MasukHari sial memang tidak pernah ada di kalender. Hal itulah yang dirasakan Kayla wanita yang baru saja berulang tahun ke-24, staf keuangan yang ceroboh salah melampirkan file semalam akibat kelelahan. Bukannya laporan anggaran, yang terkirim ke email Fery Ardian pria berusia 28 tahun, Kepala Divisi Keuangan yang dingin bak kulkas seribu pintu, malah draf novel romantis berisi sindiran kocak tentang dirinya! Panik karena sistem terkunci, Kayla nekat mengirim pesan pribadi: “Bos, Tolong Hapus Email Itu!” Bukannya mendapat persetujuan, Kayla malah dijebak nikah kontrak oleh Fery demi desakan sang nenek. Aturan mutlak dibuat: Jangan sampai orang kantor tahu! Namun, sandiwara di balik kubikal kantor terancam berantakan saat teman masa kecil Fery tiba-tiba hadir. Didorong rasa cemburu, wanita itu siap membongkar rahasia mereka. Akankah pernikahan rahasia ini mampu bertahan?
Lihat lebih banyakNapas Fery berembus cepat saat matanya mengawasi pria ber-hoodie itu melangkah pergi dan melebur cepat di kerumunan pasar malam.“Fer, tahan! Jangan gegabah,” bisik Alan tegas, mempererat cengkeramannya di lengan Fery. “Pria itu sengaja tidak menyerang. Dia cuma memberikan kertas.”Di depan stan kopi, Kayla membeku sejenak menatap gulungan kertas kecil di telapak tangannya. Wina yang berdiri di sebelahnya ikut terperanjat, matanya bolak-balik menatap kertas dan punggung pria misterius yang baru saja menghilang.“Kay... itu siapa? Kamu kenal?” tanya Wina berbisik cemas.“Nggak kenal, Win,” jawab Kayla pelan. Rasa penasaran mengalahkan ketakutannya. Dengan jemari yang sedikit bergetar, Kayla membuka lipatan kertas kecil itu.Tidak ada tulisan ancaman atau tinta merah teror. Di sana hanya tertera sebuah deretan angka akun analisis. “SG-09 / Cabang Utara / Selisih 14%.” hanya itu, membuat Kayla menyerngit menatap pesan itu. Sebagai orang keuangan, matanya langsung tertuju pada kode SG-09
Mobil itu melaju membelah jalanan kota sore itu. Di tengah perjalanan, Alan memajukan tubuhnya sedikit dari kursi belakang, menyandarkan siku di antara dua kursi depan seraya melemparkan senyum jahil pada Wina.“Nah, Win, kapan lagi disetirin sama CEO sendiri,” goda Alan.Wina mendengus pelan, menatap Alan dengan tatapan pasrah. “Mas Alan, tolong ya... jangan bikin saya makin canggung. Ini rasanya lebih deg-degan daripada sidang skripsi!”Kayla melirik Wina melalui spion dalam, lalu menertawakan sahabatnya itu. “Tenang aja, Win. Kalau Pak CEO ini nyetirnya ugal-ugalan, dipotong aja gajinya nanti.”“Mana ada staf potong gaji CEO-nya sendiri,” sahut Fery terkekeh santai seraya mempertahankan genggaman tangannya di atas pangkuan Kayla, mengemudikan mobil hanya dengan satu tangan. “Tapi khusus sore ini, anggap aja saya cuma suaminya Kayla, bukan bos kalian. Bebas mau pesan jajanan apa aja, Alan yang bayar.”“Lho! Kok aku yang bayar, Fer?!” seru Alan tidak terima dari belakang. “Tadi janji
“Om Dani, maaf membuat Anda menunggu,” ucap Fery seraya mendudukkan diri di kursi kerjanya, mengubah nada bicaranya menjadi formal dan serius.Di seberang panggilan aman, Om Dani terkekeh pelan. “Om paham kok. Kamu memang lagi bucin-bucinnya, tapi ingat, jangan sampai tindakanmu justru menyulitkan posisi Kayla di kantor.”Fery tersenyum tipis merespons nada godaan pamannya itu. “Tentu, Om. Jadi, bagaimana perkembangan terkini? Apa langkah selanjutnya yang harus kita ambil?”“Om sudah mengatur tim kuasa hukum terbaik kita untuk segera mengajukan gugatan penarikan seluruh aset perusahaan yang selama ini dikuasai Hendro secara ilegal,” jawab Om Dani tegas. “Bukan cuma aset Seven Group, tapi juga seluruh porsi saham peninggalan almarhumah ibumu yang sempat dia alihkan secara sepihak.”Fery mengusap dagunya, matanya menatap tajam dokumen di atas meja. “Bagaimana kalau Hendro dan Mariana memakai celah perjanjian pernikahan itu untuk melawan kita? Mereka pasti berusaha membuktikan kalau saya
Status CEO definitif memang sudah di tangan Fery, dan ancaman Hendro di hadapan Nenek Aisyah berujung jadi lelucon konyol yang mempermalukan pria paruh baya itu sendiri. Namun, dinamika di kantor Seven Group justru makin memanas dengan cara yang berbeda.Pagi itu, interkom di meja kerja Kayla berbunyi dua kali.“Ruang CEO. Sekarang,” suara Fery mengalun dingin melalui pengeras suara internal, khas nada bicaranya jika sedang memberi perintah kerja.Kayla menghela napas pendek, mengabaikan tatapan selidik dari dua rekan kerja di sebelahnya. Dengan map berkas di pelukan, ia melangkah menyusuri koridor lantai atas menuju ruangan megah berpintu kaca es tersebut.Begitu pintu ruang CEO tertutup rapat dan terkunci otomatis, ketegangan formalitas itu menguap seketika.Fery langsung bangkit dari kursi eksekutifnya, melangkah lebar mendekati Kayla, lalu mengambil alih tumpukan berkas dari tangan istrinya dan meletakkannya asal di atas meja. Sebelum Kayla sempat memprotes, Fery sudah menarik pin


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan