로그인Belasan tahun hidupnya hanya diisi air mata dan lelah—tenaga serta uangnya habis diperas suami yang tak pernah peduli. Hingga suatu malam, ia nekat pergi membawa serta balitanya yang baru berusia tiga tahun. Tak disangka, pelariannya justru mempertemukannya dengan sekelompok gangster. Bukannya celaka, ia justru ditolong. Dan di balik tatapan dingin sang ketua geng, terselip perhatian yang sulit ia abaikan. Namun, benarkah hati wanita yang hancur itu bisa kembali percaya… bahkan pada pria yang hidup di dunia penuh bahaya?
더 보기I sat on the wooden bench of the locker room, hunched over, staring at the scarred floorboards between my skates. The air in here was a thick soup of smelling salts, stale sweat, and the sharp, chemical tang of laundry detergent that never quite got the blood out of the practice jerseys.
Around me, the rest of the Knights were a blur of shouting and high-fives. Bass-heavy rap thudded from a speaker in the corner, vibrating in my chest, but it didn't do anything to drown out the noise in my head. "Thorne! Head in the game or on the ice?" I looked up. Miller, our goalie, was staring at me while he strapped on his massive leg pads. He looked like a transformer halfway through a shift. "I'm good," I said, my voice sounding raspier than I wanted. I reached for my helmet, checking the cage for the hundredth time. "You look like shit," Miller grunted, not unkindly. "Listen, I know about the Liam thing. Everyone knows. Don't let that prick get to you today. We need you on defense, not in the penalty box because you're trying to take someone's head off. Chill. It will all pass." The 'Liam thing.' My best friend, well, former best friend and my ex, Chloe. They’d been official for three weeks. I’d found out via a tagged I*******m post that it had felt like a cross-check to the throat. Chloe didn't even break up with me officially before getting together with Liam. It was like what we had never existed. In her eyes, that is. "I'm not going to the box, Miller. I'm going to play my game," I lied. I stood up, the extra twenty pounds of gear making my movements feel heavy and deliberate. I was 6’2” and built for the defensive line, broad, solid, a wall of muscle meant to stop guys from getting anywhere near the crease. Usually, the weight of the pads made me feel invincible. Today, they just felt like lead. I started toward the tunnel, the rhythmic clack-clack-clack of skates on the rubber matting filling the hallway. That’s when I saw him. Michael Rossi was leaning against the doorframe of the visitors' locker room. He didn’t play for us. He played for the State Rebels, our biggest rivals. Our school oversees two universities: Northwood and Westwood College. Even though both are under the same administration, the tension between them is fierce. Each has its own hockey team, and the rivalry between the Northwood Knights and the Westwood Rebels isn’t just about sports, it’s personal. Recently, Westwood ran into a major problem, and the principal had no choice but to transfer all Westwood students to Northwood. That meant students from the two rival universities were now forced to share the same campus, the same classrooms, and the same corridors. Which also meant I had no choice but to breathe the same air as Michael Rossi. He was forward, a fast, flashy, bisexual superstar who lived for the camera and the highlight reels. He was also the guy who had kissed my girlfriend a year ago at a frat party. The guy who started the domino effect of my life falling apart. He was already geared up, his dark jersey making him look even broader than usual. He had a piece of gum in his mouth, chewing slowly as he watched our team file past. When I got close, his eyes locked onto mine. He didn't look away. He never looked away because it was obvious he liked challenging me. "Hey, Thorne," he said, his voice a smooth, low drawl that made my blood pressure spike instantly. I didn't stop. I didn't even want to give him the satisfaction of a glance. "Heard you're single again," Michael continued, loud enough for the guys behind me to hear. "Rough break. You’d think after the first time, you’d learn how to keep a girl’s attention. Or maybe you’re just better at playing defense than keeping what’s yours." My vision tunneled. I stopped, my skates digging into the rubber mat. I turned my head just enough to see the smug, crooked tilt of his mouth. He looked so effortless and relaxed. Like he wasn't about to go out and play a high-stakes game. "Go to hell, Rossi," I spat. "Already there, sweetheart, and I also plan to take you there with me. You don't belong to the light anyways" he winked, pushing off the wall. "See you on the ice. Try to keep up." He skated past me into the tunnel, the swagger in his stride so arrogant I could feel the heat radiating off my own skin. My heart wasn't just beating; it was thudding against my ribs like a trapped animal. I fisted my hands inside my gloves. He was right about one thing. I was a defenseman. I was supposed to be the one who didn't let anyone through. But as I stepped out onto the ice and the cold air hit my face, I realized I wasn't just playing for the win anymore. I was playing to survive the humiliation. The cold hit me the second I cleared the tunnel. It was a shock to the system, the kind that usually cleared my head, but today it just felt like it was freezing the rage into my bones. The arena was buzzing, that low, vibrating hum of a packed house on a Friday night. Blue and white jerseys in the stands, the smell of popcorn and expensive stadium beer, and the blinding white of the fresh ice reflecting off the plexiglass. I did a lap, digging my blades in hard, feeling the bite of the ice. I needed to feel the burn in my quads to distract me from the burning in my chest. As I circled back toward our bench, I looked up. It was a habit. A masochistic one. There they were. Third row, center ice. Liam was wearing his varsity jacket, my varsity jacket to be precise from sophomore year that I’d lent him and he’d never returned.Lampu jalan berderet memanjang, cahaya kuningnya memotong hujan menjadi garis-garis patah. Mobil melaju lebih stabil sekarang, tapi keheningan di dalamnya masih berat, bukan canggung, melainkan penuh sisa-sisa emosi yang belum sempat diurai. Amel menatap jari-jari mereka yang saling menggenggam. Kulitnya masih dingin, tapi tangan Alex hangat, nyata. Ia menarik napas dalam-dalam. “Kamu kelihatan… berbeda,” katanya pelan. “Seperti orang yang baru saja memutus sesuatu.” Alex tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. “Karena memang begitu.” Ia memelankan laju mobil, menepi di bawah kanopi sebuah minimarket yang sudah tutup. Mesin dimatikan. Hujan masih jatuh, tapi kini terasa jauh. Alex menoleh sepenuhnya. “Dengar,” katanya, suaranya rendah tapi mantap. “Ayahku tidak pernah benar-benar melepas apa pun. Termasuk aku. Malam ini… itu pertama kalinya aku mengambil keputusan.” Amel mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan mata Alex... lelah, tapi jujur. Ada sesuatu di sana yang belum p
Langkah kaki itu makin dekat, menggema tanpa ragu. Suara Alex memantul di dinding-dinding tinggi mansion, memecah keheningan yang selama ini berkuasa. “Di mana dia?” ulangnya, lebih keras. Ada sesuatu yang retak di balik ketegasan itu. Felix membuka pintu kamar sebelum Alex sempat mencapainya. Gerakannya tenang, terukur. Seolah ini semua sudah ia perhitungkan. Alex berhenti tepat di depan ayahnya. Dua pasang mata saling menatap. Sama-sama dingin. Sama-sama keras. Tapi hanya satu yang bergetar oleh emosi yang belum selesai. “Ayah,” kata Alex, suaranya rendah, tertahan. “Apa yang kau lakukan?” Felix melipat tangannya di dada. “Mendidikmu.” Di balik tubuh Felix, Alex melihatnya. Amel. Duduk setengah di ranjang, wajahnya pucat, rambutnya sedikit berantakan. Matanya membesar saat tatapan mereka bertemu. Bibirnya bergerak, seolah ingin memanggil namanya, tapi suaranya tertahan di tenggorokan. “Mel…” Alex melangkah maju satu langkah. Felix menggeser tubuhnya, cukup untuk menghalangi
Nama itu menggantung di udara, berat, menekan dada. Amel menatap gadis di hadapannya, napasnya memburu. “Tuan Felix…?” Ia menggeleng cepat, seolah berharap itu hanya kebetulan. “Ayahnya Alex?” Gadis itu tidak menyangkal. Ia hanya melirik jam di pergelangan tangannya. “Tuan Felix tidak suka dengan wanita sepertimu,” katanya. “Apalagi kau sudah mendekati putranya.” Amel menegakkan tubuh meski rasa pusing masih terasa di pelipisnya. “Aku tidak berusaha mendekati Alex. Aku hanya...” “tidak perlu menjelaskan padaku,” potong si gadis. Senyumnya kembali menipis. "Aku tidak peduli itu.” Ia melangkah ke meja, mengambil sesuatu dari dalam kantong belanja. Bunyi logam kecil beradu. Sebuah ponsel diletakkan di atas meja, layarnya mati. “Ponselmu,” katanya. “Sepertinya, habis batrai. Amel menelan ludah. “Aku harus menghubungi Alex.” “Tidak malam ini," katanya datar. Hening menyusup di sela detik jam. Di luar, hujan kembali terdengar, lebih deras dari sebelumnya. “Berapa lama aku di si
Mobil Alex melesat membelah malam. Di balik kaca depan, kota tampak seperti garis-garis cahaya yang kabur. Tangannya mencengkeram setir lagi, kali ini bukan marah semata, tapi sesuatu yang lebih berbahaya... panik yang ia tekan sedalam mungkin. “Mel…” desisnya. “Kamu ada dimana sekarang, aku khawatir.” *** Sementara itu, di sisi kota yang lain, hujan tipis mulai turun, jatuh beruntun di aspal dan memantul menjadi kilau samar di bawah lampu jalan. Seorang gadis cantik berdiri di bawah kanopi minimarket yang hampir tutup. Ia berdiri sedikit menepi, seolah takut menghalangi jalan, bahunya condong ke depan menahan dingin. Jaket tipis yang ia kenakan sudah basah di bagian bahu dan lengan. Setiap kali angin berembus, kain itu menempel di kulitnya. Pandangan gadis itu menyusuri jalan di depannya, lampu mobil yang lewat, genangan air, bayangan orang-orang yang bergegas pulang. Kakinya melangkah setengah inci ke depan, lalu berhenti lagi. Tangannya mengepal, kemudian mengendur. Anta
Aroma mentega dan keju memenuhi dapur mansion, bercampur dengan suara wajan yang beradu dan pisau yang mengetuk talenan. Api kompor menyala berderet, membuat ruangan terasa hangat meski malam mulai turun. Debora berdiri di samping Amel, matanya tajam mengamati setiap gerakan tangan Amel. Sendok
Alex dan Joni baru saja melangkah masuk ke dalam markas Blood Brothers. Pintu dibuka dengan dorongan keras, membuat suara benturannya menggema di ruangan luas itu. Alex masuk lebih dulu dengan langkah cepat, rahangnya mengeras, sorot matanya tajam. Joni mengikuti di belakang, napasnya sedikit ter
Di markas Black Dragon, Martin duduk membelakangi jendela besar. Asap rokok menggantung di udara. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja kayu mahoni... pelan. Di layar laptop terbuka beberapa nama dan foto, satu per satu sudah diberi tanda silang merah. Tapi satu nama masih bersih. Marco Santori. Pintu
Maria tersenyum lagi, kali ini lebih yakin. “Memang seperti itu yang aku lihat,” katanya pelan. Amel tidak langsung menjawab. Ia terdiam, pandangannya turun ke piring cheesecake di depannya. Pikirannya melayang. Ia mengingat cara Alex menatapnya, sentuhan-tangan kecil yang selalu berhenti sebel
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰더 하기