Home / Fantasi / Sang Penjaga Pajajaran / Bab 118. Anak dari Dua Dunia

Share

Bab 118. Anak dari Dua Dunia

last update Last Updated: 2025-12-28 19:08:04

Pagi menyelimuti Gunung Padang dalam kabut lembut yang menari di antara pohon-pohon pinus. Suara burung terdengar bercampur dengan desir angin, menciptakan harmoni yang terdengar seperti lagu purba, sebuah lagu yang pernah dilupakan dan kini dinyanyikan kembali oleh bumi.

Larisa berdiri di tepi teras batu seraya memandangi matahari yang perlahan naik.

Tablet di tangannya masih menyala, tapi ia tidak lagi menulis data. Ia hanya menatap halaman kosong yang menampilkan kalimat terakhir dari jurnal pribadinya:

“Manusia tidak perlu menjadi dewa untuk memahami bumi. Mereka hanya perlu diam dan mendengar napasnya.”

Ia tampak tersenyum kecil. Sejak malam penyatuan waktu di puncak candi, dunia telah berubah pelan-pelan. Bukan karena keajaiban besar, tapi karena hal-hal kecil, dimana manusia mulai bicara lebih lembut, mulai menatap langit dengan kagum,

dan mulai mengingat sesuatu yang selama ini hilang, yaitu rasa.

Suara langkah ringan terdengar di belakangnya.

“Masih menulis, Kak?”

Larisa men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 128. Sang Pewaris Waktu

    Langit Bandung pagi itu berwarna lembayung keperakan. Udara mengalir pelan, membawa aroma tanah basah dan daun muda.Di lembah Rakata, tempat dimana Pohon Layung berdiri, dunia seolah bernafas lebih dalam.Nagara duduk bersila di tepi danau kecil,menatap permukaan air yang berkilau seperti kaca hidup. Bayangannya terpantul jelas, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda, bayangan itu tersenyum padanya lebih dulu.Ia menatapnya lama. “Apakah ini masa depan… atau masa laluku sendiri?”Suara lembut datang dari belakangnya.“Kadang masa depan hanya masa lalu yang menunggu untuk diingat.”Nagara menoleh. Ia kemudian melihat Arjuna berdiri di sana, wajahnya terlihat teduh dengan cahaya mata lembut seperti sinar matahari pertama.“Guru…” bisik Nagara, “aku bisa merasakan sesuatu dari air ini. Seolah setiap tetesnya menyimpan waktu.”Arjuna mendekat dan duduk di sampingnya. “Itulah sebabnya kau disebut pewaris waktu, Nak. Karena kau bukan hanya mengingat masa lalu, tapi juga menyadarkan masa d

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 127. Nyanyian Tanah dan Langit

    Ketika itu fajar datang seperti tarikan napas panjang. Langit tampak berwarna keperakan, dan dari cakrawala, cahaya lembut turun perlahan kemudian menyentuh pucuk-pucuk pohon yang bergoyang pelan.Di bawah Pohon Layung, Nagara terlihat serang duduk bersila dengan mata terpejam. Dari telapak tangannya, mengalir cahaya biru yang merambat ke tanah dan dari tanah itu, muncul semburat keemasan yang melingkar ke udara.Raksa dan Ratih berdiri di belakangnya,menatap fenomena itu dengan kekaguman yang tak bisa diucapkan.Larisa berjalan mendekat, rambutnya tertiup angin lembut yang datang dari arah gunung. Ia berhenti di samping Arjuna,yang sedang berdiri memandangi pemandangan itu dengan tenang.“Juna,” katanya pelan, “ini... bukan hanya cahaya biasa. Aku bisa mendengarnya.”Arjuna tersenyum lembut. “Ya, Larisa. Itu nyanyian tanah dan langit.”Larisa menatapnya bingung. “Nyanyian?”“Dulu, sebelum manusia datang,” ujar Arjuna, “bumi bernyanyi untuk langit,dan langit menjawab dengan hujan

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 126. Mereka yang Menutup Hati

    Ketika itu fajar datang dengan cahaya lembut yang anehnya terasa jauh. Udara di atas Bandung tidak lagi sehangat seperti biasanya, seperti ada sesuatu yang menekan, halus tapi nyata.Disaat yang sama, Larisa terbangun lebih awal. Dari jendela laboratorium, ia melihat kabut berwarna abu menutupi sebagian kota. Namun Ia yakin bahwa ini bukan kabut biasa, tampak tidak berpendar jingga seperti biasnya cahaya bumi,melainkan kusam, seperti bayangan yang kehilangan gema.“Juna…” panggilnya.Arjuna yang berdiri di ujung ruangan, tampak memandangi langit pagi itu. Wajahnya terlihat tenang, tapi matanya dalam.“Arus rasa melemah di sini,” katanya pelan.Larisa menatap layar hologram di depannya. Beberapa area di dunia kini berwarna gelap, bahkan zona di mana resonansi rasa menghilang sepenuhnya.“Itu... pusat kota-kota besar,” katanya khawatir. “Jakarta, Tokyo, Berlin, Chicago... semua menurun drastis dalam 24 jam terakhir.”Arjuna menunduk, berbisik lirih,“Manusia mulai menutup hatinya lagi.

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 125. Arus Rasa

    Langit di atas Bandung pagi itu terlihat berwarna biru muda, kendati demikian ada sesuatu yang berbeda, yakni warna itu seolah hidup, tampak berdenyut lembut seperti napas.Udara pun berubah, terdengar lebih hening, tapi juga lebih penuh. Seolah setiap hembusan angin mengandung cerita.Larisa berdiri di balkon laboratoriumnya,menatap kota yang perlahan bersinar dalam kabut jingga.Sejak Getar Waktu terjadi, semua jam masih berhenti. Namun kehidupan tidak berhenti, ia justru bergerak dengan ritme yang lebih dalam, seperti sebuah lagu yang tidak lagi diputar, tetapi dapat dirasakan di dalam dada.“Juna,” panggilnya pelan, “kau bisa merasakannya?”Arjuna yang sedang duduk di bawah jendela menatapnya tenang. “Ya, Larisa. Dunia kini bernafas dengan rasa.”Larisa menatap ujung cakrawala, “Rasanya seperti semuanya terhubung.Ketika aku menatap langit, aku bisa merasakan detak jantung bumi.”Arjuna berdiri perlahan, mendekatinya.“Itulah Arus Rasa. Dunia kini hidup dalam satu napas bersama.

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 124. Getar Waktu

    Keheningan malam itu turun seperti kabut lembayung yang lembut. Langit di atas Bandung tidak lagi gelap, tapi berkilau oleh ribuan cahaya kecil yang menari perlahan, seperti partikel bintang yang jatuh tanpa gravitasi.Saat itu Arjuna berdiri di depan Pohon Layung, tangannya tampak menyentuh batang bercahaya itu dengan hati-hati.“Larisa,” katanya pelan, “kau dengar?”Larisa mendekat, menajamkan pendengarannya. Suara lembut terdengar dari dalam batang pohon, bukan suara nyanyian, bukan angin, melainkan sesuatu yang lebih halus, seperti gema dari masa yang belum pernah ada.“Itu…” bisik Larisa, “seperti suara detak jantung… tapi bukan dari bumi.”Arjuna mengangguk perlahan. “Itu suara waktu.”Larisa menatapnya kaget. “Waktu… berdenyut?”“Ya.” Arjuna menatap langit yang kini berlapis warna ungu, biru, dan keemasan.“Bumi sudah hidup, rasa sudah bangun.Sekarang giliran waktu yang mulai mengingat dirinya sendiri.”Bersamaan dengan itu di seluruh kota, jam-jam berhenti berdetak. Namun an

  • Sang Penjaga Pajajaran   Bab 123. Pesan dari Tanah

    Ketika itu subuh datang tanpa suara. Langit di atas Bandung tampak seperti lembaran air, tenang dan bercahaya lembut.Pohon Layung yang berdiri tegak di tengah kota daunnya tampak berkilau, seperti ribuan matahari kecil yang memantulkan warna emas pucat ke sekeliling taman.Larisa berdiri di tepi taman, menggenggam sebuah batu kecil, itu adalah pecahan cahaya dari batang pohon. Batu itu terluhat berdenyut halus, dan setiap denyutnya seolah menyatu dengan detak jantungnya sendiri.“Juna,” bisiknya, “rasanya… seperti bumi bernafas di dalamku.”Arjuna berdiri di sampingnya, matanya memandangi ujung langit. Udara pagi terasa berbeda, lebih berat, namun menenangkan.“Larisa,” katanya pelan, “itu karena bumi memang sedang berbicara melalui kita semua.”Larisa menatapnya heran. “Berbicara?”“Ya.” Arjuna mengangguk perlahan. “Pesan dari tanah sudah mulai menyebar.Bukan lewat kata, tapi lewat rasa yang menular ke setiap hati manusia.”Beberapa kilometer dari sana, di kawasan Cimenyan, Raksa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status