로그인"E-eh? Enggak kok, Damian!" celetuk Bianca refleks, sedikit melonjak kaget hingga kakinya hampir tersandung di lantai basah. Dengan cepat Bianca menguasai diri, menyunggingkan senyum manis yang paling anggun dan lembut. "Aku cuma lagi meratapi... Eh maksudku, menikmati betapa perhatiannya suami ku ini. Kamu lembut banget ya kalau lagi sentuh tubuhku.." "Jangan memancingku, Bianca. Sekarang berbalik," perintah Damian, suaranya terdengar kembali serak dan berat. Bianca memutar tubuhnya menurut tanpa berani berkata-kata lagi, gadis itu membelakangi Damian. Jari tangan pria itu kini bergerak mengusap busa sabun di sepanjang punggung mulusnya. Sentuhan jari-jari hangat Damian yang bersentuhan langsung dengan kulitnya membuat tubuh Bianca meremang seketika. "Damian..." panggil Bianca lirih, memiringkan kepalanya sedikit ke belakang. "Hm?" "Soal
Suara kulit tubuh Bianca yang beradu dengan kulit tubuh Damian terdengar bergema samar di dalam kamar mandi yang tertutup. Setiap hentakan dalam yang dilakukan Damian sukses membuat Bianca mendongakkan kepalanya, mendesah pasrah menikmati sensasi luar biasa yang diberikan suaminya."Nngghh! Damian... Sshh... pelan-pelan..." desah Bianca dengan napas terengah-engah. "Aaahhhh! Enak banget... Lebih cepat...""Ingat siapa pemilik tubuhmu ini, Bianca?" pangkas Damian kaku, mempercepat gerakannya menjadi semakin intens dan dalam. "Kamu... Cuma kamu, Damian! Hati ku, tubuh ku... Semuanya punya kamu!" sahut Bianca di tengah desahannya, tidak lagi menyembunyikan rasa cintanya yang begitu meluap.Mendengar pengakuan jujur dari bibir istrinya, gairah Damian semakin terbakar hebat. Pria itu merengkuh pinggang ramping Bianca, mengangkat tubuh gadis itu sedikit agar posisinya semakin menancap dalam, lalu menghujamkan pusaka p
Raut wajah puas di paras cantik Bianca seketika lenyap tanpa sisa. Warna merah merona di pipinya mendadak berganti menjadi pucat pasi. Gadis itu membelalakkan matanya lebar-lebar, menatap tak percaya pada manik mata hitam Damian yang memancarkan aura 'serigala kelaparan' yang siap menerkam mangsanya tanpa ampun. 'H-HAH?! GILIRAN GUE?!' jerit Bianca histeris dalam batinnya, jantungnya mendadak berdegup kencang karena panik. 'Bukannya dia baru aja menyemburkan cairan hangatnya sampai lemas gitu?! Kok matanya makin hitam lagi sih?! Ya ampun... Gue lupa, suami Spek Dewa gue kan energinya gak ada habisnya , kayak mesin diesel!!' "D-Damian... Kamu kan baru aja selesai!" cicit Bianca gelagapan, kedua tangannya refleks menahan dada bidang Damian yang kini kembali mengikis jarak. "Tadi... Tadi kan kamu udah keluar banyak banget! Masa... Masa mau lanjut lagi sih?! Nanti kamu capek lho, Suamiku!" alasan Bianca, me
"Diam ya, Suamiku..." bisik Bianca lembut, menatap ke atas dengan binar mata mesum dan penuh cinta. "Semalam aku udah janji mau kasih pelayanan penuh buat kamu. Sekarang biar aku merealisasikannya..." Jemari lentik Bianca bergerak lincah membuka kepala gesper pria itu. Dengan gerakan perlahan, ia membuka kancing celana dan menurunkan retsleting celana bahan Damian. Tanpa ragu, Bianca menarik celana luar dan dalam milik suaminya ke bawah hingga terlepas sepenuhnya, membiarkan pusaka premium milik Damian terbebas sempurna di udara. “Wow..” gumamnya lirih.. Ukuran yang sangat mengagumkan, besar, panjang dan berdenyut hebat. Kini berdiri kokoh tepat di depan wajah Bianca seakan berayun ingin disentuh.. 'GILA! Ini sih beneran Spek Dewa kualitas paling premium di hidup gue! Gede banget, astaga! Pantes aja gue jadi yuyu kangkang setelah dihajar Damian!' jerit Bia
Mata Bianca membelalak lebar. Pipi mulusnya seketika terbakar merah padam sampai ke ujung telinga. 'ASTAGA! Kenapa pria kaku ini masih ingat pikiran dan kata-kata mesum gue waktu pertama kali dulu sih?! Aduh, sekarang muka gue mau ditaruh di mana lagi?!' batin Bianca bersorak histeris, menyembunyikan rasa malunya yang melambung tinggi. Tanpa menunggu tanggapan istrinya, Damian meraih jari tangan kanan Bianca. Dengan gerakan lembut namun penuh penekanan otoriter, ia membawa tangan kanan Bianca untuk menggenggam ibu jari tangan kirinya. "Pegang," pangkas Damian singkat. "Damian..." cicit Bianca pasrah. Sementara tangan kanan Blanca menggenggam ibu jari Damian, tangan kanan Damian beralih meraih pergelangan tangan kiri Bianca. Pria itu menuntun tangan kiri istrinya bergerak turun menyusuri perut ratanya, melewati kepala ikat pinggang, hingga m
"D-Damian... ini masih siang bolong lho!" cicit Bianca gelagapan, jari tangannya menahan dada bidang suaminya yang terasa sangat keras dan hangat. "Masa... Masa siang-siang gini kita mau... mau unboxing?!" "Memangnya kenapa?" pangkas Damian dingin, tidak terpengaruh sama sekali oleh ucapan istrinya. "Penthouse ini milik kita. Tidak akan ada yang akan mengganggu." "Tapi aku belum mandi! Aku... aku juga mau istirahat dulu! Ngantuk karena tadi kabur pagi-pagi!" alasan Bianca beruntun, berusaha mencari celah untuk melarikan diri dari terkaman serigala berjas ini. Damian tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu justru merendahkan tubuhnya sedikit lagi, mendaratkan kecupan-kecupan hangat dan dalam di leher mulus Bianca, tepat di bawah garis rahangnya. "Nnggh..." Bianca meremang seketika. Sentuhan bibir dan desah napas hangat Damian di
"Kalau mau ajak tidur, minimal kayak gini!" Bianca mengomel sambil menunjuk-nunjuk layar laptopnya yang menampilkan visual sang bos. Kalimat sang mantan tadi masih terngiang di telinga Bianca, ingatannya memutar kembali saat pacarnya minta putus karena dirinya menolak untuk diajak tidur bersama.
Bianca terpaku sesaat, ia memberanikan diri menatap wajah Damian didepannya, pria yang kemarin menjadi sumber imajinasi liarnya. “Di bawah kungkungannya.. Bukan! Di bawah pengawasannya..’Bianca membeku. Berarti mulai hari ke depan… ia akan berurusan dengan pria di depannya?Dengan kejadian kema
Bianca berdiri di depan pintu ruangan Damian dengan gemetar. Jantungnya rasanya sudah merosot sampai ke dengkul, berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa nyeri. Tangannya yang dingin dan basah oleh keringat gemetar hebat saat terangkat, ragu untuk sekadar mengetuk pintu kayu mahoni di depanny
Bianca hanya bisa pasrah. Ia menyeret langkahnya keluar dari kamar dengan canggung, lalu duduk di kubikelnya sendiri sembari menyalakan tablet grafisnya dengan tangan yang masih gemetar kaku. Pikirannya benar-benar kosong, menyisakan kepanikan yang membuat napasnya putus-putus.Tadi… apa yang dire







