LOGINWhen I was trapped by large columns of fire alongside Reya, my firefighter husband appeared and chose to only rescue her. I got on my knees inside the sea of fire and begged him to save me, too. He jabbed a merciless kick at me. “You are evil through and through, Amaranth. Are you not going to give Reya a chance to live at least? I will never forgive you for starting this fire to kill her!” At this point, his forgiveness no longer mattered. After he rescued his former lover from the scene, I was burned to a crisp alongside the baby inside me.
View MoreLangkah-langkah tegap Mayor Altar mendadak terhenti. Napasnya tercekat, seolah paru-parunya menolak bekerja. Di tengah kerumunan aula yang ramai—penuh suara sepatu berderit, obrolan terbata, dan dentingan gelas—pandangan Altar terpaku pada sosok yang tak pernah sanggup ia kubur dari ingatannya.
Gianina. Wanita itu berdiri memunggunginya, satu tangan melingkari bahu seorang anak lelaki. Dan saat bocah itu menoleh, napas Altar serasa terhenti. Wajahnya terlalu mirip. Terlalu seperti dirinya saat kecil. "Apakah benar itu dia?" Waktu seolah berhenti. Dada Altar bergemuruh, rasa bersalah menyesakkan lebih keras daripada dentuman meriam. Semua yang bertahun-tahun coba ia kubur: kenangan, dosa, dan penyesalan—meledak dalam sekejap, memenuhi dadanya hingga nyaris membuatnya limbung. Tatapan mereka bertemu. Mata Gianina keras, menyala oleh luka lama yang tak pernah sembuh. Sejenak, semua suara di aula lenyap. Hanya ada mereka dua orang yang dulu saling mencintai, kini berdiri di hadapan satu sama lain, terpisah oleh kesalahan yang tak termaafkan. Altar menarik napas panjang. Ia melangkah perlahan, langkah sepatu boot militernya menggema. “Gianina?” Suaranya nyaris hanya desahan. Bahunya yang kokoh sedikit bergetar. Hatinya berperang—antara tugas yang harus diselesaikan sebagai perwira dan rasa penyesalan yang membakar dadanya. Ia menoleh sebentar pada bawahannya. “Lanjutkan tugas ini dulu. Saya ada urusan pribadi.” Bawahannya mengangguk ragu, lalu mundur. "Baik Mayor!" Altar menegakkan bahu, kembali melangkah mendekati Gianina. Langkah yang benar-benar penuh dengan perhitungan, walaupun hatinya masih terus saja bergejolak. Tiba-tiba, suara tajam menampar telinganya. “Berhenti! Jangan dekati kami.” Altar terhenti. Napasnya berat, dada berguncang oleh perasaan yang tak sanggup ia redam. Sepertinya sama dengan dia wanita itu tidak bisa melupakannya dan langsung mengenalinya. “Gianina, dengarkan aku ... hanya sebentar. Aku mohon.” Sebagai seorang mayor ia tidak pernah tunduk dengan siapapun kecuali dengan pimpinannya, tetapi ia mengikuti perintah Gianina. Gianina tertawa pendek, tetapi tawanya getir. “Tolong? Kau minta aku mendengarkanmu setelah sepuluh tahun? Setelah kau sendiri yang memohon padaku untuk menggugurkan anakmu?” Altar menggertakkan gigi, matanya memerah. Penuh penyesalan, banyak yang ingin dikatakan tapi semuanya terbungkam begitu saja. “Aku salah. Aku pengecut. Aku takut waktu itu aku—” “Dan kamu kira aku tidak takut?!” potong Gianina, suaranya pecah, bergetar menahan tangis. “Kamu kira lebih mudah bagiku membesarkan dia sendirian? Menjawab setiap pertanyaannya tentang ‘Ayah itu siapa, Bu?’” Tatapan Altar jatuh ke anak lelaki itu—matanya penuh tanya, bingung, dan cemas. Mengapa dirinya seperti bercermin? Anak lelaki itu seperti dirinya semasa kecil? “Dia … dia mirip sekali denganku,” bisik Altar, suaranya nyaris patah. Mata Gianina memerah. Rahangnya mengeras. “Jangan!” serunya, suaranya rendah tapi tajam seperti pisau. “Jangan kau sebut dia seolah-olah kau punya hak!” Altar maju setengah langkah. Mengikis jarak, bahkan mungkin benteng pertahanan yang sudah lama terbentang diantara mereka berdua. “Tapi dia darah dagingku! Setiap malam aku dihantui, Gianina. Aku ingin menebus semuanya. Biarkan aku jadi ayahnya, meski—” Gianina menatap Altar dalam-dalam. Air matanya mengalir, tetapi suaranya terdengar keras—lebih keras dari yang pernah ia ucapkan. “Bukan! Dia bukan darah dagingmu, Altar!” Gianina menolak seolah-olah ia tidak akan pernah membiarkan Altar menyebut dirinya sebagai ayah dari sang anak. Altar tertegun. Napasnya tercekat. Bagaimana mungkin dirinya percaya dengan apa yang dikatakan oleh Gianina. “Apa maksudmu?” Gianina menghela napas panjang, bahunya bergetar. Wanita itu membuang wajah seolah-olah sangat enggan sekali menatap Altar yang ada di depannya. “Darah dagingmu sudah kamu minta untuk digugurkan sepuluh tahun lalu. Anak yang bersamaku ini bukan anakmu. Ini anakku—bukan anakmu.” Altar menatapnya, shock, matanya membesar. “Gianina, kamu sungguh? Tapi wajahnya—” “Karena kamu sudah memintaku untuk membunuhnya!” Suara Gianina pecah. “Jadi apa hakmu sekarang datang dan mengaku sebagai ayah?! Kamu tak pernah jadi ayah untuk siapa pun!” Air mata jatuh membasahi pipi Gianina. Anak lelaki itu meremas tangannya erat, menatap ibunya dengan bingung. Altar mundur selangkah, dadanya terasa ditusuk ribuan belati. “Aku … aku hanya ingin kesempatan meski sekali.” “Kesempatanmu sudah mati, Altar. Sama seperti anakmu—yang kamu sendiri yang memintaku untuk ‘hilangkan’.” Suasana membeku. Napas Altar berat, matanya basah. Sementara Gianina berdiri gemetar, memeluk anaknya seolah takut Altar akan merebutnya. “Pergilah, Altar,” bisik Gianina parau. “Jangan pernah kembali.” Altar menahan napas. Matanya terpaku pada anak lelaki di samping Gianina. Garis rahang, hidung, bahkan cara bocah itu menatap—semuanya terlalu mirip. Seperti melihat dirinya sendiri saat kecil, hanya lebih muda dan polos. “Tidak mungkin dia pasti anakku,” pikirnya, jantungnya berdetak begitu kencang hingga nyaris memekakkan telinga. Tangannya sedikit terangkat, hampir menyentuh bahu anak itu, tapi Gianina segera menarik bocah itu ke belakang tubuhnya. “Dia anakku kamu tidak menggugurkannya?” suara Altar serak, hampir seperti bisikan yang pecah. Gianina terdiam sejenak. Rahangnya mengeras, matanya memerah menahan tangis. “Sudah kubilang ini bukan anakmu, Altar. Ini anakku.” Altar menggeleng pelan, nafasnya berat, tatapannya tak pernah lepas dari wajah anak itu. “Gianina kau tahu dia sangat mirip denganku. Seperti langit dan bumi, tapi wajahnya sama. Dia anak kita, kan?” Gianina menahan air mata yang mulai jatuh. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu besar menghimpitnya. “Kau tahu demi karirmu yang cemerlang itu, sepuluh tahun aku diasingkan oleh keluargaku sendiri, Altar! Sepuluh tahun aku hidup sebatang kara, menanggung malu dan lebih gilanya lagi, aku kira setelah semua kesuksesanmu, kau akan mencariku!” Suaranya pecah di akhir kalimat. Matanya menatap Altar penuh luka dan kekecewaan yang tak pernah sembuh. “Tapi apa? Kau bahkan tak pernah mencariku! Kau malah memilih menikahi wanita lain!” Altar terdiam. Dadanya seperti diremas dari dalam. Tatapannya goyah, bibirnya bergerak tapi tak ada kata yang sanggup keluar. Dia tahu dia tahu aku sudah menikah. “Gianina dengarkan dulu, aku—” Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Gianina memalingkan wajahnya, air matanya jatuh tak terbendung. Dalam satu tarikan napas berat, ia meraih tangan anak lelakinya, lalu berbalik dan berlari menjauh, seolah kabur dari hantu masa lalu yang tak pernah mau pergi. Altar hanya mampu berdiri mematung, tangan yang terulur jatuh lemas di sisi tubuhnya. “Tunggu aku ingin menjelaskan.” Namun sebelum ia bisa mengejar, suara bawahannya memecah lamunannya. “Mayor! Staf Kepresidenan sudah hadir. Anda diminta sekarang juga!” Altar tertegun, matanya masih menatap ke arah Gianina yang semakin menjauh di antara kerumunan. Ada rasa kehilangan yang menyesakkan, begitu pekat hingga membuat dadanya nyeri. Dengan langkah berat, ia memalingkan wajah. Tubuhnya menegakkan bahu seperti layaknya seorang perwira, tapi jiwanya koyak—terbelah antara tugas negara dan luka lama yang kembali berdarah."This is what you did to Amaranth, and now I will make sure you suffer the same death!"Luther spread gasoline everywhere.The moment Reya sniffed the distinctive and sharp smell of gasoline, she wrapped herself tightly around his foot."Luther, are you insane? It’s me, Reya! The girl you love the most!"It was the wrong thing to say because it provoked him even further. His expression turned from blank to a hideous scowl. He glared at her vehemently, then grabbed her hair and roared in her ears."The one I love the most is Amaranth! She is the only one I love! Don’t you dare run your mouth, you disgusting woman! Think about how Amaranth will feel if she hears this! I will not let anyone hurt her feelings!"Reya was too powerless to fight him off. Upon realizing that Luther had gone mad, she began to laugh rabidly as well. "Luther, haven’t you realized nobody has hurt her feelings more than you have? She must hate you even in her last moments. She would never forgive you even if
When I listened to Luther’s agonizing cries, I felt a whirlpool of conflicting emotions inside me.There was a saying that one only learned the value of what they have after they lost. It was true. Now that things had come to this point, I could no longer hug Luther and offer him comfort in this time of crisis.I watched helplessly as his tears soaked the carpet. I sat next to him, knowing there was nothing I could do for him.Luther cried until his eyes became frayed with red and his throat began to lose its voice. That did not stop him from howling in pain.He began to scramble around the house with trembling hands to look for everything I had ever used as well as the clothes I used to wear.Finally, he wrapped his arms tightly around my pillow and fell asleep on my side of the bed.When he woke up the next day, it seemed as if he had lost his senses and barely knew how to walk.He piled up the clothes I used to wear and bundled up all my medical records. He lay on top of them
Before I confronted Reya on that fateful day, I had already learned my lesson from being framed in the past. I made a point of installing a hidden camera in the room in advance.After the fire, the officials did everything in their power to uncover the truth behind the incident.Luther played the video while trembling the entire time.The footage clearly showed Reya shoving me to the ground and issuing threats, "Don't think you’re all that just because you are pregnant with Luther’s baby. Luther is going to choose me in the end. He won’t want some old hag like you."After that, she unscrewed the can of gasoline she brought and splashed it everywhere.I grabbed her in a fit of panic and pleaded with her not to do anything reckless.She stomped on my leg triumphantly. "Who do you think Luther is going to save first when I start a fire? You, or me?"Before I could even react, the madwoman produced a lighter and proceeded to light the edge of the rug on fire. Then, she snatched my p
Luther embraced Reya, whom he thought was being victimized. He started to cry out dramatically, "Ever since you two separated us in the past, I had no choice but to treat Reya as a sister! We are both innocent. Amaranth is evil. She is the one complicating things!"Mrs. Ainge observed the way Reya continued to feign innocence to earn cheap sympathy and could not stand it anymore. She revealed the truth she had kept hidden for ages, "Did you truly think the reason we kept you from being with her was because we did not approve of dating when you were young?"She was trembling with rage when she jabbed a finger at Reya. "You think we wouldn’t be happy for you if you found someone that you liked? I’ll tell you what truly happened!"One day, we were hoping to bring Reya a present and encourage her to date you. That was when we chanced upon her entering a clinic with another man. When she came out again, she looked very frail."Mrs. Ainge felt like she had finally lifted a weight off her






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.