MasukArumi berkeinginan untuk meneruskan cita-citanya. Namun, sang ayah justru nekat menjualnya demi menebus hutang. Bukan hanya menjadi istri dari pria tua, ia bahkan harus gagal meneruskan pendidikannya. Sampai seorang pria tiba-tiba datang dan hidupnya berubah.
Lihat lebih banyak“Cepat, Indah! Dandani dia!”
Suara Darsono memerintah Indah, istrinya, dengan kasar. Indah tersentak. Tangannya yang keriput menggenggam lengan Arumi, menarik gadis itu berdiri dari kursi ruang tamu. Arumi terhuyung. Matanya masih sayu, belum sepenuhnya sadar dari lamunan tentang buku-buku sekolah yang ia tinggalkan dua tahun lalu. “Bu, ada apa ini?” Arumi bertanya, suaranya parau. “Kenapa aku harus berdandan jam segini?” Indah tidak menjawab. Hanya desahan berat yang keluar dari bibirnya yang mengering. Ia menyeret Arumi masuk ke kamar sempit di belakang rumah. Arumi duduk di depan cermin. Ia menatap pantulan wajahnya. Rambut panjang tergerai, wajah bulat dengan mata besar yang kini dipenuhi tanda tanya. “Bu, tolong jawab. Aku takut.” Dari balik pintu, suara Darsono kembali berteriak. “Kamu akan menikah dengan Juragan Gatot!” Arumi membeku. Juragan Gatot. Nama itu membuatnya takut. Saudagar kaya di desanya, Kanigara. Usianya sudah melewati angka lima puluh tahun. Dan reputasinya, Arumi sering mendengar bisik-bisik dari tetangga. Gatot sudah menikah lima kali. Semua istrinya masih muda, hanya dua orang yang masih bertahan. Sisanya, semua dicerai saat mereka tidak bisa memuaskan nafsunya. Entah ke mana para perempuan itu pergi setelah dicampakkan. Ada yang kabur. Ada yang diam-diam pindah kampung. Ada yang tidak diketahui keberadaannya dengan pasti. “Kenapa?” Arumi berbalik, menatap pintu tempat suara ayahnya berasal. “Kenapa aku harus menikah dengan pria tua itu? Aku tidak mau, Pak! Aku tidak mau!” Darsono membuka pintu. Wajahnya merah. Matanya melotot penuh kemarahan. Arumi tahu, ayahnya tak bisa dibantah. “Sudahlah, jangan membantah! Sebagai anak perempuan, kamu harus berbakti pada orang tua!” Pintu dibanting dengan keras, sampai lemari di dekatnya bergetar. Arumi menatap ibunya. Indah hanya berdiri di sudut, kedua tangannya memegang ujung kain kebaya, menggigit bibir hingga hampir berdarah. “Bu …” Arumi meraih tangan ibunya. “Katakan ini tidak benar. Katakan Bapak hanya bercanda.” Indah menunduk. Air matanya jatuh perlahan-lahan, membasahi pipinya yang keriput. “Bu, aku tidak mau menikah. Aku masih muda. Bilang sama bapak, Bu!” Arumi memegang bahu ibunya, wajahnya memohon. “Aku baru dua puluh tahun, Bu. Aku belum siap. Aku tidak mau menjadi istri dari pria tua itu, Bu!” Indah terisak. Arumi merasakan dadanya sesak. Ia ingat tiga tahun lalu, saat ia diterima di sebuah sekolah negeri. Ibunya menangis bahagia. Ayahnya tertawa bangga. Mereka berdua menjual ayam-ayam peliharaan untuk membayar uang masuk. Tapi enam bulan kemudian, Darsono jatuh sakit. Usaha ternaknya bangkrut. Arumi terpaksa mengubur mimpinya dan berhenti sekolah. Ibunya bilang, jika ayahnya sembuh, maka ia akan bisa kembali bersekolah. Namun, saat itu tidak pernah datang. Kini Arumi menatap ibunya. Indah masih menangis. Tubuhnya yang kurus menggigil. Dan di antara isak tangisnya, suara itu keluar. Lirih dan terdengar pilu. “Maafkan Ibu, Arumi …” Arumi menahan napas. “Kamu benar-benar harus menuruti Bapak …” Indah mengangkat wajahnya. Matanya sembab. Bekas air mata mengalir seperti sungai di lembah pipinya. Tangannya menggenggam erat jari-jari Arumi. “Keluarga kita punya utang, Nduk. Utang besar.” Arumi merasakan dunianya runtuh. “Utang? Utang apa, Bu?” “Juragan Gatot yang meminjami uang untuk pengobatan Bapak dulu. Juga untuk memperbaiki rumah kita yang hampir roboh. Bapak sudah berutang puluhan juta. Dan sekarang …” Indah menelan ludah, “Juragan Gatot tidak mau menunggu lagi. Dia minta pelunasan. Kalau tidak, kita diusir dari rumah ini. Rumah satu-satunya yang kita punya.” Arumi mundur beberapa langkah. Hingga punggungnya membentur dinding. “Jadi ... jadi Bapak menjualku? Untuk melunasi utang?” “Bukan menjual, Nduk. Ini ... ini pilihan terakhir.” “Pilihan terakhir?” Arumi tertawa pahit. “Ibu bilang ini pilihan? Ini pemaksaan, Bu!” Indah tersentak. Lalu menangis lebih keras. “Maafkan Ibu, Arumi. Maafkan Ibu …” Arumi menatap cermin. Wajahnya pucat. Matanya kosong. Ia melihat ibunya yang terduduk di lantai, menangis tanpa suara. Di luar, ia mendengar ayahnya mondar-mandir. Ayahnya yang gelisah, bukan karena kehilangan anak, tetapi karena takut jika hutangnya tidak bisa lunas saat itu juga. Dan di kejauhan, dari arah rumah Juragan Gatot, terdengar suara gamelan mulai bertalu. Dipukul cepat. Bergemuruh seperti detak jantung Arumi yang kini berpacu. Arumi memejamkan mata. Ia membayangkan masa depannya—buku-buku yang tak pernah selesai ia baca, papan tulis yang tak pernah ia sentuh, anak-anak desa yang tak pernah ia ajar. Semua runtuh dalam sekejap. Ia membuka mata. “Ibu,” bisiknya. “Kalau aku menolak, apa yang akan terjadi pada Ibu dan Ayah?” Indah tidak menjawab. Hanya isak yang terdengar. Namun Arumi sudah tahu jawabannya. Dari luar, terdengar langkah berat mendekati pintu kamar. Pintu terbuka. Arumi menoleh. Juragan Gatot berdiri di ambang pintu. Baju koko hitamnya rapi. Rambutnya yang mulai putih disisir rapi. Pria itu menyeringai. Ia mengulurkan tangan. “Apa pengantinku sudah siap?” ***Seorang pria berdiri di tepi kebun, tubuhnya tegap, wajahnya tegas. Ia menggenggam sebuah parang panjang di tangannya.“Sardi?” Elang mencoba memanggilnya.Damar mengerutkan dahi dan tersenyum meremehkan.Sardi melangkah maju, parang di tangannya terarah ke Damar dan dua pria bertubuh tambun di sisinya. “Lepaskan Elang. Atau aku yang akan membuat kalian berhenti. Aku nggak akan main-main, aku nggak kenal kalian!”Damar tertawa. “Kamu pikir kamu bisa ngelawan kami? Satu lawan tiga.”Sardi tidak menjawab. Ia melangkah lebih dekat, matanya tajam. “Aku nggak takut sama kalian. Dan aku tidak akan mengulangi. Lepaskan dia atau aku arahkan ini ke leher kalian!”Dua pria itu ragu, menatap Damar. Damar menghela napas, lalu memberi isyarat. Mereka melepaskan Elang dan mundur beberapa langkah.“Kita belum selesai, Elang,” kata Damar sambil mundur. “Aku akan balas perbuatan kamu. Dan lain kali, kau tidak akan selamat.”Damar berbalik dan menghilang di antara pepohonan. Dua pria itu mengikuti.Sar
Elang menatap Arumi, lalu menghela napas. “Aku harus ke kebun. Ada yang merusak tanaman lagi.” Arumi merasakan kekhawatiran dan ketakutan seketika. “Siapa yang tega ngelakuin itu, Mas?” “Aku belum tahu. Tapi aku akan cari tahu.” Elang segera mengeluarkan kunci motor dari saku jaketnya. “Kita pulang dulu. Aku anter kamu ke rumah, terus aku lanjut ke kebun untuk lihat siapa yang ngelakuin cara culas kayak gitu.” Arumi mengangguk, mencoba tersenyum meskipun hatinya mulai gelisah. Hari yang sempurna harus berakhir dengan masalah baru untuk mereka. Mereka pulang dengan cepat. Di rumah, Arumi turun dari motor dan menatap Elang yang sudah bersiap pergi. “Mas Elang hati-hati ya,” pesan Arumi. “Iya. Aku pergi dulu. Kamu jaga rumah, ya.” Elang tersenyum, menepuk tangannya, lalu melaju pergi. Arumi berdiri di teras, menatap kepergian Elang. Di dalam hatinya, ia berdoa agar semuanya baik-baik saja. Sampai di kebunnya, Elang berdiri di hadapan tanaman cabai yang rusak. Batang-batang cabai
Arumi menatap Elang, lalu menjawab, “Saya belum tahu. Tergantung Mas Elang aja.” “Ke kebun aja,” kata Elang santai. “Aku mau lihat cabe sama timun. Kamu bisa bantu aku.” Arumi mengangguk, tersenyum. “Baik, Mas.” Nining menggeleng. “Kalian ini. Liburan aja masih ke kebun. Nggak capek?” Elang tersenyum. “Itu liburan buat kami.” Nining tiba-tiba berseru karena sebuah ide terlintas di benaknya, “Eh, kenapa nggak coba pergi ke kota? Nonton bioskop. Kalian belum pernah nonton bareng 'kan?” Elang tersenyum lalu menatap Arumi. Matanya bertanya, lembut. “Kamu mau?” Arumi tersenyum kecil, tangannya memainkan ujung taplak meja. “Saya terserah Mas Elang saja.” Elang mengangguk. “Ya sudah. Besok kita coba ke bioskop.” “Asyik! Aku ikut ya, Mas?” Nining bertepuk tangan, matanya berbinar. Elang menole
Arumi terbangun dari tidurnya dengan perasaan hangat yang menyelimuti tubuhnya. Matanya masih sayu, tapi ia segera menyadari sesuatu—tangan besar Elang melingkari pinggangnya, menjaganya sepanjang malam. Napas Elang terdengar teratur di belakang telinganya, hangat dan menenangkan.Arumi tersenyum, tapi ia tidak ingin membangunkan Elang. Perlahan-lahan, dengan gerakan hati-hati, ia melepaskan diri dari pelukan Elang dan turun dari tempat tidur. Kakinya menyentuh lantai semen yang dingin, dan ia berjalan pelan menuju pintu.Namun, saat ia hendak membuka pintu, suara Elang terdengar dari balik kasur.“Kamu mau ke mana?” gumam Elang, matanya masih setengah terpejam.Arumi menoleh, sedikit terkejut. “Ke kamar mandi, Mas. Aku mau mandi.”Elang mengangguk pelan, lalu tanpa sadar menambahkan, “Jangan lupa keramas, ya.”Arumi mengerutkan dahi, ingin bertanya alasannya. Tapi ia melihat Elang sudah memejamkan mata lagi, kembali tertidur. Arumi mengurungkan niatnya mengingat mereka sedang mengina






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak