Kaisar Dewa Gombal

Kaisar Dewa Gombal

last updateLast Updated : 2026-02-27
By:  Sayap UranusUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
8Chapters
9views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Bagas Surolegowo bukan siapa-siapa. Juru bersih istal, anak yatim, dan pemilik harga diri yang sedang dalam kondisi bisa dipertanyakan. Hidupnya sudah cukup menyedihkan sebelum seekor kuda tua memutuskan untuk mengikutinya ke mana-mana, delapan prajurit mengejarnya dengan tombak terhunus, dan sebuah batu biru misterius membuatnya pingsan di lorong berbau ikan asin. Nasib buruk rupanya belum selesai bekerja. Batu itu bukan batu biasa. Lurah Kandang yang tiba-tiba pucat ketakutan, bisikan "Buang sebelum mereka datang", serta kehangatan aneh yang mulai membakar dari dalam dadanya .... Semuanya mengatakan bahwa hidup Bagas yang sudah kacau akan segera menjadi jauh lebih kacau lagi. Di dunia di mana para pendekar memperebutkan kekuatan, kerajaan-kerajaan Nusantara saling sikut berebut pengaruh, dan dewa-dewa sesat bermain di balik layar. Seorang juru bersih istal yang bahkan tidak bisa lari dengan benar tiba-tiba menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya. Masalahnya, Bagas tidak tahu itu. Kalau tahu pun, ia mungkin tetap akan tersandung di jalan menuju takdirnya. Kaisar Dewa Gombal adalah kisah kultivasi berlatar kerajaan Nusantara tentang seorang pemuda lemah yang berubah bukan karena ia hebat, tapi karena semesta rupanya punya selera humor yang sangat buruk. Pertanyaannya bukan apakah Bagas akan menjadi kuat. Pertanyaannya adalah, dunia ini siap atau tidak menghadapi orang yang bahkan tidak berniat menjadi berbahaya?

View More

Chapter 1

Bab 1 Batu Biru, Kuda Gila, dan Akhir Hidup yang Tidak Direncanakan

"Tangkap maling istal! Dia kabur ke arah pasar!" teriak Lurah Kandang dengan suara membelah pagi.

Bagas Surolegowo berlari sekencang mungkin dengan dua kaki yang bisa ia ayunkan. Nafasnya tersengal sejak menit pertama.

Kaki Bagas tersandung batu yang sama untuk ketiga kalinya. Sarungnya hampir melorot dua kali. Kalau ada lomba lari yang dinilai dari seberapa kacau gayanya, Bagas pasti juara tanpa saingan.

Di belakang Bagas, delapan prajurit Kerajaan Medang Raya mengejar dengan tombak terhunus, dan muka merah padam.

Masalahnya, Bagas tidak mencuri kuda itu. Kuda itu yang mengikutinya.

"Ini bukan salahku!" teriaknya sambil menoleh ke belakang, lupa bahwa menoleh sambil lari itu ide yang sangat buruk.

Hidungnya menghantam tiang pasar. Bunyi benturannya memuaskan semua orang, kecuali Bagas sendiri. Ia terhuyung, bintang-bintang kecil menari di depan matanya, tetapi kakinya tetap bergerak karena rupanya naluri bertahan hidup lebih pintar dari pemiliknya.

Cempaka, kuda cokelat biang kerok itu, berlari setia di sampingnya sambil sesekali mendengus.

"Kamu jahat," desis Bagas sambil memegang hidung yang mulai membengkak.

***

Tiga jam sebelumnya.

Bagas sedang melakukan hal yang sama seperti setiap hari sejak usia dua belas tahun membersihkan kotoran kuda di istal Kerajaan Medang Raya.

Ia bukan orang istimewa. Bahkan jauh dari itu. Anak yatim yang dipungut Lurah Kandang karena kasihan. Lalu dijadikan juru bersih istal, karena tidak ada yang mau. Hidungnya kebal bau. Tangannya kasar dari sekop. Harga dirinya ... sedang dalam kondisi bisa dipertanyakan.

Pagi itu, seorang bangsawan muda masuk ke istal dengan lagak seperti langit miliknya sendiri.

"Hei, budak istal! Kuda milikku mau ditambatkan di sini. Jaga baik-baik atau aku potong gajimu!" bentaknya tanpa menoleh.

Bagas membungkuk dalam-dalam. "Baik, Tuan Muda."

Bangsawan itu pergi. Bagas menatap kuda yang baru ditambatkan itu dengan tatapan kosong. Gajinya sudah sangat kecil. Kalau dipotong lagi, nilainya mungkin tinggal setara satu biji kacang rebus.

"Nasib," gumamnya.

Dari kandang sebelah, Cempaka menggelengkan kepala. Ringkikan Cempaka terdengar seperti ejekan.

"Kamu jangan ikut komentar," kata Bagas datar.

Cempaka mendengus.

"Aku tahu hidupmu juga susah. Tapi minimal kamu tidak disuruh membersihkan kotoranmu sendiri."

Ketika Bagas membuka pintu kandang, kuda itu langsung keluar, dan berdiri tepat di sampingnya.

Tidak mau pergi ke mana pun. Didorong, tidak bergerak. Disuap rumput, dimakan tapi tetap di sana.

Bagas bahkan sempat berlutut memohon, yang memang tidak ada hubungannya dengan masalah, tetapi sudah menjadi kebiasaan kalau ia tidak tahu harus berbuat apa.

Lurah Kandang masuk. Salah paham. Pengejaran dimulai.

***

Bagas terjepit di sudut lorong sempit belakang pasar. Kedelapan prajurit mengepung dari depan. Cempaka masih berdiri setia di sampingnya seperti sahabat yang tidak punya kepekaan situasi.

"Menyerahlah, pencuri!" seru pemimpin prajurit.

"Saya tidak mencuri kuda ini," kata Bagas meyakinkan, yang langsung gugur. Karena ia baru sadar satu tangannya masih menggenggam tali kekang Cempaka.

Ia menatap tangannya. Menatap para prajurit. Setelah itu menatap tangannya lagi.

"Ini ... bisa dijelaskan. Aku mohon … ini … ini salah paham."

Pemimpin prajurit melangkah maju. Bagas mundur hingga punggungnya menyentuh tembok. Sudah tamat.

“Bohong! Cepat serahkan! Atau aku potong kedua kakimu!” ancam prajurit itu dengan tombak terhunus ke arah Bagas.

Di usia dua puluh tahun, hidupnya akan berakhir di lorong berbau ikan asin, dituduh mencuri kuda tua yang bahkan tidak ada yang mau beli.

Ironi terbesar dalam sejarah hidupnya yang memang sudah penuh ironi.

Tepat ketika ujung tombak hampir menyentuh dadanya, kaki Bagas tersandung sesuatu. Benda itu bundar, bersinar samar kebiruan, hangat saat Bagas refleks meremasnya ketika jatuh.

Rasanya seperti menggigit cabai sambil menelan petir.

Bagas menjerit. Cempaka meringkik. Para prajurit mundur bingung.

Semuanya gelap.

***

Langit-langit istal menyambut ketika Bagas membuka matanya.

Ia masih hidup.

Entah kenapa, itu terasa mengejutkan.

Tangannya utuh. Tidak ada luka. Tidak ada bekas tombak. Bahkan hidung yang tadi terbentur tiang pasar sudah tidak sakit lagi. Hanya ada kehangatan aneh di dalam dada, seperti bara kecil yang baru dinyalakan.

"Dia siuman!" teriak Lurah Kandang, suaranya terdengar lega sebelum langsung berubah galak. "Bagas! Kamu mau ke mana tadi bawa Cempaka?!"

"Cempaka yang bawa saya," jawab Bagas jujur.

Lurah Kandang menatapnya lama. "Kamu kerasukan atau bagaimana?"

Bagas membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya. Ia tidak tahu apa. Hanya bisa merasakannya, seperti pintu yang selama ini terkunci rapat tiba-tiba terbuka sedikit.

Kehangatan itu bergerak lagi. Lebih dalam kali ini.

"Pak Lurah," kata Bagas pelan, "Apa nama batu biru kecil yang bisa bikin orang pingsan kalau disentuh?"

Lurah Kandang pucat seketika. Bibirnya bergerak tanpa suara. Matanya terpaku pada kepalan tangan Bagas, lalu ia mundur selangkah dengan wajah seperti orang yang baru sadar sedang berdiri di atas sarang ular.

"Di mana kamu dapat batu itu?" suaranya turun jadi bisikan.

"Tersandung tadi. Kenapa?"

Tidak ada jawaban. Hanya tatapan campuran antara takut, tidak percaya, dan sesuatu yang sangat mirip dengan kasihan tulus.

Satu hal yang ia tahu pasti, malam ini tidak akan jadi malam yang tenang.

Bagas menatap kepalan tangannya. Menatap Lurah Kandang. Setelah itu menatap tangannya lagi.

Lurah Kandang akhirnya membuka mulutnya. Bukan untuk menjawab. Tapi untuk berbisik dengan suara yang hampir tidak terdengar.

"Buang batu itu. Sekarang. Sebelum mereka datang."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status