Home / Fantasi / Sang Penjaga Pajajaran / Bab 117. Waktu yang Pulang

Share

Bab 117. Waktu yang Pulang

last update Last Updated: 2025-12-28 18:58:52

Langit Gunung Padang belum sepenuhnya gelap. Sisa-sisa cahaya lembayung masih menggantung di cakrawala, menyisakan bayangan halus pada batu-batu purba yang kini berkilau seperti bernapas.

Saat itu Larisa tampak berdiri di tepi teras,

rambutnya bergerak perlahan tertiup angin lembut yang beraroma tanah basah dan dupa. Di hadapannya, hamparan lembah tampak seperti laut cahaya, layaknya ribuan titik api kecil, bukan dari manusia, tapi dari tanah itu sendiri.

“Juna,” katanya pelan, “lihat... bumi seperti sedang mengingat sesuatu.”

Arjuna berjalan melangkah mendekat, Kujang Layung tergantung di sisi tubuhnya, bergetar lembut seperti detak jantung.

“Itu bukan ingatan, Larisa,” katanya. “Itu waktu yang sedang pulang ke tempat asalnya.”

Larisa memandangnya, tak memahami sepenuhnya. “Waktu… pulang?”

Arjuna mengangguk. “Selama ribuan tahun, waktu berjalan menjauh dari rasa.

Manusia memecahnya menjadi masa lalu dan masa depan, padahal waktu hanya ingin menjadi rasa yang terus berlanjut.”

Larisa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 131. Pajajaran Eling

    Fajar menyapu langit dengan warna lembayung yang nyaris putih dan Gunung Rakata tampak berdiri diam seperti penjaga waktu dan di lembah di bawahnya, kehidupan baru terlihat mulai bernapas.Dunia telah berubah, bukan secara tiba-tiba, tetapi perlahan, seperti layaknya bunga yang membuka kelopaknya di musim yang abadi.Saat itu Larisa sedang berdiri di tepi lembah seraya menatap permukiman yang kini tumbuh alami dari bumi, bukan dibangun, tapi tumbuh. Rumah-rumah terbuat dari batu hidup dan kayu yang berakar di tanah, atapnya berkilau lembut seperti daun di bawah embun.Tak ada suara mesin, tak ada jalan raya, yang ada hanya aliran air yang berbisik dan angin yang bernyanyi.Larisa menghela napas pelan. “Inikah… Pajajaran Eling?”Nagara berdiri di sampingnya, rambutnya kini sedikit panjang, matanya terlihat tenang dan dalam.“Iya, Kak Larisa. Bukan kerajaan seperti dulu. Tapi ingatan yang hidup,” ujar Nagara.Larisa menatapnya. “Ingatan?”Nagara tersenyum samar. “Pajajaran dulu adalah t

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 130. Cahaya yang Kembali

    Senja turun di lembah Rakata dan cahaya lembayung menyelimuti Pohon Layung seperti jubah suci. Daun-daunnya bergetar pelan, mengeluarkan suara lembut seperti kidung purba.Larisa berdiri di tepi danau seraya menatap permukaan air yang berkilau lembut seperti cermin niskala.Di sampingnya, Nagara duduk bersila dengan mata terpejam. Sementara Raksa dan Ratih menjaga di belakang dalam hening penuh hormat.Hari itu terasa berbeda. Udara lebih padat,suara burung berhenti dan cahaya matahari tak lagi jatuh lurus — ia berputar di langit seperti sedang mencari pusatnya sendiri.Larisa berbisik pelan, “Nagara… kau merasakannya?”Nagara membuka matanya perlahan. “Ya, Kak Larisa. Bumi sedang memanggil seseorang pulang.”Larisa menatap langit dan di kejauhan, awan membentuk lingkaran besar yang berputar di atas puncak gunung. Dari tengah pusaran itu, cahaya keemasan turun perlahan lalu menyentuh tanah seperti air hujan suci.Raksa melangkah maju. “Itu… cahaya dari masa lalu.”Ratih menunduk, mat

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 129. Kitab Layung

    Ketika itu sore turun perlahan di lembah Rakata. Langit tampak membentang seperti kain batik tua, berwarna lembayung dan keemasan dengan garis cahaya menari lembut di cakrawala.Nagara duduk di bawah Pohon Layung,di hadapannya terbuka sebuah kitab besar dari kulit pohon tua, lembarannya berwarna gading lembut dan di ujung setiap halaman, terlihat garis halus yang tampak seperti urat nadi.Ia menatap kitab itu lama, menyentuh halamannya dengan ujung jari. Setiap kali ia menyentuhnya, halaman itu bergetar lembut seolah hidup.Larisa datang mendekat. Ia membawa dupa kecil dan kendi berisi air dari sumber Rakata.“Air ini,” katanya pelan, “masih memantulkan cahaya seperti dulu. Sepertinya waktu tidak benar-benar berlalu.”Nagara menatapnya lembut. “Waktu tidak pernah berlalu, Kak Larisa. Ia hanya berputar di dalam rasa yang mengingat.”Larisa tersenyum. “Lalu apa yang akan kau tulis di dalam Kitab Layung?”Nagara menatapnya dalam. “Bukan aku yang akan menulisnya. Kitab ini akan menulis d

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 128. Sang Pewaris Waktu

    Langit Bandung pagi itu berwarna lembayung keperakan. Udara mengalir pelan, membawa aroma tanah basah dan daun muda.Di lembah Rakata, tempat dimana Pohon Layung berdiri, dunia seolah bernafas lebih dalam.Nagara duduk bersila di tepi danau kecil,menatap permukaan air yang berkilau seperti kaca hidup. Bayangannya terpantul jelas, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda, bayangan itu tersenyum padanya lebih dulu.Ia menatapnya lama. “Apakah ini masa depan… atau masa laluku sendiri?”Suara lembut datang dari belakangnya.“Kadang masa depan hanya masa lalu yang menunggu untuk diingat.”Nagara menoleh. Ia kemudian melihat Arjuna berdiri di sana, wajahnya terlihat teduh dengan cahaya mata lembut seperti sinar matahari pertama.“Guru…” bisik Nagara, “aku bisa merasakan sesuatu dari air ini. Seolah setiap tetesnya menyimpan waktu.”Arjuna mendekat dan duduk di sampingnya. “Itulah sebabnya kau disebut pewaris waktu, Nak. Karena kau bukan hanya mengingat masa lalu, tapi juga menyadarkan masa d

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 127. Nyanyian Tanah dan Langit

    Ketika itu fajar datang seperti tarikan napas panjang. Langit tampak berwarna keperakan, dan dari cakrawala, cahaya lembut turun perlahan kemudian menyentuh pucuk-pucuk pohon yang bergoyang pelan.Di bawah Pohon Layung, Nagara terlihat serang duduk bersila dengan mata terpejam. Dari telapak tangannya, mengalir cahaya biru yang merambat ke tanah dan dari tanah itu, muncul semburat keemasan yang melingkar ke udara.Raksa dan Ratih berdiri di belakangnya,menatap fenomena itu dengan kekaguman yang tak bisa diucapkan.Larisa berjalan mendekat, rambutnya tertiup angin lembut yang datang dari arah gunung. Ia berhenti di samping Arjuna,yang sedang berdiri memandangi pemandangan itu dengan tenang.“Juna,” katanya pelan, “ini... bukan hanya cahaya biasa. Aku bisa mendengarnya.”Arjuna tersenyum lembut. “Ya, Larisa. Itu nyanyian tanah dan langit.”Larisa menatapnya bingung. “Nyanyian?”“Dulu, sebelum manusia datang,” ujar Arjuna, “bumi bernyanyi untuk langit,dan langit menjawab dengan hujan

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 126. Mereka yang Menutup Hati

    Ketika itu fajar datang dengan cahaya lembut yang anehnya terasa jauh. Udara di atas Bandung tidak lagi sehangat seperti biasanya, seperti ada sesuatu yang menekan, halus tapi nyata.Disaat yang sama, Larisa terbangun lebih awal. Dari jendela laboratorium, ia melihat kabut berwarna abu menutupi sebagian kota. Namun Ia yakin bahwa ini bukan kabut biasa, tampak tidak berpendar jingga seperti biasnya cahaya bumi,melainkan kusam, seperti bayangan yang kehilangan gema.“Juna…” panggilnya.Arjuna yang berdiri di ujung ruangan, tampak memandangi langit pagi itu. Wajahnya terlihat tenang, tapi matanya dalam.“Arus rasa melemah di sini,” katanya pelan.Larisa menatap layar hologram di depannya. Beberapa area di dunia kini berwarna gelap, bahkan zona di mana resonansi rasa menghilang sepenuhnya.“Itu... pusat kota-kota besar,” katanya khawatir. “Jakarta, Tokyo, Berlin, Chicago... semua menurun drastis dalam 24 jam terakhir.”Arjuna menunduk, berbisik lirih,“Manusia mulai menutup hatinya lagi.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status