Di Antara Bos dan Bayinya

Di Antara Bos dan Bayinya

By:  Célia OliveiraUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
50Chapters
1views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aura Pradita adalah seorang gadis yang penuh mimpi, tetapi semuanya pecah seperti gelembung pada hari ayahnya meninggal. Yang dia inginkan hanyalah memberikan kehidupan yang lebih baik untuk ibunya. Namun, segalanya berubah ketika ibunya bertemu dengan seorang pria dan menikah lagi. Dia seolah berubah menjadi orang yang sama sekali berbeda. Aura yang dulu disayang, kini justru menjadi sasaran kecemburuan ibunya. Dipicu oleh cara suami barunya memandang gadis itu dengan penuh keinginan. Keadaan makin memburuk ketika Aura terpaksa melarikan diri dari rumah demi menghindari pelecehan ayah tirinya. Saat mencari tempat untuk berlindung, tanpa sengaja dia bertemu dengan seorang pria misterius di sebuah jembatan .…

View More

Chapter 1

Bab 1

Sudah lewat pukul enam sore ketika ibuku muncul di depan pintu sambil berteriak, "Aura! Aura!"

Aku segera bergegas keluar. Di tangannya ada beberapa kantong belanja.

"Cepat kemari, gadis bodoh! Kamu tidak lihat ini berat, ya?"

Ibu seperti biasanya sedang dalam suasana hati yang buruk. Pasti Rendi Saputra melakukan atau mengatakan sesuatu yang membuatnya kesal, akhirnya semua amarahnya selalu dilampiaskan kepadaku.

"Ini belanjaan untuk sebulan. Susun semuanya di tempatnya. Kamu tahu Rendi tidak suka berantakan. Dan satu lagi, jangan sentuh apa pun tanpa izin. Kalau lapar, bilang saja padaku. Nanti akan kusisihkan makanan untukmu."

"Di rumahku sendiri pun aku tidak boleh ambil makanan?"

"Diam, Aura! Kalau masih berani bicara kurang ajar begitu, kuhajar kamu. Semua ini bukan dibeli pakai uangmu. Di rumah ini kamu tidak membantu apa pun."

"Aku ingin bekerja, tapi malah harus mengasuh Alisa-mu."

Tiba-tiba, sebuah tamparan mendarat di wajahku. Ibu langsung naik pitam.

"Berani sekali kamu, Nona! Kamu pikir sedang bicara dengan siapa? Dengan teman-teman jalananmu itu? Ibu sudah muak dengan sikapmu. Aku ini ibumu. Kalau kamu masih ingin tinggal di rumah ini, sebaiknya kamu belajar menghormati orang yang lebih tua dan tahu situasi."

"Lalu aku harus pergi ke mana?" kataku sambil terisak. Itu sudah tamparan kedua yang kuterima minggu ini.

"Kalian satu-satunya yang kupunya di dunia ini, tapi rasanya aku bahkan tidak punya siapa-siapa. Sejak Ibu bersama Rendi, Ibu selalu jahat padaku, bahkan biarkan dia melakukan hal yang sama."

Sudah empat tahun sejak Ayah meninggal. Setahun setelah itu, Ibu punya pacar baru. Dua bulan kemudian mereka sudah tinggal bersama, karena Ibu hamil Alisa, adik perempuanku. Aku yang merawatnya agar mereka berdua bisa pergi bekerja. Sejak kami pindah ke rumahnya, dia tidak pernah lagi memperlakukanku seperti dulu. Dia tak pernah berbicara kepadaku kecuali untuk mengeluh jika ada sesuatu yang hilang dari kulkas, atau membentakku memberi perintah jika ada sesuatu di rumah yang tidak pada tempatnya.

Ibuku seperti buta jika menyangkut Rendi. Dibutakan oleh cinta dan kecemburuan. Itulah sebabnya dia memperlakukanku seperti ini. Aku yakin itu. Dia begitu cemburu hingga setiap kali pria itu libur kerja, dia akan mengusirku keluar rumah seharian penuh. Aku hanya boleh kembali setelah dia pulang.

"Kenapa? Tidak senang, ya? Dialah yang membayar semua kebutuhan rumah ini. Seharusnya setiap hari kamu berlutut berterima kasih padanya. Sekarang berhenti lebay, sebelum kesabaranku benar-benar habis. Pergi mandikan Alisa. Kami mau keluar."

"Pergi ke mana?"

"Bukan kita, tapi kami. Kamu tetap di rumah. Jangan lupa rumah ini berantakan! Manfaatkan saat kami keluar untuk mengepel lantai!"

Selalu seperti itu. Sehari sebelum hari libur Rendi, mereka pasti pergi keluar. Mereka tidak pernah mengajakku. Dan sebagai bonus, aku harus berperan seperti Cinderella.

"Jangan lupa besok giliranmu keluar. Rendi akan di rumah bersama Alisa, jadi kamu bisa menikmati harimu."

Dia membuatnya terdengar seolah-olah sedang menolongku, padahal sebenarnya dia hanya tidak ingin aku sendirian di rumah bersama Rendi. Bukan karena dia takut pria itu akan melakukan sesuatu padaku, melainkan karena dia takut aku akan menggoda pria itu. Ibuku tidak mengerti bahwa sebenarnya aku merasa jijik. Aku tidak tahan dengan cara Rendi melirikku diam-diam dari sudut matanya.

Satu-satunya hal baik adalah aku berhasil menghasilkan sedikit uang. Karena Rendi dan ibuku pergi seharian, aku memanfaatkan waktu itu untuk membuat pita rambut kecil untuk anak perempuan sepanjang minggu. Pada hari liburnya, hari Jumat, aku akan keluar untuk menjualnya. Aku berdiri di dekat penitipan anak, sekolah, dan klinik bersalin. Uang yang kudapat kugunakan untuk membeli bahan lagi, dan sisanya kutabung. Aku tidak menghabiskan sepeser pun. Aku menabung agar suatu hari nanti, saat uangku sudah cukup, aku bisa pergi dari tempat ini.

Tentu saja mereka tidak tahu apa-apa tentang semua ini. Kalau sampai tahu, pasti semua uang yang kumiliki sudah mereka ambil.

Suatu hari Jumat, saat aku hendak keluar rumah, entah apa yang merasuki ibuku, tiba-tiba dia memberiku satu setengah juta dan menyuruhku membeli sesuatu yang kusukai. Saat itu dia sedang hamil. Aku sempat berpikir, 'Kalau uang ini kupakai untuk membeli sesuatu yang tidak penting, pasti langsung habis. Tapi kalau kuputar sebagai modal, mungkin bisa berkembang.' Akhirnya aku memilih yang kedua. Aku membeli beberapa pita, lem tembak, dan mutiara kecil, lalu mulai membuat pita hias sendiri. Semuanya kupelajari dari tutorial di YouTube. Semua bahan itu kusimpan dengan sangat rapi agar tidak ada yang tahu. Setiap kali keluar untuk menjualnya, aku memasukkan semuanya ke dalam sebuah ransel. Berkat usaha itu, sekarang aku sudah berhasil menabung sampai 27 juta.

Aku hanya menunggu sampai berusia delapan belas tahun agar bisa pergi. Aku ingin pindah ke kota lain, mencari pekerjaan, menyewa studio kecil, mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, lalu melanjutkan kuliah. Aku tahu itu tidak akan mudah, tetapi aku tidak melihat pilihan lain selain mempertaruhkan segalanya. Jika aku tetap tinggal di rumah itu, aku tidak akan pernah bisa masuk kuliah atau mendapatkan pekerjaan yang layak. Karena di benak Rendi dan ibuku, pekerjaanku di sana sudah dianggap terbayar dengan atap di atas kepala dan jatah makan seadanya.

Hari sudah malam ketika mereka semua pergi. Aku segera merapikan barang daganganku ke dalam ransel dan memasukkan uangnya ke sana juga. Membawa uang di jalan memang berisiko dirampok, tetapi aku lebih takut uang itu hilang di rumah. Aku merasa ibuku sering menggeledah barang-barangku saat aku tidak ada. Setelah semuanya siap, aku menelepon Isya Puspita, satu-satunya teman yang kumiliki.

"Hei, Isya, bagaimana persiapan perjalananmu?"

Isya akan pindah ke provinsi lain. Dia akan tinggal bersama bibinya setelah mendapatkan beasiswa di salah satu fakultas kedokteran terbaik di negeri ini. Kami sudah saling mengenal sejak sekolah dasar, dan sejak saat itu kami menjadi sahabat terbaik. Rencana kami sebenarnya adalah masuk universitas bersama, tetapi tahun lalu, setelah aku lulus SMA, ibuku tidak mengizinkanku mengikuti ujian masuk. Dia bilang aku harus tetap di rumah untuk menjaga adikku. Menyewa pengasuh, menurutnya hanya membuang-buang uang ketika dia masih punya anak perempuan pengangguran di rumah.

Aku benar-benar terpukul, bahkan hancur. Aku tahu sebenarnya aku juga mampu mendapatkan beasiswa itu. Selama ini aku selalu menjadi siswa berprestasi dengan nilai-nilai yang sangat baik. Sejak ayahku meninggal, tujuanku hanya satu, yaitu belajar kedokteran dan memberi ibuku masa depan yang lebih baik. Namun, kemudian Rendi muncul, semuanya pun berubah.

Semua cinta dan perhatian yang dulu Ibu berikan kepadaku berubah menjadi hinaan, perlakuan kasar, dan sikap tidak menghargai sama sekali. Semua karena kecemburuan yang gila, yang tak pernah dia akui, tetapi terlihat jelas dari setiap sikap permusuhan yang dia tunjukkan.

"Semuanya sudah siap, koperku juga sudah kusiapkan. Besok jam empat aku berangkat. Kamu bisa datang mengantarku, 'kan?"

"Tentu saja. Kamu lupa besok itu hari liburku?" jawabku dengan nada penuh sindiran.

"Aku sedih banget kita tidak bisa bersama lagi. Aku benar-benar ingin kita kuliah bersama."

"Jangan diungkit lagi, hatiku sudah hancur berkeping-keping. Tapi aku ikut senang untukmu. Kamu pasti bakal jadi ahli jantung yang hebat."

"Aku benar-benar kasihan padamu, Aura. Aku sungguh berharap setelah kamu delapan belas tahun, kamu tidak akan tinggal di sana sedetik pun lagi."

"Tentu saja tidak akan. Tinggal dua bulan lagi. Lagi pula, apa artinya dua bulan dibandingkan dengan semua yang sudah kulalui selama ini?"

"Kamu mau pergi ke mana?"

"Aku juga belum tahu. Tapi aku berencana pergi sejauh mungkin, jauh dari sini. Aku tidak tahu nanti hidupku akan seperti apa, tapi apa pun itu, pasti lebih baik daripada ini."
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
50 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status