Share

Bab 7

Author: Saggyryes
last update publish date: 2025-11-03 13:32:38

"Cukup, Sis!" tegas Satria masih dengan suara berbisik.

Namun, Siska tidak mau kalah. “Aku butuh sosok Ibu. Yang seperti Andini, Yah."

Siska sedikit menurunkan volume suara. Tidak mau Andini mendengarnya.

Satria menghela napas. "Kamu tau kan pekerjaan Ayah sangat padat! Ayah nggak ada waktu berurusan sama perempuan. Apalagi cari Ibu untuk kamu, Siska." bisik Satria, nyaris tak terdengar.

Andini yang sedari tadi mendengar percakapan mereka tersenyum tipis.

'Lagi-lagi percakapan itu! Bosen b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 265

    "Akhirnya..," ucap Siska, saat ponselnya kembali bergetar.Ia melirik sekilas, lalu bergegas mengambilnya.Putri :Hotel Griya Dots, VIP Room 101. Tadi dia info, dia udah standby.Siska membaca pesan tanpa membalasnya. Ia bangkit dari duduknya tanpa banyak berpikir. Setelah itu, ia mengambil tas kecil. Memasukkan dompet dan ponsel. Tidak lupa ia mengambil kunci mobil.Ia keluar dari kamar dan menutup pintu seperti biasa. Pelan, tanpa suara.Perjalanan menuju hotel sangat lancar. Kini, Siska berdiri di depan kamar VIP nomor 110. Ia terdiam beberapa detik, namun ia yakin tadi pesan yang di kirim Putri 110. Iapun tidak ingin repot dan memastikannya kembali.Akhirnya, ia mengetuk pintu perlahan. Lalu, pintu sedikit terbuka.Siska langsung mengernyit. "Johan?"Pria di depannya sama terkejutnya. Hanya saja, Johan adalah orang yang dingin dan pendiam. Ia sangat pintar dan terbiasa mengatur ekspresinya tanpa sadar. Sehingga, hal itu tidak terlihat dari raut wajahnya yang terkesan tenang. "Iy

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 264

    "Hah.."Siska menghela napas, lalu bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Tanpa berpikir panjang, keran air dibuka. Suara air mengalir memenuhi ruangan, memecah keheningan yang sejak tadi seolah menekan."Mungkin perasaanku akan lebih baik setelah mandi nanti," ucap Siska pelan. Ia berdiri beberapa detik. Lalu, tangannya bergerak membuka laci kecil di samping wastafel. Ia mengambil botol aromaterapi yang biasa ia pakai dengan aroma lavender. Tutupnya dibuka, lalu beberapa tetes ia tuangkan ke dalam air yang mulai memenuhi bathtub.Aroma lembut itu perlahan menyebar.Ia menghirupnya dalam-dalam. Bahunya yang sejak tadi tegang, kini sedikit turun.Air terus mengalir. Siska akhirnya mulai membuka pakaiannya satu per satu secara perlahan. Seolah, setiap gerakan butuh waktu lebih lama dari biasanya. Setelah air di dalam bathtub cukup penuh, ia mematikan keran."Aku rasa cukup," ucapnya Beberapa detik ia hanya berdiri di pinggir, menatap air yang sed

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 263

    "Apa?" tanya Bastian. Ia jelas kaget dengan nada dan pilihan kata Siska. Itu bukan sekadar marah. Tapi itu adalah campuran dari rasa kecewa, terluka, dan kehilangan kepercayaan dalam waktu bersamaan."Beb, tenang dulu," jawabnya cepat, suaranya sedikit tertahan. "Nggak kayak gitu. Aku sama Alya nggak ada apa-apa sebelumnya. Kita baru kenal hari ini dan itupun karena project Keluarga An. Kejadian barusan itu cuma..."Siska tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi justru sebaliknya. Tawa yang tipis dan hambar."Barusan?" ulangnya pelan. "Dan kamu pikir itu bikin apa yang udah kamu lakuin sama Alya jadi lebih baik?"Bastian terdiam sesaat. Ia tahu, penjelasan seperti itu tidak akan terdengar meringankan di telinga siapa pun."Aku emang salah dan aku akui itu. Tapi bukan berarti aku main di belakang kamu, Beb. Aku nggak pernah berfikir jauh sampe seperti itu. Kamu yang paling tau gimana besarnya rasa cinta dan sayang aku ke kamu.""Cukup, Bas," ucap Siska. Ia kembali mengangkat tangan ka

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 262

    "Kamu benar-benar menarik," gumam Alya. Ia tidak benar-benar berhenti. Jarak yang sudah semakin tipis itu, perlahan mulai menghilang. Napas mereka saling bersentuhan lebih dulu. Hangat dan teratur. Tapi anehnya terasa semakin berat.Bastian masih diam sesaat. Tangannya tetap berada di bahu Alya. Seolah, ia ingin menahan atau mungkin justru memastikan jarak itu tidak berubah sama sekali. Dan saat Alya sedikit memiringkan wajahnya, bibir mereka akhirnya saling bersentuhan. Singkat, sangat singkat.Namun cukup untuk membuat Bastian membeku sepersekian detik.Melihat reaksi Bastian, Alya tidak langsung mundur. Justru sebaliknya. Ia kembali mendekat. Semakin dekat. Dan kali ini lebih pelan dan yakin. Yakin kalau Bastian tidak menolaknya. "Uhm..," renguh Alya. Bastian menarik napas dalam, tapi entah kenapa ia tidak langsung menjauh. Sebagai laki-laki normal, reaksi itu datang begitu saja. Ada dorongan halus yang sulit diabaikan. Apalagi dengan Alya yang berdiri sedekat itu, tanpa ragu,

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 261

    "Silahkan,"Pintu apartemen terbuka pelan. Bastian melangkah masuk lebih dulu, diikuti Alya di belakangnya.Ruangan itu tidak terlalu besar, tapi cukup tertata rapi. Aroma kopi samar masih tertinggal, bercampur dengan wangi sabun yang bersih. Lampu-lampu hangat membuat suasana terasa nyaman, tidak kaku seperti kantor."Nggak apa-apa nih, Mas?" tanya Alya dengan senyum sedikit menggoda. "Nggak apa-apa, masuk aja," ucap Bastian singkat sambil meletakkan kunci mobil di meja dekat pintu.Alya melangkah masuk perlahan, matanya langsung berkeliling. Ia memperhatikan setiap sudut. Mulai dari sofa, meja kerja kecil di pojok, sampai rak yang berisi kamera dan beberapa lensa."Kamu rapi banget sih, Mas..," gumamnya, nyaris seperti bicara sendiri."Biasa aja," jawab Bastian sambil membuka jaketnya.Alya berjalan pelan ke arah rak kamera. "Ini semua punya kamu, Mas?""Iya," jawab Bastian singkat.Sebenarnya, ia masih bingung dengan sikap Alya sekarang. Padahal, pagi tadi dia bilang belum pernah

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 260

    "Akhirnya..," gumam Bastian saat baru saja sampai kantor. Ia melihat jam di tangan sebelah kirinya. 'Untunglah nggak telat,' batinnya. Syukurlah perjalanan dari toko hingga ke kantor berjalan sangat lancar. Jadi, meski ia tadi sempat antar Alya, ia tidak telat sampai ke kantor. Bastian bergegas ke luar dari mobil, dan masuk ke dalam gedung Road Company. Setelah sampai di depan meja kerjanya, ia langsung mulai bekerja sesuai dengan ritme seperti biasanya.Hari itu cukup padat. Banyak pengecekan data terkait laporan keuangan mingguan dan akhir bulan yang harus segera ia serahkan kepada Direktur terkait. "Ini, Pak. Semua yang Bapak minta sudah saya print. Dan untuk dokumen soft copynya, sudah saya kirimkan ke email Bapak.""Oke, terima kasih Bas. Kamu memang orang yang selalu bisa diandalkan.""Sama-sama, Pak. Apa ada yang bisa saya bantu lagi, Pak? Kalo tidak, saya pamit kembali ke ruangan dulu.""Untuk saat ini cukup, Bas."Bastian menganggukkan kepalanya perlahan dan berbalik kem

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 42

    "Om!" panggil Andini, nyaris seperti orang yang sedang teriak di tengah lapangan. Satria yang belum lama kembali dari ruang rapat dan saat ini sedang duduk sambil menyandarkan kepalanya di bangku, sontak membuka matanya yang belum lama terpejam. Ia terpaksa harus melihat ke arah Andini. Padahal ta

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 44

    "Pulang?"Satria mengangguk. "Iya, saya lupa ada janji dengan Siska. Dia kan hari ini ulang tahun." Satria mencoba mengingatkan. "Apa kamu lupa?" Ia mengerutkan kening. "Nggak dong sayang... Untuk ultah kamu dan Siska, aku selalu ingat." ucap Andini, bangga. "Tadi pagi, aku juga udah kirim kado

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 47

    "Ibu?!" tanya Zaskia saat ia hampir saja sampai ke meja makan. Senyumnya mengembang lebar. Siska dan Satria saling bertatapan sekilas, lalu memandang ke arahnya. Tak lama kemudian, Siska mengangguk pelan. Dalam hatinya, ia berharap agar Zaskia tidak salah paham dengan ucapannya tadi. Zaskia berj

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 43

    "Yang..."Satria mengerutkan kening. "Yang?" Andini mengangguk. " Iya, kan udah bukan jam kerja. Jadi, nggak apa-apa kan kalau aku panggil sayang?"Satria menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Tapi nggak harus yang juga kan, An. Kayak ABG aja!" Ia memijat pelipisnya yang sedikit

    last updateLast Updated : 2026-03-21
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status