LOGINElena diminta untuk menikah dengan Alaric, ketua mafia Black Hold yang terkesan berdarah dingin. Permintaan itu disampaikan langsung oleh Vanessa, istri Alaric yang tengah sekarat di ranjang rumah sakit setelah melahirkan putra mereka. Alaric tidak bisa menolak. Ia menikahi Elena tanpa cinta dan sangat enggan untuk menyentuhnya. Ia bahkan tidak ingin tidur di ranjang yang sama. Alaric menikahi Elena hanya karena permintaan mendiang istrinya, juga sebagai ibu sambung bagi putranya yang sudah menjadi piatu di hari pertama ia dilahirkan. Elena berusaha untuk merebut hati suaminya, tapi satu kesalahan besar membuat Alaric begitu murka dan mengurungnya di ruang bawah tanah. Ia lalai menjaga Daryl, si bayi kecil yang membuatnya terjatuh dari ranjang. Alaric ingin sekali menghabisi Elena karena telah membuat anaknya hampir meregang nyawa, tapi mengingat wasiat istrinya, keinginan itu langsung ia urungkan. Sesekali Elena diberi siksaan agar ia selalu menyesal atas kelalaian yang sudah ia lakukan. Hingga suatu hari Alaric kembali memenjarakan seseorang, pria yang merupakan orang kepercayaannya, tapi terbukti berkhianat. Ia memenjarakan pria itu di ruangan yang sama dengan Elena. Meminta agar pria itu menghamili Elena, sebab ia ingin balas dendam dengan membunuh bayi yang lahir dari rahim Elena sebagai bentuk pelampiasan amarahnya. Namun, apa jadinya ketika pria itu dan Elena malah saling jatuh cinta dan mencari cara agar bisa keluar dari kurungan untuk hidup bersama dengan penuh cinta?
View More“Tuan, istri Anda sedang dilarikan ke rumah sakit karena pendarahan.” Suara dari dalam ponsel membuat Alaric terbelalak. Ia lekas berlari keluar dari ruangan, tempat di mana sebentar lagi akan diadakan rapat besar. Tidak ada hal yang lebih penting baginya daripada wanita yang begitu ia cintai, wanita yang ia nikahi satu tahun lalu.
“Batalkan semua pertemuan, saya harus ke rumah sakit sekarang!” Alaric memberikan perintah pada kaki tangannya. Lelaki berhidung mancung itu sangat gelisah, tapi masih bisa ia tutupi dengan kewibawaan yang ia miliki. Kaki jenjangnya melangkah melewati lorong demi lorong, sementara anak buahnya mengekor di belakang. Mobil civic telah menunggu di depan pintu saat Alaric tiba di luar gedung. Ia lekas masuk dan meminta agar sang supir lekas menancap gas menuju rumah sakit di mana istrinya tengah berada. Lelaki itu tampak tenang, tapi sesungguhnya hatinya kini tengah bergenderang. Ia tidak ingin melewatkan satu detik pun rasa sakit yang dialami oleh istrinya di saat melahirkan. “Di depan ada macet, Tuan.” Sang supir berucap setelah melihat g****e maps untuk mencari jalan pintas agar bisa memangkas waktu menuju rumah sakit. Alaric berdecak dengan kesal, di saat genting begini ia harus dipersulit dengan jalanan yang padat dan macet. Tanpa berucap apa pun, Alaric lekas turun dari mobil. Lelaki itu lebih memilih untuk berlari agar lekas sampai dibanding harus menunggu jalanan kembali bisa dilalui. Beberapa saat kemudian sebuah helikopter terbang di atas jalanan yang tengah terjebak macet. Dari atas sana mereka mencari-cari keberadaan bos besar mereka yang tengah berlari menuju rumah sakit yang jaraknya masih puluhan kilometer dari sana. Saat menemukan Alaric, mereka menurunkan tangga dan memanggil menggunakan pengeras suara. Mereka tidak bisa menerbangkan heli dengan jarak yang lebih rendah lagi, sebab angin yang diciptakan oleh baling-baling bisa mengacaukan lingkungan sekitar. “Tuan, silakan raih tangganya! Kami akan mengantarmu menuju rumah sakit!” Suara lelaki itu menggelegar di antara hiruk-pikuknya jalanan yang macet. Alaric berhenti berlari. Ia mendongak, menatap tangga yang tergantung dan melambai-lambai di atasnya. Hanya dengan satu kali lompatan, ia langsung meraih tangga itu. Helikopter kembali melaju, sementara Alaric terombang-ambing di udara seraya terus melangkah melewati anak-anak tangga hingga ia tiba di atas sana. “Felix memberitahu jika jalanan macet dan ia terkurung di jalanan, jadi kami langsung melesat untuk mencarimu, Tuan.” Lelaki yang tengah mengendarai helikopter itu berucap pada Alaric. Hal yang harus ia syukuri, sebab memiliki anak buah yang begitu setia. Sehingga langsung bertindak tanpa harus diberi arahan dan perintah terlebih dahulu. Alaric menatap dengan dingin ke arah bawah sana. Hatinya tidak bisa tenang sebelum ia mendapat kabar jika istrinya baik-baik saja. Mendengar terjadinya pendarahan, ia langsung berpikir jika ini terjadi karena kelalaian para pelayan. Istrinya selalu diberi kecukupan, selalu dilimpahi kebahagiaan, kehamilannya begitu terjaga. Bagaimana mungkin ia bisa pendarahan, sementara saat ia tinggal pagi tadi, wanita itu tampak baik-baik saja. Dokter bahkan berkata kelahiran bayinya masih minggu depan. Setelah terbang cukup lama, akhirnya mereka tidak di tempat tujuan. Di dekat rumah sakit ada lapangan kosong yang bisa dijadikan tempat untuk parkir helikopter. Setelah mendarat, Alaric lekas turun dan berlari menuju rumah sakit untuk mencari istrinya. Di depan pintu masuk rumah sakit ada beberapa pengawal yang tengah berjaga. Salah satu dari mereka langsung memandu Alaric menuju ruang tempat di mana Vanessa tengah mengundi nyawa. Ia tampak kesulitan dalam melahirkan. Alaric masuk menerobos begitu saja, tidak menghiraukan larangan para petugas agar ia tidak mengganggu proses persalinan. “Lakukan yang terbaik atau nyawamu yang akan menjadi taruhan!” Alaric mengancam dokter yang tengah menangani Vanessa dengan menyodorkan pisau tepat di pinggangnya. Membuat dokter itu menjadi gugup karena merasa takut. “Sakit!” Vanessa berteriak untuk meluapkan rasa sakit. Alaric lekas menyembunyikan pisau di balik bajunya, lalu mendatangi Vanessa untuk memberikan kekuatan. Ia genggam tangan Vanessa yang terasa dingin dan basah. Ia kecup kening yang dipenuhi dengan keringat itu. “Bertahanlah, Sayang.” Alaric berbisik dengan lembut. “Aku sudah tidak tahan!” Vanessa terus saja berteriak kesakitan. Alaric tidak tahan melihat istrinya yang terus mengeluhkan rasa sakit, sementara dokter hanya memberi instruksi agar ia menghela napas dengan benar. “Kalian bisa bekerja dengan baik tidak?!” Makian Alaric memenuhi seisi ruangan. Bahkan teriakan Vanessa habis dilahap oleh teriakannya. Membuat seluruh petugas yang ada di sana menjadi ketakutan, apalagi sejak awal mereka sudah tahu siapa wanita yang tengah mereka tangani. Sebab, sejak datang tadi, ada banyak orang yang mengurus persalinannya. Apalagi di ruang persalinan ada beberapa orang yang tengah mengawal. Mereka jadi gemetar, takut jika salah dalam bertindak. Setelah berjuang cukup lama, akhirnya terdengar tangis bayi yang menggelegar di dalam ruangan. Tangis itu membuat senyum terukir dengan indah di bibir Vanessa yang terlihat begitu pucat. “Terima kasih.” Alaric mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang. Ia sangat senang, sebab istrinya telah memberikan ia seorang putra yang begitu tampan. “Aku ingin bertemu Elena.” Vanessa meminta dengan suaranya yang lemah. Alaric lekas memerintah bawahannya agar mereka membawa Elena ke sana. Bayi mungil itu dimandikan sebelum diberikan pada Alaric yang sudah menunggu sejak tadi. Lelaki itu sudah tidak sabar untuk menggendong dan memeluk buah cintanya bersama sang istri tercinta. “Sayang.” Vanessa memanggil suaminya dengan lemah, ia berusaha menggapai-gapai lelaki itu dengan sisa tenaga yang ada. Alaric memberikan wajahnya untuk dibelai oleh Vanessa. Belaian lembut dari wanita itu membuat hatinya semakin hangat. Sesungguhnya sekarang ia begitu emosional, ia ingin menangis karena terlalu bahagia setelah resmi menjadi seorang ayah untuk putra yang sudah mereka nanti kehadirannya. “Waktuku sudah tidak lama.” Vanessa berucap seolah ia tahu kapan ia akan mati. “Jangan bicara seperti itu, kita akan hidup hingga anak cucu kita bahagia nanti.” Alaric membalas belaian istrinya. Ia ciumi wajah sang istri dengan penuh kasih. “Ini bayinya, Tuan, Nyonya.” Petugas memberikan bayi mungil itu pada mereka. Vanessa mendekap bayinya dengan penuh kasih, Alaric ikut memberikan dekapan pada anak dan istrinya. Tangis bayi itu membuat suasana haru semakin terasa. “Permisi, Tuan, Nyonya, apa yang bisa saya lakukan?” Elena yang tadi ditunggu akhirnya tiba juga. Vanessa mendongak, ia tersenyum menatap pelayan yang paling ia percaya itu. “Mendekatlah!” Vanessa berucap dengan sangat lemah. Semakin lama, tenaganya semakin berkurang. Elena mendekat dengan ragu. Ia berjalan dengan menunduk, sebab takut pada tuannya yang terkenal sangat kejam itu. Bayi mungil yang ada dalam dekapan Vanessa, ia serahkan agar digendong oleh Elena. Hal itu membuat Alaric protes karena ia tidak ingin ada campur tangan orang lain yang mengurus bayinya yang masih begitu kecil. Tangis yang tadi menggelegar, kini terhenti setelah bayi itu berada dalam pelukan Elena. Hal itu membuat Vanessa semakin yakin dengan pilihannya. “Menikahlah dengan suamiku!” Vanessa meminta dengan penuh harap. Membuat Alaric dan Elena terbelalak tidak percaya dengan saling tatap.Menjelang siang Felix datang dengan menenteng ransel hitam. Ada dua koper dan beberapa dus berisi barang yang tergeletak di ruang depan. Elena dan Alaric telah siap untuk berangkat. Resni akan ikut bersama mereka. Sementara Dion akan tinggal untuk mengurus bisnis yang ada di Jakarta.Semuanya tengah makan siang saat Felix masuk begitu saja, ia ikut bergabung di meja makan. Melahap hidangan yang sudah tersedia. Pesawat akan berangkat sore nanti, jadi mereka masih ada waktu untuk berleha-leha meski hanya sebentar saja.“Kita akan ke mana?” Elena bertanya di sela ia melahap makanan. Ia menatap sang suami dengan sorot tanya. Mereka akan berangkat, dan ia belum tahu ke mana mereka akan pergi.Alaric terdiam sejenak, menghabiskan makanan yang ada di mulutnya.“Ke tempat di mana orang tidak akan ada yang mengenal kita.” Lelaki itu menjawab beberapa saat kemudian.“Luar kota?” Elena menebak, alis kanannya terangkat saat menyorot Alaric.“Luar negeri.” Alaric langsung menjawab rasa penasaran E
Elena tengah bermain bersama Daryl di halaman. Kaki Daryl terlihat semakin kuat dalam berjalan. Anak kecil itu sudah mulai bisa berlari meski sesekali ia terjatuh dan bangkit lagi tanpa ada tangis. Elena merasa sangat senang, sebab ia bisa membesarkan anak dengan sangat baik.Seorang lelaki berjalan memasuki area rumah. Ia mengenakan jaket hitam dengan topi yang melekat di kepala, juga masker yang menutupi sebagian area wajah.Elena berhenti bermain, ia membawa Daryl ke dalam gendongan, lalu menatap sosok lelaki itu dengan sangat dalam.“Ada yang bisa saya bantu?” Elena bertanya dengan bingung saat lelaki itu berhenti tepat di hadapannya.Sejenak tidak ada percakapan. Elena menatap dengan sangat serius, sementara lelaki itu hanya diam. Mereka saling tatap dalam sejenak.Lelaki itu membuka topi beberapa saat kemudian, juga membuka masker yang menutupi wajahnya. Sejenak Elena terdiam menatap wajah yang bisa ia lihat dengan sangat jelas. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Dadanya b
Elena terdiam saat di hadapannya berdiri sosok sang mantan adik ipar. Gadis itu menatap dengan sorot penuh rasa bersalah. Ia datang bersama Felix.Elena hanya diam menatap. Tidak bertanya apa pun. Ia biarkan gadis itu dengan sendirinya mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke sana. Di manik mata gadis itu tersorot rasa penyesalan yang teramat besar. Rasa penyesalan yang membuatnya kehilangan sosok kakak yang begitu ia sayang. Terlebih ia tahu hari ini Alaric telah dieksekusi mati setelah dikurung dua bulan lebih.Tergolong cepat mendapatkan keadilan dibanding tahanan yang lain. Biasanya para pidana hukuman mati akan dikurung selama tahunan, berdebar ketakutan menunggu hari kematian. Namun, berbeda dengan Alaric yang hanya hitungan bulan.“Maaf.” Viona berucap dengan lemah. Ia menyesal telah melaporkan Alaric ke kantor polisi setelah ia mendengar penjelasan dari Felix.Elena menghela napas dengan berat.“Maaf untuk apa?” Elena bertanya dengan sorot penuh tanya.“Karena aku telah sal
Elena tengah bermain bersama Daryl dengan televisi menyala. Ia tidak fokus pada layar kaca, televisi dinyalakan hanya untuk membuat keramaian agar tidak terlalu sunyi saja. Sebab, Dion tengah pergi ke kantor polisi. Sementara Resni tengah berbelanja ke pasar.Elena tersenyum pada putranya yang sudah mulai banyak kebisaan. Namun, dalam hati tetap saja ia merasa ada yang kurang, sebab suaminya hingga kini belum ada kabar. Ia sangat rindu, juga khawatir yang bercampur menjadi satu.Fokus Elena teralihkan saat televisi menayangkan suaminya secara langsung dalam konferensi pers. Sidang untuk Alaric dilakukan secara tertutup, jadi tidak ada wartawan yang bisa meliput. Namun, hari ini hasil sidang dipublikasi.Jantung Elena seolah berhenti berdetak saat ia mendengar keputusan hakim yang mengatakan bahwa Alaric akan dihukum mati dengan cara ditembak. Hukumannya akan dilakukan di depan umum, jadi terbuka untuk siapa saja yang ingin melihat eksekusi Alaric.Wajah Elena memucat, dadanya terasa b
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.