Home / Mafia / SUAMIKU MANTAN GENGSTER / 91. Teringat masalalu

Share

91. Teringat masalalu

Author: DOMINO
last update Last Updated: 2026-01-04 06:53:52
Koridor lantai dua masih menyimpan sisa kehangatan pagi. Bau samar teh dan roti dari ruang makan belum sepenuhnya hilang ketika Alex menutup pintu kamar Lily pelan.

Ia baru saja melangkah beberapa meter, terdengar suara langkah tergesa memecah ketenangan. Sepatu Joni bergesek cepat dengan lantai marmer, napasnya sedikit terdengar berat.

“Bos,” panggilnya setengah menahan suara.

Alex berhenti, dan menoleh kerah Joni sesaat.

“Tadi Tuan Felix telepon,” ucapnya, berusaha terdengar biasa. “Beliau sedang menuju ke sini.”

Alex terdiam, rahangnya mengeras sejenak, lalu ia memalingkan wajah.

“Mau apalagi dia ke sini…” gumamnya, nyaris tak terdengar.

Joni mengangkat bahunya, “ya… mungkin ada hal penting yang mau dibicarain sama lo.”

Alex menghela napas panjang, "dia selalu punya alasan buat dateng kesini,” ucapnya dingin.

Lorong kembali sunyi, hanya suara jarum jam dari kejauhan yang terdengar.

“Bos,” suara Joni melembut, jarang-jarang ia bicara seperti itu. “Bagaimanapun… Tu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   95. Harus di lindungi

    Di ruang kerja Alex. Keheningan kembali turun, tatapan Alex dan Tuan Felix bertemu. Tak ada yang mau mengalah. “Ayah…” suara Alex akhirnya terdengar pelan, namun tegas. “Jangan bawa urusan pribadi ke dalam bisnis.” Senyum tipis kembali muncul di bibir Tuan Felix. “Jadi memang ada,” gumamnya nyaris tak terdengar. “Seorang wanita.” Alex terdiam, sekali lagi ia memilih diam. Namun diamnya itulah jawaban paling jelas. Tuan Felix kini berjalan perlahan mengelilingi ruangan. Jemarinya menyusuri punggung kursi, tepi meja, hingga ke bingkai foto di sudut ruangan. Ia sedang berpikir sejenak. “Selama ini Aku tidak pernah peduli pada siapa pun yang ada di sekitarmu,” lanjutnya pelan. “Karena Aku tahu, pada akhirnya… mereka semua tidak akan bertahan lama.” Alex mengepalkan tangan sedikit lebih kuat. “Tapi kali ini berbeda,” suara Tuan Felix terdengar lebih dalam. “Anak buahku melihat ada wanita dan seorang anak kecil di mansion-mu.” Jantung Alex berdegup sedikit lebih keras. Namun wa

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   94. Ketakutan Beni

    Rumah megah itu dipenuhi barang-barang mahal yang berkilau di bawah lampu kristal. Di kursi kulit yang tampak dingin dan mahal, seorang pria berjas duduk santai. Jemarinya menggenggam rokok yang perlahan mengepulkan asap tipis, sementara sudut bibirnya terangkat, senyum kecil yang menyimpan rencana. Langkah sepatu terdengar mendekat. “Maaf, Tuan,” ucap salah satu anak buahnya dengan kepala sedikit menunduk. “Saya sudah menghubungi anak buah Blood Brothers. Pertemuan ulang dijadwalkan lusa.” Pria itu hanya mengangguk ringan. “Baik. Kau boleh pergi.” Begitu anak buahnya menjauh, matanya kembali menatap kosong ke depan. Aku harus bisa mendapatkan kerja sama itu. Bisnis ini… harus jadi milikku. Ponselnya berdering, memotong keheningan ruangan. Tanpa ragu ia mengangkatnya. “Ada apa? Kau ingin berubah pikiran?” suaranya terdengar datar namun tajam. “Maaf, Martin. Aku sudah bekerja sama dengan seseorang yang lebih profesional dari kelompokmu.” Nada di seberang berubah panik.

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   93. Membuat Alex kesal

    Langkah Tuan Felix menyusuri koridor menuju ruang kerja Alex tampak santai… namun matanya tidak pernah berhenti bergerak. Setiap sudut diperhatikannya. Bahkan pelayan yang lewat sambil menunduk pun di perhatikan dari ujung kepala hingga kaki. Ada seseorang yang ia cari. Sesekali, kepalanya menoleh ke lantai dua. Menyapu deretan pintu kamar, termasuk kamar tempat Amel berada... seolah berharap ada pintu yang tiba-tiba terbuka. Alex berjalan setengah langkah lebih maju di depannya. Sampai akhirnya mereka tiba di depan pintu ruang kerja. Alex membukanya, memberi isyarat agar ayahnya masuk terlebih dahulu. Namun sebelum melangkah, Tuan Felix kembali melirik ke atas. Ke arah koridor kamar tamu. Ke arah kemungkinan dia akan menangkap bayangan seorang wanita yang selama ini bersembunyi darinya. Tapi tak ada siapa-siapa, hanya kesunyian. Tuan Felix akhirnya masuk. Pintu ditutup perlahan. *** Sementara itu… Di kamar lantai dua, Amel yang baru saja selesai memandikan Lily berniat keluar

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   92. Berdebar dan panik

    Mata Tuan Felix sejak tadi tidak pernah benar-benar diam. Seolah-olah setiap sudut mansion itu sedang ia periksa… setiap lorong, pintu, dan bayang-bayang yang mungkin menyembunyikan seseorang. Alex sadar, karena tatapan itu terlalu jelas untuk diabaikan. Maka sebelum ada pertanyaan yang sulit di jawab, Alex sudah lebih dulu memutus arah. “Kalau ada yang ingin Ayah bahas,” ucapnya datar, “lebih baik di ruang kerjaku.” Suaranya halus, tapi tegas. Namun Tuan Felix hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah terlihat tulus. “Apa kau tidak memperbolehkan Ayahmu ini menikmati suasana mansionmu terlebih dulu, Alex?” katanya pelan. “Rasanya sudah lama sekali aku tidak berkeliling.” Tanpa menunggu jawaban, ia bangkit dan melangkah menuju taman belakang. Alex menghela napas singkat, lalu mengikuti dari belakang dengan langkah sedikit lebih cepat. Bahunya tetap tegap, tapi matanya awas, mengikuti setiap gerak lelaki itu. Ia tahu, ini bukan sekadar berjalan-jalan. Di taman, sinar mat

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   91. Teringat masalalu

    Koridor lantai dua masih menyimpan sisa kehangatan pagi. Bau samar teh dan roti dari ruang makan belum sepenuhnya hilang ketika Alex menutup pintu kamar Lily pelan. Ia baru saja melangkah beberapa meter, terdengar suara langkah tergesa memecah ketenangan. Sepatu Joni bergesek cepat dengan lantai marmer, napasnya sedikit terdengar berat. “Bos,” panggilnya setengah menahan suara. Alex berhenti, dan menoleh kerah Joni sesaat. “Tadi Tuan Felix telepon,” ucapnya, berusaha terdengar biasa. “Beliau sedang menuju ke sini.” Alex terdiam, rahangnya mengeras sejenak, lalu ia memalingkan wajah. “Mau apalagi dia ke sini…” gumamnya, nyaris tak terdengar. Joni mengangkat bahunya, “ya… mungkin ada hal penting yang mau dibicarain sama lo.” Alex menghela napas panjang, "dia selalu punya alasan buat dateng kesini,” ucapnya dingin. Lorong kembali sunyi, hanya suara jarum jam dari kejauhan yang terdengar. “Bos,” suara Joni melembut, jarang-jarang ia bicara seperti itu. “Bagaimanapun… Tu

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   90. Sebuah keyakinan

    Koridor menuju ruang makan dibalut cahaya keemasan dari jendela besar. Debu-debu kecil terlihat menari di udara, seolah pagi pun ikut menyambut langkah mereka. Amel berjalan sedikit di belakang Alex. Meski jarak mereka tak lebih dari satu lengan, rasanya seperti ada garis halus yang memisahkan… sekaligus menghubungkan. Sesekali Alex menoleh, memastikan langkah Amel tidak terlalu tertinggal. Ruang makan itu luas, namun tertata sederhana. Meja panjang dari kayu tua dipenuhi piring, roti hangat, selai, buah segar, omelet yang masih mengepulkan uap, tapi semuanya tampak rapi, tidak berlebihan. “Duduklah,” ujar Alex pelan. Amel menurut. Jantungnya belum mau tenang, tapi keheningan di antara mereka jauh lebih lembut dibanding sebelumnya. Alex menuangkan teh ke cangkirnya. Gerakannya tenang, lalu tanpa banyak bicara, ia juga menuangkan teh ke cangkir Amel, mendorongnya perlahan ke hadapannya. “Terima kasih,” ucap Amel. Alex hanya mengangguk kecil, kini mereka mulai sarapan. Ses

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status