Chapter: Bab 350"Gimana? Udah semua?" tanya Siska. Ia baru turun dari lantai atas langsung melihat sekeliling dan tersenyum tipis. Suasana rumah memang sudah cukup ramai sejak pagi tadi. Beberapa koper berjejer rapi di ruang keluarga. Imah dan Oty sibuk memastikan seluruh kebutuhan Arka dan Rosa sudah masuk ke dalam tas. Andini beberapa kali memeriksa perlengkapan si kembar dengan teliti, sementara Satria membantu para staf rumah membawa koper-koper yang akan dibawa."Ini kita mau liburan apa pindahan sih?" tanya Siska lagi, sambil duduk di sofa.Andini yang baru sadar akan kehadiran Siska, langsung menoleh ke arahnya. "Coba aja nanti kalo lo udah punya anak kembar. Baru deh bisa ngerasain apa yang gue rasain sekarang."Siska tertawa kecil. "Kan di sana juga udah disiapin semuanya, An.""Iya. Tapi tetep aja. Gue lebih tenang kalo bawa sendiri. Apalagi kalo urusan kebutuhan si kembar.""Iya juga sih."Tak lama kemudian, Rania keluar dari kamarnya.Kondisinya sudah jauh lebih baik dibanding beberapa
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: Bab 349"Selesai juga," gumam Siska, pelan. Ia akhirnya memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, bangkit dari duduknya, dan berjalan kembali menuju ruang keluarga.Di sana, Rania, Satria, dan Andini masih duduk santai sambil mengobrol ringan."Gimana?" tanya Andini begitu melihatnya datang.Siska langsung duduk kembali di sofa."Katanya nggak perlu siapin apa-apa.""Hah? Serius?" tanya Andini, dengan alis yang saling bertaut."Iya. Katanya, semua kebutuhan selama di Joguar udah disiapkan sama keluarga Jonathan."Satria menganggukkan kepalanya perlahan. "Berarti, mereka emang udah pikirin banyak kemungkinan dari awal.""Iya, sepertinya begitu, Yah."Rania yang sejak tadi mendengarkan tersenyum tipis. "Kalian emang nggak salah memilih Jonathan dan keluarganya."Siska hanya tersenyum kecil.Sedangkan Rania melanjutkan, "Nggak semua orang bisa mempersiapkan segala sesuatu dengan baik seperti itu. Apalagi dalam kondisi seperti sekarang. Dan mereka, sama sekali nggak mau membuat kita cemas dan
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: Bab 348"Hah..," gumam Siska, sambil menghembuskan nafas perlahan. Ruangan menjadi hening beberapa saat.Siska menundukkan pandangannya. Ia mengerti apa yang dimaksud Rania. Hanya saja, setelah beberapa hari terakhir yang begitu melelahkan, rasanya sulit baginya untuk tidak merasa khawatir.Satria yang sejak tadi mendengarkan akhirnya ikut angkat bicara. "Nenek benar, Sis."Siska menoleh ke arah Ayahnya. "Kamu atur aja semuanya sesuai rencana kalian.""Tapi, Yah...""Nggak apa-apa," potong Satria pelan. "Sekarang yang penting justru kita memanfaatkan waktu yang ada dengan baik. Kalo emang tinggal dua hari lagi, ya mulai disiapkan dari sekarang."Siska terdiam sesaat sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya perlahan.Satria lalu melanjutkan, "Nanti kamu tanya Jonathan apa saja yang perlu kita siapkan di sini. Biar semuanya bisa berjalan lebih cepat. Soalnya, waktu untuk persiapannya kan juga nggak banyak.""Iya, Yah."Andini yang duduk di samping Rania ikut mengangguk setuju. "Iya, Sis. Lo
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: Bab 347"Hah..," gumam Siska, pelan. "Kenapa hidup ada aja sih masalahnya, belum selesai satu udah ada lagi yang lainnya. Dosa apa sih aku Tuhan... Kok kayaknya masalah datang terus ga berenti-berenti," lanjutnya, dengan rasa lelah yang tiba-tiba saja datang lebih besar dari sebelumnya. ***Pagi hari datang lebih cepat daripada yang Siska sadari. Ia bahkan tidak benar-benar tidur semalaman. Hanya beberapa kali memejamkan mata sebelum kembali terbangun dan melihat ke arah pintu ICU.Sekitar pukul enam pagi, seorang perawat keluar dari ruangan tersebut."Bu Siska?"Siska yang matanya masih terpejam, langsung membuka mata dan bangkit dari duduknya. "Iya."Perawat tersenyum tipis. "Ibu Rania sudah sadar, Bu."Mendengar kabar itu, membuat beban besar yang ada di pundak Siska terangkat seketika."Beneran, Sus?" tanya Siska, memastikan. "Iya, Bu. Tapi beliau masih lemas. Nanti Ibu bisa masuk sebentar.""Baik, terima kasih, Sus," ucap Siska, sambil mengangguk cepat dan berjalan menuju ruang ICU.
Last Updated: 2026-06-02
Chapter: Bab 346"Aamiin," ucap Andini dan Satria, hampir bersamaan. Operasi yang berjalan dengan baik itu memang membuat mereka sedikit lebih tenang. Namun bukan berarti semuanya telah selesai. Masih ada masa pemulihan yang harus dilewati.Masih ada hasil patologi yang harus ditunggu. Dan yang paling penting, masih ada Rania yang harus berjuang untuk benar-benar pulih.Beberapa saat setelah dokter pergi, seorang perawat datang menghampiri mereka."Kalau ingin melihat pasien, nanti bisa bergantian ya, Pak, Bu."Satria menganggukkan kepalanya perlahan. "Saya duluan, ya.""Iya, Yah," jawab Siska. Perawat itu langsung mempersilakan Satria untuk masuk. Dan ia segera mengikuti perawat menuju area ICU.Begitu masuk ke dalam ruangan, langkahnya otomatis melambat. Rania sedang terbaring di atas ranjang dengan berbagai alat medis yang terpasang di tubuhnya. Wajah perempuan yang selama ini selalu terlihat tegar itu tampak jauh lebih pucat.Satria berdiri cukup lama di samping ranjang. Ia tidak banyak bicara.
Last Updated: 2026-05-31
Chapter: Bab 345"Ayo!" jawab Andini. Andini dan Siska tiba di rumah sakit kurang dari tiga puluh menit kemudian. Begitu pintu lift terbuka, keduanya langsung berjalan cepat menuju ruang tunggu yang berada di dekat area pemeriksaan. Satria sudah berada di sana lebih dulu. Pria itu sedang berdiri sambil berbicara dengan salah satu perawat ketika melihat kedatangan mereka. "Ayah!" panggil Siska. Satria yang sudah selesai bicara, segera berjalan menghampiri Siska dan Andini. "Gimana keadaan Nenek?" tanya Siska dan Andini hampir bersamaan. Satria menghela napas pelan. "Nenek masih dalam pemeriksaan." "Diperiksa apanya?" tanya Andini. "Dokter lagi melakukan pemeriksaan menyeluruh. CT Scan, MRI, sama beberapa pemeriksaan lain." Siska langsung mengangguk pelan. "Jadi, kita harus tunggu hasilnya dulu ya, Yah?" "Iya," jawab Satria, singkat. Mereka akhirnya duduk di ruang tunggu. Waktu terasa berjalan jauh lebih lambat dari biasanya. Siska beberapa kali melihat ke arah pintu ruang
Last Updated: 2026-05-30
Chapter: Bab 113 Kaget"Lila," gumam Doni, pelan. Dina yang menyadari akan pertemuan yang tidak terduga melihat ke arah Lila dan Doni secara bergantian. Sedangkan Lila benar-benar tidak menyangka akan melihat rekan kerja dan juga jantung hatinya berada di tempat itu.Apalagi duduk satu meja dengan Arya. Dan yang lebih membuatnya terdiam adalah keberadaan Dina di samping Doni. Entah kenapa, pemandangan itu membuat dadanya terasa sedikit tidak nyaman.Meski selama ini Doni tidak pernah memberikan harapan apa pun kepadanya, tetap saja perasaannya tidak bisa serta-merta hilang begitu saja.Lila menarik napas pelan. Ia sempat berpikir untuk langsung pergi. Namun sebelum sempat berbalik, Arya lebih dulu menegurnya."Lila," panggil Arya. Hal itu seketika langsung membuat perempuan itu tersenyum canggung dan berjalan mendekat. "I-iya, Om."Arya mengerutkan kening. "Kamu ngapain di sini?""Aku ada acara makan malam sama keluarga teman, Om."Arya melihat sekeliling. "Tapi kok kamu dateng sendirian?"Lila tersenyum
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: Bab 112 Pertemuan Tidak di Sangka"Uhm..," gumam Arya, masih mencoba mengingat. Doni mengulurkan tangan dan tersenyum dengan sopan. "Saya Doni. Senang bisa bertemu dengan anda secara langsung, Pak."Arya segera tersadar lalu menjabat tangannya. "Saya Arya, senang bertemu dengan kamu juga, Ar."Meski begitu, pikirannya masih terus mencoba mengingat. Sampai akhirnya sebuah ingatan muncul begitu saja.'Ah, iya! Lila!' batinnya. Arya langsung teringat pada keponakannya itu. Beberapa kali Lila pernah bercerita tentang seorang rekan kerja di kantornya yang juga merupakan orang yang merupakan sahabat kakaknya.Beberapa kali saat acara keluarga, Lila pernah menunjukkan foto-foto bersama rekan kerjanya. Dan salah satu wajah yang pernah ia lihat adalah wajah Doni.Saat itu Lila bahkan sempat bercerita cukup panjang sampai Arya hanya bisa mendengarkan sambil tersenyum. Laki-laki yang menjadi idola bagi keponakannya. Arya akhirnya memahami kenapa pria itu terlihat begitu familiar. Ternyata ia memang pernah melihat fotonya. Nam
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: Bab 111 Ketemu Doni"Makasih, Pak," ucap Dina, pelan. "Sama-sama, Din."Setelah memastikan Dina dan Laras aman, Arya menutup pintu mobil lalu berjalan menuju kursi pengemudi.Beberapa saat kemudian, mobil itu perlahan meninggalkan halaman rumah Laras. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa cukup nyaman. Tidak terlalu ramai, namun juga tidak canggung. Mereka hanya membicarakan hal-hal ringan yang terjadi sepanjang hari."Kerjaan kamu akhir-akhiemr ini gimana, Ras?" tanya Arya, sambil melihat ke arah Laras sesaat, lalu kembali fokus melihat jalan."Cukup padat. Tapi masih aman seperti biasa," jawab Laras, pelan.Arya menganggukkan kepalanya perlahan. "Kalo kamu gimana, Din?""Hampir sama kayak Ibu, Pak.""Wah, berarti kerjaan kalian lagi lumayan padat ya?" tanya Arya. "Begitulah. Kan masih proses ekspansi, promosi, dan selanjutnya kami juga akan segera mengeluarkan beberapa produk baru secara bertahap," jawab Laras. "Wah, kayaknya MARS Company akan semakin berjaya setelah kalian berkolabor
Last Updated: 2026-06-02
Chapter: Bab 110 Makan Malam"Astaga!" Laras langsung mengerutkan kening, setelah mendengar ucapan anak semata wayangnya itu."Kenapa sih, Bu?" tanya Dina sambil menahan tawa."Kamu nih, cepet banget mikirnya. Langsung lompat ke nikah aja.""Ya kan tadi Ibu sendiri yang bilang kalau cocok bakal ada langkah selanjutnya," ucap Dina, sambil tersenyum kecil. Laras menggelengkan kepalanya perlahan. "Iya sih, tapi nggak segitu kilatnya juga, sayang.""Oh, terus gimana?" tanya Dina lagi. Ia benar-benar penasaran. "Ibu belum tau, sayang.""Belum tau gimana sih, Bu?" tanya Dina, gemas. "Kalo emang oke sih, menurut aku sat set aja."Laras meletakkan cangkir tehnya di atas meja secara perlahan. "Saat ini, Ibu sih masih mau lihat dulu perkembangannya.""Lihat apa, Bu?""Kedekatan kita bertiga."Dina terdiam sejenak. Ia mencoba memahami semua ucapan Laras. Laras melanjutkan dengan tenang. "Selama ini hubungan Ibu sama Arya kan nggak pernah seperti sekarang, Din. Terlebih, kami juga kan belum lama ketemu lagi setelah sekia
Last Updated: 2026-05-31
Chapter: Bab 109 Ada Hubungan Apa?"Uhm..," gumam Laras, pelan. Ia tidak langsung menjawab. Perempuan itu justru tersenyum kecil sambil meniup pelan teh hangat di tangannya. Lalu, beberapa saat kemudian, tatapannya bergeser ke arah Dina yang sejak tadi menunggu jawabannya dengan wajah penuh rasa penasaran."Kamu tuh sekarang bener-bener mirip kayak Ibu, ya," ucap Laras pelan.Dina langsung mengernyit bingung. "Masa sih, Bu?""Iya, lugas banget. Kalo ada yang ganjel, langsung ditanya."Dina tertawa pelan. "Ya abis, keliatan banget, Bu.”Laras ikut tertawa pelan sebelum akhirnya bersandar santai di sofa."Kemarin, Arya emang sempat bilang kalo dia mau mampir ke rumah hari ini," jawabnya akhirnya."Nah kan! Dugaan aku bener, ternyata!" ucap Dina, cepat."Tapi Ibu juga nggak nyangka kalo akhirnya malah ketemu di tempat jogging."Dina sedikit membulatkan matanya. "Terus, untuk ajakkan makan malam juga mendadak?""Iya."Mulut Dina langsung membentuk huruf O cukup besar."Oh gitu," gumamnya pelan, sambil mengangguk-angguk ke
Last Updated: 2026-05-26
Chapter: Bab 108 Jogging"Iya," jawab Arya, sambil tersenyum tipis.Ia memperlambat langkahnya sampai sejajar dengan mereka berdua."Sebenarnya saya habis ini mau ke rumah kamu," jawab Arya, tenang.Laras langsung menoleh ke arah Arya. "Hah? Ngapain?""Aku mau ngajak kalian makan siang di luar nanti. Tapi ternyata malah ketemu di sini."Dina yang berdiri di samping Ibunya langsung melirik keduanya secara bergantian. Tatapannya sedikit menyipit penuh curiga. Karena sejujurnya, ia cukup tau kalau rumah Arya sangat jauh dari komplek mereka. Dan laki-laki sesibuk itu jelas bukan tipe orang yang tiba-tiba jogging random di tempat lain tanpa alasan yang jelas. Apalagi ekspresi ibunya sekarang terlihat terlalu tenang."Oh..." gumam Dina pelan.Mereka akhirnya berjalan santai bersama mengelilingi jogging track.Arya lebih banyak mengobrol dengan Laras. Mulai dari pekerjaan, kondisi kantor, sampai beberapa topik ringan yang membuat suasana pagi itu terasa cukup nyaman.Sementara Dina lebih sering diam sambil mendenga
Last Updated: 2026-05-26