Mag-log inGara-gara pengaruh obat flu dan patah hati, Bianca tidak sengaja meracau di depan meeting online yang masih menyala, membandingkan aset mantannya dengan ukuran aset sang bos, Damian. "Kalau ibu jarinya saja sepanjang itu, punya Pak Damian gede nggak ya? " Bianca tidak menyadari, dia telah mengganggu pria yang salah. Membangkitkan sisi lain dari sang bos melebihi imajinasi nakalnya Bagaimana hubungan keduanya kalau saja Bianca tau Damian itu...
view more"Kalau mau ajak tidur, minimal kayak gini!"
Bianca mengomel sambil menunjuk-nunjuk layar laptopnya yang menampilkan visual sang bos. Kalimat sang mantan tadi masih terngiang di telinga Bianca, ingatannya memutar kembali saat pacarnya minta putus karena dirinya menolak untuk diajak tidur bersama. ‘Lebih baik kita putus! Percuma punya pacar kolot seperti mu, tidak mau diajak tidur. Sok konservatif!’ Bianca menarik napas dalam, dadanya sesak karena ingusan dan sakit hati yang datang bersamaan. Dengan tangan gemetar, dia mengambil tisue untuk membersihkan ingusnya. "Udah jelek, berani-beraninya ngajak tidur. Minimal mapan kayak Pak Damian baru maju!" geramnya, tanpa sadar tangannya memukul meja di sampingnya.“Kolot?! Dengan menjaga diri dibilang kolot?!”
Ia membenamkan wajah pucatnya ke bantal, berusaha meredam napas yang tersengal karena flu berat dan demam tinggi yang menyerangnya sejak semalam. Telepon dari si brengsek Evan benar-benar menjadi pelengkap penderitaan yang luar biasa. Padahal, layar laptop di depannya masih menyala terang menampilkan antarmuka rapat direksi yang baru saja Ia lalui. Sebagai desainer perhiasan, Bianca seharusnya tidak berada di sana. Namun, sketsa miliknya terpilih secara ajaib untuk menjadi primadona pameran, memaksanya hadir untuk mempresentasikan idenya di depan sang penguasa tertinggi. “Cowok gila. Mending kalau punyanya gede. Masih untung diterima apa adanya!” Kekesalannya makin berlipat gundah jika mengingat ukuran aset sang mantan yang serba terbatas. Padahal, Bianca sudah berbaik hati menerima apa adanya karena berkali kali melihat ukuran pakaian dalam pria itu saat pria itu menyuruhnya sesekali mencuci baju bajunya. Sudah untung dipertahankan, tapi malah bertingkah. Bianca melempar ponselnya ke atas kasur empuk, lalu menyandarkan punggung ke sandaran kursi sambil menghela napas panjang hingga dadanya terasa sesak. Pandangannya yang masih agak buram akibat demam beralih ke layar laptop, tepat pada kotak profil Damian, bosnya yang masih aktif namun hanya menampilkan latar belakang ruang kerja mewah yang kosong. Di layar laptop itu hanya tersisa tiga orang. Damian, Bianca dengan hidung merahnya, dan Hans selaku asisten pribadi sang bos. "Cowok gila, cowok gila!" gumam Bianca sendirian. Suaranya parau namun terdengar nyaring di kamarnya yang hening. “Kenapa juga aku galauin cowok gila sih?!” Efek obat flu mulai merayap di kepalanya, membuat Bianca merasa sedikit melayang dan kehilangan logika bicaranya. Kesadarannya yang agak kabur mulai mencampuradukkan rasa sakit hati dengan kekaguman yang mendadak liar pada sang bos. "Kalau dibandingin sama Pak Damian, si cowok jelek itu gak ada apa-apanya," ocehnya lagi dengan nada yang genit. "Pak Damian... galak galak gitu, cakep juga.” Bianca menopang dagu, matanya mulai menelusuri detail fisik sang bos di dalam layar laptop. Kemeja hitam yang kancing atasnya dibuka satu, menonjolkan bahu tegap yang terlihat sangat kokoh. Bayangan itu terus berputar, memicu rasa penasaran yang tidak sehat bagi seorang bawahan. "Bahunya lebar. Kayanya enak kalau dipeluk. Apalagi kalau…. Stop, Bianca! Jangan gila, deh!" Tawa kecil yang parau lolos dari bibirnya. Bayangan itu makin liar, dipicu rasa kesal karena baru saja direndahkan soal urusan ranjang oleh sang mantan kekasih yang tidak ada apa-apanya dibanding pria di layar ini. Ia merasa sangat aman, seolah-olah dunia saat ini hanya terdiri dari dirinya dan imajinasi tentang sang atasan. "Tapi beneran deh, Pak Damian udah punya pacar belum sih? Kayak rugi banget… Liat, Bi! Jari-jarinya... Kalau misalnya jari-jari itu megang... bakal gimana ya? Worse or better? Ah, jelas way better." Bianca menggigit bibir bawahnya, imajinasinya merayap ke wilayah yang sangat tidak pantas. Wajahnya mendadak terasa panas, entah karena demam atau karena khayalannya sendiri yang mulai menembus batas kewajaran. Bertahun-tahun menjaga diri sampai dicap kolot, sekalinya pacaran malah dapet cowok yang cuma mengincar tubuhnya. Mirisnya, sekarang dia malah mendadak gila karena berfantasi tentang sentuhan pria lain. Ia kembali menatap layar, membayangkan bagaimana suara bariton Damian akan terdengar di telinganya langsung. "Ganteng dan…. besar.” “Uangnya!” Sambil terus bergumam nakal tertawa, Bianca meraih botol tetes mata di meja. Ia meneteskan cairan itu ke matanya yang perih, lalu memejamkan mata sejenak, menikmati sensasi dingin yang menjalar. Dunianya terasa berputar lebih lambat sekarang, seolah obat flu itu benar-benar mengambil alih kendali logikanya. "Lihat aja tangannya. Katanya kan ukuran itu bisa dilihat dari ukuran ibu jari, ya? Gede gak sih? Duh, Bianca, kamu benar-benar butuh tidur!" Ia tertawa parau lagi, kali ini sedikit lebih keras. Di dalam benaknya, Ia merasa sangat beruntung karena mikrofon laptopnya sudah mati sejak awal rapat dimulai. Lagipula, layar itu sepi, tidak ada pergerakan apa pun dari sisi Damian maupun Hans yang tampak membisu di kotaknya sendiri. "Sumpah, kalau laki jelek tahu aku lagi ngebayangin bos sendiri yang spek dewa begini, pasti dia langsung kena serangan jantung. Punya bos begini mah, disuruh lembur di kantor atau lembur di ranjang juga hajar!” Bianca menghela napas lega, merasa bebannya sedikit terangkat setelah mengeluarkan semua unek-uneknya secara random. "Gila, aku pengen pingsan.” Tangannya bergerak di depan kamera, membuat gerakan mengukur sesuatu di udara dengan wajah super serius, sebelum akhirnya berniat menutup aplikasi rapat tersebut. Namun, gerakannya langsung terkunci. Dari balik kotak profil Damian yang tadinya kosong, sang CEO tiba-tiba kembali ke kursinya, memajukan tubuh tegapnya mendekati kamera. Matanya yang tajam menatap lurus, mengunci pandangan Bianca. Bianca otomatis melirik ikon di pojok bawah layar laptopnya. Warnanya hijau mentereng, berkedip-kedip genit menangkap setiap hembusan napasnya. Di tengah kesunyian yang mendadak mencekam, sebuah suara berat membelah udara melalui speaker laptop. "Sudah selesai dengan analisanya, Nona Bianca?" Ap–apa? Bianca membeo bodoh. “Saya akhiri meeting hari ini.” Lidah Bianca mendadak kelu, mendongak menatap Damian dengan mata membelalak sempurna. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai menciptakan sensasi pening yang berdenyut di pelipisnya.Jadi...
Pria ini… daritadi mendengarnya?!
Mata Bianca membelalak lebar. Pipi mulusnya seketika terbakar merah padam sampai ke ujung telinga. 'ASTAGA! Kenapa pria kaku ini masih ingat pikiran dan kata-kata mesum gue waktu pertama kali dulu sih?! Aduh, sekarang muka gue mau ditaruh di mana lagi?!' batin Bianca bersorak histeris, menyembunyikan rasa malunya yang melambung tinggi. Tanpa menunggu tanggapan istrinya, Damian meraih jari tangan kanan Bianca. Dengan gerakan lembut namun penuh penekanan otoriter, ia membawa tangan kanan Bianca untuk menggenggam ibu jari tangan kirinya. "Pegang," pangkas Damian singkat. "Damian..." cicit Bianca pasrah. Sementara tangan kanan Blanca menggenggam ibu jari Damian, tangan kanan Damian beralih meraih pergelangan tangan kiri Bianca. Pria itu menuntun tangan kiri istrinya bergerak turun menyusuri perut ratanya, melewati kepala ikat pinggang, hingga m
"D-Damian... ini masih siang bolong lho!" cicit Bianca gelagapan, jari tangannya menahan dada bidang suaminya yang terasa sangat keras dan hangat. "Masa... Masa siang-siang gini kita mau... mau unboxing?!" "Memangnya kenapa?" pangkas Damian dingin, tidak terpengaruh sama sekali oleh ucapan istrinya. "Penthouse ini milik kita. Tidak akan ada yang akan mengganggu." "Tapi aku belum mandi! Aku... aku juga mau istirahat dulu! Ngantuk karena tadi kabur pagi-pagi!" alasan Bianca beruntun, berusaha mencari celah untuk melarikan diri dari terkaman serigala berjas ini. Damian tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu justru merendahkan tubuhnya sedikit lagi, mendaratkan kecupan-kecupan hangat dan dalam di leher mulus Bianca, tepat di bawah garis rahangnya. "Nnggh..." Bianca meremang seketika. Sentuhan bibir dan desah napas hangat Damian di
Pandangan Bianca kini beralih sepenuhnya menatap punggung Damian. 'Gila sih... Damian kalau dilihat dari belakang aja karismanya tumpah-tumpah! Mana perhatian banget lagi langsung pesanin makanan favorit gue. Beruntung banget sih gue bisa dapet suami kayak dia!' gumam Bianca bersorak gembira dalam hati, menepuk-nepuk pipinya yang terasa hangat. Tak sampai dua menit, Damian kembali melangkah menuju meja makan sambil membawa beberapa kotak makanan hangat berkualitas tinggi dari restoran berbintang. Aroma harum Daging Steak premium dan sup hangat seketika memenuhi area penthouse. ”Ayo, makan," pangkas Damian kaku, menarikkan satu kursi untuk Bianca. Bianca melangkah antusias, segera duduk di kursi dengan senyuman terkembang. "Wah! Ini kan steak kesukaan aku! Makasih ya, Damian!" "Hm. Makan yang banyak," sahut Damian singkat. Pria itu mengambil posisi duduk tep
‘Tahan Bianca, ingat! Lo itu lagi pura-pura ngambek!' bisik Bianca dalam hatinya, berusaha mengalihkan pandangan ke arah meja makan. "Damian, katanya mau pesan makanan?" panggil Bianca lembut, berusaha mengontrol suaranya agar tetap terdengar lembut. "Aku beneran lapar nih. Maag aku bisa kumat kalau telat makan." Damian merogoh ponsel di saku celananya. Jari tangannya dengan cepat memesan makanan online di atas layar ponsel selama beberapa detik sebelum menoleh menatap Bianca. "Sudah di pesan," pangkas Damian kaku. "Makanan favoritmu akan sampai sepuluh menit lagi." "Bagus deh..." gumam Bianca lega. Gadis itu baru saja hendak melangkah menuju area dapur untuk mengambil segelas air hangat ketika lengan tegap Damian mendadak menghadang jalannya. SET! Damian menarik tubuh Bianca pelan namun pasti, membawa gadis itu duduk di atas sofa empuk ruang tamu, lalu ik
Bianca hanya bisa pasrah. Ia menyeret langkahnya keluar dari kamar dengan canggung, lalu duduk di kubikelnya sendiri sembari menyalakan tablet grafisnya dengan tangan yang masih gemetar kaku. Pikirannya benar-benar kosong, menyisakan kepanikan yang membuat napasnya putus-putus.Tadi… apa yang dire
Bianca terpaku sesaat, ia memberanikan diri menatap wajah Damian didepannya, pria yang kemarin menjadi sumber imajinasi liarnya. “Di bawah kungkungannya.. Bukan! Di bawah pengawasannya..’Bianca membeku. Berarti mulai hari ke depan… ia akan berurusan dengan pria di depannya?Dengan kejadian kema
Bianca berdiri di depan pintu ruangan Damian dengan gemetar. Jantungnya rasanya sudah merosot sampai ke dengkul, berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa nyeri. Tangannya yang dingin dan basah oleh keringat gemetar hebat saat terangkat, ragu untuk sekadar mengetuk pintu kayu mahoni di depanny
Sambungan video diputus sepihak. Layar laptop Bianca langsung berubah hitam, menyisakan pantulan wajahnya sendiri yang sudah pucat pasi mirip mayat. Jadi… pria itu mendengarnya selama ini?!Malam itu benar-benar menjadi malam paling sial dalam hidup Bianca. Efek obat flu sialan itu mendadak hilan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Mga Ratings
RebyuMore