LOGINEnggan terlelap jauh kedalam perasaannya yang mendingin menuntun Cyka pulang ke tempat di mana dia sekarang bisa merasa aman; penginapan di sudut timur kota Auroran. 21:19.Dia segera merebahkan diri di kasur, melemaskan otot-ototnya dan sejenak menenangkan diri. Menatap langit-langit yang kosong tanpa memikirkan apapun, dengan cahaya lampu putih terang yang sedikit menyilaukan matanya.Sementara di samping kasur rupa-rupanya Elaria sedari tadi direpotkan dalam tugas menyiapkan makan malam, dan kedatangan Cyka yang kemalaman bahkan sempat dihadiahi teguran darinya. Teguran yang khawatir akan keselamatan Cyka pastinya. Cyka tidak bisa mengelak atau mengingkarinya, karena dimatanya, seorang teman yang bisa menerima segala kekurangannya hampir selalu layak didengar. Mengesampingkan itu, ia dengan entengnya justru menceritakan apa yang sempat ditemukan selama rutinitasnya, “Kamu tau nggak? Aku ketemu kumbang-kumbang cantik loh! Kalau kagak salah, kira-kira ada tiga kumbang yang kalau k
Kota Auroran ....Jepretan kamera polaroid berhasil menangkap satu objek berbentuk kumbang hias. Mengabaikan banyaknya jenis kumbang maupun serangga-serangga hias yang terawat dalam tempatnya masing-masing. Seekor kumbang dua tanduk dengan corak belang keperakan yang mengilap jika terpindai cahaya menjadi satu-satunya serangga yang sanggup memancingnya memaksimalkan alat potretnya.“... kayaknya ini udah bagus deh.” Cyka memastikan hasil pemotretannya dengan mengangkat foto sedekat yang dibutuhkannya. Mengamatinya dalam waktu sebentar, berharap hasilnya cukup untuk dikatakan sempurna, tapi setelah pengecekan itu beres yang dia temukan sayangnya masih berupa kekurangan. “HHAAHH ... masih aja begini ....”Sore itu pukul 16:44, salju tengah meliburkan keberadaannya dan layar langit sedang merona kejinggaan, sementara Cyka sengaja mampir di pasar ini untuk tidak melewatkan kesempatan memenuhi kepentingan hobinya. Namun, posisinya sekarang yang berdiri di dalam toko serangga hias justru di
14:11. Kota Dream ....Beres dari menangani segelintir pembenci Eriel, Ixia, Una dan Aon bersyukur bisa kembali menemani keberadaan Arunika. Mereka dengan suasana hati yang bugar kini menikmati waktu di bibir pantai dekat apartemen Drim, diikuti oleh Hiro dan keempat pengawalnya. Cakrawala yang biru kehijauan dan pasir pantai yang hangat diresapi betul bukan hanya oleh mereka melainkan diikuti sedikit pengunjung yang punya keinginan mencicipi suasana lebih hangat dari normalnya.Belakangan ini Una, Ixia dan Aon sulit lepas dari kesibukan mengurus kehidupannya masing-masing. Penyelidikan terhadap Renaus maupun investigasi seberapa berbahayanya Auranias Cahaya Kael De Rigel sebabnya masih dalam jadwal tunggu yang hendak dibereskan. Namun, tentu soal berita kejahatan Renaus kepada keluarga Eriel entah adakah sudah diketahui Hiro atau belum, apalagi konon katanya rumor bisa lebih cepat menyebar ketimbang berita konkretnya. Tetapi, dengan itu Ixia, Una dan Aon tidak harus dilanda kaget yan
“Pak Rio!” “Ketua Rio, boleh minta penjelasannya!” “Apakah betul militer nasional siap untuk berperang?” Disiarkanlah berita gempar terkait pembatalan rapat darurat parlemen lengkap dengan isu-isu yang belakangan kian mencemaskan. Di sebuah taman Kota Tianfan dalam jadwal inspeksi daerahnya kepala pemerintahan Selatan-Putih itu langsung dicegat orang-orang yang kebelet meraup info terbaru. “... apa yang terjadi, Pak?” Berdesak-desakan dengan para rekan satu profesinya seorang jurnalis cewek mengajukan pertanyaan yang mendesak. “Rapat darurat dibatalkan tanpa alasan yang jelas, dan muncul kecurigaan mengenai sabotase. Apa benar itu karena keputusan final mengenai kebijakan tata dunia Tetua-Aura Alara yang banyak tidak sependapat, termasuk keputusan penanganan soal desa Aswad yang menemui kebuntuan?” Ditengah gerimis salju Ketua Rion dan rombongannya pasrah menjeda kerjanya. Keputusannya untuk sengaja menunda penjelasan sampai memiliki situasi yang baik sekarang kelihatannya kurang
“Jadi, mari kita selesaikan ini secara sederhana dan sesingkat-singkatnya ....“ Ketua El yang merasa tertekan mulai mengambil cara termudah. ”Nah, setelah kalian mengetahui dan memahami apa yang terjadi ... menurut kalian bagaimana?“ Oshi dan Ereia bergeming bersama sekelumit bahan pertimbangannya masing-masing. Saat ini Ereia mengaku hendak berpegang pada caranya mempertahankan kestabilan sekaligus persatuan desanya, dan hanya itu yang disampaikannya. ”Setelah kami pikir-pikir ....“ Selanjutnya Oshi yang angkat suara. Menegakkan tubuhnya, menatap Ketua El penuh harap. Dia tahu inilah saatnya memanfaatkan kesempatan. ”... dengan semua tekanan dan ketidakadilan ini, dengan banyaknya tekanan yang sudah mencelakakan kami, maka kami menemukan titik kalau inilah saatnya untuk perang total. Tidak ada lagi negosiasi. Tidak ada lagi pengharapan pada dewan utama. Kita pertahankan apa yang sudah kita usahakan. Jadi, hal pertama yang harus diperjuangkan adalah merebut kembali manajemen bandar
Dan, sehubungan dengan kekacauan desa Aswad yang bukanlah hal sehat untuk dibudidayakan mereka pun bergegas merundingkan sejauh mana komplikasi desa Aswad akan dibawa.Penyerangan Demir tidak tertinggal dalam daftar perbincangan, dari kronologi maupun motifnya hingga di mana Kael terheran-heran begitu mengetahui Oshi sempat pula berurusan dengan anggota Eksilinity. Tidak ada pertarungan, tapi keduanya melakukan pembicaraan singkat dibawah kesan yang negatif. Selain itu, sesuatu yang lebih penting akhirnya mendorong Kael untuk sengaja mengangkat kekalahannya sebagai pemicu sebuah keputusan, titik baliknya buat mengambil langkah yang tidak seharusnya diambil.Maka atas apa yang telah menimpa Ketua El jelas-jelas diakui Oshi dan Ereia bukan peristiwa yang baiknya dibiarkan. Ketua El telah dipermalukan, telah difitnah dan dihinakan. Sehingga dalam rangka menjaga kestabilan dan keamanan desa Ereia siap mengambil tindakan yang setegas-tegasnya pada orang-orang Eksilinity. Dan, itu berlaku p
Episode 137: Seni Berkamuflase Dari Yang Mulia, Pecandu Dunia.3466 / 27 / Libra, (Musim Dingin).Kekuasaan, kekayaan dan kedigdayaan adalah segalanya. Siapa yang meraih tiga aspek itu, telah meraih segalanya. Jangankan keadilan, hukum saja dapat dibeli, diputar balikan sesuka hati. Kucuran dana, dan
Episode 146: Apa Itu Cinta Sehidup Semati, Kalau Bisa Kawin Berkali-Kali. Kota Tera .... —21:44. Kim Deun tengah terjebak derasnya dilematik yang sama membebaninya dengan menghadapi semua tugas-tugas kantornya. Semua jamuan cintanya serasa diludahi, dimuntahkan begitu saja selepas ia mengorbankan ap
Episode 112: Satu Pukulan Kecil Untuk Satu Perubahan Besar.—3465 / 26 / Sagitarius, (Musim Dingin).12:15.Kota Tianfan, provinsi Utara ....Barangkali memang kondisi inilah yang terbaik ....Taman Mini kota Tianfan merupakan tempat rekreasi dengan konsep bebatuan es yang membikin ilusi pegunungan bersa
Episode 111: Membandingkan Dua Keburukan Untuk Membuat Salah Satunya Tidak Begitu Buruk.Yuan De Arcernar menyadari statusnya sebagai putra pertama dari empat bersaudara, sekaligus putra sang peternak biri-biri di desa Moon. Dikatakan bahwa keluarganya termasuk peternak sukses kelima pada desanya, da







