LOGINBagas Surolegowo bukan siapa-siapa. Juru bersih istal, anak yatim, dan pemilik harga diri yang sedang dalam kondisi bisa dipertanyakan. Hidupnya sudah cukup menyedihkan sebelum seekor kuda tua memutuskan untuk mengikutinya ke mana-mana, delapan prajurit mengejarnya dengan tombak terhunus, dan sebuah batu biru misterius membuatnya pingsan di lorong berbau ikan asin. Nasib buruk rupanya belum selesai bekerja. Batu itu bukan batu biasa. Lurah Kandang yang tiba-tiba pucat ketakutan, bisikan "Buang sebelum mereka datang", serta kehangatan aneh yang mulai membakar dari dalam dadanya .... Semuanya mengatakan bahwa hidup Bagas yang sudah kacau akan segera menjadi jauh lebih kacau lagi. Di dunia di mana para pendekar memperebutkan kekuatan, kerajaan-kerajaan Nusantara saling sikut berebut pengaruh, dan dewa-dewa sesat bermain di balik layar. Seorang juru bersih istal yang bahkan tidak bisa lari dengan benar tiba-tiba menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya. Masalahnya, Bagas tidak tahu itu. Kalau tahu pun, ia mungkin tetap akan tersandung di jalan menuju takdirnya. Kaisar Dewa Gombal adalah kisah kultivasi berlatar kerajaan Nusantara tentang seorang pemuda lemah yang berubah bukan karena ia hebat, tapi karena semesta rupanya punya selera humor yang sangat buruk. Pertanyaannya bukan apakah Bagas akan menjadi kuat. Pertanyaannya adalah, dunia ini siap atau tidak menghadapi orang yang bahkan tidak berniat menjadi berbahaya?
View More"Tangkap maling istal! Dia kabur ke arah pasar!" teriak Lurah Kandang dengan suara membelah pagi.
Bagas Surolegowo berlari sekencang mungkin dengan dua kaki yang bisa ia ayunkan. Nafasnya tersengal sejak menit pertama. Kaki Bagas tersandung batu yang sama untuk ketiga kalinya. Sarungnya hampir melorot dua kali. Kalau ada lomba lari yang dinilai dari seberapa kacau gayanya, Bagas pasti juara tanpa saingan. Di belakang Bagas, delapan prajurit Kerajaan Medang Raya mengejar dengan tombak terhunus, dan muka merah padam. Masalahnya, Bagas tidak mencuri kuda itu. Kuda itu yang mengikutinya. "Ini bukan salahku!" teriaknya sambil menoleh ke belakang, lupa bahwa menoleh sambil lari itu ide yang sangat buruk. Hidungnya menghantam tiang pasar. Bunyi benturannya memuaskan semua orang, kecuali Bagas sendiri. Ia terhuyung, bintang-bintang kecil menari di depan matanya, tetapi kakinya tetap bergerak karena rupanya naluri bertahan hidup lebih pintar dari pemiliknya. Cempaka, kuda cokelat biang kerok itu, berlari setia di sampingnya sambil sesekali mendengus. "Kamu jahat," desis Bagas sambil memegang hidung yang mulai membengkak. *** Tiga jam sebelumnya. Bagas sedang melakukan hal yang sama seperti setiap hari sejak usia dua belas tahun membersihkan kotoran kuda di istal Kerajaan Medang Raya. Ia bukan orang istimewa. Bahkan jauh dari itu. Anak yatim yang dipungut Lurah Kandang karena kasihan. Lalu dijadikan juru bersih istal, karena tidak ada yang mau. Hidungnya kebal bau. Tangannya kasar dari sekop. Harga dirinya ... sedang dalam kondisi bisa dipertanyakan. Pagi itu, seorang bangsawan muda masuk ke istal dengan lagak seperti langit miliknya sendiri. "Hei, budak istal! Kuda milikku mau ditambatkan di sini. Jaga baik-baik atau aku potong gajimu!" bentaknya tanpa menoleh. Bagas membungkuk dalam-dalam. "Baik, Tuan Muda." Bangsawan itu pergi. Bagas menatap kuda yang baru ditambatkan itu dengan tatapan kosong. Gajinya sudah sangat kecil. Kalau dipotong lagi, nilainya mungkin tinggal setara satu biji kacang rebus. "Nasib," gumamnya. Dari kandang sebelah, Cempaka menggelengkan kepala. Ringkikan Cempaka terdengar seperti ejekan. "Kamu jangan ikut komentar," kata Bagas datar. Cempaka mendengus. "Aku tahu hidupmu juga susah. Tapi minimal kamu tidak disuruh membersihkan kotoranmu sendiri." Ketika Bagas membuka pintu kandang, kuda itu langsung keluar, dan berdiri tepat di sampingnya. Tidak mau pergi ke mana pun. Didorong, tidak bergerak. Disuap rumput, dimakan tapi tetap di sana. Bagas bahkan sempat berlutut memohon, yang memang tidak ada hubungannya dengan masalah, tetapi sudah menjadi kebiasaan kalau ia tidak tahu harus berbuat apa. Lurah Kandang masuk. Salah paham. Pengejaran dimulai. *** Bagas terjepit di sudut lorong sempit belakang pasar. Kedelapan prajurit mengepung dari depan. Cempaka masih berdiri setia di sampingnya seperti sahabat yang tidak punya kepekaan situasi. "Menyerahlah, pencuri!" seru pemimpin prajurit. "Saya tidak mencuri kuda ini," kata Bagas meyakinkan, yang langsung gugur. Karena ia baru sadar satu tangannya masih menggenggam tali kekang Cempaka. Ia menatap tangannya. Menatap para prajurit. Setelah itu menatap tangannya lagi. "Ini ... bisa dijelaskan. Aku mohon … ini … ini salah paham." Pemimpin prajurit melangkah maju. Bagas mundur hingga punggungnya menyentuh tembok. Sudah tamat. “Bohong! Cepat serahkan! Atau aku potong kedua kakimu!” ancam prajurit itu dengan tombak terhunus ke arah Bagas. Di usia dua puluh tahun, hidupnya akan berakhir di lorong berbau ikan asin, dituduh mencuri kuda tua yang bahkan tidak ada yang mau beli. Ironi terbesar dalam sejarah hidupnya yang memang sudah penuh ironi. Tepat ketika ujung tombak hampir menyentuh dadanya, kaki Bagas tersandung sesuatu. Benda itu bundar, bersinar samar kebiruan, hangat saat Bagas refleks meremasnya ketika jatuh. Rasanya seperti menggigit cabai sambil menelan petir. Bagas menjerit. Cempaka meringkik. Para prajurit mundur bingung. Semuanya gelap. *** Langit-langit istal menyambut ketika Bagas membuka matanya. Ia masih hidup. Entah kenapa, itu terasa mengejutkan. Tangannya utuh. Tidak ada luka. Tidak ada bekas tombak. Bahkan hidung yang tadi terbentur tiang pasar sudah tidak sakit lagi. Hanya ada kehangatan aneh di dalam dada, seperti bara kecil yang baru dinyalakan. "Dia siuman!" teriak Lurah Kandang, suaranya terdengar lega sebelum langsung berubah galak. "Bagas! Kamu mau ke mana tadi bawa Cempaka?!" "Cempaka yang bawa saya," jawab Bagas jujur. Lurah Kandang menatapnya lama. "Kamu kerasukan atau bagaimana?" Bagas membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya. Ia tidak tahu apa. Hanya bisa merasakannya, seperti pintu yang selama ini terkunci rapat tiba-tiba terbuka sedikit. Kehangatan itu bergerak lagi. Lebih dalam kali ini. "Pak Lurah," kata Bagas pelan, "Apa nama batu biru kecil yang bisa bikin orang pingsan kalau disentuh?" Lurah Kandang pucat seketika. Bibirnya bergerak tanpa suara. Matanya terpaku pada kepalan tangan Bagas, lalu ia mundur selangkah dengan wajah seperti orang yang baru sadar sedang berdiri di atas sarang ular. "Di mana kamu dapat batu itu?" suaranya turun jadi bisikan. "Tersandung tadi. Kenapa?" Tidak ada jawaban. Hanya tatapan campuran antara takut, tidak percaya, dan sesuatu yang sangat mirip dengan kasihan tulus. Satu hal yang ia tahu pasti, malam ini tidak akan jadi malam yang tenang. Bagas menatap kepalan tangannya. Menatap Lurah Kandang. Setelah itu menatap tangannya lagi. Lurah Kandang akhirnya membuka mulutnya. Bukan untuk menjawab. Tapi untuk berbisik dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Buang batu itu. Sekarang. Sebelum mereka datang."Istana Kerajaan Candra Mukti di malam hari lebih sunyi dari biasanya. Bukan sunyi yang tenang. Sunyi yang dipilih. Raden Wisnupada berdiri di depan Raja Candra Mukti dengan satu kotak kecil di tangannya, kotak yang permukaannya tidak menunjukkan apapun tapi beratnya cukup untuk mengubah arah satu kerajaan. "Ini ditemukan di dekat perbatasan," katanya pelan. "Bersama sisa-sisa yang tidak bisa saya ceritakan dengan rinci tanpa membuat Kakanda berduka." Raja Candra Mukti menatap kotak itu. Tidak membukanya. "Kamu yakin?" tanya Raja. "Saya tidak mau yakin, Kakanda." Raden Wisnupada meletakkan kotak itu di meja dengan cara orang yang melakukan sesuatu yang sangat berat. "Tapi lambang yang ada di sana adalah lambang Sasana Anggrek Loka. Pembunuh bayaran yang selama ini digunakan Medang Raya untuk urusan yang tidak mau mereka akui." Raja Candra Mukti tidak bergerak. "Sekar," katanya pelan. "Kakanda—" "Sekar pergi ke perbatasan itu." "Ya." Raden Wisnupada menundukkan kepala. "Say
Bagas berlutut di depan Mbah Suro, menatap sesuatu gelap yang bergerak di bawah kulit sisi kiri dada itu, meluas pelan dengan cara yang kekuatan mentalnya tidak perlu waktu lama untuk menyimpulkan. Racun kultivasi. Tingkat tertinggi. "Mbah Suro, saya perlu memeriksa." "Tehnya masih hangat," kata Mbah Suro lagi. "Mbah." "Kamu mau teh?" Bagas mengalirkan energi Jalan Dewa ke ujung jari, membentuk Jarum Langit Satu Tusukan, menusuk tiga titik di sisi kiri dada Mbah Suro berurutan. Cahaya biru menyebar dari tiga titik itu. Berhenti di tepi racun. Tidak bisa masuk lebih dalam. Racun Kehancuran Seribu Dinasti terlalu pekat untuk Jarum Langit Satu Tusukan yang baru pertama kali dipakai dalam situasi darurat. Bagas menarik jarinya. Dewi Sekar berdiri di sebelahnya. "Bisa?" "Tidak cukup." "Pil Bulat Semesta." Bagas menatap Dewi Sekar. "Kamu yang bilang simpan untuk nanti," katanya. "Ini nanti," kata Dewi Sekar. Bagas merogoh kantong tak kasat mata di sisi Jalan Dewa, mengelu
Arya Wirabumi berdiri di tengah jalan hutan dengan tangan terlipat di belakang punggung. Sama persis seperti malam di istal. Tapi kali ini tidak ada atap penginapan, tidak ada jarak tiga ratus meter, tidak ada anak buah di sebelahnya. Hanya ia, jalan hutan, dan cahaya sore yang miring di antara pohon-pohon besar. "Jalan Dewa terbuka," katanya. Bukan pertanyaan. "Baru saja," kata Bagas. "Di gua perbatasan." "Kamu mengikuti dari tadi." "Saya mengikuti sejak istal." Arya Wirabumi melangkah maju dengan Langkah Pewaris Darah, setiap pijakan membawa tekanan yang berbeda. "Saya hanya menunggu waktu yang tepat." "Waktu yang tepat untuk apa?" tanya Dewi Sekar. Arya Wirabumi tidak menjawab Dewi Sekar. Ia menatap Bagas. "Jurus ketiga tidak boleh terbuka penuh," katanya. "Kamu tahu konsekuensinya." "Saya tahu konsekuensinya lebih baik dari kamu," kata Bagas. "Karena saya yang merasakannya dari dalam." "Maka serahkan tanda Naga sekarang sebelum jurus keempat mulai terbuka." "Tidak b
Suara Mbah Suro muda mengucapkan nama Bagas bergema di dalam Limbo. Kemudian semuanya pecah. Bukan pecah seperti mimpi yang berakhir, tapi pecah seperti sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan akhirnya dilepaskan sekaligus, energi dari gua mengalir ke seluruh wadah Bagas dalam satu gelombang terakhir yang jauh lebih besar dari semua gelombang sebelumnya. Bagas tersadar di lantai batu gua. Tangan kiri terangkat di udara. Tanda Naga di telapak tangan tidak hitam pekat lagi. Biru. Biru yang lebih terang dari sebelumnya, bukan biru samar yang biasanya, tapi biru yang menerangi sebagian dinding gua di sekitarnya. Dewi Sekar berlutut di sebelahnya, menatap tanda Naga dengan ekspresi yang tidak menyembunyikan apapun. "Kamu pingsan lagi," katanya. "Berapa lama?" "Dua belas menit." "Lebih lama dari biasanya." "Ya." Bagas duduk perlahan, merasakan sesuatu yang berbeda di seluruh tubuhnya, bukan sakit, bukan lelah, tapi seperti sesuatu yang baru saja dipasang di tempat yang sebelum
Mpu Jaga membuka pintu bengkel dengan wajah orang yang baru dibangunkan tengah malam dan tidak senang dengan keputusan itu. Ia menatap Bagas, menatap Dewi Sekar, menatap Lurah Kandang, lalu menatap kantong di tangan Lurah Kandang. "Dua puluh belati Besi Wulung," kata Lurah Kandang. "Semalam." "T
Tangan Arya Wirabumi bergerak maju. Dan Bagas memutuskan bahwa ia sudah cukup berlutut. Bukan karena tubuhnya tiba-tiba pulih. Tapi karena kekuatan mentalnya baru saja selesai menghitung satu kemungkinan terakhir yang belum pernah ia coba. Selama ini i
Merah. Bukan merah seperti bara api. Merah seperti sesuatu yang sudah lama tidur dan baru saja memutuskan untuk bangun karena situasinya sudah keterlaluan. Tanda Naga di telapak tangan Bagas berdenyut tiga kali berturut-turut, keras,
Arya Wirabumi tidak mengetuk gerbang. Gerbang yang sudah patah sejak delapan hari lalu itu menyingkir sendiri ketika ia melangkah masuk, papan-papan kayunya terlempar ke kanan dan kiri seolah tidak berani berdiri di jalurnya. Ia berjalan dengan langkah orang yang sudah menghitung j






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.