LOGINKarena keadaan, Sasa terpaksa menyamar sebagai kembarannya, Gumi: seorang gitaris dari band rock The Blues. Sasa mungkin tidak akan gentar kalau hanya bermain gitar, tapi masalah mulai datang saat dia pun harus berhadapan dengan sang vokalis, Bas Sangkara. Pria ini bukan hanya sinis dan culas, tapi juga terang-terangan membenci Gumi. Lantas bagaimana Sasa bisa bertahan? Akankah penyamarannya sebagai Gumi menimbulkan kecurigaan? Dan sebenarnya ada apa antara Bas dan Gumi sehingga pria itu memperlakukannya dengan keji?
View More"Mama yakin ini tempatnya?"
Mengeratkan genggaman tas gitar di bahu sambil meremas ponsel yang menempel di telinga, aku menatap bangunan di hadapanku dengan tidak pasti. Sebagai orang yang dijuluki buta maps, aku sudah berusaha berulang kali memastikan, membaca setiap jalan, sampai menghafal setiap tikungan. Namun alih-alih sebuah bangunan megah seperti yang terpampang di foto, aku justru menemukan sebuah bangunan dua lantai yang nyaris ambruk. Halamannya dipenuhi kotak sampah yang membumbung tinggi, catnya sudah memudar dan mengelupas di sana-sini, kaca jendelanya tampak memburam. Secara keseluruhan The Blues lebih pantas disebut sebagai rumah jagal daripada sebuah studio musik. "Pokoknya kalau ketemu gedung warna biru, berarti kamu sudah berada di tempat yang tepat. Kamu tinggal masuk aja, Sa." "Gimana kalau mereka sadar?" "Kita sudah bahas ini semalam. Mereka nggak akan memerhatikan kamu secara detail. Selama kamu bisa memainkan gitar seperti Gumi, semuanya pasti aman." Masalahnya, aku bukan Gumi dan permainan gitarku hanya setara Mas-Mas pos ronda yang suka nongkrong saat malam minggu di depan gang. Sedangkan The Blues yang Mama maksud adalah band Rock yang namanya sempat digadang-gadang menjadi kebangkitan musik Rock di Indonesia. Meskipun saat melihat secara langsung sepertinya julukan tersebut terlalu dibesar-besarkan media, karena nama The Blues sendiri sudah meredup. Mereka kesulitan bersaing di era gempuran band indie dan penyanyi solo, serta hanya berhasil mengeluarkan single hit. Bukan sekali dua kali, mereka melakukan perombakan, hingga bongkar pasang personil. Salah satunya Gumi. Setelah melewati perjalanan yang terjal, mengikuti audisi dari ribuan kandidat, Gumi akhirnya terpilih menjadi gitaris baru mereka. Sayangnya, belum sempat Gumi merasakan euforia itu. Dia terlibat kecelakaan mobil dan kini harus terbaring koma di rumah sakit. Sementara sebagai kembaran pengertian, aku diharapkan untuk menggantikan posisinya. "Jangan kecewakan Kakak kamu, Sa. Ini keinginannya, impiannya. Dan yang paling penting, dia sudah tanda tangan kontrak, kalau tiba-tiba Gumi mengundurkan diri, keluarga kita harus bayar pinalti yang nominalnya nggak sedikit." Lantas bagaimana dengan mimpiku? Keinginanku? Harapanku? "Aku juga harus kuliah Ma," kataku berusaha sabar. Mama terdengar menghela napas panjang dari seberang sana. "Kalau Gumi sehat, dia juga pasti nggak mau kamu melakukan ini. Kamu hanya perlu bertahan selama enam bulan sampai kontrak itu selesai, Mama berharap saat itu Gumi udah sadar dan kesehatannya udah pulih, jadi kamu nggak perlu lama-lama menggantikan dia." Sialnya, aku pun tidak memiliki pilihan, bukan? Karena semenjak Papa kami meninggal, maka sejak itu pula Gumi menjadi tulang punggung keluarga. Musibah yang dia alami bukan sekadar menghacurkan mimpinya tapi juga membuat ekonomi keluarga kami terguncang. Bantuanku yang mendapat beasiswa kuliah tidak cukup jika dibandingkan dengan jerih payah dan pengorbanan yang sudah Gumi lakukan. "Kamu nggak perlu takut, kalian kembar identik, nggak akan ada yang tahu kalau kamu pura-pura menjadi Gumi." "Tapi Ma, aku nggak bisa—" "Bisa. Kalian anak Mama, jadi bakat kalian sama. Oke Marsha? Mama udah dipanggil dokter Emran, nanti Mama kabarin lagi kalau pemeriksaan Gumi udah selesai." "Ma, aku—" Sambungan telepon langsung diputus sepihak. Aku menghela napas berat, lalu menyimpan ponsel di saku. Sambil berjalan gontai ke pintu, aku memindai penampilan diriku sendiri dari balik pantulan kaca. Kaos oversized, celana jeans, riasanku dibuat smokey eyes dan sedikit bold, rambut panjangku bahkan sudah dipangkas bob mengikuti gaya rambut Gumi yang sedikit tomboy. Perlahan, aku mendorong pintu itu, lalu mengedarkan pandangan. Hanya ada seorang pria di dalam sana. Dia berdiri dengan punggung yang menghadapku, menunduk dan sedang menyetel piringan di gramafon. Suara musik jadul terdengar menggema membuat suasana menjadi lebih suram. "Halo?" Pria itu tidak mendengar. "Permisi?" Masih tidak ada jawaban. "Hai?" Aku berdeham lebih keras, mencoba menarik perhatian, pria itu akhirnya menoleh, bibirnya yang sedang bersenandung mendadak terdiam, matanya sontak menyipit. "Apa kabar?" tanyaku canggung. Oke, aku pernah melihatnya dari balik layar kaca, tapi Bas Sangkara tampak lebih jangkung saat dilihat secara kasatmata. Dia mengenakan jaket kulit dan celana jeans sobek-sobek. Tampak percaya diri. Rahangnya yang keras dipenuhi bulu-bulu halus, rambut panjangnya diikat manbun. Jika biasanya tampilan seperti itu akan terlihat seperti gelandangan di tubuh orang lain, maka di tubuh Bas, justru membuatnya tampak lebih berbahaya. "Saya—" "Masuk. Ngapain berdiri di situ? Anginnya bikin debu-debu jadi ikut masuk." Oke, sangat ramah, bukan? Aku melakukan yang dia perintahkan, berjalan ke sudut tempat sofa berdebu, kemudian meletakkan tas gitarku. "Saya Megumi Sahira, gitaris baru. Terima kasih sudah memberikan—" "Kamu tahu apa yang kamu lakukan di sini?" potongnya tanpa memandangku. "Latihan." Aku mencicit. "Dan kamu tahu jam berapa sekarang?" Kutelan ludah susah payah. "Kami sudah hampir selesai dan kamu baru datang. Kamu pikir dengan kontrol waktu yang buruk, kamu bisa bertahan?" Sial, aku buru-buru mendekat, sepatu botku nyaris keselimpet di karpet lusuh yang dipenuhi tumpukan kaset. "Maaf, saya benar-benar minta maaf. Beberapa hari ini saya mengalami musibah—" "Ghozali juga sedang dalam kemalangan, Papanya baru saja dimakamkan, tapi dia tahu tanggung jawabnya." Setengah mati aku berusaha untuk tidak menciut saat tatapan Bas terangkat lalu memindai penampilanku lambat-lambat. "Dan sekarang kamu justru sengaja menyepelekan jadwal kami?" "Maaf, Pak." "Pak?" "Kak." "Kak?" Ya ampun, serba salah. "Tuan." "Tuan?" Kini aku tahu kenapa Mama sangat senewen dan memaksaku menggantikan Gumi, karena Bas sangat mengerikan. Bagaimana beliau berharap aku akan betah di tempat seperti ini? Aku berdeham dan mengulangi dengan lebih percaya diri. "Kalau sekiranya Kakak nggak keberatan, sebaiknya Kak Bas lihat dulu gimana kemampuan saya—" Bas mendengkus, tidak terkesan dengan pembelaan yang kuberikan. "Gimana pun hebatnya penampilan kamu, kalau nggak bisa menghargai waktu, bukannya kamu nggak layak?" tanyanya sadis. "Tapi kamu benar, satu kali terlambat bukan berarti kamu buruk, semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua." Kuembuskan napas lega. "Pertama, kamu bisa mulai dari membersihkan ruangan ini." Dengan sigap aku menangkap kemoceng yang dia lemparkan, mulutku megap-megap. "Gi-gimana, Kak?" "Kita nggak mungkin latihan dengan keadaan berantakan seperti ini, kan?" "Ya tapi—" "Kamu juga bisa membersihkan kaca, saya nggak bisa melihat apa-apa dari dalam sini. Saya hampir mengira kamu maling saat celingak-celinguk di depan tadi." Astaga. "Semua barang-barangnya ada di lemari persis di samping kepala kamu." Boleh tidak aku berbalik badan dan melarikan diri saja? Tapi aku sudah setuju pada Mama dan tidak bisa mundur. Aku membuka lemari itu, terbatuk heboh ketika isinya berhamburan keluar. "Gila, apa ini udah setahun nggak dibersihin? Kenapa baju tidur juga ada di sini?" tanyaku. Menjepit sebuah kain dekil di antara tumpukan sapu dan alat pel. "Lebih tepatnya dua tahun." "Terus saya harus gimana?" "Kamu nggak pernah bersih-bersih?" "Yah, maksud saya..." Gimana caranya aku akan menyapu karpet tebal yang berkerak. Dan bahkan aku tidak tahu, kotoran apa saja yang menempel di sana? "Mungkin kalian punya penyedot debu?" Bas berkacak pinggang. "Oke, pakai ini pun nggak pa-pa." Entah kenapa aku merasa ngeri dengan tatapannya yang mengintimidasi. "Biasanya kamu nggak serewel ini." Punggungku langsung dingin. Memang sebelumnya kami kenal? Kenapa dia berkata seolah kami akrab? "Gi-gimana Kak?" "Jangan banyak tanya Gumi, saya tahu kenapa kamu bisa sampai terlambat." Alisnya terangkat, sapu di tanganku bergetar saat bibirnya terbuka dan menggumam. "Kamu selalu tahu caranya membuat orang lain menunggu dengan gelisah sementara di luar sana kamu suka berkeliaran." "Itu—" "Panas banget di luar, ya ampun." Suara bariton mendadak terdengar disusul oleh pintu kaca yang terbuka, menampakkan seorang pria dengan tubuh gempal masuk. "Kemarin hujan mulu sekarang—Gumi? Astaga, akhirnya lo datang juga!" Sepertinya aku dalam masalah besar. ***"Apa hal terbaik yang bisa kamu bagikan untuk orang lain sebagai pelajaran dari pernikahan kalian?" Itu adalah pertanyaan yang pernah diajakun oleh salah seorang podcaster ketika Bas hadir untuk wawancara di sebuah podcast. Bas tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawab percaya diri. "Menerima ketidaktahuan dan saling memafkan." Alih-alih kekurangan, dia justru menggunakan kata ketidaktahuan untuk merujuk pada kekurangan-kekurangan yang tanpa sadar kami lakukan. Bagaimana aku tidak semakin mengangumi suamiku? Kami sering bertengkar, bahkan karena masalah sepele seperti kontrol suhu AC. Karena Bas sukanya dingin-dingin biar bisa peluk-peluk, sedangkan aku risi, merasa gerah kalau tidur harus pelukan terus. Atau masalah yang paling krusial seperti ketika dia diam-diam membeli mobil baru tanpa sepengetahuanku sama sekali. Banyak hal yang kami sesuaikan, adaptasi, kadang aku yang mengalah, walaupun lebih banyak Bas yang mengalah. Tapi kalau sedang mesra, tidak perlu ditanya,
"Sepengetahuan aku, dari ceramah yang aku dengar, ari-ari harusnya dicuci bersih dan diurus sama Mama mertua, kalau aku bilang begini sama Mama Bas, menurut kamu dia bakal tersinggung nggak?" Aku meringis dengan penurutan Gumi. "Nggak usah dipikirin itu Gum, Bas yang udah mengurus semuanya." "Oh ya bagus deh, Alhamdulillah. Dia memang cekatan, sih." Beberapa hari sebelum melahirkan, Gumi memang ngotot ingin menemaniku di rumah, khawatir hal-hal seperti ini akan terjadi, tapi karena tidak mungkin kami tinggal serumah bertiga, jadi dia memerhatikan dari jarak jauh. Ketika datang dari luar kota, dialah yang paling heboh dengan Nathan dan tidak berhenti menimang sambil memuji. "Gembul banget sih, asi Mamanya pasti gacor banget ini, calon-calon roti sobek di lengannya ada empat. Mana wangi lagiiii, bau surga banget kamu." Anakku mere
Sembilan bulan menuju HPL.Kami baru pulang dari lokasi syuting karena jadwal Bas makin hethic ketika tiba-tiba Noah datang ke rumah.Saat itu aku dan Bas sedang mendengarkan demo dari single yang akan dirilis berjudul Dua Dalam Satu. Sebuah lirik yang menceritakan perjalanan pria yang menemukan belahan hatinya.Jadi kami tidak mendengar Noah datang, dia langsung masuk melewati asisten kami di depan, bahkan sampai ke ruang musik Bas, aku lebih dulu melihat kehadirannya dan menyapa."Noah?"Wajah Noah keras, tanpa aba-aba, dia menyambar lengan adiknya, Bas tampak terkejut, sebelum dia mampu beraksi, sebuah bogeman mentah sudah lebih dulu mendarat ke wajahnya dan membuat suamiku tersungkur di lantai.Aku menjerit kaget."Kamu kenapa?!" seruku panik.Bas mengerang, wajahnya kelihatan antara shock, bingung, dan sedikit marah.Noah mengabaikanku, dan membentak. "Bajingan, selama ini lo pura-pura polos, berti
Anak kami laki-laki.Hal ini kami ketahui setelah usia kandunganku tiga bulan. Tidak perlu ditanya hebohnya Bas. Dia seperti CR7 ketika melakukan siu. Bahkan saking gembiranya satu obgyn diberikan hadiah.Aku ikut bahagia untuknya, walau sampai trisemester kedua aku mengalami perubahan yang berat, terlebih aku sempat merasakan baby blues. Bedanya, si dede belum lahir, tapi aku tidak merasakan perasaan antusias, semangat, cinta atau apapun. Rasanya flat, hambar.Beruntung aku punya banyak orang di sekelilingku yang mendukung, ada Gumi, yang siap menjadi tante rempong, Mona si tante bawel, Rigen om pelawak, Goz om royal, dan Noah om perhatian."Kalau gitu aku udah bisa bantu dekor-dekor kamarnya dong?" Gumi sampai excited dengan kehadiran si bocil. Tiap weekend, dia akan berkunjung untuk mengajakku belanja atau makan enak, yang semuanya untuk si baby.Dia banyak sekali berubah, kurasa pengalaman yang tidak pernah ia ceritakan selama koma i
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore