LOGINBetrayed, raped, tortured and abandoned to her death, Eve swore that she would find vengeance on the family who had wronged her and her people. This includes the very man she had given her heart to, Adam Sviatoslavich. .... Being a princess of the Ice kingdom Zhatiera, Eve knew she wanted to do more than to soon rule after her beloved parents and, roaming through the forest and finding new adventure was the one thing she can't ever let go. When one of her adventures causes her to encounter the future king of the Lycan empire, Adam, she was smitten and ready to abandoned her throne for the man she calls soulmate. Despite being warned by her parents, she chose to stay with Adam who claimed to love her and swore to do right by her. Unfortunately, his own family do not hold the same sentiments and is determined to make the couple suffer. When their goal was achieved, Eve was left to die by the very person she entrust her life to. Surviving her painful ordeal with no kingdom and family to call her own, Eve swore to do whatever it takes to get her revenge and, if a whole kingdom has to burn because of it, it wouldn't matter. They all deserve it. No matter what it takes. ... I met him when I was a child, I knew he was mine from the moment I met him, I have sworn to never love anyone but him, I was his, but I didn't know that he was never mine, I never expect him to turn his back on me and betray me so cruelly, I would have given my life for him, I just never knew that was what he had wanted from me in the first place...
View More“Buka pakaianmu!”
Perintah tegas dari seorang pria di hadapannya sontak membuat Ariana mengadahkan kepalanya.
“Ta-tapi, Tuan—”
“Jangan pura-pura lupa dengan apa yang sudah kuberikan padamu, Ariana.” Jason memotong ucapan gugup Ariana dan mengingatkan apa yang sudah dia berikan saat memohon agar membantunya membayar utang ke rentenir.
"Buka bajumu, semuanya. Tanpa ada yang tersisa satu pun!” perintahnya lagi dengan suara yang lebih tegas.
Dengan tangan gemetar, Ariana akhirnya melucuti pakaian pembantu yang dia kenakan, rok panjang hitam dan kaus sedikit longgar dengan hati-hati.
**
Pintu utama dibukakan oleh seorang pelayan senior, wanita paruh baya bernama Berta. “Ariana?”
Ariana menoleh dengan cepat ke arah wanita paruh baya yang memanggilnya.
"Masuklah. Tuan Jason ada di dalam. Kau akan memulai dengan membantu di ruang makan, lalu nanti aku jelaskan pekerjaanmu apa saja di sini," katanya dengan singkat.
Ariana mengangguk dengan patuh. Aroma kayu mengisi ruangan bercampur dengan wangi samar parfum maskulin yang seolah menandai setiap sudut rumah itu saat dia masuk ke dalam.
Belum sempat Ariana melangkah lebih jauh, suara pecahan kaca memecah keheningan.
Prangg!
Tubuh Ariana refleks menegang. Suara itu datang dari arah dapur. Dia melirik Berta yang langsung bergegas dan Ariana pun mengikutinya.
Sesampainya di dapur, pemandangan yang dia lihat membuatnya terpaku.
Seorang pelayan pria berusia sekitar empat puluh tahun berdiri dengan wajah pucat, tangannya gemetar memegang sisa piring yang tinggal setengah utuh.
Di hadapannya berdiri Jason, mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku. Tatapannya menusuk, dingin seperti bilah pisau yang baru diasah.
“Aku sudah bilang padamu, hati-hati! Berapa kali aku harus mengulanginya?” suaranya rendah, tapi sarat amarah yang terkontrol.
"T-tuan, saya mohon maaf. Saya tidak sengaja. Tolong jangan pecat saya. Sa-saya … saya sebatang kara di kota ini. Tidak punya siapa-siapa. Pekerjaan ini satu-satunya yang saya punya," pelayan itu memohon dengan suara bergetar.
Ariana berdiri di ambang pintu menahan napasnya. Matanya berpindah dari wajah panik si pelayan ke tatapan dingin Jason yang tak sedikit pun menunjukkan belas kasihan.
“Kecelakaan bisa dimaklumi sekali. Dua kali masih bisa kutoleransi. Tapi tiga kali? Itu bukan kecelakaan. Itu kelalaian,” kata Jason dengan tegas bahkan matanya tidak berkedip sekali pun.
Pelayan itu menunduk menahan diri untuk tidak menangis di hadapan Jason. “Saya … saya akan ganti rugi, Tuan. Tolong maafkan saya.”
Jason menatapnya lama kemudian menghela napas. “Bersihkan ini. Kita akan bicarakan nanti di ruang kerja.”
Suaranya memang tidak tinggi, tapi cukup membuat bulu kuduk Ariana meremang. Ada kekuasaan yang begitu kental dalam nada itu, seperti tidak ada ruang untuk perlawanan.
Jason berbalik dan sejenak pandangannya bertemu mata Ariana. Tatapan itu singkat, tapi cukup untuk membuat tubuhnya kaku.
Wanita berusia 24 tahun itu hanya bisa menunduk dengan cepat, berharap tatapan itu tidak mengandung penilaian buruk terhadap dirinya.
**
Sisa pagi itu Ariana habiskan untuk membiasakan diri dengan ruang makan yang luas.
Di meja makan panjang yang mengilap, Ethan—anak Jason yang baru berusia tiga tahun—sudah duduk di kursi khususnya. Bocah itu berwajah manis dengan mata besar yang memandang penuh rasa ingin tahu.
Ariana tersenyum tipis dan duduk di kursi kecil di sampingnya. "Tuan Ethan, mau makan apa dulu?" tanyanya lembut.
“Sup,” jawab Ethan dengan suara pelan.
Ariana meraih sendok kecil dan mulai menyuapkan sup hangat itu ke mulut mungilnya. Ethan tampak lahap, meski sesekali menoleh ke arah mainan di ujung meja.
Sesekali Ariana mencuri pandang ke sekeliling. Tidak ada tanda-tanda Jason di ruangan itu, tapi bayangan tatapannya di dapur tadi terus menghantui pikirannya.
Begitu tegas, begitu dingin. Bagaimana bisa orang hidup di bawah tatapan seperti itu? batinnya.
Namun ia mencoba untuk tetap fokus. Tangannya terampil memotong roti menjadi potongan kecil, lalu menyuapkan ke Ethan.
Bocah itu mengunyah sambil tersenyum tipis, dan entah kenapa senyum itu sedikit menghangatkan hati Ariana di tengah ketegangan pagi ini.
**
Siang menjelang, dan Ariana mendapat giliran membantu menyiapkan makan siang di dapur. Ia membawa nampan berisi buah potong untuk dibawa ke ruang makan.
Namun saat melangkah keluar dari pintu dapur, tanpa sengaja dia menabrak sesuatu—atau seseorang.
“Aahh!”
Tubuhnya terhuyung ke depan dan sebelum sempat jatuh, sebuah tangan kuat menahan lengannya.
Ariana mendongak dan jantungnya serasa berhenti. Jason berdiri di hadapannya, tubuh tinggi tegapnya begitu dekat hingga Ariana bisa merasakan aroma parfumnya yang hangat namun tajam.
Tubuhnya masih setengah bersandar di dada Jason, merasakan detak jantung pria itu yang stabil, kontras dengan detaknya sendiri yang tak beraturan.
“Mau ke mana?” tanya Jason dengan nada rendahnya.
“S-saya … saya hendak membawakan buah potong, Tuan,” jawab Ariana terbata dan buru-buru dia menegakkan tubuh dan mundur selangkah menjauh dari sang tuan.
Jason menatapnya lama dengan tatapan datarnya dia berkata, “Berhati-hatilah saat berjalan. Di rumah ini, aku tidak suka orang ceroboh.”
Six months passed It took months to rebuild Dzhimara. The number of death recorded was devastating but the number of enemies they have taken down was more. The seal around the gate was built up once more and the teamwork among the forest witch ensured the gate will remain strong for years to come. Homes were rebuilding from scratch but as the new king of Dzhimara, Abram made sure that all his citizens, even the humans, and the witches are fully helped. They are his responsibilities now. Thinking back to the war before, he had lost so much, his patriarch and his mate too lost their dear ones. Everyone thought that in time, they would heal but till today, the pain of losing his father remains strong. His mother no longer resides in the dungeon. For her crimes against the former nation of Zhateria, she was banished to the forest of Afhrin. Many had questioned whether allowing her to keep her wolf was a wise idea but seeing her mother's state, finding out she too has
Adam crawls towards Eve with his remaining strength. After closing Mikael's eyes, he roared as much as his breath could. He mourned for the death of the man who once cared for him as a child. It may be an act, may be a lie but it didn't feel like it. He made Adam hated him but he understands that a part of his hate is justified. Adam had taken the woman he loves. It wasn't on purpose but what's done is done. "Sleep well brother. I wish things were different. I hated you for what you have done but you will always be my brother. I just hope you felt the same." After laying a kiss on his forehead, he quickly with little energy he has, crawled towards Eve.
The memories fade and it became faster this time. Scenes after scenes takes over showing her Mikael real self who slowly deteriorates from the innocent boy he was to a wrecked man. The time he had hid when she met Adam at the meadow as a child, her marrying Adam with his eyes looking aback, brimming with tears and bloodied hands after digging his nails deeper into his palm from clutching his hand too hard.His raw emotion exploding in his room the night Adam and Eve spend their time as husband and wife. All his things, beds, tables, cloth was ripped and destroyed. He seated at the corner of the room, crying his hearts out and slamming the floor beside him.
When she turns, she saw a woman, crying on the ground with her face swollen and full of bruises. Blood drips down her chin and in front of her was a soldier, covered with iron armour. He held a bottle of alcohol since his face was red and oily. He was a handsome man and the lady herself was beautiful. The house they were in was made from grey bricks, something that people in the olden times would stayed in.The house itself was decorated with finest of things, finely sculpted furniture, huge fireplace, hearty meals on the table all dressed in red and gold which means this home belongs to someone who is close to Dzhimara's royal family. After the man finish cursing at the beaut
Healing Adam's wound took longer than expected. News of war in Dzhimara reach to them and from the amount of death enquired, Abram was devastated. Though wolves was able to defeat them at first, the amount of vampires and dark creatures from the forest like Gollum, Orcs and demons that had joined th
Laying Eve at the grass, Mikael couldn't help but push her hair behind her ear, touching her warm skin and gazing at her. It took hundreds of years for him to find her again and it blow his mind seeing her remain the same. The same smooth skin, the long silky ivory hair, red lips as thick lashed
Everyone was shivering at the drop of temperature in Zhatiera. The ground
Using behind the vampire fort wasn't easy especially bringing their wolves






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore