/ Fantasi / Sang Penjaga Pajajaran / Bab 116 – Gunung Padang

공유

Bab 116 – Gunung Padang

last update 최신 업데이트: 2025-12-27 06:37:33

Langit barat memerah lembut ketika mereka tiba di kaki Gunung Padang.

Kabut terlihat menggantung tipis, menyelimuti pepohonan bambu yang berderak pelan tertiup angin.

Suara burung hantu samar terdengar dari kejauhan, dan di udara, aroma tanah lembab bercampur dengan harum dupa alami yang terbawa dari desa-desa bawah.

Larisa menatap jalan menanjak di depan mereka. Tangga batu yang tidak rata tampak membentang, ditutupi lumut hijau tua yang lembab.

“Tempat ini… seperti tidur tapi tetap bermimpi,” bisiknya.

Arjuna mengangguk pelan. “Karena disinilah bumi pertama kali diajari arti waktu, Larisa. Setiap batu di sini menyimpan napas dari masa yang bahkan belum dikenal sejarah.”

Larisa menatapnya dengan kagum. “Juna, aku masih tidak mengerti… bagaimana mungkin sesuatu bisa lebih tua dari sejarah?”

Arjuna tersenyum lembut. “Karena sejarah hanya mencatat yang bisa dilihat, sementara rasa mencatat yang bisa dirasakan.”

Mereka pun menaiki tangga perlahan.

Langkah Arjuna terlihat ringan dan bahka
이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 134. Sangkan Paraning Rasa

    Sunyi. Tak ada suara angin, tak ada denting waktu. Yang terdengar hanyalah gema lembut, seperti detak jantung yang meluas ke seluruh jagat.Langit lembayung terbentang luas di atas bumi yang berpendar. Gunung Rakata, tempat segalanya dimulai kini telah menjadi dataran cahaya. Tak ada batu, tak ada pohon, semuanya berubah menjadi wujud energi murni yang lembut dan menyatu antara dunia nyata dan niskala.Di tengah dataran itu berdiri sebuah sosok. Sosok itu tak lain adalah Nagara.Ia tak lagi muda, tapi juga tak menua.Tubuhnya memancarkan sinar biru dan keemasan, wajahnya juga terlihat memancarkan kedamaian abadi.Di tangannya, ia memegang Kujang Layung, yang kini tidak lagi berupa logam,melainkan cahaya padat, simbol dari rasa yang telah menjadi wujud.Nagara menatap langit yang memantulkan dirinya. Ia tahu, ini bukan lagi dunia yang ia kenal. Ini adalah dunia yang telah selesai belajar menjadi diri sendiri.“Guru…” bisiknya pelan.Kemudian suara lembut terdengar di udara. Tidak data

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 133. Cahaya yang Tak Tertidur

    Seribu tahun telah berlalu sejak masa Pajajaran Eling. Namun dunia tidak menua, ia hanya berganti bentuk, seperti air yang berpindah wadah, tetapi tetap memiliki rasa yang sama.Langit kini bersinar lembut setiap malam,tanpa bintang, tanpa matahari, karena bumi sendiri telah menjadi sumber cahaya.Gunung-gunung berpendar seperti lilin raksasa dan laut berkilau dengan warna biru yang berpadu dengan emas.Tak ada malam yang benar-benar gelap.Tak ada hari yang benar-benar terang.Hanya keseimbangan abadi di antara keduanya, dan itulah tanda dunia yang telah sadar sepenuhnya.Di tengah daratan luas tempat dulu berdiri Gunung Rakata, kini berdiri Menara Rasa Layung, struktur hidup yang tumbuh dari batu dan cahaya. Menara itu tidak dibangun oleh tangan manusia,melainkan lahir dari kehendak bumi sendiri, sebagai simbol kesadaran yang telah mencapai bentuk sempurnanya.Di puncaknya, terdapat ruang melingkar tanpa dinding. Di sana duduk seorang wanita. Rmbutnya yang putih tampak berkilau, m

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 132. Lagu dari Masa Depan

    Ketika itu langit terlihat berwarna biru keperakan. Tak ada matahari, tapi dunia tetap terang. Sebab cahaya kini datang dari tanah, dari air, dari udara dan bahkan semuanya memancarkan warna lembut seperti embun yang menyala.Di antara pegunungan dan lembah yang luas, terdapat sebuah desa bernama Sangkan Layung. Desa itu tidak memiliki jalan raya atau menara logam, namun udara di atasnya bergetar lembut,karena di sana manusia hidup berdampingan dengan getaran rasa bumi.Seorang anak perempuan berlari di sepanjang sungai kecil. Rambutnya hitam tampak berkilau dengan mata yang sejernih pagi. Ia membawa alat musik kecil dari bambu, alat yang disebut seruling rasa, yang hanya bisa dimainkan oleh mereka yang hidup dalam kesadaran penuh.Anak perempuan itu kemudian berhenti di bawah pohon besar dan menatap batu tinggi yang tertancap di tanah. Batu itu bersinar lembut, diukir dengan lambang kujang dan aksara tua:“Pajajaran Eling – Rasa Moal Sirna.”Anak itu berlutut dan menyentuh ukiran te

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 131. Pajajaran Eling

    Fajar menyapu langit dengan warna lembayung yang nyaris putih dan Gunung Rakata tampak berdiri diam seperti penjaga waktu dan di lembah di bawahnya, kehidupan baru terlihat mulai bernapas.Dunia telah berubah, bukan secara tiba-tiba, tetapi perlahan, seperti layaknya bunga yang membuka kelopaknya di musim yang abadi.Saat itu Larisa sedang berdiri di tepi lembah seraya menatap permukiman yang kini tumbuh alami dari bumi, bukan dibangun, tapi tumbuh. Rumah-rumah terbuat dari batu hidup dan kayu yang berakar di tanah, atapnya berkilau lembut seperti daun di bawah embun.Tak ada suara mesin, tak ada jalan raya, yang ada hanya aliran air yang berbisik dan angin yang bernyanyi.Larisa menghela napas pelan. “Inikah… Pajajaran Eling?”Nagara berdiri di sampingnya, rambutnya kini sedikit panjang, matanya terlihat tenang dan dalam.“Iya, Kak Larisa. Bukan kerajaan seperti dulu. Tapi ingatan yang hidup,” ujar Nagara.Larisa menatapnya. “Ingatan?”Nagara tersenyum samar. “Pajajaran dulu adalah t

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 130. Cahaya yang Kembali

    Senja turun di lembah Rakata dan cahaya lembayung menyelimuti Pohon Layung seperti jubah suci. Daun-daunnya bergetar pelan, mengeluarkan suara lembut seperti kidung purba.Larisa berdiri di tepi danau seraya menatap permukaan air yang berkilau lembut seperti cermin niskala.Di sampingnya, Nagara duduk bersila dengan mata terpejam. Sementara Raksa dan Ratih menjaga di belakang dalam hening penuh hormat.Hari itu terasa berbeda. Udara lebih padat,suara burung berhenti dan cahaya matahari tak lagi jatuh lurus — ia berputar di langit seperti sedang mencari pusatnya sendiri.Larisa berbisik pelan, “Nagara… kau merasakannya?”Nagara membuka matanya perlahan. “Ya, Kak Larisa. Bumi sedang memanggil seseorang pulang.”Larisa menatap langit dan di kejauhan, awan membentuk lingkaran besar yang berputar di atas puncak gunung. Dari tengah pusaran itu, cahaya keemasan turun perlahan lalu menyentuh tanah seperti air hujan suci.Raksa melangkah maju. “Itu… cahaya dari masa lalu.”Ratih menunduk, mat

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 129. Kitab Layung

    Ketika itu sore turun perlahan di lembah Rakata. Langit tampak membentang seperti kain batik tua, berwarna lembayung dan keemasan dengan garis cahaya menari lembut di cakrawala.Nagara duduk di bawah Pohon Layung,di hadapannya terbuka sebuah kitab besar dari kulit pohon tua, lembarannya berwarna gading lembut dan di ujung setiap halaman, terlihat garis halus yang tampak seperti urat nadi.Ia menatap kitab itu lama, menyentuh halamannya dengan ujung jari. Setiap kali ia menyentuhnya, halaman itu bergetar lembut seolah hidup.Larisa datang mendekat. Ia membawa dupa kecil dan kendi berisi air dari sumber Rakata.“Air ini,” katanya pelan, “masih memantulkan cahaya seperti dulu. Sepertinya waktu tidak benar-benar berlalu.”Nagara menatapnya lembut. “Waktu tidak pernah berlalu, Kak Larisa. Ia hanya berputar di dalam rasa yang mengingat.”Larisa tersenyum. “Lalu apa yang akan kau tulis di dalam Kitab Layung?”Nagara menatapnya dalam. “Bukan aku yang akan menulisnya. Kitab ini akan menulis d

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status