LOGINScarlett perlahan mengurai pelukannya, membiarkan tubuh mereka berjarak beberapa senti saja.
Dia mendongak, lalu menangkup pipi cekung Valerian yang ternoda bercak darah ilusi dengan kedua telapak tangannya yang hangat.Kulit Valerian terasa kasar dan dingin, bergetar akibat gejolak amarah dan ketakutan yang belum reda."Yang tidak bisa kamu jaga adalah penyesalan masa lalu," ucap Scarlett dengan nada suara yang jernih, mantap, dan sarat akan penekanan. "Tapi kamuScarlett masih berusaha mencerna seluruh ucapan Valerian yang terasa begitu nyata namun membingungkan. Di tengah lamunannya, suara berat dan serak milik Killain mendadak terdengar dari arah belakang kursinya. "Kalau begitu, aku yang bertanggung jawab untuk membereskan dan mempersiapkan kamar," ucap Killian, nadanya datar namun sarat akan pengabdian. "Agar Tuan bisa merayakan hari ulang tahun ini dengan tenang tanpa ada gangguan." Kalimat itu benar-benar mencerminkan ciri khas sang bodyguard. Dia selalu siap siaga, penuh pengertian, dan fokus pada kenyamanan mutlak Scarlett. Tidak mau kalah, Zayn menimpali dari posisinya. Duyung berambut biru itu sengaja memasang nada suara yang dibuat-buat mengalah, terdengar sedikit menyedihkan namun sangat manja di telinga Scarlett. "Selama Tuan merasa senang... bagiku, melakukan apa pun sama sekali tidak menjadi masalah."
Di dalam ruang makan yang hangat dan dipenuhi aroma manis, ibu Scarlett melangkah mendekat dengan langkah kaki yang begitu lembut. Wajahnya memancarkan kasih sayang yang murni, tipe kehangatan keluarga yang sudah sangat lama tidak pernah Scarlett rasakan sejak terjebak dalam permainan penaklukan ini. Wanita paruh baya itu menurunkan tubuhnya sedikit, menyerahkan sebuah kue ulang tahun dengan hiasan buah stroberi segar yang cantik tepat ke hadapan Scarlett. "Scarlett, selamat ulang tahun. Mulai sekarang, ayah dan ibu akan selalu menemanimu di masa depan," ucap sang ibu dengan suara keibuan yang teramat lembut. Scarlett tercengang di kursinya. Tubuhnya kaku, dan sepasang mata ungunya mendadak berkaca-kaca menatap pendaran lilin di atas kue stroberi tersebut. Dadanya terasa begitu sesak, dihantam oleh gelombang emosi yang luar biasa besar. Dia tahu betul ini adalah ujian final dari gerbang dimensi ilusi, namun menyembunyikan kebenaran ini dari hatinya sendiri adalah hal y
Setelah tatapan penuh kebencian dari Rosalie membakar udara, tidak ada lagi waktu yang tersisa untuk saling melempar dendam. Detik berikutnya, sang MC melangkah ke tengah panggung utama dengan wibawa seorang penyihir agung. Kedua telapak tangannya diangkat tinggi-tinggi ke udara, memancarkan pendaran cahaya magis yang sangat menyilaukan mata. "Final seleksi dimulai!" teriak sang MC dengan suara menggelegar. Bersamaan dengan seruan itu, gelombang energi hisap yang luar biasa kuat memancar dari ketiga gerbang dimensi di tengah arena. Tanpa bisa menghindar, tubuh Scarlett, Rosalie, dan kandidat ketiga—Aveline—seketika ditarik paksa masuk ke dalam pusaran pendaran cahaya. Jiwa mereka diseret tanpa ampun, dilemparkan ke dalam labirin ilusi yang akan menguliti ketakutan terdalam di lubuk hati masing-masing. Sedangkan tubuhnya dikurung dalam gerbang dimenasi. Di atas tribun penonton, tiga buah layar magis raksasa berukuran masif mendadak mengambang di udara, berpendar terang untuk
"Terlebih... jangan membuatku menunggu terlalu lama," bisik Elian, suaranya bergetar dengan nada menuntut yang nakal. "Aku juga sangat ingin merasakan... apa yang sudah dirasakan oleh Valerian malam itu." DEG! Kalimat itu bagai sengatan listrik yang langsung membuat tubuh Scarlett menegang sesaat. Matanya membelalak kecil. Bagaimana bisa rubah licik ini mengetahui apa yang terjadi di dalam kamar pribadi Valerian dua malam lalu?! "Kamu... tau?" Elian hanya menyeringai tipis, matanya berkedip genit satu kali ke arah Scarlett. Lalu dia menegakkan punggungnya lagi, wajahnya dibuat setenang mungkin, padahal satu detik sebelumnya baru saja mengucapkan satu rahasia Scarlett. Banyak sekali pertanyaan yang mendadak berputar di dalam kepala Scarlett setelah mendengar bisikan nakal dari Elian. Dia ingin sekali menuntut penjelasan dari mana rubah licik itu bisa mengendus rahasia malam intimnya dengan Valerian. Namun, sebelum kata pertama sempat keluar dari bibirnya, sebuah be
TAK! TAK! TAK! Di tengah riuhnya gemuruh penonton dan kepulan energi sihir dari gerbang ilusi, Scarlett mendengarkan sesuatu yang berbeda. Indera pendengarannya yang tajam menangkap suara langkah kaki ritmis di lantai batu tepat di belakangnya. Ada sekitar lima pasang kaki yang berjalan mendekat dengan langkah mantap dan penuh wibawa. Tanpa perlu membalikkan badannya, Scarlett sudah tahu persis siapa mereka. Mereka adalah kelima suami binatang miliknya, para pria kuat yang garis takdirnya kini telah saling bertautan dengan jiwanya. Kelimanya langsung berjalan mengelilingi Scarlett, membentuk barisan pelindung yang membuat para penonton di tribun berbisik heboh. Kini posisi Scarlett berdiri di kelilingi pagar betis tinggi dan tegap, membuat hampir semua orang iri saat melihatnya. Orang pertama yang maju mengambil inisiatif untuk berinteraksi adalah Valerian. Sang panglima perang itu mengulurkan tangannya yang besar, lalu menggenggam erat jemari lentik Scarlett. "Apa
Rasa perih yang tertinggal di tubuhnya membuat Scarlett tidak bisa langsung memejamkan mata. Dengan helaan napas panjang, dia memfokuskan energi spiritual dalam dirinya. Scarlett mengaktifkan mantra penyembuhan internal. Gelombang hangat yang lembut mengalir perlahan, membasuh rasa sakit yang ditimbulkan oleh 'milik' Valerian tadi. Setelah tubuhnya terasa jauh lebih nyaman, dia bangkit dari ranjang dengan gerakan anggun. Scarlett meraih kembali jubah tidur tipisnya, memakainya dengan rapi untuk menutupi tubuh polosnya. Sebelum melangkah pergi, Scarlett berbalik sesaat. Dia menatap Valerian yang kini sudah tertidur lelap dengan napas yang teratur. Wajah pria itu tampak begitu damai, sangat berbeda dengan sosok panglima perang yang garang atau pria penuh hasrat beberapa saat lalu. Scarlett memutar kenop pintu tanpa suara, lalu melangkah keluar dari kamar Valerian. Dia berjalan menyusuri lorong mansion yang sepi menuju kamarnya sendiri. Saat membuka pintu kamarnya, suasana su







