LOGINBLURB: Life from Kova made Lilysaint realize it was better to stay with men for fun than invest an emotion that must later hurt. Working as a supervisor in a prodigious hotel which belonged to Brucha, Lily stepped out to fulfill the inner crave that had passively laid dormant in her for years: which was seducing men, prominent men for a hobby. The show that happened within Lily’s wanton heart gave no room to think about marriage which was what Brucha wanted from her. The night of seventh seduction played a vital role in creating a mind shift in Lily to realize that only Brucha had wanted her for good. But this realization seemed to be happening late as another woman, Selina Nascar, now had a place in the lonely life of Brucha. Now, there is an intense task for Lily to play the game of seduction for what used to freely belong to her. Was this going to be easy with unrelenting Selena as a nightmare to her
View MoreBab 1
Pukul tujuh malam, Kediaman Miller terasa sunyi dan menekan.
Meski shiftnya sebagai pelayan baru sudah berakhir, Lila Laven masih harus bekerja. Ia butuh uang secepat mungkin.
Gadis berusia 26 tahun dengan kulit putih bersih dan rambut hitam pekat yang sedikit bergelombang tergerai di punggung itu, menyeka keringat tipis di pelipisnya.
Ia mengenakan seragam pelayan berwarna hitam dan putih yang kontras dengan matanya yang bulat dan ceria, kontras pula dengan beban yang dipikulnya.
Ibunya, Susan, terbaring lemah karena kanker dan butuh operasi segera. Biayanya? 1,5 Milyar. Sebuah angka yang mencekik.
Sudah seminggu ia menggantikan ibunya di rumah megah Jonathan Miller, 49 tahun, seorang pengusaha duda yang selalu bersikap ramah, meski matanya terkadang memancarkan sorot aneh.
Memiliki dua pekerjaan sekaligus, pelayan di siang hari di kediaman Miller dan pelayan di bar eksklusif di tengah malam membuat Lila berjalan di atas benang tipis kelelahan.
Malam ini, ia mendapat tugas membersihkan kamar tamu yang jarang dipakai, yang terletak di ujung koridor lantai dua. Ruangan itu gelap dan sedikit berdebu, dimana terlihat jika yang empunya rumah memang tidak punya tamu. Lila mengambil kemoceng dan mulai membersihkan. Ia bergumam pelan, mencemaskan shiftnya di bar.'Ya Tuhan, dari mana aku dapat uang untuk pengobatan Ibu?'
Tiba-tiba, suara pintu depan dibanting dengan keras menggema di kesunyian malam. Langkah kaki berat, cepat, dan tergesa-gesa memecah kesunyian. Langkah itu bukan langkah Tuan Miller. Langkah ini terlalu tegap, terlalu cepat, dan memancarkan aura bahaya. Jantung Lila mencelos. Ia menahan napas, mengira ada perampok. Ia segera meringkuk di balik tirai tebal yang menutupi jendela besar kamar tamu. Pintu kamar itu didorong terbuka dengan sebuah hentakan keras. Bukan perampok. Seorang pria bertubuh tinggi tegap, berbalut setelan mahal yang sedikit kusut, berdiri di ambang pintu. Pria tampan yang baru pertama kali ia lihat, wajahnya tertekuk, rahangnya mengeras, dan mata hitamnya memancarkan kemarahan yang mencekam. Nafasnya terdengar memburu. Lila tidak dapat melihat dengan jelas. “Siapa pria itu?” batinnya, menggigit bibir bawahnya, kedua tangannya mencekam erat pakaian seragam pelayannya. Sedangkan pria tersebut tidak menyadari kehadiran Lila di balik tirai. Ia berjalan gontai menuju ranjang king size di tengah ruangan, mencampakkan tas kerja mewahnya, lalu menyentuh keningnya yang berdenyut. Dia baru saja selamat dari jebakan yang nyaris merenggut nyawanya dalam perjalanan pulang. Kini badannya terasa begitu panas. Ada yang aneh. “Shit! Aku lengah!” geram pria yang merupakan pemilik asli rumah ini. Dia Adalah Oliver James Monfalco, pria berusia 33 tahun. Pria yang terkenal begitu dingin dan di takuti di kalangan para pebisnis dan dunia bawah tanah. Pria yang misterius, tidak pernah menunjukkan jati dirinya di muka public. Saat Oliver mulai melonggarkan dasinya, mata tajamnya menangkap gerakan halus di balik tirai jendela. Ia melihat bayangan tubuh mungil di sana. Mata Oliver seketika berubah dari lelah menjadi tajam dan dingin. Ia tahu betul rumah ini seharusnya kosong saat ini. "Siapa di sana?!" suaranya serak, menusuk. Lila tersentak, lalu perlahan keluar dari persembunyiannya. Ia menunduk takut, jari-jarinya meremas gagang kemoceng. "M-maaf, Tuan. Saya pelayan baru, saya sedang membersihkan kamar ini." Oliver melangkah maju. Satu langkahnya sudah cukup membuat Lila mundur dua langkah. Ia mengamati Lila dari ujung kaki hingga kepala. Tubuh indah di balik seragam pelayan, payudara ranum yang menekan kain, bibir tipis yang bergetar. Wajah polos dan ketakutan itu entah mengapa menarik perhatiannya, memicu sesuatu yang gelap di dalam dirinya. "Pelayan?" Oliver mendengus dingin. "Jonathan sudah bosan dengan pelayan tua dan menggantinya dengan... mainan baru?" Lila mendongak, matanya memancarkan amarah tipis. "Saya tidak mengerti maksud Anda, Tuan. Saya disini menggantikan ibu saya." Oliver tidak peduli. Tidak ada orang yang ia percayai di dunia ini. Ia hampir saja celaka dan situasi saat ini bukannya seperti jebakan yang tertunda. Pria ini haus akan kendali, dan Lila, yang tampak kecil tak berdaya, adalah target yang sempurna. Setidaknya ia berada di kediamannya saat ini. Dan semua berada di bawah kendalinya, termasuk pelayan kecil yang ada di depannya. Dalam sekejap, Oliver menghapus jarak di antara mereka. Ia meraih lengan Lila dengan cengkeraman baja, menyeret tubuh mungil itu menuju tempat tidur. "Lepaskan! Tuan, apa yang Anda lakukan?!" Lila meronta, suara cerianya berubah menjadi jeritan tertahan. Oliver menindih tubuh Lila di atas ranjang empuk. Nafasnya yang panas menerpa telinga Lila. Membuat pelayan cantik itu memukul-mukul dada Oliver, tapi tenaganya tidak berarti apa-apa. "Diam." Perintah Oliver rendah, dingin, dan tegas. Dia mencengkeram rahang Lila, memaksa wanita itu menatap matanya. Kemudian, ia mencium Lila. Ciuman brutal, kasar, seperti menuntut pengakuan dari tubuhnya. Lila merasakan sakit di bibirnya, bercampur dengan aroma whisky dan parfum mahal pria asing yang kini menindihnya. Saat Lila berusaha memalingkan wajah, Oliver berbisik, nadanya terdengar seperti seorang diktator yang tengah menawarkan amnesti. "Kau butuh uang, bukan?" Oliver menarik diri sedikit, matanya yang kelam menatap langsung ke mata bulat Lila yang kini berkaca-kaca. Lila terkejut. "Ba-bagaimana Anda tahu?" "Semua pelayan di rumah ini butuh uang. Tapi kau," Oliver menjilat sudut bibirnya, tatapannya menyapu setiap lekuk tubuh Lila. "Kau terlihat sangat putus asa." Oliver menyelipkan tangan ke saku celananya, mengeluarkan dompet tebal, dan melemparkan selembar cek yang sudah ditandatangani ke atas bantal di samping kepala Lila. "Tiga ratus juta. Dan layani aku malam ini, sekarang juga."A MYSTERY WITH SHALLINGEveryone exchanged glances. For a second I thought Dad’s friend was going to look shocked or take offense, but nope.“Nipples?” Kalvin asked, curiosity lighting up his face, a smile flickering. “Feed on which of the nipples, Lily?”I almost blurted *Shalling’s*, but she let out this dramatic sigh that killed the vibe instantly. “Anyone,” I said instead, letting a slow smile spread.“Then one of you might have to sleep over tonight.” Kalvin leaned back. “Good thing I didn’t eat much. The food was a little… extra salty.”He noticed. I could’ve pointed it out, but I wasn’t about to throw Laura under the bus.“Oh, perfect plan.” I turned to Shalling. “One of us is sleeping here tonight. You or me.”Shalling stifled a laugh. “I’m sleepy, Lily,” she said in that fake-whiny tone.“That’s not an answer.”“That’s my preferred answer.”I almost rephrased it bluntly—*Wouldn’t you love my dad’s friend sucking on your nipples?*—but I held back. No need to push too hard yet.
SEXY VISIT TO KALVINThe day I decided to bring my friend home was the same day Laura served one of her rare bad dinners. I can't even remember the last time her cooking slipped like that. She's been flawless since my mum's days — one of the main reasons she's still around.Now Shalling thinks we survive on garbage.Maybe her emotional rollercoaster — getting locked in the bathroom for hours, facing my dad, and watching him slip out of her room — contributed enough distraction to ruin the meal. She'd pissed me off tonight. But I'd hear her out first.I watched Shalling sprawled weakly on my bed. Falling asleep comes easy for her. Not tonight, though. Not when we had plans.“Hey, girl. No sleeping on me.” I tapped her back. She shrugged. “I feel so dizzy.”“No problem. I need your company for something. Once we're back, you can crash hard.”Her eyes lit up. “Company where? It's late already. Leave it till morning, please.”“No chance, Shalling. We're not going far — just a quick stroll
A HOT ROUND RIGHT IN MY ROOMLaura's POV It had to be him. He was the only man in this house. He might have been the one calling him while he made love to me.No time to savor the afterglow of the sex we'd just finished. No time to clean up properly. I grabbed my gown and slipped into it quickly, covering my bare body before the intruder could barge in.The footsteps got closer.I jumped to my feet, ready to vanish from his room the second his friend stepped inside.“Hold on, bro. I'll be with you in a moment,” my boss called out.Ignoring whatever he said, I scrambled off the bed. Kalvin couldn't catch me in any suspicious position with his friend. That would raise too many questions.“I'll be in my room, sir,” I said, heading for the door.“Relax. You've got nothing to worry about,” he replied calmly.Nothing to worry about? With his friend practically at the door and him still naked?“I have to go. Your friend is waiting out there,” I insisted, keeping my voice soft.He took a dee
MAKE LOVE TO ME OR LET ME SLEEP Laura’s POVI hesitated. The urge was right there, burning. I wanted to sink deep into his arms again, feel him grab my breasts the way he did before, do those things that felt so special, so right in the moment.But,then I remembered how he’d treated me after that first time—like I was nothing. A sharp twinge twisted in my belly. I loved him so much, wanted him more than I’d ever wanted any man, but he wasn’t the right man to release myself to. The minute he got what he wanted, he’d toss me out from the window.Never. I wasn’t letting that happen again. I pulled my feelings back, locked them down carefully.Then a new fear crept in. What if I refused and he got angry? What if he fired me?Bad thought. But better to lose the job for saying no than lose my self-respect after he used me.“No, sir,” I said, shaking my head firmly.He curled his lips into that slow smile. “Your boss calls you, and you refuse to answer?” His voice was soft, persuasive, dan






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.