Share

Bab 28

Penulis: Saggyryes
last update Tanggal publikasi: 2025-12-03 10:37:04

"Siska?" Andini memastikan.

Dia membulatkan mata dan bangkit dari tempat duduknya.

'Siska baru aja datang kan?! Dia nggak denger semua yang gue omongin tadi kan?!' batin Andini, penuh harap.

"Iya! Ini gue!" tegas Siska.

"Di mana Ibu? Gue nggak salah denger kan lo bilang tadi Ibu gue?" tanya Siska. "Gue nggak mau dia bikin Ayah pusing dan sedih lagi, An!"

"Tenang Sis, jangan terbawa emosi!" Andini menenangkan.

"Saat ini, Ibu Zaskia lagi ke ruang tunggu sama Mbak Dila. Tadi, dia sempat bilang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 273

    "Hah..," Siska menghela nafas pelan. Ia memandang lurus ke depan. Lampu-lampu jalan memantul samar di kaca depan mobil, bergerak perlahan mengikuti laju kendaraan yang cukup stabil. Wajahnya terlihat tenang, tapi jelas bukan karena semuanya baik-baik saja. Tapi lebih seperti seseorang yang sedang menahan banyak tekanan sekaligus.Johan tidak berkata apa-apa. Tangannya tetap di kemudi, matanya fokus ke jalan. Tapi sesekali, ia melirik ke arah Siska. Ia sadar kapan harus diam. Dan malam ini, jelas bukan waktunya untuk bertanya.Mobil terus melaju tanpa arah yang jelas.Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Siska akhirnya menoleh sedikit ke arah Johan. "Jo..""Hm?" tanya Johan. Ia langsung merespon, dengan suara yang dijaga untuk tetap tenang.Siska diam sebentar, seolah memilih kata yang cocok. "Kamu.. mau nggak nemenin aku malam ini?"Tidak ada nada manja dan juga tidak terdengar rapuh. Tapi cukup jelas kalau itu bukanlah permintaan biasa.Johan menoleh sekilas, lalu tersenyum ti

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 272

    "Udah," potong Siska.Ia bangkit dari duduknya. Tidak terburu-buru, tapi jelas ia tidak ingin tinggal lebih lama di sana. Ia mengambil tasnya."Aku rasa semua udah cukup jelas," ucap Siska. Bastian langsung ikut bangkit dari duduknya. "Beb, tolong jangan kayak gini. Kita masih bisa bicarain baik-baik.""Enggak perlu," jawab Siska singkat.Ia tidak menatap Alya lagi. Tidak juga menunggu tanggapan dari Bastian. Ia berjalan ke luar dari kafe. Dan Bastian menyusulnya. "Beb!" panggilnya.Pintu terbuka cukup lebar. Udara malam yang dingin langsung terasa masuk menembus kulit. Siska tetap berjalan tanpa memperdulikan panggilan Bastian. "Beb, tunggu dulu!" suara Bastian terdengar lebih keras sekarang.Namun langkah Siska tidak melambat.Sampai akhirnya, ia berhenti. Bukan karena Bastian. Tapi karena seseorang yang kini berdiri di hadapannya.Johan. Pria itu tampak sedikit terkejut melihat Siska, tapi tidak menunjukkannya."Kamu udah selesai?" tanyanya singkat.Siska menatapnya beberapa de

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 271

    "Aku..," jawab Siska, ragu. Ia memutar gelas di tangannya pelan sambil menatap cairan di dalamnya. Seolah, sedang mencari sesuatu di sana."Untuk sekarang, aku nggak tau, Bas," ucapnya akhirnya.Suaranya datar. Tidak tinggi, tidak juga bergetar. Dan justru itu yang membuatnya terasa semakin jauh.Bastian mengernyit tipis. "Nggak tau gimana maksud kamu, Beb?"Siska menggedikkan bahunya pelan. "Ya nggak tau aja, Bas. Aku nggak bisa langsung bilang iya atau nggak. Karena jujur perasaan aku masih kayak gini."Ia menunjuk dadanya sendiri, singkat. Terlihat jelas rasa nyeri yang tersirat di dalam diri Siska. Namun, ia sengaja tidak mengatakannya. Beberapa lama, hening sejenak. Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Tapi, ada sesuatu yang tersirat di wajah Bastian. bukan marah, tapi lebih ke arah tidak puas."Ya tapi aku juga manusia, Beb. Aku laki-laki. Dan kadang hal kayak gitu.," ucap Bastian. Ia berhenti sejenak, menahan napas. Masih mencoba menimbang semua ucapan yang akan ke

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 270

    "Gila! Kok bisa sih?" ucap Siska.Ia menggeleng pelan sambil menatap layar ponselnya. Jari-jarinya bergerak cepat membuka notifikasi. Ada puluhan pesan dan beberapa panggilan tidak terjawab dari Putri.Waktu pengirimannya dari semalam. Bahkan ada yang dini hari tadi. Siska mengernyit. "Kenapa gue baru liat sekarang sih?! Astaga!" gumamnya pelan.Tanpa pikir panjang, Siska langsung menekan tombol panggil. Tidak menunggu lama, Putri langsung mengangkatnya."Siska!" teriak Putri. Suaranya langsung terdengar cepat dan jelas. Tidak ada basa-basi. "Akhirnya lo telpon juga!" lanjutnya. Siska sedikit menahan napas. "Iya, Put. Maaf. Ponsel gue ketinggalan.""Ya, gue tau!" balas Putri, terdengar kesal. "Makanya dari semalem gue teleponin terus! Lo nggak baca chat juga ya?"Siska melirik lagi ke layar. "Belum. Baru sekarang gue liat."Putri menghela napas panjang, tapi nadanya masih terdengar tinggi. "Ya ampun Sis, lo tau nggak orang gue udah nunggu lama di hotel! Lo kenapa sih, nggak dateng-

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 269

    "Siapa?" tanya Andini pelan, hampir seperti memastikan ulang.Siska menarik napas, lalu menjawab tanpa menatap Andini. "Alya. Model yang kemarin datang ke sini," ucap Siska. Andini benar-benar terdiam. Wajahnya kosong beberapa detik, lalu alisnya perlahan mengernyit."Alya? Kok bisa sih?" tanyanya, lagi. Ia benar-benar belum bisa sepenuhnya percaya dengan apa yang diucapkan Siska.Siska mengangguk kecil, ia sangat yakin apa yang udah dilihatnya semalam. Andini menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Lalu menatap ke arah lain sebentar. "Jujur, gue nggak nyangka sih, Sis."Siska tidak menanggapi. Tangannya kembali bergerak, tapi pelan. Seperti sekadar mengisi jeda.Andini melirik lagi. Kali ini lebih serius."Lo yakin?" tanyanya, memastikan. "Yakin," jawab Siska singkat. "Dia sendiri bahkan udah hampir ngaku. Dan situasinya juga emang udah jelas," lanjut Siska. Nada suaranya terdengar datar. Dan justru itu yang membuat Andini semakin khawatir.Tanpa banyak komentar, A

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 268

    "Hah.. "Bastian menjatuhkan tubuhnya ke sofa setelah sekian lama berdiri tanpa arah di tengah apartemen.Kepalanya benar-benar terasa berat. Bukan hanya karena sisa alkohol, tapi juga karena pikirannya yang tidak berhenti berbicara sejak tadi."Kenapa sih, ada aja masalah. Dan kali ini malah lebih berat dari sebelumnya. Terkait Siska, pula," gumamnya lirih.Ia menatap kosong ke depan. Pertanyaan yang sama masih terus berulang tentang alasan Alya yang tidak menghentikannya dan menyerahkan keperawanannya kepada laki-laki yang sudah ia tahu memiliki pasangan. Dan pasangannya itu, temannya sendiri. Bastian menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia bangkit dari duduknya dengan malas. Tangan kanannya mengacak cukup kencang rambutnya sendiri, sebelum akhirnya berjalan ke kamar mandi.Air dingin langsung mengguyur tubuhnya tanpa peringatan. Ia berdiri diam di bawah shower, membiarkan air jatuh terus menerus, seolah bisa membersihkan dan menghempaskan seluruh masalah yang ada d

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 40

    "Maksud Bapak?" Alis Andini saling bertaut. "Maaf, saya keceplosan!" Dion nyengir. Ia sengaja bicara seperti itu agar suasana antara Andini dan dirinya lebih mencair. "Maksud saya, tidak masalah, An! Lagian kan sesama teman harus ada sisi humorisnya biar lebih akrab!" Ia tersenyum. Andini me

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 41

    Andini melihat ke arah suara. "Iya, Pak? Sa-saya... " Saat ini, Satria sudah berada di hadapan Andini dan Dion. Matanya menatap tajam dan rahangnya mengeras. Tidak perlu dijelaskan lagi, ia sangat marah dengan pemandangan yang ia lihat sekarang. Tanpa sadar, Andini menundukkan pandangannya. Baru

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 38

    "An?! Siapa dia?" Zaskia mengerutkan keningnya. Baru saja Ia merasa senang Satria datang dan langsung memeluknya dari belakang. Tapi ternyata, malah nama lain yang Ia sebut. Tau kalau bukan suara Adini yang ia dengar, Satria membulatkan mata dan segera melepas pelukkannya. Ia juga berjalan men

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 36

    "Pantas!" tegas Andini. "Lo sangat pantas bahagia, Sis!" Ia tersenyum. "Apa gue perlu ke psikolog lagi ya, An?!" ucap Siska dengan suara yang masih parau. "Terserah lo, Sis! Tapi, kalau menurut gue, saat ini sih belum perlu." Andini menarik tangannya kembali. "Lo cuma perlu... kontrol emosi aja!

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status