LOGINAt dinner, my wife's little brother Darren shot me a nasty look. "Other guys hook their wife's brother up with houses and cars. Mine won't shut up about covering a lousy twenty grand. "Wade Watson, transfer your house to me today, or I swear, I'll make my sister divorce you." My hand stalled mid-serve as I placed food on my pregnant wife's plate. That house was all my parents left me. Best school district in the city. Worth over three hundred grand. I looked at Vanessa, waiting for her to back me up. For the baby. She slammed an abortion appointment slip onto the table. "It's because I married a useless guy like you that my brother still isn't married. Wade, you get one choice—the baby or the house."
View More"Argh!" Shu Jin terbatuk keras, tubuhnya terpental beberapa langkah sebelum jatuh berlutut di tanah berbatu.
Sebuah pukulan yang tak terduga dari kekasihnya, Wu Chao-Xing dengan telak mendarat tepat di perutnya, tepat di bawah pusar—dantian, inti kekuatan spiritual seorang cultivator.
Rasa sakit yang menusuk menjalar dari pusat tubuhnya, membuatnya menggigil. Napasnya memburu, tangannya refleks meraba perutnya, seolah berharap itu hanya mimpi buruk. Tapi kenyataan lebih kejam dari yang bisa ia bayangkan.
Dantian-nya… hancur.
Mata Shu Jin melebar tak percaya. Keringat dingin mengalir di pelipisnya saat ia mendongak menatap Wu Chao-Xing. "Xing'er… apa yang telah kau lakukan...?"
Namun, gadis yang selama ini ia anggap sebagai belahan jiwanya kini berdiri dengan tatapan yang berbeda.
"Shu Jin!" Wu Chao-Xing mendengus, melipat tangannya dengan ekspresi jijik. "Aku sudah bersabar selama tiga tahun ini hanya demi hari ini!"
Shu Jin terhuyung, matanya masih mencari secercah harapan bahwa ini semua hanya kesalahpahaman. "Bukankah kita akan menjadi suami-istri? Kenapa kau melakukan ini, Xing'er?"
Wu Chao-Xing mencibir. "Suami-istri? Hanya dalam mimpimu, Shu Jin! Aku muak selalu berada di dekatmu dan memanggilmu Jin'ge... Cih!"
Napas Shu Jin tersengal saat rasa hangat yang selama ini menjadi sumber kekuatannya mulai terangkat dari tubuhnya—meninggalkan kehampaan yang membuat tubuhnya gemetar seperti kedinginan.
Cahaya hitam itu akhirnya memadat menjadi sebuah bola kecil—Mutiara Hitam. Ia melayang pelan dari dada Shu Jin, berpendar dengan aura mencekam yang membuat udara di sekitarnya menjadi dingin dan berat.
Shu Jin hanya bisa menatap dengan mata terbelalak saat mutiara itu melayang menuju tangan Wu Chao-Xing.
Wu Chao-Xing menyambut mutiara itu dengan senyum yang tak lagi menyembunyikan niat busuknya.
"Ah, akhirnya...!" gumamnya dengan mata yang berkilat kegirangan.
Kemudian, tawanya meledak, menggema di antara rerimbunan pohon persik yang kini kehilangan keindahannya.
"Begitu bodohnya kau, Shu Jin!" serunya dengan nada mengejek yang menusuk lebih tajam dari pedang. "Selama ini kau menelan pil mutiara yang aku berikan dengan senyum polos. Tidak pernahkah kau curiga? Pil-pil itu bukan untuk memperkuat tubuhmu, melainkan untuk menyedot perlahan-lahan energi spiritualmu—hingga Kristal Mutiara Hitam dalam tubuhmu cukup matang!"
Mata Shu Jin bergetar. "Apa... maksudmu...?" bisiknya dengan suara nyaris tak terdengar.
Wu Chao-Xing melangkah mendekat, dengan aura angkuh yang membungkus seluruh tubuhnya. "Kau warisan terakhir dari garis keturunan Pedang Spiritual, Shu Jin. Darahmu... kekuatanmu... semua itu terkunci di dalam Kristal Mutiara Hitam sejak kau dilahirkan. Tapi sekarang... semuanya telah menjadi milikku."
Ia mengangkat Mutiara Hitam tinggi ke langit. "Dengan ini, aku akan menjadi Ahli Pedang Sejati! Tak seorang pun bisa mengalahkanku lagi! Tapi kau..." Ia menunduk, menatap Shu Jin dengan pandangan merendahkan, "...kau hanyalah sampah yang sudah tak bisa berkultivasi."
Shu Jin jatuh berlutut. Napasnya pendek-pendek. Dantian-nya terasa hampa, seperti sumur yang dikuras hingga kering. Tapi kehampaan itu tak sebanding dengan yang ia rasakan di dalam hatinya.
Pengkhianatan.
"Aku... percaya padamu..." suara Shu Jin pecah, lirih dan putus asa. "Mengapa... mengapa kau melakukan ini?"
Wu Chao-Xing mendekat, membungkuk sedikit, lalu berbisik di telinganya.
"Karena cinta dan kepercayaan adalah kelemahanmu, Shu Jin. Asal kau tahu... aku tidak pernah mencintaimu."
Kemudian ia membalikkan badan dan berjalan pergi dengan langkah penuh kemenangan, membawa Mutiara Hitam dalam genggamannya—sementara Shu Jin tetap berlutut di tengah bayangan senja yang menyesakkan, terbungkus kesedihan yang tak dapat disembuhkan.
Namun tiba-tiba—suatu dorongan muncul. Bukan dari dantian, bukan dari kekuatan spiritual yang telah hilang, tetapi dari sisa-sisa harga diri yang tercabik.
“BERHENTI!”
Mata Shu Jin melebar penuh tekad, dan ia mencoba berdiri, menggertakkan giginya walau tubuhnya bergetar hebat.“Kenapa... kenapa aku...” gumamnya lemah, matanya berkedip cepat menahan pusing yang tiba-tiba menghantam kepalanya.
Wu Chao-Xing berhenti melangkah, lalu tertawa rendah, penuh sinisme. Ia menoleh sedikit, bibirnya melengkung membentuk senyum licik.
“Dasar bodoh! Apa kau pikir aku akan membiarkanmu tetap bisa mengejarku? Aku sudah mencampurkan Pil Pelemas Tulang dalam makananmu semalam… Hahaha! Kau sungguh mudah ditipu. Bahkan lupa kalau aku ini adalah alkemis tingkat tinggi.”
Kata-kata itu menggema, bergulir dalam benak Shu Jin seperti mantra jahat. Tangannya bergetar, mengepal tanah dan bunga persik yang berserakan.
“Kau... iblis betina...” gumamnya, kini nada suaranya berubah. “Kau telah menipuku... mempermainkan hatiku, tubuhku, kekuatanku... Aku bersumpah, akan kubalas semua perlakuanmu... seribu kali lipat!”
Namun Wu Chao-Xing hanya mencibir.
“Masih bisa menggertak rupanya. Menyedihkan. Sudahlah, Shu Jin… kau beruntung aku tidak membunuhmu di tempat ini. Sekarang, kau hanyalah manusia biasa yang tak berguna. Terimalah nasibmu… hahaha!”
Tawa itu bergema seperti gendang kematian. Shu Jin mengerang, mencoba menahan rasa sakit yang menyerbu sekujur tubuhnya. Namun kenyataan lebih kejam dari luka fisik.
“Kau… Uhuk—!”
Tiba-tiba darah segar menyembur dari mulutnya. Shu Jin terkapar tak sadarkan diri, bukan karena lukanya tapi karena sakit hatinya yang tak tertahankan.*****
"Siapa yang membawaku pulang?" tanya Shu Jin saat dirinya tersadar kembali.
Lian Hua, pelayannya menunduk sedikit, lalu menjawab dengan lembut, "Nona Wu, Tuan Muda. Ia yang membawa Anda kembali ke kediaman Shu dalam keadaan tak sadarkan diri. Ia bilang… Tuan Muda terjatuh dari tebing saat sedang berlatih di Pegunungan Xijing. Tapi tenang saja... tabib sudah memeriksa tubuh Anda. Tidak ada luka dalam yang serius, hanya kehilangan kesadaran akibat kelelahan."
Alis Shu Jin mengernyit. Matanya yang masih sedikit redup kini bersinar tajam. "Tabib? Tabib dari keluarga mana?"
"Tabib dari Keluarga Wu, Tuan Muda…" Lian Hua menjawab dengan hati-hati. "Nona Wu sendiri yang memanggilnya. Ia tampak sangat cemas... wajahnya pucat, hampir menangis saat membawa Anda pulang. Ia bahkan bersikeras menggunakan tabib terbaik dari keluarganya untuk memastikan Anda segera pulih."
“Sudah aku duga…” gumamnya pelan namun tajam seperti bilah pedang. “Iblis betina itu sedang mencoba menutupi jejak busuknya.”
Kepala Shu Jin masih berdenyut, pikirannya buram, tetapi kesadarannya mulai menajam. Kenangan tentang Wu Chao-Xing, tentang pengkhianatan. Namun di balik semua itu, satu hal lain muncul dengan mendesak.
Mata Shu Jin terbuka lebar. "Lian Hua... aku sudah pingsan berapa lama?"
Pelayan itu menundukkan kepala, suaranya kecil. "Sudah lima hari, Tuan Muda..."
“Lima hari?” Shu Jin membenamkan punggungnya ke bantal dengan ekspresi tegang. “Bagaimana dengan... Seleksi Penerimaan Murid dari Sekte Pedang Surgawi? Bukankah… minggu ini?”
“Mengenai seleksi itu...” kata Lian Hua ragu-ragu.
Shu Jin menoleh cepat. “Apa yang telah terjadi, Lian Hua?”
Lian Hua akhirnya membuka mulut. “Nona Wu datang ke hari seleksi dan… ia berbicara langsung dengan Tuan Besar. Ia memohon agar Tuan Muda tetap diizinkan mengikuti seleksi... katanya, ia memiliki pil spiritual dari Keluarga Wu yang dapat membangunkan Anda... untuk sementara waktu.”
Shu Jin menahan napas. Wajahnya terperangah. “Apa maksudmu… aku mengikuti seleksi… dalam keadaan tidak sadar sepenuhnya?!”
Lian Hua mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. “Ya… Nona Wu mengklaim bahwa pil itu cukup kuat untuk memulihkan kesadaran Anda selama beberapa jam. Ia tampak begitu yakin… dan Tuan Besar akhirnya menyetujuinya.”
Napas Shu Jin terengah. Antara syok dan bingung, emosinya teraduk-aduk. Ia mencoba mengingat, tapi otaknya seperti tertutup kabut tebal.
"Apa... yang terjadi di seleksi itu? Apakah aku... berhasil lolos?" tanyanya nyaris dengan nada memohon, penuh harap dan ketegangan yang menumpuk di dadanya.
Lian Hua menggigit bibir bawahnya. Ia tidak langsung menjawab.
"Lian Hua! Tolong, katakan padaku... Apa aku lolos?!"
Mata Shu Jin menatap kosong langit-langit kayu di atasnya, tapi pikirannya berkecamuk hebat.
Seorang pelayan laki-laki berusia sekitar dua puluh lima tahun masuk dengan langkah tergesa-gesa. Nafasnya terengah, dan wajahnya... pucat seperti telah melihat kematian.
“Tuan Muda!” serunya dengan suara gemetar. “Sesuatu yang buruk… sangat buruk telah terjadi!”
Bad luck didn't come alone.Jennifer was cooking when her vision went black. She dropped straight to the floor.Paul freaked and rushed her to the hospital.After the exam, the doctor didn't sugarcoat it—a sudden cerebral hemorrhage. Critical. She needed surgery right away.Cost? At least $100,000.For the Suttons, that number might as well have been impossible.Paul sat with it for a long time, then finally called Vanessa."Vanessa, your mom had a cerebral hemorrhage. She needs surgery—$100,000."Vanessa stayed quiet for a long time. "Dad, where am I supposed to get that kind of money?""I don't care. If you can't bring it back, your mom can just wait to die!"Vanessa stood in Borevia's cold wind, shaking.She had nothing left. The $300 she brought was long gone—food, rides, all of it. Now? Not a single dollar.She had no one to turn to.By some cruel twist, she ended up at an illegal agency and signed on as a surrogate.But her body couldn't handle it.The agency didn'
"I'm just stating facts." Helen stayed calm. "Your family pushed him to sign over the house, even at the cost of your own child."Everyone at the company saw how much he gave. He's just protecting his rights now. He didn't do anything wrong."She turned to me and handed me a tissue. "Let's go."I nodded, grabbed the folder, and walked off without a second thought.Vanessa ran after me, yelling, "Wade Watson! Stop! You're ungrateful! You used me and dumped me! I won't let you get away with this!"I didn't turn back. Didn't slow down.After that, she started making scenes outside the company and my apartment.Every morning around seven, she'd block the entrance, crying as people walked by."Everyone, look! Wade's an ungrateful bastard! When he was broke, my family carried him! Now he's got money, he ditched me and wants to drive us into the ground!"She clutched our wedding photo, telling anyone who'd listen I was heartless and Helen was a homewrecker.At first, people gathered
She probably didn't expect me to change this much in two weeks."I came to talk," Vanessa said, soft. "I know I was wrong."I took a sip of coffee. Said nothing."I wasn't thinking back then. I listened to my mom, pushed you to sign over the house, and ended the pregnancy." Tears slid down her cheeks. "I shouldn't have treated you like that or taken you for granted. Not once. I've regretted it every day since the divorce."She leaned in a little."You're doing well now, right?" She looked at me. "I saw that woman. She's really beautiful. She treats you well...""My life has nothing to do with you." My voice stayed flat. "You didn't come all the way to Borevia just to say this, did you?"Vanessa wiped her tears, voice shaking. "Wade, my family's falling apart. Darren got scammed, and most of the house money's gone. That old widower found out I can't have kids and wants his $10,000 back. And now your lawyer's asking for over $100,000. We can't pay that."She looked straight at me
"You're solid. You'll get better opportunities here in Borevia," she added.I nodded, honestly grateful.After work, I kept sorting every dollar I'd spent on the Suttons over five years—Vanessa's living costs, money handed to her mom, Darren's online debts I'd covered, plus all the random extras.Total? Over $100,000.I printed everything, built a file, and went to a solid law firm.The lawyer looked it over. Most of it could be recovered legally.***Third-Person POVA few days later, a lawyer's letter arrived at the Sutton house.Jennifer lost it the second she saw it. "That heartless bastard! When did we ever treat him wrong? He married my daughter—wasn't he supposed to support us? And now he wants his money back? He's trying to kill us!"Her wailing carried outside. Neighbors gathered, whispering, pointing.Paul stood off to the side, face tight with anger. "Enough. You're making a scene. If you hadn't spoiled Darren—if you hadn't pushed Vanessa to end the pregnancy to p
Darren collapsed to the floor, face pale.It finally hit him—Lily was a scammer. The meetups, the wedding talk... all fake. Just a setup to take his money.But he had a record for illegal online gambling. If he went to the police, he wouldn't be able to explain it clean.He clenched his teeth and
"No way. That coward actually went through with it?" Jennifer snapped. "He's just trying to piss us off. Give it a few days—he'll come crawling back, begging to fix things."Darren grabbed the divorce decree and tossed it on the floor. "Who does he think he is? Without Vanessa, who's gonna marry hi
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.