Short
Scorching Betrayal

Scorching Betrayal

By:  Chubby MushroomCompleted
Language: English
goodnovel4goodnovel
11Chapters
2.8Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

When I was trapped by large columns of fire alongside Reya, my firefighter husband appeared and chose to only rescue her. I got on my knees inside the sea of fire and begged him to save me, too. He jabbed a merciless kick at me. “You are evil through and through, Amaranth. Are you not going to give Reya a chance to live at least? I will never forgive you for starting this fire to kill her!” At this point, his forgiveness no longer mattered. After he rescued his former lover from the scene, I was burned to a crisp alongside the baby inside me.

View More

Chapter 1

Chapter 1

Langkah-langkah tegap Mayor Altar mendadak terhenti. Napasnya tercekat, seolah paru-parunya menolak bekerja. Di tengah kerumunan aula yang ramai—penuh suara sepatu berderit, obrolan terbata, dan dentingan gelas—pandangan Altar terpaku pada sosok yang tak pernah sanggup ia kubur dari ingatannya.

Gianina.

Wanita itu berdiri memunggunginya, satu tangan melingkari bahu seorang anak lelaki. Dan saat bocah itu menoleh, napas Altar serasa terhenti. Wajahnya terlalu mirip. Terlalu seperti dirinya saat kecil.

"Apakah benar itu dia?"

Waktu seolah berhenti. Dada Altar bergemuruh, rasa bersalah menyesakkan lebih keras daripada dentuman meriam. Semua yang bertahun-tahun coba ia kubur: kenangan, dosa, dan penyesalan—meledak dalam sekejap, memenuhi dadanya hingga nyaris membuatnya limbung.

Tatapan mereka bertemu. Mata Gianina keras, menyala oleh luka lama yang tak pernah sembuh. Sejenak, semua suara di aula lenyap. Hanya ada mereka dua orang yang dulu saling mencintai, kini berdiri di hadapan satu sama lain, terpisah oleh kesalahan yang tak termaafkan.

Altar menarik napas panjang. Ia melangkah perlahan, langkah sepatu boot militernya menggema.

“Gianina?” Suaranya nyaris hanya desahan. Bahunya yang kokoh sedikit bergetar.

Hatinya berperang—antara tugas yang harus diselesaikan sebagai perwira dan rasa penyesalan yang membakar dadanya. Ia menoleh sebentar pada bawahannya.

“Lanjutkan tugas ini dulu. Saya ada urusan pribadi.”

Bawahannya mengangguk ragu, lalu mundur.

"Baik Mayor!"

Altar menegakkan bahu, kembali melangkah mendekati Gianina. Langkah yang benar-benar penuh dengan perhitungan, walaupun hatinya masih terus saja bergejolak.

Tiba-tiba, suara tajam menampar telinganya.

“Berhenti! Jangan dekati kami.”

Altar terhenti. Napasnya berat, dada berguncang oleh perasaan yang tak sanggup ia redam. Sepertinya sama dengan dia wanita itu tidak bisa melupakannya dan langsung mengenalinya.

“Gianina, dengarkan aku ... hanya sebentar. Aku mohon.”

Sebagai seorang mayor ia tidak pernah tunduk dengan siapapun kecuali dengan pimpinannya, tetapi ia mengikuti perintah Gianina.

Gianina tertawa pendek, tetapi tawanya getir.

“Tolong? Kau minta aku mendengarkanmu setelah sepuluh tahun? Setelah kau sendiri yang memohon padaku untuk menggugurkan anakmu?”

Altar menggertakkan gigi, matanya memerah. Penuh penyesalan, banyak yang ingin dikatakan tapi semuanya terbungkam begitu saja.

“Aku salah. Aku pengecut. Aku takut waktu itu aku—”

“Dan kamu kira aku tidak takut?!” potong Gianina, suaranya pecah, bergetar menahan tangis. “Kamu kira lebih mudah bagiku membesarkan dia sendirian? Menjawab setiap pertanyaannya tentang ‘Ayah itu siapa, Bu?’”

Tatapan Altar jatuh ke anak lelaki itu—matanya penuh tanya, bingung, dan cemas.

Mengapa dirinya seperti bercermin? Anak lelaki itu seperti dirinya semasa kecil?

“Dia … dia mirip sekali denganku,” bisik Altar, suaranya nyaris patah.

Mata Gianina memerah. Rahangnya mengeras.

“Jangan!” serunya, suaranya rendah tapi tajam seperti pisau. “Jangan kau sebut dia seolah-olah kau punya hak!”

Altar maju setengah langkah. Mengikis jarak, bahkan mungkin benteng pertahanan yang sudah lama terbentang diantara mereka berdua.

“Tapi dia darah dagingku! Setiap malam aku dihantui, Gianina. Aku ingin menebus semuanya. Biarkan aku jadi ayahnya, meski—”

Gianina menatap Altar dalam-dalam. Air matanya mengalir, tetapi suaranya terdengar keras—lebih keras dari yang pernah ia ucapkan.

“Bukan! Dia bukan darah dagingmu, Altar!”

Gianina menolak seolah-olah ia tidak akan pernah membiarkan Altar menyebut dirinya sebagai ayah dari sang anak.

Altar tertegun. Napasnya tercekat. Bagaimana mungkin dirinya percaya dengan apa yang dikatakan oleh Gianina.

“Apa maksudmu?”

Gianina menghela napas panjang, bahunya bergetar.

Wanita itu membuang wajah seolah-olah sangat enggan sekali menatap Altar yang ada di depannya.

“Darah dagingmu sudah kamu minta untuk digugurkan sepuluh tahun lalu. Anak yang bersamaku ini bukan anakmu. Ini anakku—bukan anakmu.”

Altar menatapnya, shock, matanya membesar.

“Gianina, kamu sungguh? Tapi wajahnya—”

“Karena kamu sudah memintaku untuk membunuhnya!” Suara Gianina pecah. “Jadi apa hakmu sekarang datang dan mengaku sebagai ayah?! Kamu tak pernah jadi ayah untuk siapa pun!”

Air mata jatuh membasahi pipi Gianina. Anak lelaki itu meremas tangannya erat, menatap ibunya dengan bingung.

Altar mundur selangkah, dadanya terasa ditusuk ribuan belati.

“Aku … aku hanya ingin kesempatan meski sekali.”

“Kesempatanmu sudah mati, Altar. Sama seperti anakmu—yang kamu sendiri yang memintaku untuk ‘hilangkan’.”

Suasana membeku. Napas Altar berat, matanya basah. Sementara Gianina berdiri gemetar, memeluk anaknya seolah takut Altar akan merebutnya.

“Pergilah, Altar,” bisik Gianina parau. “Jangan pernah kembali.”

Altar menahan napas. Matanya terpaku pada anak lelaki di samping Gianina.

Garis rahang, hidung, bahkan cara bocah itu menatap—semuanya terlalu mirip. Seperti melihat dirinya sendiri saat kecil, hanya lebih muda dan polos.

“Tidak mungkin dia pasti anakku,” pikirnya, jantungnya berdetak begitu kencang hingga nyaris memekakkan telinga.

Tangannya sedikit terangkat, hampir menyentuh bahu anak itu, tapi Gianina segera menarik bocah itu ke belakang tubuhnya.

“Dia anakku kamu tidak menggugurkannya?” suara Altar serak, hampir seperti bisikan yang pecah.

Gianina terdiam sejenak. Rahangnya mengeras, matanya memerah menahan tangis.

“Sudah kubilang ini bukan anakmu, Altar. Ini anakku.”

Altar menggeleng pelan, nafasnya berat, tatapannya tak pernah lepas dari wajah anak itu.

“Gianina kau tahu dia sangat mirip denganku. Seperti langit dan bumi, tapi wajahnya sama. Dia anak kita, kan?”

Gianina menahan air mata yang mulai jatuh. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu besar menghimpitnya.

“Kau tahu demi karirmu yang cemerlang itu, sepuluh tahun aku diasingkan oleh keluargaku sendiri, Altar! Sepuluh tahun aku hidup sebatang kara, menanggung malu dan lebih gilanya lagi, aku kira setelah semua kesuksesanmu, kau akan mencariku!”

Suaranya pecah di akhir kalimat. Matanya menatap Altar penuh luka dan kekecewaan yang tak pernah sembuh.

“Tapi apa? Kau bahkan tak pernah mencariku! Kau malah memilih menikahi wanita lain!”

Altar terdiam. Dadanya seperti diremas dari dalam. Tatapannya goyah, bibirnya bergerak tapi tak ada kata yang sanggup keluar.

Dia tahu dia tahu aku sudah menikah.

“Gianina dengarkan dulu, aku—”

Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Gianina memalingkan wajahnya, air matanya jatuh tak terbendung.

Dalam satu tarikan napas berat, ia meraih tangan anak lelakinya, lalu berbalik dan berlari menjauh, seolah kabur dari hantu masa lalu yang tak pernah mau pergi.

Altar hanya mampu berdiri mematung, tangan yang terulur jatuh lemas di sisi tubuhnya.

“Tunggu aku ingin menjelaskan.”

Namun sebelum ia bisa mengejar, suara bawahannya memecah lamunannya.

“Mayor! Staf Kepresidenan sudah hadir. Anda diminta sekarang juga!”

Altar tertegun, matanya masih menatap ke arah Gianina yang semakin menjauh di antara kerumunan. Ada rasa kehilangan yang menyesakkan, begitu pekat hingga membuat dadanya nyeri.

Dengan langkah berat, ia memalingkan wajah. Tubuhnya menegakkan bahu seperti layaknya seorang perwira, tapi jiwanya koyak—terbelah antara tugas negara dan luka lama yang kembali berdarah.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
11 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status