MasukKeesokan harinya...Pagi-pagi sekali Maxim bersiap untuk pergi ke kantor. Setelah semalam pulang larut, pagi ini laki-laki itu terlihat sangat terburu-buru. Maxim mendapatkan kabar kalau beberapa rekan kerjanya sudah mulai membicarakan soal tambang milik istrinya di Barchen lagi dan lagi. "Sayang, ini masih pukul setengah tujuh. Apa iya kau mau berangkat sepagi ini?" Margaret memperhatikan suaminya yang tengah bersiap. Maxim menatapnya dari balik cermin meja rias. "Iya, Sayang. Aku harus pergi cepat. Kalau urusan sudah selesai, besok kita pulang ke Laster." "Baiklah," jawab Margaret.Maxim menyahut jas hitamnya, sebelum ia mendekati Margaret dan mengecup kening wanita itu dengan mesra. "Aku berangkat dulu," pamit Maxim. "Heem. Hati-hati di jalan, Sayang..." Laki-laki itu bergegas keluar dari dalam kamar meninggalkan istri dan anaknya. Sementara Margaret kini, ia mendekati ranjang bayi di sebelah tempat tidurnya. Wanita cantik dengan rambut terikat pita merah itu menggendong ba
Maxim mendatangi tempat di mana Logan dan Kalix mengurung Camila. Di sebuah pondok kecil yang berada jauh dari pusat keramaian. Mereka yakin kalau Camila tidak akan bisa kabur dari tempat itu. Hingga Maxim tiba dan Logan membuka pintu tempat itu, Camila yang sejak tadi ketakutan langsung bangun dan sadar dengan kedatangan Maxim. "Kak Maxim..!" Wanita itu menatapnya dengan wajah ketakutan. "Apa maksudmu meminta dua anak buahmu itu mengurungku di sini?!" Maxim tetap diam dan berdiri tegap menatapnya penuh peringatan. "Apapun alasannya, aku rasa tidak penting untukmu," jawab Maxim. Laki-laki itu maju dua langkah mendekati Camila. Berdiri tepat di hadapannya dengan wajah dingin dan tatapan penuh ancaman, seolah ia bisa kapan saja menyakiti dan menghabisi Camila saat ini. Camila menelan ludah saat Maxim menatapnya dalam, tajam, dan mengintimidasi. "A-apa yang kau—""Di mana David?" Maxim menyela ucapan Camila. "Kau tidak usah berbohong padaku kali ini, Camila." "Aku tidak tahu!" pe
Di ruang keluarga, Margaret duduk di sofa sembari menggendong bayinya. Ditemani oleh Bibi Letiti yang kini berdiri di sampingnya. Resah di hari Margaret sedikit mereda saat bayi kecilnya tidak lagi menangis setelah meminum susu formula. "Dia tidur, Bi," ujar Margaret mengusap pipi gembil Viony. "Iya, Nyonya. Sepertinya Nona kecil memang sedang lapar," jawab Bibi Letiti memperhatikan bayi yang tengah tertidur itu. Margaret tersenyum lega. Sebelum akhirnya Bibi Letiti berpamitan ke belakang dan meninggalkan Margaret sendirian di sana. Lagi dan lagi, Margaret menoleh ke arah ruangan kerja suaminya. Ia memperhatikan Maxim yang kini keluar dari dalam ruangannya. Laki-laki dengan pakaian kemeja putih dilapisi vest hitam itu menatapnya, sebelum ia berjalan mendekati Margaret dan Viony. "Sudah tidur?" tanya Maxim memperhatikan putri kecilnya. "Sudah," jawab Margaret pelan. Maxim mengangguk kecil. "Ayo, pindah ke kamar. Ini sudah malam," ajaknya. Barulah Margaret beranjak dari dudukn
"Bajingan! Apa yang kau lakukan, hah?!" Camila berteriak marah saat dua ajudan Maxim membawanya. Mereka berdua mendorongnya di sebuah sofa di dalam sebuah rumah kecil yang jauh dari kota. Kedua mata Camila melebar dan menyala-nyala, ia takut, juga panik saat Logan dan Kalix berdiri di hadapannya dengan tatapan mengerikan. "Jadi kau, orang yang setiap hari meneror dan mengirim bunga bersama surat-surat itu untuk Nyonya Margaret?" Kalix menatap rendah wanita di hadapannya saat ini. Camila berdecak angkuh. "Aku tidak punya urusan dengan kalian! Kalian berdua hanyalah bawahan. Jadi, panggilah Tuan kalian dan suruh dia ke sini kalau ada yang dibicarakan denganku!" pekik Camila pada mereka. "Tuan Maxim sibuk dengan istri dan anaknya. Sepertinya tidak ada waktu untuk wanita sepertimu," sahut Logan, ucapannya yang sarkastik, tatapannya yang tajam dan berbahaya. "Tuan Maxim sudah menyerahkan semua tugas-tugas ini padaku. Termasuk ... menangkapmu." Rahang Camila mengeras kuat, ia langsung
Seperti yang diperintahkan Maxim pada Logan dan Kalix. Pagi ini, dua pria berbadan gagah dengan pakaian serba hitam itu, berada di depan toko bunga yang baru saja buka. Kalix mengenakan kaca mata hitam dan topi hitamnya, menutup mulut dan hidungnya dengan masker berwarna senada. "Dia kan?" Logan menaikkan dagunya saat seorang pemuda muncul di depan toko bunga dan merapikan bunga-bunga. "Heem. Sepertinya Killian jujur, dia hanya pegawai toko itu," ujar Kalix. "Tapi ... yang perlu kita selidiki adalah siapa yang menyuruhnya." Logan menyergah napas, ia duduk bersantai di dalam sebuah cafe bersama Killian saat ini. Menikmati secangkir kopi pahit dan membuka kotak cerutu, mengambil sebatang gulungan tembakau itu dan membakar ujungnya, sebelum pria tampan bermata abu-abu itu menyesap asap cerutunya dan mengepulkan asap ke udara. "Kau mau taruhan, siapa yang menyuruh anak muda itu?" tantang Kalix pada Logan. "Tidak perlu. Dugaan kita akan sama," jawabnya. "Camila?" Kalix menaikkan sal
"Orang itu sudah tiga kali mengirim bunga kemari. Harusnya kalian menyelidiki siapa orang itu sebenarnya!" Maxim mengomeli Andrew dan dua anak buahnya yang menghadap padanya malam ini. Kekesalan itu Maxim ungkapkan karena ia telah menyerahkan segala keamanan pada anak buah Andrew, namun masih saja ada penguntit yang diam-diam berusaha mengusik. "Surat-surat yang ada di dalam bunga itu berisi pengancaman yang ditulis dengan bahasa yang halus. Logan dan Kalix sudah menyuruh kalian berdua untuk mengikuti pengantar bunga itu kan?!" sentak Maxim pada Josh dan Killian. "Sudah, Tuan. Tapi pemuda itu benar-benar pegawai toko bunga," jawab Killian, saya sudah mengikutinya dua hari terakhir. "Biar saya dan Kalix saja yang mengikuti orang itu, Tuan," sahut Logan dari belakang Maxim. "Saya akan mencari, sampai ke akar-akarnya." Maxim melirik Logan dan Kalix yang mengangguk padanya. "Logan benar, Tuan. Saya juga sangat penasaran, siapa yang menyuruh pemuda itu," sahut Kalix dengan wajah mura







