Chapter: Bab 540 Kejutan Pagi"Selamat pagi, sayangku. Kamu sudah bangun?" Suara bariton Denzel yang serak khas bangun tidur terdengar begitu seksi, menggetarkan saraf-saraf di tubuh Audrey. Audrey mendongak, menatap mata gelap suaminya yang menatapnya dengan binar kepemilikan yang mutlak. "Pagi, Daddy... Jam berapa sekarang? Kita harus memeriksa agenda hari ini." Denzel justru mempererat pelukannya, menekan pinggul Audrey agar semakin merapat pada miliknya yang sudah menegang sempurna sejak fajar menyingsing. "Aksa sudah mengatur semuanya. Tapi pagi ini, sebelum kita membahas bisnis teknologi, ada satu berkas penting yang harus kamu tanda tangani, Sayang." Audrey mengernyitkan keningnya penuh rasa penasaran. "Berkas apa?" Denzel meraih sebuah dokumen elegan bersampul beludru biru tua dari meja nakas di samping ranjang dan menyerahkannya kepada Audrey. Dengan posisi masih setengah berbaring di atas tubuh atletis Denzel, Audrey membuka lembaran ters
Last Updated: 2026-05-26
Chapter: Bab 539 Malam PerayaanMendengar laporan itu, Audrey merasakan sebuah kelegaaan yang luar biasa besar menghantam dadanya. Air mata kebahagiaan hampir saja menetes di sudut matanya. [Syukurlah kalau begitu..] Masalah besar yang selama ini menghantui hidup mereka, ancaman peluru, dan trauma masa lalu... semuanya kini benar-benar telah berakhir dengan kemenangan mutlak di tangan mereka. Denzel memberikan anggukan datar yang dingin, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat samar namun penuh arti kebanggaan. [Kerja bagus, kalian berdua. Aku tahu aku bisa mengandalkan kalian untuk menjaga wilayah pusat.] [Tentu saja, Pa. Tapi bukan hanya itu kabar baiknya,] potong Aiden, wajahnya berubah menjadi sedikit lebih serius namun sarat akan kehangatan. [Kami juga mendengar tentang kesuksesan besar presentasi divisi teknologi baru yang dipimpin Mama Audrey di sana siang tadi. Saham kita di bursa efek i
Last Updated: 2026-05-26
Chapter: Bab 538 Hhh.. Terganggu Lagi"Dia sudah tidur," bisik Audrey sangat rendah. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Audrey bangkit dari ranjang, dibantu oleh Denzel yang menyangga punggungnya agar posisi Kenneth tidak berubah. Audrey melangkah perlahan menuju boks bayi yang terletak di sisi ruangan, merebahkan tubuh mungil Kenneth di atas kasur lembutnya, lalu menyelimutinya hingga sebatas dada. Ia memberikan satu kecupan lembut di kening putranya sebelum berbalik. Namun, tepat saat Audrey memutar tubuhnya, Denzel sudah berdiri tepat di belakangnya. Tanpa memberikan ruang untuk bernapas, Denzel langsung menarik tubuh ramping Audrey masuk ke dalam dekapannya yang protektif dan posesif. Tangan besarnya mengunci pinggul sintal Audrey, menekannya kuat pada miliknya yang masih menuntut balasan sejak siang tadi. "Sekarang... tidak ada lagi gangguan, Audrey," geram Denzel rendah, tatapan matanya begitu lapar dan penuh dengan hasrat murni. "Denzel... ssshh,
Last Updated: 2026-05-26
Chapter: Bab 537 Interupsi Jagoan Kecil"Hiks... Mamama... Hiks..." Suara tangisan kecil yang serak itu seketika memutus tautan bibir Denzel dan Audrey. Kenneth yang tadi sudah memejamkan mata di pelukan Denzel, tiba-tiba menggeliat gelisah. Matanya yang bulat berkaca-kaca, dan tangannya yang gempal mulai menggapai-gapai ke udara mencari kehangatan yang lebih akrab. Audrey langsung menarik napas panjang, mencoba meredakan debaran jantungnya yang sempat berpacu cepat akibat sentuhan sensual Denzel. Dengan gerakan lembut, ia mengambil alih tubuh mungil Kenneth dari dekapan suaminya. "Iya, sayang... Mama di sini. Cup, cup... Anak pintar jangan menangis," bisik Audrey lembut sambil menepuk-nepuk pelan bokong Kenneth. Ia membawa putranya berjalan mondar-mandir di dekat ranjang. Kenneth menyembunyikan wajahnya di dada Audrey, tangannya meremas kerah blazer navy mamanya, sementara isak kecilnya perlahan mereda. Denzel berdiri terpaku dengan tangan yang masih menggantung di udara. Gairah panas yang beberapa detik lalu memb
Last Updated: 2026-05-25
Chapter: Bab 536 Menagih HadiahAudrey langsung berlari mendekati Kenneth, namun sebelum ia sempat menyentuh putranya, sebuah tangan besar menahan pundaknya. Denzel melangkah maju, melepaskan jas hitamnya yang mahal dan melemparkannya ke atas kursi dengan gerakan santai. Ia menggulung kemeja abu-abunya hingga ke siku, memperlihatkan otot lengan bawahnya yang kokoh dan penuh urat yang menonjol. "Denzel? Kamu mau apa?" tanya Audrey terkejut. "Aku yang akan melakukannya. Kamu istirahatlah, kamu baru saja menyelesaikan presentasi besar," ucap Denzel dengan nada otoritas tegas, namun matanya menatap Audrey dengan kelembutan yang dalam. Denzel merunduk sekilas, mengecup pelipis Audrey. "Lagipula, ada seseorang yang perlu diberi pelajaran cara menjadi seorang ayah." Denzel menoleh tajam ke arah Aksa. "Aksa, mendekat. Perhatikan setiap gerakanku. Ini adalah perintah kerja tertinggimu hari ini." Aksa menelan ludah, melangkah mendekat dengan ragu. "Baik, Denzel." Denzel berlutut di tepi ranjang, mendekati Kennet
Last Updated: 2026-05-25
Chapter: Bab 535 Peretas CilikDenzel merasakan jantungnya seperti dihantam gada besar mendengar laporan Aksa. Namun, sebelum kemarahan predatornya meledak, suara tangisan melengking yang sangat familier tiba-tiba terdengar dari arah pengeras suara ponsel satelit Aksa, disusul suara kekehan jahil seorang wanita. [Aksa! He tukang laporan mu! Kamu mbuat kepanikan!] Suara Fiona terdengar nyaring dan sehat, sama sekali tidak terdengar seperti seseorang yang sedang dalam bahaya maut. [Pak Denzel, jangan dengarkan suamiku yang terlalu paranoid ini! Tidak ada peretas, tidak ada musuh. Yang ada hanyalah anakmu yang baru saja meretas sistem dengan popoknya sampai jebol total di atas karpet!] Denzel terpaku, menatap ponselnya dengan kening berkerut dalam. [Aksa, jelaskan.] Di seberang telepon, Aksa menarik napas panjang, terdengar sangat frustrasi. [Maaf, Denzel. Tadi aku panik karena alarm sistem berbunyi. Ternyata Kenneth merangkak dan menduduki remote kontrol cadangan yang aku letakkan di sofa, memicu simulasi da
Last Updated: 2026-05-25
Chapter: Bab 35 Sebentar Lagi SampaiBianca hanya menyimak percakapan Velove dengan penasaran. ‘Memangnya seganteng apa sih Kakak Velove?! Kira-kira ganteng dan besar mana sama Pak Damian?!’ [Aku akan datang sedikit terlambat,] suara berat, datar, dan sangat familiar terdengar dari seberang telepon, membuat gerakan mengunyah Bianca mendadak terhenti sejenak. [Ada undangan makan siang dadakan dari relasi bisnis di restoran yang sama. Tunggu sebentar.] [Ih, Kakak nih selalu aja begitu! Janji sama adek sendiri nomor sekian! Pokoknya cepetan kesini ya, awas aja kalau gak datang!] omel Velove langsung mematikan sambungan telepon dengan dongkol. "Hhh... Tuh kan, kaku banget jadi cowok. Selalu urusan bisnis yang diduluin." Bianca hanya menggeleng-gelengkan kepala, mulutnya masih penuh dengan daging steak. "Udah deh, gak apa-apa, Ve. Malah bagus gue gak perlu jaim didepan kakak lo yang overprotective itu. Mending kita habisin ini." Gak terasa tiga puluh menit sudah berlalu, daging steak di piring Bianca dan Velove sudah
Last Updated: 2026-05-27
Chapter: Bab 34 Bertemu di Restoran"P-Pak Damian, saya turun duluan ya! Terima kasih tumpangan gratisnya," pamit Bianca terburu-buru saat mobil telah berhenti di lobi Restoran. Tangannya segera menyambar tas lalu membuka pintu mobil secepat kilat. Damian tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap datar ke arah Bianca yang tampak kelabakan. "Lima menit, jangan lupa," ucap Damian pendek dengan suara dingin, mengingatkan batas toleransi keterlambatan. "Iya, Pak! Siap, tidak akan lebih satu detik pun!" sahut Bianca ekspresif sambil melompat turun dari mobil. Bianca buru-buru merogoh tasnya, mengambil ponsel yang sejak tadi bergetar. Ia langsung mendial nomor Velove sambil berjalan cepat masuk ke area dalam restoran. [Halo, Ve! Lo di sebelah mana?! Gue udah sampai nih, lobi restoran!] seru Bianca begitu telepon tersambung, suaranya naik satu oktav, napasnya masih agak ngos-ngosan. [Gue di meja VIP 1, Bi! Lo lurus aja, ntar ada lorong khusus sebelah kanan, tanya pelayan aja langsung. Buruan, dagingnya udah nungguin
Last Updated: 2026-05-27
Chapter: Bab 33 Padat Berisi"Maksudnya jangan bergerak apa coba?!" gumam Bianca terheran. Belum sempat Bianca menyelesaikan gerutuan batinnya, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam legam berhenti tepat di depan lobi tempatnya berdiri.Kaca mobil bagian tengah perlahan turun, menampilkan sosok Damian yang duduk bersandar santai di dalam sana, wajahnya kaku tanpa ekspresi dengan sepasang mata tajam yang langsung mengunci manik mata Bianca."Masuk," perintah Damian pendek, nadanya rendah namun mutlak tanpa bantahan.Bianca melongo, matanya membelalak sempurna. "E-eh? Masuk ke mobil Bapak?! Tapi, Pak, saya—""Waktumu sudah berkurang empat menit. Terlambat, potong gaji," potong Damian datar, mengeluarkan statmen mutlaknya tatapan matanya sangat mengintimidasi.Mendengar kata 'potong gaji', seluruh sistem pertahanan di otak Bianca langsung runtuh. "Gak boleh potong gaji! Uang jajan gue bisa berkurang!" jerit Bianca dalam hati, wajahnya mendadak horor.
Last Updated: 2026-05-27
Chapter: Bab 32 Takut Hal-hal yang Diinginkan.. "Eh?! Takut? Takut kenapa, Pak?!" tanya Bianca gelagapan, wajahnya yang semula biasa saja kini mulai merona manis mirip kepiting rebus akibat tatapan Damian yang terlalu intens menembus hatinya. Damian memajukan tubuhnya sedikit, menatap lurus pada bibir ranum Bianca yang masih agak bengkak akibat ciuman panas di atas meja. "Takut terjadi hal-hal yang kamu inginkan di sana, Nona Bianca?" tanya Damian dengan suara bariton yang sangat rendah, serak, dan penuh sindiran seksi yang meresahkan di ujung kalimat. 'Mampus gue! Dia bilang hal-hal yang gue inginkan?! Berarti dia tahu kalau gue ngarep diapa-apain?! Duh, mulut... lidah... otak... kenapa tidak bisa diajak kompromi sih depan cowok spek dewa ini!' jerit Bianca histeris dalam hati. Ia langsung mengangkat tablet grafisnya tinggi-tinggi untuk menutupi wajahnya yang sudah matang sempurna. "N-nggak kok, Pak! Siapa juga yang takut! Saya profesional seratus persen! Siap dina
Last Updated: 2026-05-26
Chapter: Bab 31 Rencana Keluar kotaSuara ponsel menginterupsi tepat waktu, Damian melirik ke arah meja Bianca. Tampak panggilan masuk di ponsel itu, ia melepaskan kedua tangannya dari Bianca lalu beralih menatap mata gadis itu dengan datar. “Angkat telepon, rapikan pakaianmu, lalu fokus.” Tanpa menunggu jawaban Damian melangkahkan ringan ke arah kursi kerjanya, seakan tidak merasa terganggu disaat adegan intim baru dimulai. ’Hhhh... Untung tangannya gak jadi grepe-grepe gue... Siapa sih penyelamat kali ini?!’ gumam Bianca super pelan, buru-buru turun dari atas meja. Ia merapikan kemejanya yang sempat bergeser acak-acakan, lalu menyambar ponselnya yang masih bergetar. Begitu melihat nama 'Velove' di layar, Bianca langsung menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga sambil membungkuk sedalam mungkin di balik laptop. [Ya Ve, ada apa?!] bisik Bianca, matanya melirik kaku ke arah Damian yang sudah kembali duduk di kursinya. [Siang in
Last Updated: 2026-05-26
Chapter: Bab 30 Diatas Meja Panas“Eh.. Tidak-tidak.. Untuk apa cemburu..” Bianca gelagapan mendengar pertanyaan Damian. “Lalu..” Damian mengunci mata Bianca, dia berdiri perlahan mendekat ke arah Bianca. “Mmm.. Ya kan kalau Pak Damian sudah punya tunangan harusnya jangan—” “Siapa yang bilang?!” Damian mengurung Bianca yang bersandar di meja kerjanya dengan kedua tangan bersandar di kanan kiri. ‘Mampus gue, kalau gini otak gue bisa langsung konslet. Jangan-jangan dia mau cium gue lagi.. Tapi kan masa gak ngaku kalau udah punya tunangan?!’ gumam Bianca, matanya tidak fokus melirik ke mana-mana sampai akhirnya menunduk. ‘Eh lagi ‘tidur’. Ah sial! Kenapa mata gue Justru ke arah sarangnya sih..’ “Jawab, Bianca..” Tangan Damian menyentuh dagu Bianca, menaikkan agar wanita itu menatap matanya. “Anu.. Itu.. Semua karyawan tadi bicara kalau Pak Damian udah punya tunangan, dan..” Bianca ragu mengataka
Last Updated: 2026-05-26
Chapter: Bab 512 Kebahagiaan Mencapai PuncakGrand Ballroom Hotel RC bintang lima malam itu di desain sangat megah malam ini. Cahaya laser berwarna biru safir seakan membelah ruangan, memantul pada instalasi kristal yang menyerupai struktur atom Silk-Graphene. Ratusan investor kelas kakap dari berbagai penjuru dunia, pejabat pemerintahan, hingga kru media internasional memenuhi ruangan dengan setelan formal yang mewah. Di tengah kerumunan, Keenan Arkana berdiri tegak. Ia mengenakan tuksedo hitam custom-made yang membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Aura dominannya terasa begitu pekat, membuat siapa pun segan untuk mendekat. Namun, tatapan matanya yang tajam hanya tertuju pada satu titik, Aruna. Aruna tampak memukau dengan gaun bodycon berwarna perak metalik yang memeluk lekuk tubuhnya dengan anggun terlihat begitu elegan. Rambutnya disanggul modern, memperlihatkan leher jenjangnya yang kini dihiasi kalung berlian. Keenan melangkah mendekat, melingkarkan tangannya di pinggang ramping Aruna dari belakang. Ia menarik
Last Updated: 2026-05-12
Chapter: Bab 511 Gairah di Tengah Ekspansi GlobalSuasana hangat di balkon Mansion Arkana seketika mendingin setelah mendengar kata-kata Nandi yang menggantung. Keenan berdiri tegak dengan kancing kemeja teratasnya yang terbuka memperlihatkan dada bidang yang masih naik-turun karena gairah yang terinterupsi. Ia menatap Nando dengan mata biru yang berkilat tajam, seolah siap menerkam siapa pun yang berani mengusik ketenangannya setelah seminggu penuh penderitaan di rumah sakit. "Katakan dengan jelas, Nando. Jangan membuang waktuku dengan wajah ragu seperti itu," geram Keenan. Suaranya rendah, bergetar oleh otoritas yang mutlak. Aruna, yang berdiri di sampingnya, masih sibuk mengancingkan kemeja casualnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia bisa merasakan aura dominan Keenan yang kembali memuncak. Keenan, tanpa memalingkan wajah dari Nando, meraih pinggang Aruna dan menariknya merapat ke sisi tubuhnya. Nando menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. "Ini tentang Tante Sofia, Keenan. Pak Alexander." Alexan
Last Updated: 2026-05-12
Chapter: Bab 510 Berkumpul di MansionSatu minggu telah berlalu setelah ketegangan di rumah sakit saya itu, pagi ini matahari masuk kedalam kamar melalui cela gorden memberi kesan hangat didalam ruangan VIP rumah sakit yang penuh aroma antiseptik. Aruna berdiri di dekat jendela, melipat beberapa pakaian Stella ke dalam koper kecil. Rambutnya diikat asal-asalan, menyisakan beberapa helai yang jatuh di tengkuknya yang putih. Tanpa ia sadari, sepasang mata biru tajam sedang memperhatikannya dari balik pintu yang terbuka sedikit. Keenan melangkah masuk dengan suara sepatu langkah yang sedikit menggema dilantai. Ia tidak langsung menyapa. Pria itu berjalan mendekat, lalu dengan gerakan posesif yang menjadi ciri khasnya, ia melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Aruna dari belakang. "Sudah selesai berkemas, Sayang?" bisik Keenan tepat di telinga Aruna. Napas panasnya seketika membuat bulu halus Aruna meremang. Aruna sedikit tersentak, namun ia segera menyandarkan punggungnya pada dada bidang Keenan yang terbalut kemej
Last Updated: 2026-05-12
Chapter: Bab 509 Desahan di Balik Ruang ICU"Aku tidak peduli," gumam Keenan. Ia membungkam bibir Aruna dengan ciuman yang sangat kasar dan menuntut. Lidahnya masuk dengan paksa, menjelajahi rongga mulut Aruna seolah sedang mengklaim wilayah kekuasaannya.Tangannya merayap masuk ke balik kemeja Keenan, merasakan otot-otot dada suaminya yang mengeras. Sentuhan mereka semakin liar. Tangan Keenan mulai membuka kancing jas lab Aruna, lalu dengan lihai ia menyelinap ke dalam kemeja sutra Aruna, meremas squishy kenyal istrinya itu dengan gemas. Aruna menahan desahan di balik ciuman mereka, kepalanya mendongak saat Keenan mulai menciumi lehernya dengan rakus, meninggalkan jejak-jejak kemerahan yang baru."Sshhh... Keenan... Nanti ada yang lihat," rintih Aruna kecil."Nando tahu apa yang harus dia lakukan. Dia akan menjaga area di sini," bisik Keenan serak. Ia membenamkan wajahnya di antara belahan squishy Aruna, menghirup aroma parfum mawar dan gairah yang menguar dari tubuh istrinya.Di sisi lain ruangan, Nando memang tampak san
Last Updated: 2026-05-11
Chapter: Bab 508 Kesempatan Kedua"Mama!" Aruna segera melepaskan diri dari dekapan Keenan dan berlari menghampiri Stella.Stella menolak bantuan perawat untuk tetap duduk. Dengan sisa tenaganya, ia mencoba berdiri dari kursi roda, tangannya yang gemetar mencari pegangan. Keenan dengan sigap melompat maju, menyambar tubuh Mamanya sebelum wanita itu jatuh karena lemas."Mama, kenapa ke sini? Dokter bilang Mama harus istirahat!" tegur Keenan, suaranya keras namun penuh kekhawatiran."Aku tidak bisa diam saja di sana, Keenan," kata Stella dengan suara parau. Ia menatap Alexander yang terbaring lemah dengan berbagai selang di tubuhnya. "Aku harus melihatnya... Aku harus memastikan pria ini tidak pergi sebelum menebus semua air mataku."Perawat yang menemani Stella tampak serba salah. "Maaf Tuan Keenan, Nyonya Stella memaksa. Beliau bahkan mengancam akan mencabut infus kalau tidak dibawa ke sini."“Baiklah, tidak apa-apa, suster tinggal saja..” Keenan menghela napas, ia membantu Stella duduk di kursi samping ranjang
Last Updated: 2026-05-11
Chapter: Bab 507 Rahasia yang Akhirnya TerungkapKeenan menatap Papanya dengan tatapan yang sulit dibaca. Ada sisa amarah di sana, namun juga ada rasa ingin tahu yang sangat besar."Katakan padaku, Pa," suara Keenan terdengar rendah, bergetar karena emosi yang tertahan. "Apalagi yang ingin Papa siapkan? Setelah semua kebenaran ini, setelah racun itu hampir merenggut nyawa Papa... Apalagi yang Papa sembunyikan di balik punggungku dan Aruna?"Alexander menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar berat dan menyakitkan. Masker oksigennya berembun setiap kali ia mencoba bicara. "Banyak... Keenan. Selama ini... aku membangun Arkana bukan hanya dengan keringat, tapi juga... dengan duri di sekelilingku. Aku harus memastikan... Kalau duri itu tidak menusukmu... atau Aruna."Aruna merasakan remasan tangan Keenan di pinggangnya semakin mengencang. Ia mendongak, menatap profil samping wajah suaminya yang terlihat sangat maskulin dan penuh otoritas. Aruna memberanikan diri untuk bersuara, suaranya lembut namun memiliki ketegas
Last Updated: 2026-05-11

Putri Terbuang itu Istri Sah CEO
Diusir oleh keluarga yang tak lagi mempercayainya, Aluna, perempuan bar-bar dan keras kepala, berlari di tengah hujan, hingga tertabrak mobil milik Raka Aryaputra, pria dingin, tajam, dan anti perempuan tapi kocak. Aluna tidak tahu, bahwa pria itu akan jadi babak baru dalam hidupnya.
Raka hanya ingin lolos dari perjodohan dengan Keyla, perempuan licik dan manipulatif yang mengaku sebagai anak kandung keluarga Aluna. Tanpa tahu masa lalu mereka, Raka menawarkan solusi brutal, menikah kontrak dengan Aluna.
Gila? Jelas. Tapi hidup Aluna lebih gila dari itu.
Tapi ketika Aluna dikenalkan sebagai istrinya di depan keluarga, semua api menyala kembali. Fitnah, dendam, dan rahasia yang terkubur mulai bermunculan.
Di tengah fitnah dan pengkhianatan, perlahan Raka mulai melihat kebenaran di balik semua luka Aluna. Dan untuk pertama kalinya, pria yang membekukan hatinya dari cinta itu, rela terbakar demi seorang perempuan.
Karena saat cinta bertemu dengan kebenaran, siapa pun tak bisa menyangkal siapa sang putri yang sebenarnya.
Read
Chapter: Bab 201 Puncak kebahagiaanBeberapa bulan berlalu dengan cepat, membawa Raka dan Aluna semakin dekat menuju hari kebahagiaan yang mereka nantikan. Aluna kini tinggal sepenuhnya di Mansion yang telah disiapkan Raka, dilengkapi dengan fasilitas dan pengamanan terbaik, serta perawat dan bidan khusus yang siaga 24 jam untuk kehamilan quadrupletnya. Selama masa kehamilan yang berat ini, Raka benar-benar membuktikan julukannya sebagai King pelindung. Ia memangkas jadwal kerjanya, sering mengambil rapat online dari rumah, memastikan ia selalu berada di dekat Aluna. Raka menepati janjinya pada Dokter Clara untuk menjaga keintiman secara aman. Di malam hari, keintiman mereka mencapai level yang baru dan mendalam. Raka akan menghabiskan waktu berjam-jam memijat kaki Aluna yang membengkak karena membawa beban empat janin. Ia akan membelai perut Aluna yang kini sangat besar dengan penuh cinta dan kekaguman, bibirnya berbisik penuh janji-janji mesra pada empat calon pewarisnya. Suatu malam, Raka berbaring miring, wajah
Last Updated: 2025-12-03
Chapter: Bab 200 Perayaan kebagianSatu bulan telah berlalu sejak masalah pengkhianatan dan penangkapan itu. Kekuatan cinta dan kebersamaan telah mengalahkan segala masalah yang mereka hadapi. Raka dan Aluna sepakat untuk merayakan kebebasan Alvian di Mansion Keluarga Aluna, sebuah janji simbolis bahwa Alvian telah kembali pulang ke keluarga, siap memulai babak baru. Saat mobil hitam Raka memasuki gerbang mansion yang megah, Aluna, yang duduk di kursi penumpang dengan sabuk pengaman yang disesuaikan untuk kehamilannya, tersenyum lebar. Kehamilannya sudah mulai terlihat, menjadi bukti nyata dari janji cinta mereka. Raka mencium pipinya, memancarkan kebahagiaan dan gairah yang terpendam. “Siap membuat Papa dan Mama lo pingsan karena kabar baik, sayang?” bisik Raka, matanya penuh gairah yang hanya bisa ia tunjukkan kepada istrinya. Aluna tertawa, tawanya merdu. “Mereka pasti akan senang melihatmu, Raka, meskipun mereka akan terkejut mendengar kehamilan ku yang kembar empat.” Di dalam mansion, suasana penuh kebaha
Last Updated: 2025-12-03
Chapter: Bab 199 Kebahagiaan di tengah kekacauanSetelah Alvian dan Pak Aditya dibawa pergi, Raka dengan perlahan mendorong kursi roda Aluna kembali ke kamar VVIP. Ia memastikan ruangan sekitar aman dengan menempatkan beberapa bodyguard yang sangat terpercaya di depan ruangan.“Pastikan tidak membiarkan siapapun masuk, bahkan perawat dan dokter sekalipun, tanpa izin langsung dari saya!”“Baik Pak Raka..”Begitu pintu kamar tertutup, Raka menguncinya, menjauhkan mereka dari dunia luar yang penuh bahaya dan kekacauan. Ia mengangkat Aluna dari kursi roda dengan hati-hati, memeluknya ke dada.“Kita aman, Sayang. Hanya kita berdua sekarang,” bisik Raka, menciumi rambut Aluna yang harum. Raka membawa Aluna ke ranjang, membaringkannya perlahan, lalu naik ke ranjang, memposisikan dirinya di samping Aluna, menyandarkan istrinya ke lengan kokohnya.“Gua takut sekali, Raka,” bisik Aluna, suaranya serak. Ia memeluk pinggang Raka, merasakan setiap lekuk tubuh suaminya, mencari kehangatan dan kep
Last Updated: 2025-12-02
Chapter: Bab 198 Wajah sang pengkhianatSuara tembakan itu memecah keheningan di koridor rumah sakit, menggantikan suasana tegang menjadi kepanikan sesaat. Peluru itu mengenai bahu pria yang mencoba menembak Raka, yang segera tersungkur.Seseorang tertembak.Raka dan Aluna saling berpandangan, dengan kompak saling bertanya, “Kamu baik-baik saja?!”“Lo nggak apa-apa, Sayang?” Raka memutar tubuh Aluna, memeriksa apakah ada goresan atau cedera.Aluna menggeleng cepat. “Aku aman, Raka. Tapi kamu..” Air mata kembali menetes di pipinya. Ia menarik Raka, mendekapnya erat dari kursi roda, menciumi dada Raka untuk memastikan keberadaannya.“Kalian baik-baik saja?!” Radit yang segera berlari menghampiri, pistolnya masih siaga.Tidak lama Alvian pun juga menghampiri, diapit oleh polisi. “Kalian tidak ada yang terluka, kan?!” tanyanya cemas.“Kami baik-baik saja..” Raka menghela napas panjang, membalas pelukan Aluna erat sebelum melepaskannya perlahan. “Tapi siapa
Last Updated: 2025-12-02
Chapter: Bab 197 Firasat Buruk“Baiklah,” Raka akhirnya mengalah. “Tapi ini di bawah pengawasan dan pengawalan gua dan Radit. Tidak ada pergerakan berlebihan, tidak ada kelelahan, dan hanya sepuluh menit. Setelah itu, lo kembali ke sini dan istirahat.”“Iya Raka, gua terima syarat lo.. Makasih sayang..” suara Aluan terdengar lega dan manja. Raka mencium bibir Akuna sesat lalu menghubungi Radit dan Kapten Polisi yang menangani kasus Kayla dan Alvian.Raka menggunakan pengaruh dan koneksinya, menekankan kondisi psikologis Alvian yang membutuhkan konfirmasi langsung dari kembarannya dan menyatakan bahwa kondisi Aluna aman. Ia juga meyakinkan Kapten Polisi bahwa Alvian akan segera bebas dan akan bergabung dengan Wijaya Global, menjamin bahwa Alvian tidak akan melarikan diri.Setelah negosiasi yang cukup sulit, Kapten Polisi setuju karena Radit juga akhirnya menghubungi dan menunjukkan jaminan atas kebebasan Alvian yang sedang dalam proses hukum. Mereka akhirnya setuju membawa Alvian ke rumah sakit dengan pengawala
Last Updated: 2025-12-01
Chapter: Bab 196 Bagaimana kondisi Aluna? Raka tiba di rumah sakit terdekat dengan mobil polisi, membopong Aluna erat-erat ke dadanya. Petugas medis segera menyambut mereka, dan Aluna langsung dibawa ke ruang pemeriksaan. Raka, dengan wajah panik dan tegang, berusaha mengikuti."Maaf, Pak, Anda tunggu di luar saja," kata seorang perawat."Saya suaminya! Saya harus di sana!" bentak Raka, suaranya dipenuhi otoritas dan kecemasan. Kekhawatiran akan kondisi Aluna, terutama keempat janin mereka, mengalahkan segalanya.Dokter yang akan memeriksa Aluna melihat ketegasan dan kepanikan di mata Raka dan menghela napas. "Baiklah, tapi Anda harus tenang dan tidak membuat gaduh di dalam. Kami perlu fokus.""Saya janji, Dok," jawab Raka cepat, mengikuti langkah brankar Aluna.Raka mendampingi Aluna, menggenggam erat tangan wanita itu. Di tengah kepanikan dan rasa sakit yang menusuk, genggaman Raka adalah satu-satunya jangkar yang menahan Aluna. Dokter mulai memeriksa, memastikan tidak ada cedera fisik yang serius, dan yang paling pen
Last Updated: 2025-12-01