Share

Bab 4

Author: Mugi
(Sudut Pandang Orang Ketiga)

Luka Nadin tidak parah, hanya goresan tipis di kakinya, namun cukup membuat tiga pria itu panik setengah mati.

Begitu mendengar Dito mengurung Nadia, sudut bibir Nadin terangkat membentuk lengkung senang.

Ia menggoyang lengan Ayah dengan manja, "Aku nggak apa-apa kok, besok bisa pergi liburan bersama Rian. Ayah kan sudah janji?"

Ayah tak kuasa menolaknya, akhirnya setuju dengan penuh sayang.

Melihat Ayah melunak, Nadin melanjutkan, "Barang bawaanku belum selesai dibereskan. Kebetulan kalian semua ada di sini, bantu aku lihat pakaian dan perhiasan mana yang cocok."

Pengasuh menata satu per satu pakaian dan perhiasan Nadin. Ia memegang kalung berlian, lalu mengambil anting mutiara.

"Ini hadiah ulang tahun dari Kakak, harus kubawa. Ini yang Ayah pilihkan sendiri untukku, juga harus dibawa ...."

Melihat lima atau enam koper besar di hadapannya, dan Nadin jelas berniat mengisinya sampai penuh. Rian mulai pusing dan mengingatkan,

"Nadin, kita pergi liburan nggak butuh berlian, mutiara, dan gaun semewah ini. Membawa begitu banyak pakaian hanya akan memberatkanmu."

Nadin tampak bingung.

"Tapi semua ini penting bagiku. Aku mau memotret banyak foto cantik agar semua orang iri padaku, nggak boleh ada yang tertinggal."

Ayah menguap lalu berkata,

"Nadin, Rian ada benarnya. Pilih saja perhiasan yang kamu suka, sisanya nggak akan hilang begitu saja."

Dito ikut menimpali,

"Nurut ya Nadin. Tunggu kamu pulang, Kakak belikan tas dan perhiasan baru."

Namun Nadin mendadak kesal.

"Aku sudah bilang mau bawa pengawal, kalian pada nggak setuju. Bahkan barang yang kusukai pun nggak boleh kubawa sekarang. Kalau begitu, apa artiya pergi liburan?"

Rian mengernyit.

"Emangnya nggak bisa pergi liburan kalau nggak ada perhiasan? Nadia suka liburan, tetapi dia hanya membawa satu ransel lalu berangkat, nggak pernah seribet ini."

Begitu kalimat itu keluar, suasana kembali hening.

Karena mereka tidak pernah membelikan tas dan perhiasan model terbaru untuk Nadia.

Nadin membelalakkan mata tak percaya.

"Rian, kamu merasa aku ribet?"

Rian terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah Dito.

"Dito, Nadia masih belum pulang?"

Rian tidak ada ditempat saat Dito mengurung Nadia di restoran.

"Aku menguncinya di restoran untuk memberinya pelajaran." kata Dito sambil melirik jam.

"Dua jam lagi akan ada orang yang membukakan pintu. Dia akan pulang sendiri."

Rian menatap sup makanan laut yang baru dihidangkan pelayan, lalu tiba-tiba teringat sesuatu.

"Nadia alergi makanan laut. Kamu ada tinggalkan obat alergi untuk dia nggak?"

Dito tertegun.

"Aku buru-buru membawa Nadin ke rumah sakit ... lupa soal itu ...."

Ayah langsung berdiri.

"Sekarang kita jemput dia, nggak akan terjadi apa-apa."

Melihat seluruh perhatian keluarga yang awalnya masih tertuju padanya kini bergeser, Nadin mulai kehilangan kendali.

"Kalian ngomong apa sih?! Aku dan Nadia itu kembar! Aku nggak alergi makanan laut, mana mungkin dia bakal alergi? Itu pasti cuma akalnya untuk menarik perhatian kalian!"

Rian segera menyuruh pelayan menyiapkan obat alergi.

"Nadin, kamu beres-beres dulu. Aku pergi pastikan Nadia baik-baik saja, baru balik membantumu cek apa ada barang yang tertinggal."

Nadin menjerit,

"Ayah! Kakak! Lihat Rian kok begitu!"

Wajah Dito menggelap.

"Nadin, kami hanya pergi pastikan Nadia baik-baik saja. Sudah cukup banyak waktu kami menemanimu. Pulang pergi ke restoran nggak sampai satu jam, jangan bersikap kekanak-kanakan."

Ayah juga mengangguk setuju.

Nadin langsung menarik Dito dan tidak mau melepaskan.

"Kalian semua bohong! Kalian bilang aku putri kecil terpenting di keluarga, tapi sekarang nggak ada yang peduli padaku!"

"Apa kalian mau mengingkari janji demi anak sial itu? Kalaupun dia benar-benar alergi, dia juga bukan orang mati, masa nggak bisa mencari obat sendiri?!"

Karena panik, ia lupa dengan sikap lembut yang biasa ia tampilkan.

Rian langsung terkejut.

"Nadin, Nadia itu adik kandungmu, dan pacarku. Dia bukan ‘anak sial’!"

Setelah itu, ketiganya naik mobil dan melaju cepat menuju restoran.

Karena histeria Nadin, suasana di dalam mobil menjadi canggung.

Dito tiba-tiba berkata,

"Nadia jarang sakit sejak kecil. Mungkin Nadin benar, dia sebenarnya nggak alergi, hanya ingin membuat kita merasa bersalah."

Ia merendahkan suara, bergumam pada diri sendiri,

"Kalau kali ini Nadia baik-baik saja, aku akan memberinya hadiah ulang tahun juga."

Ayah menyandarkan kepala ke kursi dan mengangguk pelan.

Rian tidak berkata apa-apa, hanya mengemudi semakin cepat.

Namun ketika mereka tiba di depan restoran tempat pesta semalam.

Mereka melihat kerumunan orang berbisik-bisik. Seorang pelayan yang tajam mata mengenali Dito dan bergegas menghampiri, menyerahkan selembar kertas yang kusut.

"Tuan Rian, apa wanita yang didiagnosis menderita kanker stadium akhir ini anggota keluarga Anda? Dia meninggal pagi ini."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Aku Sekarat, Keluargaku Hancur Bersamaku   Bab 10

    Dito membaca tulisan di atas, "Surat perjanjian pemutusan hubungan? Nadia, kamu masih belum memaafkan kami ....""Mengapa aku harus memaafkan kalian?"Tatapan dinginku melintas pada setiap orang di sana, "Kalian punya hak apa untuk meminta memaafkanku?""Saat kalian memukuli dan menghinaku, mengurungku, dan hampir membunuhku. Pernahkah kalian berpikir untuk meminta memaafkan dariku?!""Baik kalian tanda tangan atau nggak, akan kuanggap kalian sudah mati. Jika kalian berani menggangguku lagi di masa depan, aku bersumpah, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat Keluarga Yanuar dan Keluarga Pratama nggak memiliki kehidupan yang baik."Dengan identitas dan posisiku yang sekarang, aku bisa melakukannya.Aku adalah orang yang sudah mati sekali, tentu saja tidak akan melangkah masuk ke villa ini tanpa persiapan.Keadaan ekonomi Keluarga Yanuar dan Pratama sedang buruk. Nadin telah membuat kedua keluarga itu tak pernah tenang dengan ulahnya sendiri.Tiga tahun sudah cukup untuk menghabis

  • Saat Aku Sekarat, Keluargaku Hancur Bersamaku   Bab 9

    Di vila Keluarga Yanuar.Rambut Ayah beruban, tubuhnya membungkuk, seperti ia menua dua puluh tahun dalam sekejap.Kakakku yang dulunya berpostur kekar kini tampak kurus. Matanya cekung, seolah-olah ia sudah lama tidak tidur nyenyak.Rian entah kenapa juga ada di sini.Ketiganya sangat terkejut melihatku. Mundur dua langkah dan menggosok mata mereka, masih tidak percaya.Rian adalah yang pertama bereaksi, melangkah maju dan menarik tanganku. Melihat tanda lahir di pergelangan tanganku, ia terisak, "Nadia, benar-benar kamu!""Kamu ternyata masih hidup! Aku tahu kamu nggak akan tega meninggalkanku.""Mengapa kamu nggak pulang? Kamu pergi ke mana selama tiga tahun ini? Aku sangat merindukanmu ...."Dito melangkah dua langkah ke depan, matanya memerah, "Nadia, kami sangat senang kamu bisa pulang.""Kami selalu memikirkanmu selama tiga tahun ini. Mengapa kamu nggak pulang? Tahukah kamu berapa banyak air mata yang telah kami tumpahkan untukmu? Ayah bahkan dirawat di rumah sakit selama seteng

  • Saat Aku Sekarat, Keluargaku Hancur Bersamaku   Bab 8

    Tiga tahun kemudian.Gedung Opera Negara Cimeron.Saat juri mengumumkan pemenang medali emas adalah Nadia, aku dan Gita berpelukan dengan gembira, air mata mengalir di wajah kami.Hanya aku yang tahu kepahitan dan rasa sakit selama tiga tahun ini.Ketika pertama kali ke luar negeri, meski Gita telah mencarikan dokter terbaik untukku, mengalahkan kanker tetap bukanlah hal yang mudah.Aku ingin secepat mungkin kembali ke panggung, jadi aku melakukan semua pengobatan dengan tekun, bahkan mencoba banyak obat kanker baru.Efek samping obat-obatan tampak jelas di tubuhku.Aku mulai bertambah berat badan, rambut rontok, dan kehilangan napsu makan.Saat terburuk, aku terbaring di tempat tidur hampir sepuluh hari tanpa sadar dan tubuhku dipenuhi berbagai selang.Saat itu, kami semua mengira aku tidak akan melewatinya.Tapi aku terbangun.Sejak saat itu, kondisiku membaik hari demi hari.Hingga aku melangkah kembali ke ruang latihan tari.Aku masih merasa tidak percaya.Kata-kata dokter masih te

  • Saat Aku Sekarat, Keluargaku Hancur Bersamaku   Bab 7

    (Sudut Pandang Nadia)Aku baru mengetahui semua kekacauan dalam keluargaku setelahnya.Karena aku sebenarnya tidak mati.Aku diselamatkan oleh Gita, putri pemilik restoran.Gita membawaku ke rumah sakit ketika aku hampir meninggal dan membantuku mengurus pemakaman untuk menghadapi Keluarga Yanuar.Aku menginap di rumah sakit selama tujuh hari penuh sebelum akhirnya pulih."Nona Nadia, kondisi penyakit Anda sangat khusus. Selama Anda mau bekerja sama untuk pengobatan, ada kemungkinan kecil untuk sembuh ...."Suara dokter terdengar bersemangat, namun aku memotongnya, "Terima kasih, Dok, tapi nggak perlu lagi."Aku selalu sial, kemungkinan kecil untuk sembuh bagiku sama saja dengan nol.Aku tidak punya teman, bahkan keluarga dan orang yang kucintai pun membenciku dan meninggalkanku.Semua ketidakadilan, pengkhianatan, dan rasa sakit yang menyakiti akan selamanya tetap ada dalam diriku, tidak akan pernah hilang.Aku sama sekali tidak memiliki keterikatan lagi dengan dunia ini.Aku sudah cu

  • Saat Aku Sekarat, Keluargaku Hancur Bersamaku   Bab 6

    (Sudut Pandang Orang Ketiga)"Aku nggak percaya! Aku bahkan belum pernah melihat Nadia mengenakan gaun pengantin. Dia begitu mencintaiku, mana mungkin dia pergi meninggalkanku begitu saja?!"Suara Rian serak. Dia mencengkeram kerah Dito dan bertanya dengan marah, "Mengapa kau mengurungnya di restoran semalaman?!""Apa kau nggak tahu dia sedang sakit? Nadia itu adik kandungmu sendiri!"Kemarahan dan penyesalan yang tertahan lama dalam diri Dito, meledak menjadi sebuah pukulan keras di wajah Rian. "Apa hak kau untuk menyalahkanku?!""Kemarin dia meneleponmu. Aku dengar dia sebut sesuatu tentang rumah sakit, tetapi kau bahkan nggak bertanya! Kau paling tahu betapa Nadia menyukaimu sebegai pacarnya! Dan kau tidak merawatnya dengan baik! Aku yang seharusnya meminta pertanggungjawabanmu!"Dua pria itu mulai bergulat tanpa memikirkan citra mereka. Nadin yang awalnya merasa senang dengan situasi ini, tiba-tiba kehilangan rasa senangnya.Seharusnya perhatian mereka tertuju padanya, kenapa sekar

  • Saat Aku Sekarat, Keluargaku Hancur Bersamaku   Bab 5

    (Sudut Pandang Orang Ketiga)"Apa katamu? Ulangi sekali lagi!"Dito terhuyung, mencengkeram kerah pelayan dan bertanya dengan marah.Rian merebut laporan diagnosis dari tangan pelayan, melihat nama yang tertera di atasnya dan terdiam.Pelayan itu ketakutan dan menjawab dengan gemetar,"Wanita dengan kanker stadium akhir itu terkurung di restoran tadi malam, ditambah alergi, dia meninggal pagi ini. Kondisinya terlihat sangat menyakitkan ...."Ayah memegangi dadanya sambil batuk keras."Nadia? Nggak mungkin! Dia sangat tangguh, bahkan membawa sial sampai membuat ibunya meninggal baru bisa lahir. Mana mungkin dia mati?!"Rian tak sanggup lagi mendengarkan, bergegas masuk ke restoran.Dito menyusul di belakang.Mereka menggeledah setiap sudut restoran, menahan setiap pelayan dan bertanya apakah pernah melihat Nadia. Jawaban yang mereka dapatkan hampir semuanya sama.Akhirnya, Ayah mulai panik. Ia mencengkeram lengan Dito erat-erat."Dito, apa yang mereka katakan itu benar? Nadia ... sudah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status