Short
Shifting My Fate

Shifting My Fate

By:  PeachyCompleted
Language: English
goodnovel4goodnovel
9Chapters
7.0Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

After the war between humans and shifters, an alliance was formed to keep the peace. The price? Daughters of the human nobility had to choose a shifter as their mate. The first half-blood born from this union would become the new ruler, ensuring that peace would last. As the eldest daughter of the Morrison family, I was the first to be chosen. But right after I chose the wolf Alpha, Calvin, I saw a vision on our engagement day. Because I failed to conceive after six months, Calvin locked me in a cage, determined to use me as a vessel for his pure bloodline. After I finally gave birth to the prophesied hybrid, my sister, Trina, appeared, claiming she wanted to take care of me. But the truth was, she hated me for being able to bear the perfect bloodline, while her own mate, that beautiful Elven Chief, was making her life a living hell. Driven by jealousy, she seduced Calvin, and together, they had me brutally murdered. After my death, the world saw Trina as the new hope, as the one destined to bear the future ruler. Only one person fought for me: Caleb, the leader of the bear clan. He was the only one who demanded justice. A sharp pain lanced through my chest, and I snapped out of the vision. Before me, Trina begged me to give Calvin to her, revealing he had already marked her. I nodded. To everyone's shock, I walked past them all, my eyes fixed on the one person no one ever seemed to notice: Caleb, sitting in the corner. "Caleb Thorne, will you accept my proposal?"

View More

Chapter 1

Chapter 1

"Siapa ayah anak itu?"

Naomi tidak menatap pria di hadapannya. Dia membuang muka ke arah lain dan menggigit bibirnya sendiri menahan mengatakan sepatah kata pun. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia sangat bingung. Ini di luar kendalinya.

"Tolong jawab jujur." Pintanya dengan lembut.

"Ini anakmu." Naomi mengambil nafas dan menatap lelaki itu. "Yang kita lakukan waktu itu adalah kesalahan."

"Aku akan bertanggung jawab." Dia mengatakan itu tanpa penuh keraguan sedikit pun.

"Bagaimana kamu akan bertanggung jawab? Menceraikan istrimu dan menyakiti puterimu?" Nada Naomi meninggi dan terdengar tegas. "Kamu memiliki keluarga, aku memiliki Leon," Naomi mengingatkan.

"Yang kita lakukan memang kesalahan, tapi aku tidak menyesalinya"

Naomi menghela nafas begitu keras hingga mungkin lelaki itu mendengarnya. Naomi tidak menyangka akan mendengar itu darinya. Naomi tahu bahwa lelaki di hadapannya ini sangat mencintainya begitu pula dirinya. Tapi, mereka masing memiliki pasangan. 

***

Naomi melangkahkan kaki ke dalam lobi. Jantungnya berdegup kencang. Hari ini adalah hari pertama bekerja di perusahaan impiannya. Aroma kopi dan kertas baru menyambutnya, berpadu dengan bisikan-bisikan samar yang membuatnya merasa gugup.

Keluar dari ruang HRD, Naomi diminta untuk mengikuti seorang yang sebelumnya disebut Team Leader. Mereka menyusuri lorong dan masuk ke ruangan yang bagian depannya tertulis DIVISI PENJUALAN. Naomi melangkah masuk, seketika ia merasa ditarik ke pusaran energi yang berbeda.

Dinding-dindingnya seperti kanvas hidup, dihiasi sticky notes warna-warni membentuk mozaik tak beraturan. Mind maps yang digambar dengan panah-panah tak terduga. Ada potongan-potongan mood board yang ditempel beberapa produk, diagram entah apa itu, bahkan coretan pena yang terkesan tak sengaja. Dia akan mengetahui maksud semua ini nanti ketika dia sudah terjun ke dalamnya.

Meja-meja tidak beraturan, mencerminkan kepribadian para penghuninya. Ada yang mengiasnya dengan cantik, ada yang menatanya dengan rapi, ada pula yang berantakan dengan tumpukan lembaran-lembaran kertas.

"Baik, semuanya! Perkenalkan ini anggota kita yang baru namanya Naomi. Mulai hari ini menjadi bagian dari kita. Jadi, bantu dia jika ada kendala." ujar pria yang di tanda pengenalnya tertulis Herman.

Naomi melemparkan senyumnya kepada para penghuni ruangan.

"Halo, perkenalkan saya Naomi. Mohon bimbingannya."

"Selamat bergabung" ujar seorang wanita.

"Kamu tidak tepat bergabung sekarang, tapi semoga beruntung" celetuk salah seorang pria yang tampak sibuk dengan kertas-kertasnya.

Naomi mengangkat alisnya heran, tanpa mengubah senyumnya. Mengapa dia bicara seperti itu? Tanya Naomi dalam hati.

"Naomi, di situ meja kamu" Herman menunjukkan salah satu meja yang bersih. Hanya ada set komputer terlihat.

Naomi menoleh pada Herman dan memberikan senyumnya, "Terima kasih".

Naomi melangkah ke mejanya dengan semangat. Ini miliknya, dia bisa menghias meja ini semaunya. Naomi lalu duduk di kursinya lalu meraba meja untuk mengagumi.

"Aku Killa." Suaranya membuat Naomi menoleh.

"Meski keadaan sekarang nggak bagus, tapi kita tetap harus berusaha," ujarnya.

"Sepertinya sesuatu yang buruk sedang terjadi. Ada apa?" Tanya Naomi.

"Pemimpin kantor terkena kasus korupsi. Ada perpecahan kubu dalam penunjukkan pengganti pemimpin."

"Ahh.." Naomi menganggukkan kepala. Dia akhirnya mengerti sekarang apa yang terjadi.

"Tapi itu biarlah menjadi urusan para petinggi. Kita fokus saja bekerja. Bilang saja padaku kalau kamu butuh bantuan."

"Terima kasih"

***

Ketika jam makan istirahat, Killa mengajak Naomi untuk makan di kantin kantor. Tapi, dia menolak halus karena dia ingin melihat sekeliling kantor. Putri yang mendengar itu pun menghampiri dan menawarkan diri untuk mengajak berkeliling. Tia yang menedengar pun ikut bergabung. Tentu saja Naomi menyambut mereka.

Mereka pergi ke luar kantor dan berbelok ke kiri bagian luar kantor.

"Kita ke sini sebentar untuk membeli minum dan camilan. Aku sarankan kamu membeli cheese cake di sini. Soalnya enak banget," ujar Tia menekankan kata enak dengan penuh semangat.

"Oh ya? Kebetulan aku suka cheese cake" mata Naomi mulai membelalak karena dia mendengar sesuatu yang disuka.

"Tapi siap-siap kantongmu jebol kalau beli setiap hari." Ujar Putri sambil terkikih.

Mereka melewati pintu kaca. Aroma manis menyeruak, perpaduan aroma kopi dan kue. Suara alunan lagu pun terdengar ke penjuru ruangan. 

Putri menarik lengan Naomi ke arah konter, membuat tubuhnya sedikit tersentak. Tia sudah memesan apa yang dia inginkan. Putri memandang papan menu di belakang barista. Naomi pun ikut menyapukan pandangan ke arah menu.

Dia selalu melewatkan menu bagian kopi. Naomi tidak kuat meminum kopi. Kepalanya akan menjadi pusing ketika dia mengkonsumsi kafein yang tinggi. Untuk itu, dia selalu memilih teh atau matcha.

"Matcha Frappuccino satu" Pesan Naomi.

"Kamu ingin membeli cheese cake juga?" Tanya Tia yang telah bergeser ke etalase kue.

"Ya, aku ingin mencobanya." 

"Cheese cake tiga" pinta Tia.

Lonceng di pintu berbunyi. Hampir setiap orang di sana menoleh ke arah sumber suara. Seorang pria memegang ponsel di telinga. Entah apa yang dia bicarakan, tapi terdengar sangat marah. Dia melangkah kearah Naomi dan yang lain. Naomi pun bergeser agar pria tersebut bisa memesan.

Naomi memandangi pria itu dari samping. Cukup tinggi karena Naomi yang memakai heels hanya sebahunya. Brewok tipisnya terkesan seperti campuran Arab. Muka asing tapi familiar. Apakah pernah bertemu sebelumnya? Tanyanya dalam hati.

"Ingin makan di sini atau di kantor?" Tanya Tia.

"Di sini saja. Kita ke situ sambil gosip." Tunjuk Putri ke arah salah satu kursi di dekat kaca.

"Ayo Naomi!" Ajak Tia.

Pria tersebut sempat menoleh ketika nama Naomi dipanggil.

"Ya!"

Putri sedikit menyeret Naomi, permintaan segera duduk. Mereka berdua mendekatkan kepala seolah ada yang ingin dikatakan secara rahasia. Naomi pun bergerak melakukan hal yang sama.

"Pria itu, aku dengar dia baru naik pangkat di divisi lain. Gosipnya, dia anak titipan." Putri sedikit berbisik.

Naomi pun melihat ke arah pria itu lagi.

"Siapa namanya?" Tanya Naomi penasaran.

"Rahaal. Nama belakangnya Rianon."

Naomi terlihat mengangguk sambil menyuap cheese cake. Sebenarnya itu bukan nama asing di dunia bisnis. Beberapa perusahaan besar dipimpin seseorang bernama Rianon.

Ponsel Naomi bergetar. Dia melirik sedikit ke layar ponsel. Sebuah pesan yang menautkan link. Naomi menyentuh link itu lalu diarahkan ke sebuah web. Undangan konferensi dan seminar. Tertulis Sabtu siang. Dia pun keluar dari web itu dan kembali ke pesan.

Acara ini cocok untukmu belajar. Aku sudah mendaftarkan namamu. Jadi, berangkatlah.

Naomi lalu menatap kepada dua temannya.

"Ada seminar dari perusahaan Eco Flavor. Apakah kalian ikut?"

"Kami tidak pernah ikut acara seperti itu. Lebih baik istirahat di rumah." Ujar Putri.

"Aku juga. Hari libur itu untuk healing." Tambah Tia.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

KitsunePhoenixGirl
KitsunePhoenixGirl
I love this one! Such a sweet, uplifting ending ^_^!!!
2026-02-23 12:11:29
0
0
Anele
Anele
Man Trina and Calvin where sick in the head like omfg I’m so happy with the ending great read
2025-09-03 03:54:28
0
0
Far
Far
I just started, but this book has a lot of similarities with another short: Pregnant with the Dragon's triplets
2025-08-08 04:20:23
0
1
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status