansionnya. Alex mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Tidak. Tidak boleh ada yang mendekati Mansionku, terutama mendekati mereka. Ia menoleh cepat, menatap Joni. Tapi bukan tatapan seorang bos pada anak buahnya. Lebih mirip seseorang yang sedang mempercayakan separuh hidupnya.
Ciuman itu membuat dunia seakan menghilang, tetapi justru di tengah keheningan itulah Amel tersadar, detak jantungnya bukan hanya karena rindu, tapi juga karena takut… takut kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Perlahan ia menarik wajahnya, napasnya masih tersengal. “Alex…” suaranya bergetar. “Ini… kita tidak seharusnya...” Alex terdiam. Bukan karena marah, tetapi karena ia benar-benar mendengarkan. Matanya melembut, dan cengkeramannya di bahu Amel mengendur. “Aku tidak mau kamu merasa terpaksa,” ucapnya pelan. “Kalau kamu bilang berhenti… kita berhenti.” Kalimat itu membuat Amel justru makin sulit bernapas. Ada kehangatan yang berbeda di dada... bukan hanya rindu, tapi juga rasa aman yang selama ini jarang ia dapatkan. “Aku hanya… bingung,” bisiknya jujur. “Aku takut salah. Aku takut berharap terlalu jauh.” Alex menunduk sedikit, menyamakan tinggi pandangan mereka. “Aku juga takut,” katanya. “Tapi setiap hari aku pulang… yang terlintas di pikiranku selalu kamu. Bukan sebag