LOGINFor as long as Chloe can remember, she has been nothing more than a money making machine for Alpha Nathaniel Thorn of the Blue Mountain pack. To be fair, every female is consider no more than an object and a slave. Anyone who can’t serve the Alpha in the way he wants doesn't survive for very long. Dance, strip, sleep, repeat; Chloe doesn’t know any other way of life. But that all changes the night that Lucas Wolfe turns up. Lucas Wolfe has one mission and that’s to bring Alpha Nathaniel Thorn to justice following a months long investigation into the corrupt Alpha. Using his family connections and with the backing of the International Committee for Supernaturals, Lucas is able to infiltrate the Blue Mountain pack. He finds exactly what he needs to bring the Alpha down but what he didn’t count on was finding his mate; Chloe. But something much more sinister is looming over the pack. Girls are turning up dead which initially has nothing to do with the pack or the committee until a supernatural being is found dead for humans to find, opening a can of worms no one is prepared to handle. Meanwhile, someone or something is watching Chloe from the shadows, waiting until the moment is right…
View More"Selamat ya! Kalian pasangan paling serasi yang pernah kulihat!" seru salah seorang
Lampu kristal memantulkan cahaya hangat, membuat gaun putih yang dikenakan Alya berkilau seperti salju. Senyum mengembang di bibir para tamu, sementara kamera terus menangkap setiap Suara tepuk tangan memenuhi aula hotel. Adrian tersenyum ramah. "Terima kasih. Doakan kami selalu bahagia." Nada suaranya lembut penuh ketulusan. Ia menggenggam tangan Alya dengan hangat, bahkan sesekali membelai punggung tangannya. Dari luar, siapa pun akan iri melihat perhatian yang diberikan pria itu kepada istrinya. Alya ikut tersenyum, senyum yang dipaksakan. Ia sudah terlalu lelah untuk membedakan mana kebahagiaan dan mana sandiwara. Sejak pertama kali mengenal Adrian dua tahun lalu, pria itu selalu tampil sempurna. Tidak pernah terlambat, tidak pernah berkata kasar, murah senyum, penyayang kepada orang tua, bahkan gemar berdonasi ke panti asuhan. Semua orang memujanya, termasuk Alya. Ia jatuh cinta kepada sosok yang diyakininya sebagai pria terbaik di dunia, Tetapi semuanya berubah setelah mereka resmi menikah. Malam pertama yang seharusnya dipenuhi rasa bahagia justru menjadi awal dari mimpi buruk. Pesta akhirnya selesai menjelang tengah malam. Adrian dan Alya meninggalkan hotel mewah tempat pernikahan mereka. Mobil hitam mewah melaju meninggalkan hotel menuju rumah megah milik Adrian yang berada di kawasan elite. Selama perjalanan, Adrian tetap tersenyum. "Capek?" tanyanya. Alya mengangguk pelan. "Sedikit." Pria itu mengusap rambut istrinya dengan lembut. "Kamu pasti lelah berdiri seharian." Kalimatnya terdengar begitu perhatian, tapi entah mengapa, Alya merasa dadanya sesak. Sejak beberapa hari terakhir, ia sering menangkap tatapan Adrian yang sulit dijelaskan. Katapan yang dingin dan kosong. Seolah bukan milik manusia yang sama dengan pria yang kini duduk di sampingnya. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit,mobil berhenti di depan sebuah mansion megah berpagar tinggi. Gerbang otomatis terbuka perlahan. Begitu mobil masuk, gerbang kembali tertutup rapat. Entah kenapa, suara gerbang yang mengunci membuat bulu kuduk Alya berdiri. Mereka turun dari mobil dan Puluhan pelayan berbaris memberi hormat. "Selamat datang, Tuan Adrian. Selamat datang, Nyonya." Adrian mengangguk sambil tersenyum. "Terima kasih. Kalian boleh beristirahat." Pelayan-pelayan itu segera pergi. Tak lama kemudian, rumah besar itu menjadi sunyi dan Hanya tersisa Adrian dan Alya. Pria itu masih tersenyum, tetapi ketika pintu utama tertutup. Senyumnya perlahan menghilang begitu saja. Wajahnya berubah datar, tatapannya dingin, dan membuat Alya terdiam. "Mas?" Tak ada jawaban. Adrian melepaskan jasnya, lalu meletakkannya di atas sofa tanpa sepatah kata pun. Keheningan terasa begitu menyesakkan dan Alya mencoba tersenyum. "Ada yang salah?" tanya Alya sedikit pelan. Adrian akhirnya menoleh dengan Tatapannya yang tajam. "Kau tersenyum pada pria itu." Jantung Alya berdegup lebih cepat. "Siapa?" tanya Alya "Pria yang memberimu hadiah tadi," jawab Adrian datar. Alya mencoba mengingat. "Oh... teman kantorku?" Adrian perlahan mendekat dengan langkah yang pelan. "Dia menatapmu terlalu lama." "Itu hanya ucapan selamat," "Tidak!" Adrian menjawab dengan tenang tetapi mematikan. Nada suaranya tetap tenang. Justru terlalu tenang. "Itu bukan sekadar ucapan selamat," lanjut Adrian lagi. Alya mulai gugup. "Mas... kamu salah paham." Brak! Tiba-tiba Adrian membanting vas bunga ke lantai dan berbuat nya pecah berkeping-keping. Alya tersentak hingga mundur beberapa langkah, Tapi yang membuatnya semakin takut bukanlah vas yang pecah, Melainkan ekspresi Adrian. Pria itu masih tampak tenang. Tidak marah. Tidak berteriak. Bahkan napasnya tetap stabil. "Aku tidak suka dibohongi," ucap Adrian lembut. Air mata Alya mulai menggenang. "Aku benar-benar tidak melakukan apa pun," jawab Alya dengan suara bergetar. Adrian menatapnya selama beberapa detik, lalu tersenyum sama senyuman nya yang ada di pesta pernikahan nya tadi. "Aku bercanda." Adrian tertawa kecil. "Kamu lucu sekali kalau takut," kata Adrian dengan suara dibuat sepenuhnya dipenuhi humor. Alya membeku. Apa... semua ini hanya candaan? Adrian memeluknya. "Maaf ya." Tangannya mengusap punggung Alya dengan lembut. "Aku hanya ingin melihat reaksimu," ucap Adrian sangat lembut. Alya menghela napas. Mungkin benar, Adrian memang hanya bercanda. Ia berusaha menghapus rasa takut yang mulai tumbuh di dalam hatinya, tetapi jauh di lubuk hatinya, sesuatu terasa tidak benar. Hari-hari berikutnya berjalan aneh, Adrian tetap menjadi suami sempurna di depan semua orang. Ia mengantar Alya bekerja, menjemputnya setiap sore, membawakan bunga, memasakkan sarapan, Buat semua orang langsung iri kepada Alya. "Aku mau punya suami kayak Mas Adrian," ucap salah satu teman kantor Alya. "Kamu beruntung banget," ucapnya lagi. "Aku belum pernah lihat laki-laki sebaik dia." Alya hanya tersenyum, menanggapi ucapan teman-teman satu kantor nya. *** Suatu malam Alya menerima pesan dari teman kuliahnya. "Besok kita reuni, ya." Alya tersenyum kecil, sudah lama ia tidak bertemu sahabat-sahabatnya. Saat sedang membalas pesan, Adrian datang membawa segelas susu hangat. "Buat siapa kamu senyum?" "Teman kuliah." "Boleh lihat?" Tanpa menunggu jawaban dari Alya, Adrian mengambil ponsel Alya, dan membaca seluruh isi percakapan, Satu per satu. Alya merasa tidak nyaman. "Itu privasiku!" seru Alya. Adrian masih tersenyum. "Dalam rumah tangga tidak ada privasi," jawab Adrian. "Aku cuma ngobrol biasa," lanjut Alya lagi. "Aku tahu," ucap Adrian sambil tersenyum. Ia mengembalikan ponsel itu. "Besok kamu tidak usah datang,"ucap nya lagi. "Lho?" Alya kaget dengan larangan Adrian tersebut. "Aku tidak suka." "Tapi mereka sahabatku." "Aku bilang tidak." ucap Adrian dengan suara tetap lembut, tetapi mengandung perintah yang tak bisa dibantah. Alya mencoba tersenyum. "Aku cuma dua jam." Adrian memegang dagunya perlahan, tatapan mata mereka bertemu. "Alya." "Iya?" "Jangan pernah membuatku mengulang perkataanku." Untuk pertama kalinya, Alya benar-benar merasa takut kepada suaminya sendiri. *** Keesokan paginya Adrian kembali menjadi pria sempurna, ia mencium kening Alya sebelum berangkat kerja. "Jangan lupa sarapan," ucap Adrian. "Iya," jawab Alya. "Aku sayang kamu," ucap Adrian terdengar tulus Namun setelah pintu tertutup, Alya langsung terduduk di sofa, dengan tangan bergemetar. Alya merasa hidup bersama dua orang yang berbeda, yang satu adalah malaikat dan yang satu nya monster. *** Sore harinya bel rumah berbunyi. Seorang kurir datang membawa paket kecil. "Untuk Nyonya Alya," ucap kurir tersebut. Alya menandatangani penerimaan lalu membuka paket itu, isinya sebuah gelang persahabatan dari teman kuliahnya dan secarik kartu. "Kami merindukanmu. Semoga lain kali kamu bisa datang." Isi dalam kartu tersebut. Alya tersenyum haru, tetapi senyuman nya langsung hilang saat mendengar suara langkah kaki terdengar dari belakang. Ternyata Adrian sudah pulang dari kantor dan mata nya langsung memandang kearah gelang persahabatan itu. "Siapa yang mengirim?" tanya Adrian. "Teman,"jawab Alya. "Oh," kata Adrian lagi dengan nada biasa tapi terdengar seram. Adrian mengambil gelang yang dipegang oleh Alya, membuat Alya langsung berusaha meraihnya kembali. "Itu punyaku!" seru Alya. Adrian tersenyum, Kemudian, lalu tanpa rasa kasihan dia mematahkan gelang itu menjadi dua hingga manik-manik berhamburan ke lantai. Alya membelalakkan matanya dengan sangat lebar. "Kenapa kamu lakukan itu?!" tanya Alya dengan suara sedikit berteriak. "Aku tidak suka barang pemberian pria lain!" jawab Adrian ketus. "Itu hadiah dari teman-teman. Bahkan ada perempuan juga," jawab Alya. "Tetap saja_" "Mas!" seru Alya setelah memotong ucapan Adrian. Adrian menatap Alya dengan tatapan mata datar tanpa emosi sama sekali. "Lain kali, buang sebelum aku yang membuangnya." Setelah berkata demikian, ia berjalan ke lantai atas seolah tidak terjadi apa-apa, sedangkan Alya berlutut memungut manik-manik yang berserakan. Air mata Alya mulai luras seketika, ia tidak mengerti mengapa Adrian melakukan hal itu. Di mana pria lembut yang dulu dikenalnya? Ke mana perginya Adrian yang selalu tersenyum hangat? Atau... Apakah pria itu memang tidak pernah ada? Saat Alya masih larut dalam tangisnya, layar ponselnya menyala. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. "Kalau kau ingin tetap hidup... segeralah tinggalkan suamimu." Raut wajah Alya seketika memucat dan Jantungnya berdegup keras. Alya perlahan membuka pesan dari nomor anonim itu dengan tangan bergetar. "Siapa kamu?" Tak ada balasan setelah Alya mengirim kan pesan itu. Beberapa detik kemudian, nomor itu sudah tidak bisa dihubungi. Di lantai atas, terdengar suara pintu kamar terbuka perlahan. Langkah kaki Adrian bergema menuruni tangga. Alya buru-buru menghapus pesan itu dan menggenggam ponselnya erat. Entah mengapa, untuk pertama kalinya sejak menikah, ia merasa bahwa pria yang sedang berjalan menghampirinya bukan sekadar suami yang posesif. Melainkan seseorang yang menyimpan rahasia besar, rahasia yang mungkin akan merenggut nyawanya jika ia berusaha mengungkapnya, dan tanpa disadari Alya, dari balik senyum lembut yang kembali menghiasi wajah Adrian, sepasang mata dingin terus mengawasinya seolah mengetahui setiap ketakutan yang mulai tumbuh di dalam hati sang istri.Just as Lucas had said, Bobby was waiting for Chloe when she stepped out of her room a short time later.The blonde was beginning to get used to the vampire's presence. They seemed to share the same level of shyness as Chloe struggled with, meaning that both were happy to avoid awkward small talk and simply walk in silence. It was just as well because Chloe's mind was focused on something else.The strange dream from the previous evening still occupied Chloe's thoughts. It had differed from the previous dreams and yet there had been enough similarities to lead Chloe to believe that this dream had something to do with the others. She just couldn't figure out what exactly. It felt as real as the others to the point that Chloe could still smell the perfumed air that had filled the den and the heat from the fire. There was cl
Just like the previous times, coming back to reality was like plummeting from some great height into the depth of stormy seas. The surface swallowed her up like the mouth of a giant fish, sucking her down into the maelstrom of freezing cold darkness. It rolled her like a washing machine until she couldn't tell up from down or dark from light. But just as quickly as she had plummeted into that strange void between reality she knew and the reality she had come from, Chloe felt herself being pulled out of the depths. As she broke the surface, Chloe opened her eyes to be met with dim light and something soft and light covering her face. It took a few moments of sleepy confusion to work out that it was her hair that was blocking her vision and making her nose and cheeks tickle. It took a few more moments to realise that the light pouring in was from the morning sun.Pushing her hair from her face, Chloe froze when her blue eyes landed on the face of her male. It only t
The light from a fire jerked and writhed against the heavy stone walls that surrounded the small space. The smooth rock face went up some ten feet before curving inwards to create a ceiling that was painted inky black by the shadows.The naturally formed den was big enough for a small family to congregate. Mats and piles of furs were bundled tidily in one corner while primitive cushions littered the floor strategically. Treated hides had been stitched and then hung over the several exits that stopped this place from being a tomb to being a safe space. A home. The air was warm thanks to the fire in the middle of the room and the smoke lazily floated upwards into the only void of shadows. The scent of herbs and dried flowers fragranced the air, adding to the warmth until it felt like a thick blanket was wrapping around everything. The shadows pooled wherever the light of the fire couldn't get. They bubbled and boiled high above like a canopy of stormy seas. The life force in them puls
"Hm…" "Hm?""Yes, hm."Chloe shifted uncomfortably in her seat, the urge to get up to run and hide squirming inside of her and pawing at her willpower. She felt her muscles tense in order to spring into action freezing only when hazel eyes landed on her, pinning her to her seat. It wasn't malice or disapproval that Lucas conveyed across their strengthening bond but assurance that he wouldn't let anything happen to her. She was safe, even if the old crone currently scrutinising her looked like she had the power to turn them all into dust. Dagmar was silent for a few more seconds before breathing in heavily and muttering a few foreign words. She finally limped over to an overstuffed armchair and collapsed into it, pulling a packet of cigarettes from the pocket of her cardigan. "Well?" Ursula's was as sharp as the eyebrow she raised on her blue eyes, her irritation for the other witch far from subtle and souring the air. "Well, what?" Dagmar challenged. "The girl is healthy. The moon
WARNING: this chapter contains descriptions of sexual assault===The room instantly felt too hot and Chloe tried to swallow, her mouth feeling dry. A hand on her naked arm made her jump and she looked up to find Nathaniel towering over her, his eyes
Saturday came around too quickly.By then Chloe was feeling a lot better although the healer had not been around to check on her again which Chloe hoped meant that the Alpha had forgotten all about their a
Soft pinks, purples and vanilla light bounced across the insides of the near empty club as closing time crept in slowly. It had been a long night and surprisingly busy since it was only Wednesday night but, both humans and werewolves had been looking to blow off st
The pale morning light crept through the letterbox sized windows of the den slowly, casting a stark glow over the rows of beds before crawling up the back wall. The scent of blood mingled with the musty scent of damp and cheap perfume as the girls silently let the












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews