MasukBeberapa saat setelah Fery berlalu dari kamarnya, Kayla masih duduk melamun di tepi tempat tidur. Jemari tangan kanannya tak berhenti mengusap cincin emas putih yang kini melingkar pas di jari manisnya. Otaknya masih sibuk memproses rentetan kejadian gila yang menimpanya—termasuk ucapan Fery semalam yang sukses membuat jantungnya berdetak maraton.
Tok, tok, tok.
Suara ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunan Kayla. Seorang wanita paruh baya berseragam pengurus rumah tersenyum ramah di ambang pintu.
“Permisi, Mbak Kayla... Nenek Aisyah dan keluarga besar sudah menunggu di ruang makan untuk makan malam bersama,” sapanya hangat.
Kayla tersentak, lalu buru-buru merapikan pakaian dan rambut bahunya. “A-ah, iya, Mbak. Saya segera ke sana.”
Dengan langkah sedikit ragu dan dada berdebar canggung, Kayla menyusuri koridor rumah menuju ruang makan utama. Begitu sampai di sana, matanya membelalak pelan. Ruang makan yang luas itu kini sudah ramai terisi oleh beberapa paman, bibi, dan sepupu Fery yang sengaja diundang Nenek Aisyah untuk menyambut calon cucu menantunya.
Kayla mendadak mati kaku di ambang pintu. Namun, sebelum rasa canggung itu makin menguasai dirinya, sosok Fery yang duduk di sisi meja mendadak bangkit berdiri.
Pria itu melangkah tenang mendekati Kayla, lalu mengulurkan tangannya sembari tersenyum tipis—sebuah senyuman sandiwara yang kelewat manis untuk ukuran seorang Bos Iblis.
“Kemari, Sayang. Semua sudah nungguin kamu,” bisik Fery lembut, cukup keras untuk didengar oleh seluruh anggota keluarga yang langsung berbisik-bisik gemas.
Kayla hampir saja tersedak udaranya sendiri mendengar panggilan * Sayang* dari bibir kaku pria itu. Sebelum Kayla sempat bereaksi, Fery menuntunnya menuju meja makan dan dengan sigap menarikkan salah satu kursi tepat di sebelah Nenek Aisyah.
“Silakan duduk,” ucap Fery penuh perhatian, lalu mendorong kursinya pelan setelah Kayla duduk dengan wajah memerah sempurna.
“Aduh... romantisnya Fery. Jarang-jarang lihat dia begitu perhatian sama wanita,” goda salah satu bibi Fery yang disambut tawa hangat anggota keluarga lainnya.
Nenek Aisyah menepuk pelan tangan Kayla sembari tersenyum puas. “Kan Nenek sudah bilang, Fery kalau sudah sayang sama orang, perhatiannya ndak main-main.”
Kayla hanya bisa menyunggingkan senyum kaku yang dipaksakan, sementara dalam hati ia menjerit heboh: Gila! Akting Bos Iblis ini niat banget! Aku bisa serangan jantung kalau diginiin terus!
Keesokan harinya, hari yang ditunggu—sekaligus ditakuti—akhirnya tiba.
Suasana rumah Bali milik Nenek Aisyah yang biasanya tenang, pagi ini tampak hidup dan hangat. Wangi bunga melati menyatu dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang diputar lembut dari area bale depan.
Sesuai tradisi dan arahan Nenek Aisyah, Kayla tidak duduk berdampingan dengan Fery sejak awal. Wanita itu diminta menunggu di kursi barisan belakang bersama Nenek Aisyah dan beberapa kerabat keluarga, menanti ikatan suci itu diucapkan terlebih dahulu.
Kayla menatap punggung tegap Fery yang kini duduk di kursi akad utama, berhadapan langsung dengan Pak Penghulu di meja ukir kayu. Fery tampak sangat tampan dan gagah mengenakan setelan jas beskap putih modern. Dari belakang, Kayla bisa melihat bahu Fery yang tegang—sebuah tanda bahwa sang bos iblis pun sebenarnya memendam rasa gugup yang luar biasa.
“Bisa kita mulai sekarang?” tanya Pak Penghulu memecah keheningan.
Fery mengangguk mantap. Pria itu mengulurkan tangan, menjabat erat tangan Pak Penghulu di atas meja akad.
“Saudara Fery Ardian bin Hendro saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Kayla binti Indrawan dengan maskawin seperangkat alat shalat dan perhiasan emas 32 gram dibayar tunai!”
Fery menarik napas panjang, lalu mengucapkannya dalam satu tarikan napas tanpa ragu sedikit pun:
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Kayla Putri binti Indrawan dengan maskawin tersebut dibayar tunai!”
“Bagaimana saksi? Sah?”
“Sah! Alhamdulillah...”
Gema kata sah seketika memenuhi ruangan. Nenek Aisyah yang duduk di sebelah Kayla langsung mengusap air mata bahagianya dengan sapu tangan, lalu menepuk pelan tangan Kayla.
“Ayo, Nak... Sekarang Nenek antar kamu ke samping suami kamu,” puji Nenek Aisyah dengan senyum haru yang mendalam.
Jantung Kayla mendadak berdegup dua kali lebih kencang. Dengan perlahan, Nenek Aisyah bangkit dan menuntun langkah Kayla menyusuri karpet putih menuju meja akad.
Mendengar gemerisik kain dan langkah kaki mendekat, Fery perlahan membalikkan badannya.
Begitu pandangan mereka bertemu, Fery mematung seketika. Tatapan mata pekat pria itu terkunci sepenuhnya pada sosok Kayla yang berdiri anggun mengenakan kebaya putih dengan polesan makeup tipis dan rambut disanggul rapi. Ada kilat kekaguman yang begitu jelas berkelebat di mata sang bos—sebuah binar terpesona tanpa sandiwara yang belum pernah Kayla lihat sebelumnya.
Fery bangkit berdiri dari kursinya. Ia mengulurkan tangan kanan dengan sikap gentleman saat Kayla tiba di sampingnya.
“Silakan, duduk berdampingan dulu. Sekarang pengantin wanita bisa mencium tangan suaminya,” petunjuk Pak Penghulu penuh kehangatan.
Kayla meraih jemari Fery yang terasa hangat namun sedikit gemetar. Dengan takzim, Kayla membungkuk dan mencium punggung tangan suaminya. Tak disangka, Fery membalas dengan meletakkan telapak tangannya lembut di atas kepala Kayla, membacakan doa pernikahan dengan suara rendah yang mengalun hangat tepat di telinga wanita itu.
Deg! Desiran aneh seketika menjalar ke seluruh tubuh Kayla, membuat pipinya memerah sempurna di hadapan seluruh keluarga.
Setelah prosesi itu, mereka berdua menandatangani berkas pernikahan dan menerima buku nikah sebagai bukti sah secara hukum. Acara dilanjutkan dengan momen meminta restu dan doa dari Nenek Aisyah. Suasana seketika berubah haru saat Fery berlutut, mengucapkan terima kasih tulus sekaligus memohon doa dari wanita tua yang telah membesarkannya itu.
Nenek Aisyah mengusap kepala cucunya dengan penuh kasih, lalu memberikan nasihat mendalam. Beliau meminta Fery untuk selalu menjaga Kayla dan berjanji tidak akan pernah membuat Kayla merasakan penderitaan yang dulu pernah dirasakan oleh ibu Fery.
Tanpa ragu sedikit pun, Fery mengangguk dan mengucapkan janji itu dengan suara lantang dan tegas.
Kayla yang duduk di sampingnya seketika terdiam. Sebegitu niatnya bos kejam ini berakting? pikir Kayla dalam hati. Namun, di balik rasa herannya, ada bisikan hangat di lubuk hatinya—sebuah rasa kagum dan keinginan samar untuk benar-benar memiliki pasangan yang bertanggung jawab seperti pria di sisinya ini.
Setelah acara khidmat tersebut, dilanjutkan dengan resepsi sederhana seperti keinginan Fery. Hanya ada keluarga inti dari pihak ibunya, sementara ayahnya dan keluarganya tidak hadir karena Fery sengaja tidak memberitahukan pada mereka.
Semenjak ayahnya menikah lagi dan membuat Fery kehilangan ibunya, hubungan mereka tidak baik, meski Fery masih mau menemuinya.
Malamnya, Nenek Aisyah menyuruh mereka tidur di kamar utama.
Pintu kamar terkunci rapat. Fery melepas jasnya, lalu melangkah mendekat hingga mengikis jarak di antara mereka.
“Kenapa berdiri di situ?” bisik Fery rendah dengan tatapan intens. “Kamu mau tidur di lantai... atau di kasur berdua denganku?”
eminggu berlalu dengan cepat. Kondisi kesehatan Kayla kini sudah jauh lebih pulih dan stabil berkat perhatian ekstra serta penjagaan super siaga dari Fery.Hari Sabtu yang dinanti-nanti pun tiba. Kediaman keluarga Wina dihiasi nuansa hangat dan penuh kebahagiaan. Hari ini adalah momen spesial di mana Alan akan melamar Wina secara resmi, dan Fery beserta Kayla hadir berbusana seragam sebagai perwakilan keluarga besar sekaligus sahabat terdekat.Kayla tampil begitu anggun mengenakan gaun kemeja batik modern bernuansa soft pastel yang longgar dan nyaman untuk perutnya. Di sisinya, Fery berdiri gagah mengenakan kemeja batik bermotif senada. Tangan Fery hampir tidak pernah lepas dari pinggang sang istri, selalu memastikan Kayla berjalan dengan nyaman dan tidak kelelahan."Kamu tidak merasa pusing atau mual, kan, Sayang?" bisik Fery pelan di telinga Kayla saat mereka duduk di ruang tamu keluarga Wina, menunggu acara inti dimulai.Kayla tersenyum manis seraya menepuk pelan tangan Fery di pin
Keesokan paginya, suasana di ruang VVIP Rumah Sakit Kasih Ibu terasa jauh lebih cerah. Berdasarkan hasil pemeriksaan visum pagi oleh dr. Rian, kondisi Kayla sudah menunjukkan pemulihan yang sangat baik. Infus telah dilepas, dan warna kulit Kayla yang tadinya pucat kini sudah kembali merona segar."Secara keseluruhan, kondisi Ibu Kayla dan janinnya sudah stabil dan sangat baik," ujar dr. Rian sambil merapikan papan catatan medisnya. Ia lalu melirik ke arah Fery yang berdiri siaga di samping ranjang. "Tapi ingat pesan saya, ya, Pak Fery. Ibu Kayla harus mengambil cuti atau izin istirahat total selama tiga hari ke depan di rumah. Belum boleh beraktivitas berat atau kembali ke kantor dulu, biar tubuhnya benar-benar pulih dan adaptasi kehamilannya lancar."Fery mengangguk cepat, menatap dokter dengan penuh kepatuhan. "Baik, Dok. Saya pastikan dia tidak ke mana-mana selain beristirahat di tempat tidur."Setelah dokter dan perawat keluar ruangan, Tante Maya yang turut hadir membantu Kayla me
Ruang VVIP terasa begitu tenang dan nyaman. Di atas ranjang rumah sakit, Kayla terbaring pulih dengan cairan infus yang menetes perlahan. Di sampingnya, Fery duduk setia di kursi tanpa bergeming sedetik pun. Jemari kokohnya terus menggenggam erat tangan sang istri, seolah jika ia melepasnya sebentar saja, rasa bersalah di dadanya akan makin menggebu.Tiba-tiba, pintu ruang VVIP terdorong pelan. Nenek Aisyah masuk dengan wajah tegang, didampingi oleh Tante Maya yang membawa beberapa perlengkapan Kayla.Mendengar langkah kaki mendekat, Fery langsung bangkit berdiri. "Nenek... Tante Maya..."Belum sempat Fery melanjutkan kalimatnya, Nenek Aisyah sudah melangkah mendekat dengan raut wajah gusar. Langkah wanita tua itu mantap, dan tatapan matanya tertuju lurus pada cucunya."Fery! Kamu ini bagaimana, sih?!" tegur Nenek Aisyah dengan suara tertahan namun penuh penekanan, tidak ingin membangunkan Kayla yang baru saja terlelap. "Sudah Nenek wanti-wanti semalam, Kayla itu sedang hamil muda! Ke
Fery berlutut di samping Kayla yang masih memijat tenggorokannya sendiri. Pria itu dengan sigap menahan tubuh lemas istrinya, memijat tengkuk Kayla dengan penuh kelembutan seraya membiarkan Kayla menumpahkan seluruh isi perutnya hingga yang tersisa hanya cairan asam."Maaf... Maafkan Mas, Sayang..." bisik Fery dengan suara bergetar hebat. Wajah tegas yang tadi ia tunjukkan sirna sepenuhnya, digantikan oleh raut penyesalan yang sangat dalam. Ia merangkul tubuh Kayla yang gemetar ketakutan, mengambil tisu dan membantunya membasuh bibir serta merapikan rambut sang istri.Kayla menyandarkan kepalanya yang terasa begitu berat di dada Fery. Napasnya terengah-engah dengan sisa air mata yang masih membasahi pipi. "Kan... kan aku udah bilang... aku nggak bisa cium bau brokoli itu, Mas..." bisik Kayla lirih, suaranya sangat lemah.Tiba-tiba saja pandangan Kayla kabur, gelap seketika, dan tubuhnya lemas terkulai jatuh ke dalam pelukan Fery.Fery gelagapan. Wajahnya yang tadinya pucat karena pani
Waktu menunjukkan pukul 11.59 WIB. Tepat semenit sebelum jarum jam menyentuh angka 12, pintu ruangan Kadiv Keuangan diketuk dua kali secara teratur.Belum sempat Wina mengucapkan kata "masuk", gagang pintu sudah terdorong terbuka. Sosok Fery berdiri tegap di sana, masih mengenakan setelan jas mewahnya namun tanpa dasi, memberikan kesan sedikit lebih santai."Poin empat dalam perjanjian tadi pagi: jam 12 pas," ujar Fery seraya melirik jam tangan Rolex di pergelangan tangannya, lalu menatap Kayla dengan senyum tipis yang sarat akan kemenangan.Wina yang sedang menutup laptopnya langsung terkekeh geli. "Luar biasa, ketepatan waktu Pak CEO Seven Group memang tidak pernah meleset sedetik pun kalau menyangkut istrinya."Kayla hanya bisa menyunggingkan senyum pasrah. Ia merapik
Fery langsung merengkuh bahu Kayla dengan sangat hati-hati, menarik istrinya kedalam dekapan hangatnya. Kayla yang tadinya berusaha menahan diri akhirnya membiarkan isak tangisnya pecah di dada suaminya."Ssssh... Hey, kenapa nangis, Sayang? Maafin Mas, ya..." bisik Fery penuh penyesalan, tangannya terampil mengelus lembut rambut panjang Kayla. "Mas minta maaf kalau nada bicara Mas tadi kedengeran bentak atau bikin kamu sedih. Mas cuma khawatir sama kondisi kamu dan penumpang kecil di sini."Kayla mendongak, menatap Fery dengan mata yang basah dan hidung yang memerah. Jemarinya mencengkeram erat kemeja yang dikenakan suaminya. "Bukannya aku keras kepala, Mas... Tapi laporan kuartal ketiga itu tanggung jawab aku sama Wina. Kalau aku nggak masuk hari ini, kerjaan Wina bakal keteteran banget pas dia cuti... Lagian badan aku udah enakan, nggak selemas tadi subuh."Melihat mata sembab istrinya, pertahanan diri Fery seketika runtuh total. Sebagai suami, melihat Kayla menangis karena hormon







